KARMA CINTA PERTAMA

KARMA CINTA PERTAMA
Adu mulut


__ADS_3

Aku menyuap makananku kemulut,tak mempedulikan orang - orang yang berdesas desus.


Tidak semua,yang lainnya memilih mengacuhkanku.Mungkin karena ancaman Raka tempo hari,membuat mereka takut berdesas desus di hadapanku.


Makanan di kantin kantor ini sesungguhnya memang lezat tapi entah mengapa terasa hambar di lidahku yang makan di situasi ini,alangkah lebih nyamannya bila bisa bergabung dan mengobrol.


Raka menyimpan makanannya di hadapanku dengan wajah datar dan makan dengan santai di hadapanku.


"Baiknya Nona segera menghabiskan makanan anda sebelum Tuan datang ke kantin"


Ucapnya sambil minum dari botol air mineral dengan santai


Ah...


Yang mulia raja satu itu pasti sedang khawatir tanpa alasan


"Biarkan,biar dia tahu aku tidak selemah itu"


Ujarku sambil meneruskan makan dengan santai


Orang - orang berdesas desus tadi bungkam,memilih berkonsentrasi pada makanannya masing - masing melihat Raka yang ada di hadapanku.


"Kak..."


Panggilku pada Raka


Raka masih terus makan,seperti tak ada yang memanggilnya


"Kakak..."


Ujarku sedikit mengencangkan suaraku,membuat Raka menatapku dan meletakan sendoknya


"Jangan panggil aku seperti itu"


Larangnya dengan wajah menegang


Ah .. aturan apalagi ini?!


"Kenapa? kakak memang kakak kelasku dulu..."


Protesku


setidaknya aku pernah mengenal Raka,aku berharap kami bisa lebih dekat di kantor.


"Aku tidak mau berumur pendek hanya karena panggilan itu"


Ujarnya serius


Siapa lagi yang bisa mengancam memperpendek umur orang lain selain yang mulia Raja yang Maha benar.


Aku mendesah kesal,dan menatap penasaran Raka yang sudah kembali fokus melahap makan siangnya.


"Kakak gak penasaran aku waktu dulu out dari sekolah kenapa?"


Penasaran,tentu ...


Dia mengejarku dulu,mengucapkan perasaannya secara terang - terangan namun tetap diam saat aku mengalami pembullyan oleh teman satu angkatannya.


Kadang diam bisa menjadi satu kejahatan bukan?


Raka meletakan sendoknya di meja kembali,memautkan jemarinya di depan wajahnya yang tiba - tiba terlihat suram.


Dia tak menatapku hanya menatap makanan milikku dengan tatapan itu


"Aku sudah tahu"

__ADS_1


Hah? tahu apa? yang mana??


Jawabannya itu sama sekali tak membuat rasa penasaranku terpuaskan.


"Maaf sudah membiarkan,saat itu saya tidak punya kuasa menghentikan orang itu."


Ada nada penyesalan di nada suaranya namun wajahnya masih datar.


"Aku gak minta kakak minta maaf,aku cuma nanya aja kakak tahu gak alasan aku keluar sekolah"


Tak ingin Raka merasa bersalah


Raka melirikku sekilas kemudian berdiri sebelum menghabiskan makan siangnya yang hanya beberapa suap masuk ke mulutnya.


"Nona,cepat selesaikan makan siangmu "


Sekali lagi memberikan peringatan


Kaku sekali dia ...


Aku kira setelah sepuluh tahun lebih dia akan lebih santai,tapi nyatanya malah makin parah!


Tapi,kalau saat itu Raka punya kuasa untuk menahan Mawar membullyku apa situasinya akan jauh lebih baik dulu?


Aku menggelengkan kepala


Rasanya aku tak pantas mengingat hal itu lagi,Raka yang dulu dan sekarang jelas di level yang berbeda.


Aku tahu orang tua Mawar salah satu pendonasi di sekolah,semua orang takut padanya.


Ya kecuali,Sendy...


Aku jadi rindu candaan Sendy sekarang,apa boleh aku menemuinya sepulang bekerja.


Ah...


Temui Sendy atau tidak ya ?


Begitulah pikiranku sambil melangkahkan kaki ke meja yang ada di depan ruangan Roan,Raka bahkan sedang kembali bekerja di depan layar komputer dengan wajah serius.


Aku mengatup wajahku dengan kedua tanganku di atas meja sambil memperhatikan Raka yang sedang menatap komputer.


"Jangan melihat saya seperti itu,saya tidak mau berumur pendek"


Hah...


Aku bukan sedang melihatnya ! ya memang sih kalau dari sudut pandang orag lain mungkin aku sedang menatap pria berkacamata itu,tapi sebenarnya otakku sedang berlarian kesana kemari


"Ada yang bisa aku bantu?"


Aku duduk di samping Raka


Dia menyodorkan beberapa File padaku


"Cek kembali,apa ada salah penulisan,hari ini harus laporan untuk kesiapan presentasi besok"


Ujarnya tanpa menatapku,aku meraihnya dan mulai membukanya.


"PT.MAWAR INDAH ABADI"


aku mengernyitkan dahi melihat nama Mawar di sana


"Mawar ?"


gumanku membuat Raka berhenti

__ADS_1


"Ya ... benar ... dia salah satu pemilik PT yang mempercayakan suplai bahan kimia dari sini"


Rasanya seperti tersambar petir


Apa Roan tahu?


Apa Roan tahu siapa Mawar ?


"Tak usah banyak pikiran,tuan Roan sengaja bekerja sama dengan Mawar.Dia selalu menanyakan keberadaan anda saat itu,Mawar juga nampak sudah berubah"


Ya benar ...


ini sudah sepuluh tahun,tak mungkin seseorang tidak berubah.


Kecuali Rani dan Raka


Tapi aku tetap akan menanyakan hal itu pada Roan,agar aku siap bertemu dengan Mawar suatu saat nanti.


****


Niatku ingin menemui Sendy pupus sudah,rasanya memikirkan Mawar saja aku sudah lelah hari ini.


"Kamu capek?"


Tanya Roan di balik kemudi


Matanya masih fokus menyisir jalanan,aku mendesah menatap jalanan ibu kota yang ramai.


"Ternyata kamu berhubungan baik dengan Mawar ya?"


Tanyaku tanpa menatap Roan


"Ya ... dia salah satu pemilik perusahaan yang mempercayakan suplai bahan kimianya padaku"


mendengar penjelasan itu aku mendesah kesal


"Penjelasan kamu sama banget sama yang di jelasin kak Raka ..."


ujarku kesal


"kak??kak Raka?"


masalah yang aku pikirkan dengan yang Roan pikirkan mulai berbeda


"Kenapa ? kenapa harus dia ? kan banyak perusahaan lain yang butuh bahan kimia ?"


Protesku tak bisa menahan kekesalanku


"Kamu kenapa panggil Raka dengan sebutan Kak? sejak kapan?!"


Udara di dalam mobil terasa panas saat AC mobil di stel dingin.


"Jawab aku dulu ! kenapa harus Mawar ?! kamu tahukan dia dulu membullyku?!"


protesku


"Orang bisa berubah,Mawar jauh lebih baik sekarang!"


ucapannya itu membuatku merasa Roan sedang membela Mawar


"Jadi menurut kamu orang yang pernah membullyku adalah orang yang baik sekarang?!"


Roan mendesah frustasi


"Gak gitu....Gak gitu maksud aku "

__ADS_1


Berusaha menjelaskan,namun aku sudah mengeluarkan earphone dan menyetel musik kencang dari smartphoneku.


Rasanya tak ingin mendengar penjelasan Roan tentang Mawar.


__ADS_2