
(Roan)
Aku tak mengerti mengapa sikap Lyra nampak dingin setelah dia tahu aku mengetahui siapa dia,menyebalkan melihatnya berpura - pura profesional bahkan mengabaikanku.
Entah mengapa gerak geriknya selalu membuatku kesal,bukan karena dia tidak cantik atau semacamnya.
Tapi dia terus mengabaikanku,dan tak memberiku kesempatan membahas mengapa dia menghilang tepat sehari setelah aku mengiriminya pesan itu.
Dia tak mungkin lupa pesan dariku itu dengan mudah,apalagi kalau ternyata itu yang membuatnya keluar dari sekolah.
Apa memang benar - benar tidak penting baginya?hingga dia melupakan begitu saja ???
Entah mengapa hatiku marah saat memikirikan hal itu,hingga yang keluar hanya ucapan sakarsme dari mulutku untuknya.
Dan itu pun tak berhasil membuatnya bereaksi ataupun membuatnya marah atau memakiku,untuk ukuran yang katanya terobsesi olehku dia nampak sabar dan tahu diri.
Ucapan kakak kelasnya yang bernama Mawar itu sepertinya hanya bualan belaka,kalau aku membandingkan dengan kepribadiannya.
Aku dan dia memang tidak pernah dekat meski pernah satu kelas,tapi dia selalu malu - malu saat berada di dekatku bahkan tak berani menatap mataku.
Harusnya aku bisa minta maaf karena sudah salah sangka dan menyuruhnya enyah waktu dulu,tapi kesempatan itu tak kunjung datang karena sikapnya.
Hingga pagi ini dia membuat kesalahan dan membuatku sangat marah sampai-sampai aku meninggalkannya di tempat meeting,kalau memang dia ingin bersikap profesional mengapa tidak dilakukan dengan benar!aku bersabar karena kinerjanya membaik,tapi karena aku tak kunjung menemui kesempatan untuk membicarakan masalalu itu dan dia terus - terusan bersikap sok profesional aku marah... sangat marah hingga mengabaikan kakinya yang lecet dan bengkak itu.
Dan kini aku berakhir kembali menyesali kemarahanku yang meledak - ledak itu hingga memecatnya ...
Mengapa aku kesal tanpa sebab?
Aku juga kesal setiap pulang di suguhi pemandangan dia dan lelaki itu sedang bercanda di Cafe dengan ceria.
__ADS_1
Ya lelaki itu,yang katanya dekat sekali waktu dia di SMA !!!
Aku inget persis namanya Sendy
Lamunanku pecah saat seseorang menerobos masuk dan menyimpan satu cup espresso dengan kasar di atas mejaku hingga tumpah.
Sendy menatapku penuh amarah,tangannya mengepal erat seperti hendak memukulku.
Aku bangkit berdiri,tak kalah sengit menatapnya.
"Silahkan nikmati Espresso kesukaan anda,jangan berpura - pura menyukai caramel machiatto kalau ternyata anda pecinta espresso,itu tidak menghormati pembuat kopinya!"
Ucap Sendy dengan nafas masih setengah terengah
"Mengapa pemilik Cafe tiba-tiba datang dengan cara tidak sopan seperti ini?"
Ucapku dingin
Suaranya menggelegar hingga ke sudut ruangan.
"Lyra bekerja disini karena dia butuh uang buat pengobatan ibunya yang sakit,dia bekerja keras disini bahkan sampai melupakan dirinya sendiri untuk membuktikan pada anda dia bersungguh - sungguh,tanpa ingin mengusik anda"
Ucapannya menghujam hatiku.
Ternyata Lyra serius saat berkata akan bersikap profesional,dia mengesampingkan segala hal agar bekerja disini.
"Anda jangan mempermainkannya,si bodoh itu sampai saat ini menahan perasaan sukanya pada anda demi keluarganya!Dan karena satu kesalahan dia di hukum berjalan selama tiga setengah jam dengan kaki lecet dan bengkak serta kondisi tubuhnya yang sedang kurang sehat!bahkan anda memecatnya sesampainya disini!!!"
Sendy menatapku marah
__ADS_1
Jadi Lyra tidak berbohong mengenai dompetnya yang tertinggal?
"Si bodoh itu sedari dulu mengalah karena keinginan anda yang selalu menginginkan dia pergi!Apa salah menyukai seseorang?!Apa salahnya perasaannya itu?!!!!"
Meluap sudah kemarahan Sendy di depanku,dia berlalu dari hadapanku.
"Dimana dia?"
Menghentikan langkahnya
"Rumah Sakit terdekat dari sini di Kamar Bougenville 1,dia bahkan terus menangis saya bahkan tak mampu menghiburnya.Ini kesempatan anda yang terakhir kali untuk memperbaiki kesalahan anda,saya takan membiarkan anda mendapatkan kesempatan ini lagi selanjutnya!"
Sendy meninggalkanku dan membanting pintu ruangan kasar.
Kata-katanya seakan menamparku secara berulang,aku tak seharusnya bersikap seperti ini sedari dulu.
Lyra berhak menyukai siapapun,Lyra pun tak pernah mengusikku dia tak pernah sekalipun berani mengungkapkan dan membuatku tak nyaman.
Gosip- gosip itulah yang membuatku risih hingga aku dulu memutuskan berpacaran dengan Rani agar gosip itu menghilang,bahkan aku menyuruhnya enyah saat Lyra di gosipkan mengaku - ngaku sebagai pacarku tanpa bertanya lebih dulu.
Sekarang karena aku marah tak bisa meminta maaf dengan benar,aku marah dan memecatnya karena satu kesalahannya dalam bekerja.
Apa sebegitu naifnya diriku?
Bahkan sekarang Sendy terlihat lebih gentleman pada Lyra di banding aku ini...
Aku ingin menemuinya,aku ingin dia kembali bekerja disini.
Setidaknya aku bisa menebus perasaan bersalahku padanya,setidaknya ibunya mendapat biaya untuk pengobatan.
__ADS_1
Tanpa aku sadar,harga diri dan keegoisanku malah menjadi neraka untuk Lyra.
Lyra yang tak pernah meminta balas atas segala perasaannya padaku...