KARMA CINTA PERTAMA

KARMA CINTA PERTAMA
Ayah VS Roan


__ADS_3

Aku dan Roan sama - sama duduk di hadapan Ayah seperti sepasang kekasih yang sedang ketahuan berbuat sesuatu yang tidak pantas di hadapan Ayahku.


Beberapa lama Ayah hanya diam menatap aku dan Roan bergantian.Aku benar-benar tak membayangkan situasi macam ini sebelumnya.


"Ayah..."


Ayah mengangkat tangannya menyuruhku diam


"Pergi ganti baju dan jangan menguping!"


Perintah Ayah masih menatap lekat Roan di hadapannya.


"Tapi Ayah,dia ini..."


Ayah menatapku kesal tak ingin mendengar alasan lagi.


Aku menatap Roan khawatir sebelum pergi tak bisa membantah Ayahku,setelah mandi dan ganti baju di kamar aku hanya mondar mandir tak jelas sambil menggigiti kuku tanganku.


Penasaran tapi tak berani mendekat ke ruang tamu,Ayah pasti marah besar kalau aku melakukan hal itu.


Aku hanya menempelkan telinga ke pintu namun tak ada satupun yang terdengar karena jarak kamarku dengan ruang tamu agak jauh.


Akhirnya aku hanya menatap jas Roan yang ku gantung dengan perasaaan was was


****


Roan


Ayah Lyra menatap tajam padaku,entah mengapa pertama kalinya aku merasa gugup dipandang oleh orang yang mempunyai rumah sesederhana ini.


"Kamu siapanya Lyra?"


Setelah sekian lama menatap dia membuka suara.


"Saya teman sekolah Lyra dulu sekaligus CEO di tempat Lyra bekerja,Pak"


Jelasku


"Jangan karena kamu kaya bisa mempermainkan anak saya "


Hardiknya


"Sa.. saya tidak ada niat seperti itu,Pak"


Ucapku makin gelagapan


"Maksud kamu Lyra itu gak cantik?!"


Wajahnya sudah merah menahan marah dan tangannya mengepal kuat di lututnya


"Bu..bukan maksud saya,Lyra memang cantik Pak.Tapi saya saat ini hanya sebatas CEO tempat Lyra bekerja"


Ujarku untuk membersihkan kesalah pahaman ini


"Saat ini,besok atau lusa batasnya nanti beda lagi!"


Dari gaya bahasanya sepertinya benar - benar Ayah yang posesif


"Saya mengantarnya tadi karena Lyra jatuh ke kolam renang,bajunya basah semua Pak.Rasanya kurang pantas membiarkan Lyra pulang dengan keadaan begitu"


Aku mengatur kembali ketenanganku.


"Lyra tidak pernah punya baju seperti itu sebelumnya,kamu yang berikan?"


Nyaliku menciut lagi


"Iya Pak,karena kami datang ke pertemuan penting makanya saya memberikan baju itu untuk Lyra kenakan"


Ayah Lyra mangut - mangut

__ADS_1


"Harusnya kamu membawa pacar kamu atau orang yang lebih penting di banding sekretaris yang belum genap bekerja selama satu bulan kan?"


Iya juga ...


tapi pacarpun aku tak punya,yang terlintas hanya Lyra yang bisa ku bawa.


"Saya tidak punya pacar,Pak"


Tuturku jujur


"Saya peringatkan satu hal Pak CEO terhormat,meski kami miskin kami tidak berniat menjual jiwa atau tubuh kami.Jadi kalau anda berniat mempermainkan Lyra,anak satu - satunya keluarga ini.Tolong hentikan !"


Peringatan itu membuatku bergetar


"Saya tidak mempermainkannya,saya menghargai Lyra sudah bekerja dengan baik selama ini"


Kembali ke pekerjaan,terlalu cepat kalau aku mengutarakan isi hatiku yang masih gamang ini kepada Ayah Lyra kan???


"Terimakasih,Lyra memang tekun dan pekerja keras.Jangan salah artikan kebaikannya,dia orang yang perasa.Jangan memberikan harapan apapun kalau hanya sebatas teman,atau atasan.dia mudah terharu"


Peringatan lainnya lagi.


"Silahkan pulang,terimakasih sudah mengantar Lyra"


Beliau berdiri dari duduknya,aku membungkuk hormat dan pamit dari rumahnya.


Sepanjang perjalanan pulang,yang terngiang hanya peringatan terakhir Ayah Lyra


Jangan memberi harapan


Harapan apa?


Harapan siapa?


Harapan Lyra???


atau mungkin aku???


Lain dulu lain sekarang,aku lebih mengenalnya sejak dia menjadi sekretarisku.


Lyra wanita yang tidak manja,tidak banyak mengeluh dan pekerja keras.Dia juga sangat menyayangi orang tuanya.


Gerak geriknya tanpa aku sadari menarik perhatianku sejak bertemu kembali,dia tumbuh menjadi gadis yang memikat dimataku.


Wajahnya yang polos dan lugu menggemaskan hati dan mencuri mimpi - mimpi ku setiap malam.


Bahkan melihat dia tertawa lepas dengan Sendy membuat hatiku terasa terbakar.


Aku menghentikan mobil saat lampu merah menyala,aku mengalihkan pandanganku keluar jendela.


Terlihat sebuah toko buah yang berdiri tepat di sisi jalan,membuatku mendapat ide gila.Dan aku berakhir membeli sebuah parsel buah beraneka macam yang akan ku berikan pada Ayah Lyra.


Mendapatkan hati Ayah Lyra dulu,itu rencana awalku,sesaat aku meyakinkan diriku sudah terjerat oleh Lyra.


Ku putar balik arah mobilku menuju rumah Lyra,meski tak tahu apa reaksi Ayah Lyra nantinya aku harus memberikan first impression yang baik.


Aku mengetuk pintu rumah sederhana itu setelah menghela nafas berkali -kali mengusir rasa gugupku


Ayah Lyra membukakan pintu,seperti rencanaku.


"Maaf mengganggu,Pak.Saya membawakan ini sebagai buah tangan,rasanya tidak sopan kalau saya tidak membawa apa-apa"


Meski nampak ragu,Ayah Lyra menerimanya sambil menatapku penuh tanya.


"Duduk dulu"


Beliau menggiringku ke kursi didepan rumah itu,penerangan yang remang malah membuat malam itu terasa hangat.


"Nampaknya ada yang belum di utarakan"

__ADS_1


Ucapnya setelah tubuhku mendarat tepat dikursi.


"Saya..."


Belum sempat aku mengutarakannya Ayah Lyra memotong ucapanku


"Suka sama anak saya?"


Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal


"Iya,Pak.Sebenarnya,Lyra pernah menyukai saya dulu waktu sekolah...meski begitu,Lyra tidak pernah mengungkapkannya,saya hanya tahu dari omongan teman - teman."


tuturku


"Itu kan dulu"


Beliau meletakan parsel buah itu di atas meja dan kembali menatap saya.


"Iya,Pak.Tapi sekarang saya merasa Lyra memang wanita yang hebat,dia selalu membuat saya tersenyum tanpa sadar.Saya gak tahu perasaan Lyra pada saya sekarang,tapi sebelum saya memulai mendekati Lyra saya ingin meminta ijin pada Ayahnya"


Ucapku pelan namun lugas


"Saya suka kamu berterus terang langsung pada saya.Saya bukan tipe Ayah yang banyak maunya,semua terserah pada Lyra.Karena dia yang merasakannya,tapi kalau kamu meminta ijin pada saya.Silahkan...dengan syarat,jangan sakiti dia,jaga dia.Dia satu - satu harapan keluarga ini"


Tatapan beliau melunak,seakan ada kesedihan dari ucapannya.


"Baik,Pak"


Tersenyum senang mendapat lampu hijau itu dari Ayahnya langsung.


"Lyra itu,harus mendapatkan pasangan yang baik dan bertanggung jawab.Lyra sedari kecil hidupnya susah,waktu dia mengalami pembullyan di sekolah dia gak pernah cerita apapun.Anaknya tertutup,mungkin karena tak ingin orang tuanya khawatir,saya tahu setelah dia minta keluar dari sekolah itupun dari gurunya yang dapat laporan dari teman-temannya.Selama ini istri dan saya merasa sedih karena Lyra yang memutuskan merantau,sampai istri saya kena serangan stroke dan memaksa dia untuk balik ke kota ini"


Cerita itu seketika memudarkan senyumku.


"Saya juga bukan orang kaya yang bisa mindahin sekolah anak saya kemanapun yang dia mau,ditambah Lyra mengalami kecelakaan hebat dan cedera punggungnya membutuhkan therapy yang biayanya tidak sedikit.Tapi akhirnya anak keras kepala itu punya ijazah SMA dan kuliah hasil kerjanya sendiri,saya bangga sekaligus sedih"


sambungnya dengan mata berkaca - kaca


"Saya tidak menjanjikan apapun buat Lyra,tapi saya akan berusaha membuat Lyra merasa menjadi wanita yang beruntung"


Ujarku penuh tekad membuat beliau terkekeh


"Semangat dan kepercayaan diri kamu mirip saya dulu,hahahaha!Tapi saya tidak akan membantu kamu,biarkan kamu yang berjuang mendapatkan Lyra sendiri"


Aku tersipu mendengarnya


"Sudah malam,pulanglah nanti orang tua kamu khawatir"


Deg,hatiku tercabik seketika


"Saya hidup sendiri di rumah,ibu saya meninggal waktu melahirkan saya.Dan lima tahun lalu Ayah sakit keras dan meninggal"


ucapku sendu,beliau nampak terkejut


"Maaf"


Dia menghela nafas berat


"Tak apa,Pak.Itu sudah lama berlalu.Kalau begitu saya pamit.sekali lagi maaf saya sudah mengganggu malam - malam"


Ucapku seraya berdiri,beliau mengikuti langkahku mengantarku hingga ke pagar rumah.


Beliau menepuk beberapa kali pundakku dengan tatapan hangat


"Sesekali mainlah disini kalau kamu bosan di rumah sendirian.Dan semoga berhasil mendapat hati Lyra,nak"


Beliau berlalu meninggalkan aku yang masih terperangah mendapat sebutan itu.


Hatiku terasa hangat setelah beberapa tahun tak mendengar sebutan itu.

__ADS_1


Beliau dan Lyra sama persis nampak dingin diluar namun mempunyai hati yang hangat.


__ADS_2