
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Sesampainya mobil yang membawa Eris di mansion Kasa, sudah banyak tamu undangan yang datang disana. Sebelumnya keluarga besar itu sudah berdiskusi lebih dulu untuk melakukan resepsi pernikahan Eris dan Azril di mansion saja sama seperti acara resepsi Hans dan Ulya berapa bulan lalu.
Banyak pertimbangan yang dilakukan karena sebelumnya Milda ingin melaksanakan resepsi pernikahan putrinya di sebuah gedung, semua itu diurungkan karena ada bayi Alvan yang belum mendapat izin dari kedua orang tuanya untuk keluar jauh-jauh.
Azril juga tidak ingin acara resepsinya terlalu mewah, tidak ingin semua orang merasa lelah juga karena acaranya.
Eris keluar dari mobil berjalan diiringin oleh dua bodyguard suruhan Leka di sampingnya, ketika Eris berjalan menuju tempat pengantin semua orang tertuju pada dirinya.
'Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, malu banget gue jadi pusat perhatian gini, serasa raja gue," keluh Eris.
Kalau bisa dia ingin berlari saat itu juga, tapi hal konyol itu tidak mungkin Eris lakukan. Masa iya dia mengacau acarnya sendiri, itu namanya orang otaknya sedikit geser.
Eris memang paling tidak senang jadi pusat perhatian banyak orang, ingin menuduk juga tak mungkin, sekarang Eris merasa jadi serba salah, dia kikuk sendiru.
'Gimana sih ini, itu mata cewek-cewek kayak mau nerkam gue aja,' ucap Eris dalam benaknya tak sengaja melirik para tamu. 'Ini lagi dua bapak-bapak di sebelah gue bisa nggak sih jalan pas di samping gue aja, jangan sedikit ke belakang, berasa seorang presiden gue,' nah kan Eris terus saja mengoceh pada diri sendiri sampai tidak sadar kalau dirinya sudah berada di tempat pengantin.
"Eris duduk," bisik Hans yang sudah berdiri di sebelah adik iparnya itu.
Hans tahu pasti Eris risih menjadi pusat perhatian, dia paham sekali sifat tangan kanannya ini sekaligus adik iparnya.
"Jangan tujukan ketidak warasan lo di depan semua orang Er, ingat lo itu udah jadi suami jadi harus berwibawa," bisik Hans lagi.
Langsung Eris melotot menatap Hans mendengar bisikan sang ipar. "Apa lo bilang ketidak warasan? jadi selama ini gue miring maksud lo," ketus Eris.
"Gue peringatin sama lo ya Er, selain gue bos lo sekarang. Gue juga ipar lo, jadi baik-baik sama gue." Hans terkekeh senang melihat wajah tertekan Eris.
Hemmm.
__ADS_1
Dehem seorang terdengar dingin membuat dua laki-laki yang tadi asyik dengan dunia mereka sendiri menoleh pada pemilik suara terdengar mengintimidasi itu.
"Sampai kapan kalian berdua mau berdiri disitu, ini acara resepsi pernikahan bukan tempat diskusi," ucap Leka begitu dingin juga menatap tajam Hans dan Eris secara bergantian.
"Kamu juga Er, punya acara sendiri mau dirusak sendiri," sambung Dika.
"Hehe, Maafin Eris Pa. Sekarang udah boleh duduk belom, iya dokter Dika, maaf," ujarnya sambil nyengir.
"Duduk!"
'Buset kenapa mertua gue jadi galak begini sih.' Eris jadi merinding sendiri, padahal memang begitu biasanya Leka kalau sedang mode serius.
"Maaf nih Pa, boleh Eris tanya satu hal aja. Abis itu Eris bakal diem kok," ucapnya ragu-ragu.
Aditya, Arion juga Ulya yang sedang menggendong Alvan menyaksikan tingkah Eris jadi tertawa bersama.
"Apa?" kata Leka menaikkan sebelah aslinya.
"Istri Eris mana?" tanyanya tanpa ragu.
Arion menatap sini iparnya itu sambil meledek. "Aditya dengerin Kak Arion ngomong."
"Miif ni Pi, bilih Eris tinyi siti hil iji, ibis itu Eris bikil diim kik," ledek Arion
"Lanjut!" ujar Aditya.
"Istri Eris dimini?" lanjut Arion sambil menirukan gaya Eris.
"Gimana udah pantes belum jadi seorang plagiat suara orang lain, hahahah!" tawa Arion dan Aditya pecah bersama untuk para tamu tidak banyak yang melihat.
Kesal sekali Eris diledek habis-habisan oleh dua anak curut ini, tapi dia sekarang hanya bisa diam. Papa mertuanya bahkan belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan tadi.
"Sudah, sudah jangan meledek Om Eris lagi, Aditya sama Arion sini, kasihan Om Erisnya acara juga udah dimulai." Ulya lama-lama merasa kasihan pada iparnya itu.
Akhirnya Aditya dan Arion menyingkir sambil melakukan tos kembali meledek Eris sebelum mereka benar-benar pergi dari hadapan Eris.
'Bocah lo, Ar. Pantes main sama boca. Tapi orang yang gue bilang bocah otak sama tingkah lakunya juga udah bukan kayak bocah,' molong Eris.
__ADS_1
Sekarang semuanya jadi serba salah, sampai Leka menyebut nama istrinya membuat nama Eris jadi tersenyum bahagia.
"Itu Azril, istri kamu Er," ucap Leka sambil menunjuk arah putrinya.
Azril berjalan menuju kearahnya didampingi Milda dan Ibu Rida, mata Eris tak lepas dari Azril menatap kecantikan sang istri, Eris tahu pasti Azril hanya mengenakan make up tipis, walaupun begitu Azril benar-benar membuat semua orang terpaan pada kecantikannya.
Tak lupa keluarga dari pesantren AN-Nur juga diundang datang, tempat tamu laki-laki dan perempuan juga dipisah.
"Masya Allah, cantiknya istri gue," puji Eris.
"Ingat disini masih ada bapaknya, jaga itu mata, anak saya itu," ketus Leka.
Eris menoleh lalu tersenyum pada Tuan Leka. "Sekarangkan Azril istri Eris, Pa. Jadi terserah Eris dong mau lihatin dia sampai puas nggak masalah, mau peluk Azril juga halal kok. Kan Eris suaminya."
Senang sekali Eris meledak Papa mertuanya setelah tadi dia diledek habis-habisan oleh Arion dan Aditya. Eris tahu sesayang apa Tuan Leka pada Azril, bahkan beliau lebih rela kehilangan Hans dan Arion dari pada Azril.
"Apa kamu bilang? sekarang udah bernai peluk-peluk, dulu waktu belum jadi istri ketemu aja itu badan udah gemetar."
Leka tak kalah meledek mantunya, pria paruh baya itu diam-diam memang tau banyak hal yang tidak diketahui orang lain. Aditya itu sama seperti kakeknya, tahu banyak hal yang orang lain belum tentu tahu.
Acara ledek-ledekan mertua dan mantu selesai juga karena Azril sudah duduk di sebelah suaminya. Leka kembali duduk di samping istrinya, sementara Kyai Halim dan Umi Aliza sebagai wakil Eris.
"Terima kasih Kyai dan ibu Nyai sudah mau mendampingi saya, sudah mau menjadi wakil saya diacara ijab dan resepsi," ucap Eris tulus.
Kyai Halim menepuk pundak Eris tiga kali secara pelan. "Ingat Nak, jadilah suami yang bisa membimbing keluargamu menuju jalan-Nya," pesan Kyai Halim.
"Insya Allah, Kyai."
"Azril perempuan baik, terus berusah membuat istrimu selalu ingin bersamamu, Nak," ucap Umi Aliza pula.
"Insya Allah, umi." sahut Eris lagi.
Tak lama para tamu undangan mulai menemui pasangan Eris dan Azril.
"Mas, kangen kamu jauzati! akhirnya sekarang kita udah bisa barang-bareng," bisik Eris didekat telinga istrinya.
Azril...
__ADS_1
(Type takbir disini : Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar)