
Prangggg!!!!
Sangking gugupnya dihadapan Roan aku memecahkan cangkir berisi teh panas yang langsung menyiram tanganku.
Sejak cerita Sendy yang mengatakan Roan mencariku setelah aku menghilang,aku tak bisa menahan kegugupanku karena aku mulai yakin Roan hanya pura - pura tak mengenaliku.
Aku meringis sakit saat pecahan cangkir itu menggores kulit tanganku yang segera ku sembunyikan,aku tak ingin di cap sebagai wanita terobsesi yang sedang mencari perhatiannya.
Roan berdiri dari kursinya namun tetap tak bergeming dari tempatnya,aku cepat - cepat membereskan kekacauan itu.
"Maaf Pak,akan saya ganti yang baru"
Ucapku menahan getar di suaraku.
Roan tak menjawab hanya menghela nafas sambil mengusap dahinya dan menyuruhku pergi dari hadapannya dengan isyarat tangannya.
Dia mulai jengah...
Aku berdiri sambil mengaduk teh yang ku buat kembali sambil memandangi pemandangan dari jendela pantry,ribuan pertanyaan datang menghampiriku.
Kalau memang dia mengenaliku mengapa dia membiarkanku masuk kesini? terlebih jadi sekretarisnya?
Kalau memang dia dulu mencariku,untuk apa?
Aku menggelengkan kepala kuat - kuat ,dan menghela nafas sebelum membawa kembali teh itu ke ruangannya kali ini lebih berhati - hati meski tanganku masih bergetar.
"Kamu melakukan kesalahan ya ?"
Tanyanya sesaat setelah cangkir teh mendarat di mejanya,aku mendekap nampan itu kuat - kuat sambil menggelengkan kepala.
"Kalau kamu gak ngelakuin hal salah kenapa gugup kaya gitu ?"
Tanyanya lagi sambil menatap tajam ke arahku
"Maaf Pak,saya agak kurang sehat belakangan ini"
Bohongku sambil menundukan kepala tak ingin melihat wajahnya.
"Sakit?Kenapa gak ke dokter ? terus ijin aja?"
Entah nada khawatir atau menyindir keluar dari mulutnya
"Saya baru bekerja disini,saya akan ijin kalau dirasa sudah benar - benar tak sanggup bekerja"
Tuturku lugas
Itulah aslinya diriku,seberapa sulit keadaan seberapa sakitnya aku,aku berusaha hadir.Setidaknya hadir...
Aku menunduk hormat dan segera berlalu dari hadapannya tanpa menunggu reaksinya.
Aku terduduk lemas dikursiku,kalau saja aku tak membutuhkan pekerjaan ini untuk Ayah dan ibu mungkin sejak dari wawancara aku berlari dari tempat ini.
Mau bagaimana lagi?
Hanya di Well company yang berani menggaji sebesar ini,aku butuh biaya tambahan untuk pengobatan ibu.
Tiba - tiba dering telepon di atas meja memecah lamunanku,aku mengangkatnya ternyata dari resepsionis memberi tahukan bahwa ada yang mencariku.
Siapa ?
Tapi aku segera berjalan dengan cepat ke resepsionis untuk mengetahui itu.
"Sendy?!"
__ADS_1
Aku terperangah melihat kehadiran Sendy dengan busana pelayan Cafenya itu.
"Delivery service"
Dia tersenyum cerah sambil menunjukan satu cup caramel machiatto di tangannya
Aku segera menghampirinya dan mendekatkan wajahku ke telinganya.
"Aku lagi kerja !"
Ucapku menekankan sambil melirik beberapa resepsionis yang melirikku penuh pertanyaan.
"Aku nganterin ini doang kok!"
Ucap Sendy sambil menyerahkan cup dari tangannya ke tanganku.
"Saya nyari kamu,ternyata lagi disini!"
Ucap seseorang dari belakangku,membuat bulu kudukku berdiri seketika.
Aku berbalik pelan,tersenyum kaku ke arah Roan
"Ini Pak... ambil ini sebentar"
Menunjukan Cup caramel machiatto ke hadapannya,dan dia menyambarnya cepat dari tanganku.
"Kebetulan lagi pengen yang manis"
Ucap Roan sambil menyeruput isi cup itu membuat aku dan Sendy saling melempar pandangan tak mengerti.
"Ternyata bisa delivery ya? Saya pesan satu lagi yang kaya gini ya!buat dia..."
Ucap Roan pada Sendy sambil menunjukku,Sendy tak menjawab hanya menatap tanda pengenal Roan.
Roan berlalu tak mempedulikan reaksi aku atau Sendy.
Ucapku sedikit mengguncang tubuhnya yang masih mematung
"Itu Boss kamu?"
Tanya Sendy masih memandang punggung Roan yang kian menjauh.
"Iya ! Udah sana bawain satu lagi aku bayar pake kartu kredit perusahaan ya ! Bawa mesin EDC nya sekalian!"
Aku menepuk punggung Sendy yang masih mematung dan meninggalkannya menyusul langkah Roan yang cepat.
Roan bahkan tak melirik ke arahku saat dia dengan wajah tanpa dosa menyeruput nikmat machiatto milikku itu dan masuk ke ruangannya.
Aku cemberut menatap pintunya,tidak percaya bahwa sebegitu menyebalkan sikap dia sedari dekat.
Selang berapa lama,Sendy muncul di depan mejaku sambil membawa satu cup machiatto pengganti.
"Disuruh bawain ke boss kamu kata orang resepsionis"
Entah mengapa wajah Sendy jadi kesal tapi aku tak menghiraukannya dan segera mengetuk pintu ruangan Roan dan masuk bersamaan dengan Sendy ke dalam,Roan di kursinya dengan santainya masih menikmati machiatto milikku tadi.
"Pak ini macchiattonya..."
Ujarku pelan
"Nampaknya hari ini anda berubah selera"
Sendy menyeringai sambil meletakan cup di atas meja Roan.
__ADS_1
Roan meletakan cup di tangannya dan menatap Sendy tajam,entah mengapa udara di ruangan itu jadi dingin seketika.
"Nampaknya kamu juga suka memperhatikan pesanan pelanggan "
Ucap Roan tak mau kalah
"Tentu,saya memilik Cafe... saya harus tahu selera pelanggan saya."
Sendy tersenyum cerah ke arah Roan
Suasana apaan sih ini?!
Batinku menjerit
"Oh kamu pemilik Cafenya ... Humble sekali ya sampai mau mengantarkan langsung pesanan pelanggan"
Roan menyeringai membuat aku bergidik ngeri.
"Lyra teman sekolah saya dulu,saya berjanji akan mentraktirnya machiatto."
Aku tersentak mendengar ucapan Sendy yang tanpa filter itu.
Kalau teman Roan yang namanya Yohan itu tahu Sendy,artinya Roan juga ....
Arrrghhh!!!! Mulut ember dasar!!!
Aku mendelik marah sesaat pada Sendy,dia hanya mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.
Roan mengangguk - anggukan kepala pelan dan berganti menatapku tajam,aku sampai lupa bernafas melihat tatapannya itu.
"Kayanya nama kalian gak asing ya!"
Makin tercekat leherku mendengar itu
"Maaf Pak,lain kali saya akan minta machiattonya di luar jam kerja"
mengalihkan pembicaraan agar tidak melebar lagi
"Senang bertemu anda,saya harap anda suka dengan semua menu di cafe saya"
Ucap Sendy lagi ramah namun penuh arti.
Aku hampir saja menerjang mulut Sendy yang tak berhenti mengoceh itu,untung saja dia segera keluar dari ruangan Roan.
Dia mengedipkan mata padaku yang ku balas dengan tatapan kesal setengah mati
Awas kau nanti !!!
Kata-kata makian sudah tersusun rapih di otakku untuk Sendy.
Sepeninggal Sendy,Roan menatapku lagi sambil mengatup tangannya di depan mulutnya sendiri.
"Bawa!Saya mengganti punya kamu tadi"
Ujarnya menunjuk caramel machiatto di ujung meja
"Terimakasih Pak"
Aku meraihnya dan langsung lari dari hadapannya tak ingin memancing ingatannya lebih dalam.
Aku langsung menyambar ponselku dan mengetik pesan untuk Sendy.
Kopi yang ini belum di bayar,aku bayar pas udah pulang ya!sekalian aku mau bicara!!!
__ADS_1
Sendy tak menjawab pesanku membuat waktu terasa lama bergulir menunggu jam pulang kantor.
****