KARMA CINTA PERTAMA

KARMA CINTA PERTAMA
Permintaan Roan


__ADS_3

Aku memilih bungkam dan memasak untuk Ayah,Roan pun ikut bungkam setelah moodku yang memburuk.


"Yah... Lyra udah masakin,kayanya Lyra mau langsung pulang...Lyra gak enak badan"


Pamitku sambil mencium tangan Ayah


"Kamu sakit nak?"


Tanya Ayah khawatir


"Mungkin masuk angin Yah..."


Ujarku sambil tersenyum kecut


Roan membawakan tasku dan ikut mencium tangan Ayah


"Nanti kita kesini lagi Yah kalau libur"


Ucap Roan tersenyum


Aku beranjak pergi dan memilih masuk ke dalam mobil tak bisa menyembunyikan perasaan kesalku


***


Roan


Ayah menepuk bahuku sebelum aku beranjak dari pintu mengejar Lyra yang sudah masuk kedalam mobil.


"Nak Roan... ada apa?"


Tanya Ayah membuatku menghela nafas


"Tadi saya bertemu mantan pacar saya dulu yang kebetulan teman sekelas Lyra waktu SMP Yah...Lyra sepertinya gak mau mengaku didepan dia bahwa dia adalah istri saya,sampai bersembunyi di parkiran"


Bukan niat mengadu hanya saja radanya mengganjal di hati


"Sepertinya Lyra malu mengakui saya suaminya,Yah"


Ujarku tertunduk lesu


Ayah menepuk pundakku lagi sambil berjalan keluar rumah


"Kayanya Lyra yang merasa kamu akan malu kalau mengakui dia istrinya,Lyra ... semenjak dia keluar sekolah dia suka krisis percaya diri ..."


tutur Ayah membuatku meremang sedih


"Tapi,Yah... saya sendiri ingin mengakuinya ... saya sudah tak nyaman di kantor karena Lyra memperlakukan saya sebagai atasannya.Saya juga ingin orang lain tahu Lyra sudah jadi milik saya "


Rasa itu memang membuatku tak sabar


"Nak Roan...perempuan itu memang begitu.Kita sebagai pria yang harus lebih sabar.Perasaannya halus,hal yang sepele bisa berarti besar buat perempuan"


Nasehat Ayah sambil tersenyum merangkulku


"Sekarang,buat Lyra percaya diri"


Saran Ayah melepas kepergianku


"Terimakasih Yah... saya pamit dulu"


Ujarku seraya masuk ke dalam mobil.


Lyra bahkan tak melirikku,dia masih marah bukan marah padaku tapi pada dirinya sendiri.


Hahh....

__ADS_1


Mengapa serumit ini?


Kalau aku memilihnya menjadi istriku itu artinya aku menganggap dia pantas untukku bukan???


***


Aku menghindari Roan yang beberapa kali mulai ingin mengajakku berbicara,aku masih marah ...


Marah pada diriku yang tidak sepadan dengannya dalam segi apapun.


Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur,bahkan tak ingin makan apapun saat ini meski aku belum makan siang.


Roan masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidur di dekatku


"Dengerin aku ..."


Pinta Roan serius


"Kalau aku milih kamu,artinya kamu pantas buat aku"


Roan terdengar frustasi menjelaskannya,aku bangkit duduk dan menatap Roan sedih


"Tapi enggak kata orang lain!"


Protesku


"Aku gak peduli apa kata orang lain,Lyr"


Menatap dalam bola mataku,aku tertunduk sedih


Roan beringsut mendekatiku


"Kamu... perempuan pekerja keras,kamu sayang banget orang tua kamu ... kamu istri aku yang paling cantik dan cuma kamu satu - satunya"


"Aku bangga sama kamu,Lyr ... itu kenapa aku sebenarnya gak tahan kita belum mengadakan resepsi"


Wajahnya ikut sedih


"Aku ingin semua orang tahu,aku ini milik kamu...kamu itu milik aku.Sendy atau Rani mereka harus tahu kita sekarang suami istri"


Menyelipkan rambut ku ke telinga dengan lembut


"Aku gak mau pria lain ngedeketin kamu,Lyr"


Dia mengecup bibirku,membuatku melepaskan tangannya dari pipiku dan tertunduk.


"Kamu juga gak mau kan aku terus - terusan di deketin perempuan lain?"


Ucapnya mencari pandanganku,geram mendengar ucapan terakhirnya.


"Itu karena kamu selalu tebar pesona "


Aku mendelik marah ke arah Roan


"Jadi ceritanya bukan karena gak percaya diri,tapi cemburu juga ...hahaha"


Roan tertawa lepas membuatku mencubit pinggangnya hingga dia mengaduh


"Ih ... main cubit aja ya !"


Langsung menerjangku hingga aku jatuh tertidur dengan Roan di atasku


"Lyra ... cuma kamu yang bikin aku pengen terus sama kamu seharian "


Ucap Roan membelai rambutku,matanya yang sayu menyapu wajahku.

__ADS_1


"Tapi aku suka ... ternyata kamu bisa cemburu juga sama aku,aku kira cuma aku yang cemburuan"


Godanya mencubit daguku pelan


Aku meronta dan mendorong tubuhnya namun kalah tenaga dengan Roan


Ah...


aku sudah tahu tatapan ini,sudah pasti aku di kurung di kamar kalau sudah begini.


***


Roan menciumi bahuku dari belakang membuatku menggeliat geli,dia seperti orang yang sedang mabuk di posisi seperti ini.


"Hentikan..."


Protesku masih menggeliat tapi Roan menciumi tubuh polosku dengan lembut.


"Jadi kapan resepsinya?"


Bisiknya di telingaku


"Nanti aja"


jawabku sambil memejamkan mata


Semburat senja masuk ke dalam kamar lewat jendela membuat suasana menjadi romantis


"Kalau nanti kamu hamil terus perut kamu membesar kamu pasti gakan mau resepsi kan?situasinya akan lebih sulit lagi "


Ucapnya serius


Aku tak berpikir sampai ke sana,bisa saja bulan depan aku hamil.


"Apa jangan - jangan kamu gak kepikiran mau punya anak sama aku?!"


Tanya Roan mulai panik


"Enggak ...bukan itu,aku cuma belum kepikiran"


jawabku jujur membuatnya mendesah kesa dan mendaratkan beberapa kecupan di pipi dan telingaku membuatku kembali menahan geli.


"Ayo resepsi secepatnya,lalu lahirkan anak - anak yang lucu untukku ... ya?"


Tanya Roan meminta persetujuan


Rasanya memang aku yang terlalu egois,Roan pasti mendambakan kehadiran anak di antara kami.


Aku berbalik ke arahnya dan menatap bola mata hitamnya


"Lahirkan anak - anak kita ..."


Mohonnya lagi dengan mata sayu memikat itu


siapa yang bisa menolaknya ?


Aku mengecup bibirnya tanda menyetujui permintaannya,dia tersenyum senang dan membelai rambutku lembut.


"Kalau begitu,aku anggap kamu setuju"


Membaca arti kecupanku itu,lalu membenam kepalanya di dadaku.


Bahasa tubuhku,memang dia yang bisa membaca dan mengerti ...


****

__ADS_1


__ADS_2