
Aku terlelap di sore hari setelah mandi dengan air hangat,dibawah selimut tebal yang membungkus rapih tubuhku membuat tidurku nyenyak.
Aku menggeliat merasakan betapa posesifnya selimut dan tempat tidur ini,aku menggapai ponselku yang bahkan tak ada sinyal itu dan melihat jam menunjukan pukul sebelas malam.
Aku terkesiap dan bangun dari tempat tidur membuka pintu kamar yang sedari tadi ku kunci rapat,dan melihat Roan yang meringkuk di karpet tipis di tengah villa itu.
Aku meraih selimut di tempat tidur dan menghampirinya lalu menyelimuti tubuhnya itu perlahan.
Aku seperti istri durhaka sekarang membiarkannya tidur disini sementara aku tidur dengan nyaman di dalam kamar!
Aku menatap ponselku yang mulai berbunyi berkali - kali karena mendapat sedikit sinyal
Kamu dimana nak? sudah makan?
Ayah mengirimku pesan,sangking senangnya pergi kesini aku lupa mengabari ayah.
Aku sedang berlibur di situgunung sukabumi bersama Roan,aku sudah makan tadi siang.Ayah jangan lupa makan ya!
Aku mengetik pesan itu sambil membayangkan ayah yang makan malam sendirian
Jangan judes lagi sama Roan...dia suamimu!Ayah senang kau sedang honeymoon dengan Roan,pulanglah dengan cucu di dalam perutmu...
Cucu???
Ayah ini benar - benar ya! aku kan bilang sedang liburan bukan sedang membuat cucu dengan Roan!!!
Wajahku memerah membaca pesan dari Ayah itu,entah mau menjawab apa.
Dalam sekejap ponselku beralih ke tangan Roan yang entah kapan sudah bangun dari tidurnya,aku berusaha meraihnya namun Roan mengangkat tangannya tinggi.
Postur tubuh Roan yang tinggi membuatku tak bisa meraih ponselku dari tangannya,aku bahkan berusaha meraihnya sambil berjinjit saat Roan mengetik sesuatu di ponselku.
Karena hal itu,aku terjatuh di atas tubuh Roan setelah berhasil merebut ponsel itu dan ternganga tak percaya membaca balasan Roan untuk Ayah
Baik Ayah,aku akan segera membawa cucu Ayah dalam perutku saat pulang nanti...
Aku menatap Roan yang terkekeh dengan pandangan kesal,tak menyadari bahwa tubuhku sudah menempel erat di atas tubuhnya.
Sesaat kemudian aku terkesiap menyadari posisi ini,dan berusaha bangkit namun tangan kekar Roan merengkuh pinggangku hingga aku tak bisa bergerak.
"Lepasin!"
Menatapnya dengan kesal walau wajahku memerah
"Kenapa?Kan kamu duluan yang meluk"
tanya Roan santai sambil menyangga kepalanya dengan lengan satunya lagi.
"Apaan sih?! Lepasin!Kamu rebut ponsel aku dan balas pesan Ayah kaya gini?! kamu mau aku teriak?!"
Protesku masih berusaha melepaskan diri namun sia - sia
"Teriak sekarang kalau kamu mau"
Ucapnya dingin
"Lepasin!!!"
Nadaku mulai naik namun tak bisa berteriak karena itu adalah hal konyol,kalaupun ada yang mendengar mereka pasti menyangka aku dan Roan sedang benar - benar Honeymoon.
"Kalau kamu teriak,gak ada yang bakal datang kesini.Kita kan pasangan yang lagi honeymoon,paling mereka nyangka kamu lagi..."
tak meneruskan ucapannya dan tersipu malu.
please Roan,jangan bikin ekspresi kaya gitu!!!!
Ekspresi tergemas yang pernah aku lihat dari Roan adalah ekspresi tersipunya di hadapanku dan itu membuatku berdebar.
"Sssttt!jangan ngawur!!!"
Aku memukul dada Roan kesal hingga Roan mengaduh dan melepaskan pelukannya.
Aku langsung duduk dan menjaga jarak aman darinya,sementara dia masih meringis kesakitan.
"Kamu kenapa?"
Khawatir dengan ekspresinya yang tak mengada - ada itu
__ADS_1
Roan nampak kesulitan bernafas membuatku panik dan mendekatinya
"Asma kamu kambuh??? Inhaler kamu dimana ?"
Dia menunjuk arah ransel sambil memegangi dadanya,aku segera berlari dan mengacak - acak isi ransel Roan namun tak menemukan inhaler itu.
Roan merangkak mendekatiku berusaha membantu mencari inhaler nya namun nihil.
"Kamu lupa bawa ???"
Ujarku semakin panik,memapah tubuhnya ke atas tempat tidur.
Mungkin karena cuaca dingin asma nya kambuh,aku tak menyangka memukul dadanya malah memperburuk keadaan.
Roan merintih menahan sesaknya sambil berusaha bernafas lebih dalam,aku menarik tubuhnya agar bisa duduk lebih tegak di atas tempat tidur.
Lalu tanpa pikir panjang aku memberi nafas buatan lewat bibirku pada Roan,beberapa saat Roan nampak menerimanya dan mulai bernafas lebih tenang.
Aku melepaskan bibirku darinya saat dia mulai terlihat nyaman,wajahku merah padam saat Roan menatapku sayu.
"Terimakasih ..."
Ucapnya dengan nafas yang mulai normal
"Kenapa sampai lupa bawa barang penting kaya gitu!"
Dia menggelengkan kepala dan memejamkan matanya
"Aku lupa,biasanya gak pernah kambuh,mungkin karena dingin disini"
Aku menatapnya penuh rasa bersalah karena telah membiarkannya tidur di lantai.
"Tunggu disini"
Ujarku berlalu dari hadapannya dan pergi keluar Villa menemui penjaga Villa yang di sebut tante Rizki bernama Damar itu.
"Mas bisa gak bikinin minuman hangat sekarang?"
pintaku padanya
"Bisa neng,mau di buatkan apa?"
"Wedang jahe atau semacamnya boleh "
Pintaku
"Tunggu ya neng,nanti saya antarkan"
Ucapnya berlalu dari hadapanku
Aku kembali ke kamar dan melihat Roan bersandar ke tempat tidur dengan mata terpejam.
"Bikin kaget!"
Runtukku kesal padanya
"Kamu khawatir ?"
Tanyanya menatapku yang kini duduk di sampingnya memantau tempo nafasnya dari dekat
Ketukan pintu membuatku tak menjawab pertanyaan bodoh Roan itu,Damar membawakan dua gelas wedang jahe padaku.
"Terimakasih ya Mas"
Ujarku sambil meraih Wedang jahe itu
"Sami-sami Neng,kalau butuh apa - apa ada saya atau Pak Ujang di depan ya neng"
Ucapnya ramah dan berlalu dari hadapanku.
Aku menaruh wedang jahe di rakas dan menggoyang tubuh Roan yang kini nampak terdiam sambil menutup matanya
"Minum wedang dulu"
Dia melirik ke arah Wedang jahe itu dan meminumnya beberapa teguk.
"Mau pulang aja besok?"
__ADS_1
Tawarku
"Gak ... kamu kan suka disini,lagi pula kita baru datang"
Tolaknya
"Ya udah tidur disini aja malam ini"
Mengalah,aku tak ingin melihat dia seperti tadi
Aku hendak meninggalkannya saat dia menggenggam tanganku erat membuat aku kembali duduk di sampingnya.
"Tidur disini juga,nanti kamu sakit"
Ucapnya lembut,aku terdiam ragu.
"Aku gak akan aneh - aneh kok"
Janjinya padaku yang terlihat ragu.
Dia menggeser posisinya dan berbaring di tempat tidur,meski ragu aku pun akhirnya berbaring di sebelahnya dengan wajah tegang.
Berada di atas tempat tidur dan selimut yang sama membuat aku benar - benar tegang.
"Mau makan gak?"
Tanyaku mengingat kami yang sedari datang belum makan
"Kamu aja yang makan,aku lagi gak pengen"
Titah Roan,membuatku kembali bungkam.
"Lain kali jangan lupa bawa inhaler"
Ucapku masih dengan nada khawatir
"Asmaku udah lama gak kambuh,lagian sekarang kan ada kamu"
Terkekeh geli membuatku menatapnya tajam,dia membalas tatapanku setelah merubah posisinya menghadap ke arahku.
"Jangan nyari kesempatan dalam kesempitan ya!"
Ancamku menggenggam erat selimut di dadaku
"Kamu tuh gemesin kalau lagi galak gitu"
Menatapku dalam - dalam,membuatku gugup dan berbalik memunggunginya
Dia merengkuhku dalam pelukannya
"Aku cuma meluk aja kok,aku kedinginan"
aku yang hendak melepaskan tangannya dari pinggangku berhenti,tak ingin Roan kedinginan dan asmanya kambuh lagi.
Emang paling bisa nyari kesempatan nih orang!!!ya udahlah ... untuk malam ini aja,daripada asmanya kambuh lagi!
Tubuhnya bahkan menempel di punggungku hingga aku merasakan hangat,aku mulai lagi dengan jantungku yang tak karuan.
Merasakan aku yang hanya terdiam membuatnya lebih berani dan membenamkan wajahnya di tengkukku lalu mencium leherku membuatku menegang
"Sampai kapan?sampai kapan kamu menolakku?"
Bisiknya di telingaku,membuatku membeku dan membisu.
Pura - pura tidur adalah salah satu cara menghindar darinya yang mulai menggodaku.
"Tega banget sih kamu"
Membenamkan wajahnya lagi di tengkukku membuatku menahan perasaan aneh ini.
Malam terasa panjang dengan nafas halus Roan di tengkukku,otakku bahkan tak bisa berpikir jernih dengan posisi kami yang seperti ini.
Entah sampai kapan aku menghindarinya,menolak memberikan haknya sebagai suamiku...
Sudah setengah mati rasanya menghindari perasaanku sendiri ketika berada di dekat Roan.
Apa dia benar jodohku? apa memang ini jalan kami untuk bersatu? Takdir ini membingungkanku,terlebih permintaan terakhir ibu ini membuatku bimbang.
__ADS_1
Penghalang antara aku dan Roan sebenarnya adalah rasa bersalahku pada ibu yang tak beralasan.