
Bismillahirrohmanirrohim.
Hampir satu jam lebih Hans beserta keluarga kecilnya berada di pemakaman umum untuk berziarah pada kedua orang tua Aditya. Satu jam berlalu Hans mengajak anak dan istrinya untuk pulang. Lain waktu mereka bisa berziarah lagi bersama keluarga besar.
"Kita pulang sekarang." Ajak Hans. Ulya dan Aditya setuju saja.
Setelah mengucapkan salam pada ahli kubur mereka segera meninggalkan pemakaman. Toh, kalau mereka sedih juga tidak boleh berlarut-larut. Ketiganya berjalan menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Aditya berjalan sambil kedua tangannya di gandeng mommy, daddnya.
Senyum manis terukir di bibir Aditya, wajahnya terlihat ceria, karena ada senyum yang mengembang menghiasi wajahnya.
"Daddy, kita mau langsung pulang?" tanya Aditya kala mereka berjalan seiringan menuju mobil.
"Benar, kita pulang dulu. Kalau mau jalan-jalan habis dari rumah mau?"
"Mau daddy." Tentu saja Hans tau keinginan sang anak, walaupun Aditya tidak mengatakan secara gamblang.
"Kamu happy sekali, Aditya." Ujar Ulya ikut nimbrung.
"Benar mommy, Aditya cenang karena cudah bertemu bunda dan ayah. Racanya lega cekali." Ulya menghela nafas lega, hatinya terasa tenang mendengar pengakuan Aditya. Begitu juga dengan Hans.
Ketika ketiga orang itu sedang asyik berbincang-bincang sambil menikmati udara segar di tempat dekat pemakaman umum tadi, tiba-tiba saja ada 4 orang preman yang mencegah jalan mereka bertiga.
"Hahah, akhirnya kita menemukan mereka juga." Ucap salah satu preman yang menghalangi jalan Hans bersama anak, istrinya.
Empat orang di depan mereka ini menggunakan tutup kepala. Tahu ada bahaya yang akan menyerang baik Hans dan Ulya sudah mulai waspada.
"Siapa kalian?" mata Hans menatap tajam satu persatu dari 4 orang yang sama sekali tidak dia kenali.
"Hahah, anda tidak perlu tahu siapa kami tuan muda Kasa. Yang pasti hari ini kami akan mengambil nyawa anda, sekarang giliran ada setelah 4 tahun berlalu." Ucap salah satu dari 4 orang itu.
"Kalian pikir nyawan kami, milik kalian semua apa? Apakah kalian semua sedang bermimpi!" tegas Ulya tidak ada takut-takutnya sama sekali.
Hans sampai tak percaya melihat keberanian istrinya, dia baru tahu sosok Ulya yang satu ini. Aditya sudah berada di dalam gendongan Ulya. Para preman itu mendengar perkataan gadis di depan mereka malah tertawa terbahak-bahak meremehkan Ulya.
"Hahaha, nona anda punya nyali juga rupanya." Tawa mereka semakin pecah.
"Dek, kamu sama Aditya cepat pergi biar, Mas sendiri yang melawan mereka."
"Tidak, Mas. Kita akan melawan mereka sama-sama." Ulya berusaha meyakinkan sang suami.
__ADS_1
"Nona saya memberikan keringanan pada anda, silahkan anda pergi dan tinggalkan anak itu, saya tidak mencelakai perempuan."
"Jangan harap! Saya tidak akan meninggalkan mereka disini."
'Kalian belum tahu siapa, aku. Ya Allah, lindungilah aku, suamiku dan anak kami. Mas, hari ini kamu bakal melihat kejutan dari istrimu ini.' Ungkap Ulya dalam benaknya.
"Nona, anda sendiri yang meminta kami melukai diri anda. Jadi maaf jika kami tidak punya belas kasihan, serang!"
Empat orang preman itu mulai menghajar Ulya dan Hans. Aditya masih tetap dalam gendongan Ulya, dengan tangkas Ulya selalu menghindari serangan demi serangan yang dilakukan oleh kedua preman yang menyerang dirinya.
"Mommy, hebat cekali. Biar Aditya bantu." Usulnya, dalam gendongan Ulya. Anak kecil itu menggigit kuat salah satu tangan preman dan Ulya menendang keras perut premannya.
"Arkh....Sakit! Jangan digit tangan, saya!" teriak sang preman.
"Satu lagi Aditya."
Duk!
Bruk!
Ulya dan Aditya tersenyum penuh kemenangan. Keduanya tertawa mengejek pada dua preman yang melawan mereka sudah kewalahan. Aksi yang dilakukan Ulya, Aditya membuat Hans melongo tak percaya begitu juga dua preman yang melawan Hans. Mereka malah jadi menonton perkelahian bukan berkelahi.
Sengaja Aditya memanggil Ulya menggunakan sebutan mbak Lia, karena dia tahu orang-orang yang mau mencelakai dirinya dan sang daddy saja. Jika mereka tahu Ulya adalah istri daddy makan Ulya akan menjadi target mereka juga. Dua preman yang melawan Hans saling menatap satu sama lain melihat Hans sedang lengah.
"Mas, awas!" teriak Ulya melihat kedua preman itu mau memukul suaminya, mendengar teriakan istrinya Hans kembali waspada.
Duk!
Pertarungan sengit kembali terjadi sampai Ulya juga Hans bisa memukul mundur keempat preman tadi. Mereka sudah babak belur segera pergi meninggalkan Hans.
"Alhamdulillah." Rasanya Ulya baru bisa bernafas lega setelah para preman itu pergi.
"Mommy hebat." Puji Aditya merasa takjub.
Hans menatap sang istri membuat Ulya malu, selama ini memang dia tidak pernah memperlihatkan keahlian beladirinya pada siapapun, sahabatnya saja yang tahu jika Ulya bisa beladiri. Ulya belajar beladiri dari papanya dan abangnya, tapi semenjak kepergian sang papa, Ulya tidak pernah lagi mau belajar beladiri jadi hanya abangnya saja, tapi keahlian itu memang tidak pernah hilang.
"Kalian tidak papa?" walaupun sudah melihat keahlian sang istri Hans tetap khawatir pada keduanya.
"Insya Allah, kita baik-baik saja, Mas. Mas Hans juga tidak papakan?"
__ADS_1
"Mas, tidak apa dek." Langsung saja Hans membawa Ulya dan Aditya ke dalam pelukannya.
"Kalian membuat daddy takut."
"Daddy tenang saja, Aditya akan menjaga mommy."
"Terima kasih, sayang." Ujar Ulya terharu mendengar ucapan Aditya.
"Tapi Mas, Mas kenal siapa orang-orang tadi?" tanya Ulya setelah pelukan mereka lepas.
"Tidak, tapi mereka sepertinya orang suruhan, kalian masuk mobil dulu. Ada yang harus daddy selesaikan sebentar." Suruh Hans.
Ulya membawa Aditya ke dalam mobil, sementara Hans menatap sejenak istri dan anaknya itu.
"Kamu selalu membuat mas kagum, dek. Apalagi keahlian kamu yang masih kamu sembunyikan. Tadi Mas takut sekalian kalian kenapa-napa, tapi Subahanallah sekali Mas tidak menyangka kamu ahli beladiri."
Kekaguman Hans pada istrinya benar-benar tidak bisa diucapkan, dia tak pernah mengira seorang Ulya. Gadis yang selalu tampil kalem, sesederhana, baik. Ternyata sangat luar biasa.
Cepat Hans merogoh hpnya setelah istri dan anaknya masuk ke dalam mobil, dia menghubungi orang kepercayaannya.
📱"Halo Eris, Saya beritahu padamu. Mereka kembali muncul. Ada tugas untukmu, kembali selidiki mereka, hari ini saya bersama istri saya, Aditya diserang."
📱"Inalilahiwainalilahirojiu'n, tapi kalian tidak papa, Bos?" kaget Eris dari seberang telefon.
📱"Alhamdulillah, kami baik-baik saja. Eris terus selidiki mereka. Saya akan kembali mencari dalang dari kecelakaan 4 tahun lalu."
📱"Apakah penyerangan yang terjadi dengan bos, istri dan anak bos hari ini semua oleh mereka juga."
📱"Benar sepertinya begitu, saya ingin semuanya berjalan lancar, Eris."
📱"Baik, bos!"
Tuttt.... Hans mematikan telefon mereka sepihak.
Bukan Hans tidak tahu siapa dalang sebenarnya yang sudah mencelakai Rama dan Jeni 4 tahun lalu. Juga penyerangan yang terjadi pada dirinya, Hans tahu kejadian hari ini pelakunya orang yang sama 4 tahun lalu. Hanya saja baik Hans maupun keluarga Kasa tidak memiliki bukti cukup kuat untuk menangkap orang itu.
"Aku rasa, keluarga kami tidak pernah memiliki musuh, tapi orang ini kenapa selalu ingin menyakiti keluarga Kasa." Bingung Hans.
Dia segera menyusul anak dan istri yang sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1