Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 68


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Tempat yang nyaman akan membuat siapa saja merasa tenang. Alam adalah pemandangan yang paling memanjakan mata, dari alam kita bisa tahu banyak hal. Menikmati udara yang sejuk merupakan keinginan semua orang, siapa yang tidak ingin merasa hidup tenang sambil menikmati kesejukan alam. Benar-benar nikmat yang luar biasa


Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan, jika bisa menikmati indahnya alam dan segarnya udara yang belum tercemar.


Bola mata Ulya menatap takjub tempat mereka saat ini berada. Mertuanya benar-benar membuat Ulya merasa senang, siapa yang tidak senang liburan di tempat yang nyaman dan udaranya masih segar, jangan lupakan pemandangan indah memanjakan mata.


Hamparan gunung terlihat jelas, pohon-pohon menjulang tinggi dari kejauhan sangat indah dipandang, hamparan bunga di depan mata membuat siapa saja ingin masuk ke dalam kebun bunga yang indah itu. Tempat liburan yang dipilih langsung oleh Nyonya Milda dan Tuan Leka tidak mengecewakan, Ulya bahkan dapat melupakan sejenak tentang suaminya ketika sampai di tempat tujuan.


Mata mereka semua benar-benar dimanjakan oleh pemandangan indah di depan mereka sekarang. "Masya Allah, nggak nyesel udah liburan kesini. Mama sama Papa pinter banget cari tempat liburan." Ucap Ulya yang masih menatap takjub tempat sekitar.


"Benar banget Lia, beruntung aku dapat tawaran ikut kamu, kalau nggak belum tentu bisa lihat pemandangan seindah ini." Ujar Cia tak kalah takjub.


"Bagus ya Mom, Mbak Cia tempatnya. Aditya juga dulu sekali pernah kesini waktu masih umur tiga tahun, abis itu udah nggak pernah lagi." Kata-kata Aditya membuat Ulya menoleh kearah bocah kecil itu.


Ulya mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Aditya. Cia memperhatikan interaksi ibu dan anak di sebelahnya ini.


"Bagus sayang, Allhamadulilah, kamu masih kecil saja ingetanya kuat banget. Kita juga harus bersyukur pada Allah. Alam negara kita Indonesia memang benar-benar indah. Ngomong-ngomong sekarang udah lancar nyebut huruf S nya. Anak mommy memang pintar."


Aditya nyengir sampai memperlihatkan giginya yang belum sepenuhnya tumbuh. "Allhamadulilah, Mom. Ini karena diasah terus." Lalu Aditya tersenyum pada Ulya.


"Kata kak Arion kala kita mau bisa sesuatu tapi nggak pernah diasah itu percumah."


"Pinter kamu Cil." Timpal Cia yang memperhatikan obrolan ibu dan anak didekatnya ini.


Sementara Fahri sendiri sibuk menurunkan barang-barang mereka dibantu orang yang menjaga villa milik keluarga Kasa. Benar saat ini mereka berada di villa keluarga Kasa disuguhkan pemandangan yang sangat memanjakan mata.


"Sekarang ayo mom kita harus dulu istirahat, bukan tadi kita telah melakukan pejalan jauh. Yah, walaupun memang tidak terlalu jauh sih, hanya satu jam perjalanan saja." Ucap Aditya membuat dua perempuan bersamanya ini terkekeh.


Akhirnya mereka menuju kamar masing-masing di villa tersebut, tidak ada yang menyadari jika Aditya sedang merasa tidak baik-baik saja.

__ADS_1


'Ya Allah, dada Aditya kenapa sesak sekali.' Heranya, tapi bocah itu tetap terlihat santai seakan tidak terjadi apapun pada dirinya.


"Mom, Aditya mau bobo dipeluk sama mommy boleh." Aditya mendongakkan kepalanya untuk menatap Ulya. Saat ini Ulya lebih tinggi dari Aditya.


Tidak tahu nanti setelah Aditya dewasa, mungkin bocah laki-laki itu akan lebih tinggi dari pada mommynya. Ulya mengelus pucuk kepala Aditya, sudah menjadi kebiasaan Ulya melakukan hal tersebut pada Aditya.


"Boleh dong siapa yang larang, sekarang ayo kita istirahat sebelum nanti dokter bakal periksa keadaan mommy."


Cia sendiri sudah berada di dalam kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Ulya dan Aditya. Keduanya berbaring di atas kasur sambil tangan Ulya mengelus-elus pelan pucuk kepala Aditya agar bocah itu terlelap dalam tidur.


"Mom." Panggil Aditya.


"Iya kenapa, sayang?"


"Daddy bakal nyari kita nggak ya, kita kan belum pamitan sama daddy."


Sesebal-sebal apapun Aditya pada daddynya, dia memang sudah terbiasa jika pergi kemanapun harus berpamitan terlebih dahulu dengan Hans.


"Mungkin iya sayang, tapi Insya Allah, daddy tidak akan marah kita pergi tanpa pamit. Grandma sama grandp, kan sudah tahu kalau kita mau pergi liburan."


"Mommy kurang tahu, tapi kita berharap sama bukan. Ingin tiba-tiba daddy datang dan memeluk kita berdua karena merindukan kita berdua."


"Aditya juga mau seperti itu mom, tapi tidak sekarang harus menunggu 3-4 hari lebih dulu. Kalau daddy nemuin kita sekarang nanti Aditya tidak bisa tidur sama mommy lagi. Sekarangkan daddy nggak mau diganggu kalau lagi sama mommy."


Mendengar curhatan Aditya, Ulya tertawa renyah. Dia baru tahu selama ini Aditya dan daddynya ternyata bersaing agar bisa tidur bersama dirinya.


"Sekarang mari kita puas-puas tidur bersama mommy dan calon adik, kamu."


Entah siapa yang tidur lebih dulu saat sedang bercerita Aditya dan Ulya. Sudah tidak ada suara lagi, ibu dan anak itu telah masuk ke dalam alam mimpi mereka.


Ceklek!

__ADS_1


Cia membuka pintu kamar Ulya untuk memastikan apakah Ulya dan Aditya sudah istirahat. Melihat tidur Aditya dan Ulya yang sangat damai membuat Cia mengembangkan senyumnya.


'Aku berharap rumah tanggaku nanti bisa rukun seperti rumah tangga kamu dan pak Hans, Lia.' Ada tatapan sedih yang terpancar dari kedua bola mata Cia.


Gadis itu hampir saja meneteskan air matanya, tapi cepat dia menghapus air mata yang hampir tumpah membasahi pipinya.


'Bahagia selalu sahabatku.' Setelah memastikan jika Ulya dan Aditya sudah beristirahat Cia kembali ke kamarnya, tanpa sadar ada seorang yang menatap heran dirinya.


"Ada apa, dengannya kenapa wajahnya terlihat sedih." Heran Fahri, orang yang tak sengaja memperhatikan Cia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hans yang bergelut dengan seluruh pekerjaan akhirnya memiliki waktu untuk istirahat sejenak, dia segera keluar dari ruangannya untuk menemui sang istri.


"Senang banget kayaknya kamu, Hans." Ujar Dika kala berpapasan dengan ponakannya itu.


"Lagi kangen sama Lia, Man mau ketemu dia dulu makanya senang." Dika mengangguk paham.


Paman dari Hans itu menatap iba kepergian ponakannya. Benar, Dika tahu ide gila sang kakak yang memisah Hans dan Ulya.


"Kasihan juga lihat kamu, Hans. Semoga nggak frustrasi aja pas sampai di kamar rawat istrimu orangnya sudah tidak ada." Dika menggeleng pelan tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Hans nanti kala tidak melihat keberadaan Ulya.


Hans sendiri langsung masuk ke dalam kamar rawat khusus keluarga Kasa, kala sudah sampai di depan kamar rawat tersebut.


"Lia, dimana?" kaget Hans kala tidak menemukan siapapun di dalam kamar rawat Ulya, dia berusaha tetap berpikir positif tapi tetap tidak bisa.


"Dek, kamu dimana? Bukan kamu sendiri yang bilang aku nggak boleh pergi ninggalin kamu lagi. Tapi sekarang kenapa kamu nggak ada disini, nggak, nggak mungkin kamu pergi ninggalin suami kamu ini."


Akhirnya Hans memutuskan untuk mencari keberadaan Ulya. Dia mencari Ulya disetiap tempat yang ada di rumah sakit harapan bangsa, bahkan di taman pun Hans tidak ketinggalan memeriksa apakah istrinya berada disana. Rootfop rumah sakit juga tidak terlewatkan oleh Hans.


"Mungkin Ulya ada di rumah, tapi kalau dia pergi kenapa nggak bilang aku dulu. Kamu masih marah sama suamimu ini, dek."

__ADS_1


Karena lelah mencari istrinya di rumah sakit Hans memutuskan untuk istirahat sejenak di kantin dengan wajah yang terlihat murung tapi terkesan dingin jadi terlihat menyeramkan.


(Masya Allah, aku baca komen para redes, kalian dari jauh-jauh semua ya. Salam dari aku semua yang anak rantauan ini🤗)


__ADS_2