KARMA CINTA PERTAMA

KARMA CINTA PERTAMA
Maaf


__ADS_3

Aku menatap Roan heran saat dia berdiri tepat di samping tempat tidurku,dia menatap infusan yang menempel di tanganku dengan tatapan khawatir.


Ekspresi wajah yang tak pernah aku lihat sebelumnya membuatku melihatnya dengan perasaan aneh.


"Pak Roan?"


Ujarku membuatnya kembali membenahi ekspresinya .


"Kamu sakit?"


pertanyaan bodoh! kalau aku di rumah sakit dengan keadaan seperti ini artinya aku sakit kan?!


"Kenapa anda ada disini?"


Aku bahkan tak berniat menjawabnya.


"Temanmu nampaknya marah sekali karena saya meninggalkan kamu di tempat meeting"


Ujarnya dengan wajah kesal


Sendy? Kenapa si ember itu bilang segala sama dia sih? apa coba maksudnya?!


"Kayanya gak ada yang harus di bicarain lagi"


Ucapku memalingkan wajah darinya


"Ada!"


Roan menekankan suaranya,dan aku sama sekali tak menggubrisnya.


"Kamu gak pernah mengaku - ngaku jadi pacar aku sewaktu sekolah dulu?"


mendengar pertanyaannya itu leherku tercekat dan langsung menatapnya marah


"Mengapa anda baru bertanya sekarang setelah hampir 10 tahun berlalu?"


Tanyaku sinis


"Jawab saja ... "


Dia mendesah frustasi


"Tidak,tidak pernah sekalipun saya mengatakan anda pacar saya."


Tegasku padanya membuatnya semakin mendesah frustasi memegangi dahinya dengan tangan.


"Sekalipun sudah di jawab,itu tidak akan merubah segalanya sekarang."


Ucapku dingin.


"Lalu mengapa kamu keluar dari sekolah?Apa karena pesan saya waktu itu?"


Meski jawabannya iya aku tak ingin dia tahu,sudah tak ada gunanya


"Anda tak sespesial itu ,Pak"


Ujarku menegarkan perasaanku sendiri.


"Saya keluar karena tak tahan di bully tiap hari"


Ujarku memilin jemariku sendiri


Roan membisu beberapa saat dan memperhatikan jemariku yang saling terpaut itu.


"Syukurlah..."


Dia bernafas lega namun wajahnya nampak kesal,entah kesal karena apa...


"Saya ingin istirahat"


Aku mengusirnya .


"Maafkan saya... maafkan karena telah salah paham,saya tahu takan merubah apapun.Tapi setidaknya biarkan saya minta maaf,kita masih bisa bekerja bersama tanpa melihat ke belakang."


Dia menundukan kepalanya membuat aku menatapnya heran.


The winner ,Roan Welly Wijaya meminta maaf sambil menunduk.Apa aku harus mengabadikannya ???

__ADS_1


"Maaf sudah salah paham,maaf juga sudah bereaksi berlebihan saat meeting tadi dan membuat kamu berjalan kaki sejauh itu"


Tambahnya lagi semakin membuatku bingung.


Setelah itu dia menyembunyikan wajahnya dari pandanganku dan berbalik.


"Bekerja kembali setelah sembuh..."


Dia berlalu setelah mengatakan hal itu padaku,meninggalkan aku yang masih bingung mendengar permintaan maafnya.


Hati ini berdebar hanya dengan mendengar dia meminta maaf dengan wajah tersipunya.


Bodoh!!!


***


Roan


Aku mengatur nafas setelah keluar dari ruangan itu.Wajah Lyra yang polos tanpa riasan itu bahkan terlihat lebih cantik dari biasanya,entah apa yang ada dipikiranku tapi wajahnya itu membuat wajahku terasa panas.


Aku menepuk - nepuk pipi ku berusaha menyadarkan diri sendiri


"Sudah minta maaf ?"


Suara Sendy membuatku menghentikan hal itu dan berusaha bersikap normal dan menatapnya tajam.


Di jam ini ? dia datang ke rumah sakit untuk menemani Lyra ?


"Ya,Saya sudah meminta maaf...Lyra bekerja kembali setelah sembuh"


Jelas ku singkat,dia menganggukan kepalanya dan maju beberapa langkah ke depanku


"Senang melihatnya?wajah anda merah saat keluar dari sana"


Menatapku curiga


"Apa maksud anda?"


Ujarku sedikit gelagapan


"Lyra memang cantik dengan wajah polosnya,setelah sekian lama kamu baru sadar !"


"Hentikan omong kosong mu!"


Aku melangkah pergi darinya


"Hei...Jangan usik hati Lyra lagi!"


Aku berhenti melangkah mendengar hal itu dan berbalik ke arahnya


"Perasaannya bukan milikku,aku akan membiarkan dia menyukai aku!!!"


Aku segera berlalu darinya tak ingin mendengar ocehannya lagi.


***


"Hei...belum tidur kamu?"


Sendy menyapaku dengan senyum cerahnya


"Heh!!!!Kamu bilang apa sih sama si Roan ?!"


Aku langsung mencubit lengannya ketika di duduk di samping tempat tidur membuatnya meringis kesakitan


"Dih ... bukannya bilang makasih,malah nyubit!"


dia mengusap - ngusap lengan yang tadiku cubit


"Iya sih ... aku gak jadi di pecat sama dia ... tapi ekspresinya tadi tuh ngebahayain !!!"


Ucapku mengacak kasar rambutku hingga rambutku terburai ke segala arah


"Apaan sih?! bahaya apaan?!"


Tanya Sendy terkekeh


"Jantung aku mau copot rasanya !!!!"

__ADS_1


Ucapku memegangi dadaku


Sendy meraih kepalaku dan merapihkan rambutku yang berantakan


"Jangan jatuh cinta sama dia lagi Lyr"


ucap Sendy sambil terus merapihkan rambutku


"Aku gak mau kamu sakit hati lagi,aku gak mau kamu kabur lagi..."


Aku terkekeh melihat sikap manis Sendy padaku dan menepis tangannya


"Apaan sih?! Sok manis gitu..."


Menatap Sendy,geli sendiri


"Emang aku tuh dari dulu manis,kamu aja baru nyadar"


Sendy tersenyum di buat - buat membuatku semakin terpingkal.


***


Beberapa hari hanya Sendy yang menemani,dan beberapa kali juga Roan mengirimiku makanan ke rumah sakit lewat orang suruhannya.


Setelah sembuh dan pulang,aku langsung menuju rumah menjumpai Ayah dan ibu.


Ibu bahkan menangis melihat kehadiranku,mereka khawatir karena tiba - tiba aku keluar kota.


Aku memeluk ibu,aku selalu merasa sedih melihat ibu yang menangis karena kekhawatirannya terhadapku.


"Bu ... aku akan menjaga diri... "


Ibu hanya menangis tangannya berusaha mengusapku meski dengan gerakan kaku.


Ayah bahkan tak bertanya padaku karena marah aku tak berbicara terlebih dulu padanya.


Membujuk Ayah yang marah memang agak sulit di banding ibu,Ayah cenderung diam ketika marah...


"Ayah,aku akan menjaga diriku sendiri.Ayah dan ibu gak boleh khawatir lagi,aku sudah dewasa sekarang"


Ucapku di balik dinding,sambil melirik Ayah yang sedang mereparasi sebuah mesin cuci.


"Kamu ini,bilang Ayah gak boleh khawatir tapi bikin khawatir terus!Umurmu yang dewasa,tapi punya pacar pun belum..."


Ucapan Ayah menyentil jiwa jombloku


"Ayah.... Perempuan juga bisa jaga diri sendiri,gak harus punya pasangan baru ada yang jagain kan ?!"


Rajukku sambil memijit bahu Ayah berupaya meluluhkannya


"Tetep aja Lyr... Kalau Ayah ibu udah gak ada,kamu harus ada yang jagain ... seenggaknya sebelum Ayah gak ada,Ayah harus mastiin kamu di jaga sama lelaki yang bertanggung jawab "


Ayah mulai lagi dengan keluhannya itu


"Jangankan calon suami,pacarpun aku gak punya,Yah..."


Ujarku sambil duduk di sebelah Ayah masih dengan ekspresi merajuk.


"Dari dulu sampai sekarang,gak pernah Ayah lihat kamu bawa pacar ke rumah,teman cowok aja gak pernah"


Ayah masih fokus dengan obeng yang dia pegang


Kalau di pikir - pikir aku memang tidak pernah membawa teman apalagi pacar untuk aku kenalkan pada Ayah dan ibu,bukan karena aku tidak mau orang lain tahu siapa Ayah dan ibu hanya memang aku tidak mau saja,belum ada yang spesial untuk aku bawa ke rumah.


Kalau aku membawa Sendy,aku tidak mau Ayah dan ibu salah paham menyangka Sendy adalah pacarku,Sendy pasti tidak nyaman.


"Pokoknya,kalau kamu gak bawa pacarmu kesini ... nanti Ayah jodohkan sama anak teman Ayah !"


Aku terperanjat mendengar ucapan Ayah


"Ayah jangan bercanda ah... kan bukan zaman dulu di jodoh-jodohin gitu..."


Rengekku


"Kalau gitu kenalin Ayah sama lelaki yang bisa bikin Ayah yakin dia bisa ngejaga kamu"


Ayah meninggalkanku sendiri di hadapan mesin cuci rusak itu.

__ADS_1


Aku bahkan baru mulai bekerja lagi besok setelah kekacauan yang ku buat,bisa bekerja kembali pun sudah merupakan berkah buatku,sekarang tiba - tiba saja Ayah meminta aku mengenalkannya dengan pacarku.


Ah... aku tak terpikir sampai sana, ya tapi memang usiaku sudah tak belia lagi sih wajar Ayah dan ibu mulai khawatir.


__ADS_2