
Aku membanting pintu mobil keras - keras dan masuk ke rumah dengan langkah cepat,bahkan bi Ita dan Pak Yanto pun tak berani menyapaku yang moodnya terlihat jelas sedang seperti singa yang mengamuk.
Roan mengikuti langkahku hingga ke kamar,dan menarik headsetku sampai aku berbalik dan menatapnya tajam.
"Dengar ... semua orang berubah.Mawar pernah berucap dia menyesal telah membullymu waktu dulu"
Aku duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang muram.
"Kamu,dia ... aku ... kita semua naif pada masanya.Kamu harus tahu,bukan cuma kamu yang punya penyesalan meninggalkan sekolah karena aku"
Mulai berlutut di depanku dengan tatapan lembutnya
"Aku menyesal mengirimi kamu pesan menyakitkan itu,dan Mawar merasa bersalah karena telah memfitnah kamu.Dia mengakui,aku juga sempat marah.Karena dia,aku menyakiti kamu.Tapi setelah aku melihat bagaimana sikapnya,bagaimana usahanya menemukan kamu,bagaimana dia senang saat mengetahui kamu sekarang ada disini,aku yakin dia benar - benar menyesal"
Hatiku melunak mendengar penjelasan Roan
"Dia ingin bertemu dengan kamu,meminta maaf,tapi dia takut sama reaksi kamu..."
Benar kah?
Mawar yang tak kenal takut pada masanya merasakan ketakutan itu
"Aku ingin kalian bertemu,dan kamu memaafkan semuanya.Ini semua sudah takdir,aku, kamu ,dia bahkan Sendy sudah ada dalam lingkaran takdir yang akhirnya menyatukan kita "
Menggenggam hangat jemariku.
"Aku juga mau memberikannya undangan kita "
jelas Roan tersenyum bahagia mengucapkan kata undangan
"Benarkah?"
Memastikan ucapan Roan,Roan menganggukan kepalanya
"Baiklah,besok aku ikut presentasi ke perusahaan Mawar."
Ucapku masih dengan wajah merajuk
"Nah sekarang ..."
Roan duduk di sebelahku dan memeluk tubuhku dengan posesif
__ADS_1
"Jelaskan mengapa kamu memanggil Raka,Kakak????"
Ah masalah lainnya
"Aku tidak lupa dia kakak kelasku dulu"
Ujarku
"Kakak kelas yang pernah menyukaimu?"
Mulai lagi dengan kecemburuannya
"Ih... apaan sih ?! ya aku cuma manggil dia kakak,bukan sayang kok!"
protesku
"Jadi kamu mau manggil dia sayang?!"
Sorot matanya tajam
"Ya Engga lah !"
"Jangan panggil dia dengan nada yang manja!Aku cemburu!"
Serakahnya Roan tak pernah hilang membuatku tertawa simpul
"Kenapa tertawa,aku sedang cemburu!"
Mengeratkan pelukannya
"Kalau aku panggil kamu ... Sayangg...."
Aku sendiri geli menyebut kata itu padanya dengan nada manja
Tapi reaksi Roan bukan geli,dia mengecup bibirku mesra
"Aku suka.. panggil aku seperti itu"
Ah ... malah jadi aturan baru kan ?!
"Panggil aku lagi seperti itu!"
__ADS_1
Perintahnya membuatku mengatup bibirku rapat dan menggelengkan kepala kuat -kuat
"Ayo..."
Tuntutnya dengan mata sayunya yang entah kapan berhenti membuatku terpesona
"Gak mau "
Tolakku dengan wajah bersemu merah
"Kamu menolak ?!"
Tanyanya dengan nada ancaman
Roan mencium leherku,bagian tubuh yang membuatku merinding saat Roan menciumnya
"Hentikan"
Ujarku lirih saat Roan masih menciumi leherku
Roan menatapku dari jarak yang sangat dekat hingga debaran jantung kami terdengar satu sama lain.
"Kamu tahu arti ciuman di leher?"
Tanya membuatku mengerjapkan mata tak mengerti
"Aku menginginkanmu,You are mine "
Ujar Roan dengan suara yang memberat
Aku mencium pelan leher Roan
"You're mine ,Roan "
Menatap sayu mata yang selalu membuatku lupa akan banyak hal dan ketakutan.
Roan tak menjawab hanya mencium bibirku lebih dalam,ada perasaan senang Roan yang menyeruak lewat ciumannya
Ah ...
Roan memang haus pengakuan
__ADS_1