
Aku mengemudikan mobil BMW itu dengan kecepatan tinggi menuju sebuah tempat,Cafe rooftop yang sudah lama aku ingin datangi.
Ada di lantai 56 membuat pemandangan ibu kota terpampang nyata.
Malam sudah naik ke peraduannya saat aku tiba di sana,aku mematikan ponsel saat duduk di kursi.
Tak ingin siapapun menggangguku,agar aku bisa berpikir dengan jernih.
Kursi paling pojoklah yang aku pilih,angin yang begitu menyejukan menerpaku beberapa kali.
Aku termenung saat menunggu minuman dan dessert yang ku pesan.
Sebenarnya,aku tak ingin memakannya.
Hanya sebuah alasan saja aku memesannya agar aku bisa duduk di sini.
Aku memangku daguku dan menatap kelap kelip lampu dari tempatku duduk dengan takjub.
"Mbak..."
Seseorang menyapaku
"Dimas?!"
Aku agak sedikit kaget melihat kehadiran tetanggaku di hadapanku dengan tampilan rapi,maklum di Cafe ini memang harus memakai dresscode rapi.
"Eh gak nyangka ketemu mbak disini!"
Dia mengembangkan senyumnya
Aku hanya tersenyum tipis
"Boleh saya duduk disini?"
Tanyanya sopan
Ingin sekali aku menolak,tapi rasanya tak sopan juga kan?
Apalagi Dimas pernah menyelamatkanku tempo hari
"Silahkan"
Dia pun duduk di hadapanku
__ADS_1
"Oh ya mbak... saya belum tahu nama mbak "
Benar juga,Dimas tidak tahu namaku karena Roan sudah memasang SHIELD saat itu.
"Lyra ..."
Jawabku singkat
"Sama Mas Roan ke sini?"
Aku tersenyum getir dan menggelengkan kepala
"Sendirian?"
Mulai kepo ini orang ...
"Iya ..."
Malas menanggapinya
Dia nampak mengerti dengan suasana hatiku hingga ikut bungkam,bahkan hanya melirik sesekali saat makan.
Aku mengira dia ada janji dengan seseorang di tempat ini,namun hingga makanan di hadapannya habis dia tetap di depanku sendirian.
"Saya pamit pulang ya"
"Mbak ... Gak bareng aja pulangnya ?"
Tanyanya lagi
" Makasih banyak Dimas,saya pulang sendiri"
Aku menunjukan kunci mobil di tanganku dan menganggukan kepala padanya pamit.
Saat berbalik tubuhku menabrak seseorang,dan orang itu memelukku erat.
"ROAN?!"
setengah berteriak
Roan menatap tajam Dimas yang kaget melihat kehadiran Roan yang begitu tiba - tiba,tangan Roan mengeratkan pelukannya.
Aku melirik sekilas wajah Pak Yanto dari balik tubuh Roan yang lesu,sudah pasti kena marah habis - habisan oleh Roan.
__ADS_1
Ada sedikit rasa bersalah di hatiku
"Kamu kok bisa disini?"
Tanyaku heran pada Roan yang masih menatap Dimas tak suka
Dimas tersenyum tenang dan menghampiri
" Mas Roan datang juga ,tadi saya gak sengaja ketemu mbak Lyra di sini jadi kita makan bareng deh"
Aduh... kok lemes banget mulutnya,bisa salah arti kalau seperti ini!
Roan tak menanggapi dan masih mendekapku erat - erat.
"Kita cuma makan aja kok Mas"
Dimas menjelaskan kembali mulai mengerti tatapan Roan padanya.
"Iya Mas,lagian kenapa Mas bisa tahu aku disini?"
Tanyaku padanya
"Aku yang harusnya tanya,kamu ngapain disini?"
Nadanya pelan namun membuatku merinding
Aku memilih mengatup mulutku rapat
Celaka!
Sudah marah seperti ini,entah bagaimana membujuk yang mulia raja yang satu ini.
"Kami permisi pulang dulu"
Roan pamit pada Dimas meski nadanya tetap menyiratkan ketidak sukaannya dan setengah menyeretku pulang.
Tak lupa merampas kunci mobil dari tanganku dan menyerahkannya pada Pak Yanto.
Roan membukakan pintu mobilnya dan menyuruhku masuk ke dalam.
Dia nampak sangat - sangat marah,dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Tak ada sepatah katapun keluar darinya,membuat nyaliku semakin menciut.
__ADS_1
Kami nampak seperti seekor tikus dan singa yang sedang berdampingan saat ini.
Entah kapan Singa itu akan menerkamkuš