Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 55


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Dendam yang tersimpan dalam hati bisa membahayakan diri sendiri tanpa sadar perlahan-lahan menghancurkan diri orang yang menyimpan dendam itu sendiri. Dendam itu hanya dapat ditemui pada orang yang ingin menghancurkan dirinya sendiri.


Balas dendam adalah kesedihan bagi orang yang harus menanggungnya. Dan orang yang cukup gegabah untuk berpikir itu akan membantu situasi, selalu salah." Louise Erdrich.


Dendam itulah yang tersimpan dalam diri seorang laki-laki paruh baya. Entah apa sebabnya seorang tuan Barsa sangat amat membenci keluarga Kasa hingga tega membunuh orang yang tidak bersalah.


Brak!


"Kalian semua memang tidak becus! Hanya disuruh melenyapkan tiga orang saja tidak bisa! Parahnya hanya satu laki-laki duanya perempuan dan anak kecil! Dasar tidak berguna."


Plak...Plak....Plak!


Satu persatu dari empat orang itu mendapatkan tamparan keras dari seorang tuan Barsa.


"Bawa mereka! Saya tidak mau lagi melihat wajah mereka."


"Ampun tuan saya mohon, tolong beri kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya tuan, saya janji kami akan berhasil!"


"Punya apa kamu untuk membuktikan pada saya, agar saya percaya dengan ucapan belakamu itu! Hah!"


"Sudahlah Pa, beri saja mereka kesempatan, aku yakin Hans bisa kita kecoh. Papa belum tahu bukan kalau dia sudah memilik istri."


"Tahu darimana kamu?" Barsa menatap tajam satu anak laki-lakinya.


"Dia sendiri mengatakan secara langsung, dia juga membiarkan saya bebas atas semua bukti yang ditunjukkan."


"Kalian boleh pergi." Usir Barsa pada 4 orang suruhannya tadi. Ada hal penting yang harus dia bicarakan pada anaknya.


Buru-buru 4 orang tadi pergi dari hadapan Barsa sebelum laki-laki paruh baya yang mungkin tidak memiliki hati nurani itu berubah pikiran.


"Katakan apa rencanamu!"


"Kita akan datang diacara resepsi pernikahan Hans, kita akan mengacaukan semuanya disana ketika hari itu tiba."


"Hanya itu?"

__ADS_1


"Semua terserah papa, rasa sakit hatiku telah terbalas 4 tahun lalu. Sayangnya orang yang aku cintai juga ikut pergi bersama, Dia! Aku tidak akan menyakit buah hatinya. Ingat papa boleh menyentuh siapa saja keluarga Kasa asal jangan pernah menyentuh Aditya."


Barsa mengangguk lalu berjalan menuju kursinya mereka sedang berada di dalam ruang rahasia milik keluarga Barsa. Tanpa mereka sadari dari tadi ada seorang yang mendengar percakapan mereka, orang itu mengepalkan tanganya erat setelah mendengar semuanya.


Wajahnya memerah menahan amarah, emosinya sudah memuncak sampai ubun-ubun mendengar pembicaraan orang di dalam ruangan itu.


Bruk!


Dia menendang kuat pintu ruangan tersebut, orang yang ada di dalamnya terlonjak kaget. Barsa menatap tajam pelaku yang sudah menendang pintu secara kuat sampai sedikit rusak.


"Apa yang kamu lakukan, Az!"


Cih!


"Harusnya aku yang berkata seperti itu pada anda tuan Barsa! Papa sampai kapan hah?akan terus seperti ini. Mereka tidak bersalah, Pa. Apa yang dimiliki keluarga Kasa semuanya hak mereka! Mereka tidak pernah iri pada orang lain, dendam di dalam hati papa itulah yang membuat papa sekarang jadi seperti sekarang." Makinya dengan suara yang berteriak keras.


"Jaga sikap kamu sapa papa!"


"Apa? Kalian berdua seharusnya sudah di penjara 4 tahun lalu."


"Jangan kurang ajar kamu Zevran!"


Zevran memegang pipinya yang terasa panas ulah tamparan kerasa yang dilakukan oleh sang papa. Dari dulu dia selalu berusaha agar papanya tidak melakukan hal jahat seperti ini tapi dia selalu gagal. Yang ada kakaknya juga ikut bersama sang papa.


"Tampar saja terus Zevran sampai papa puas! Asal papa tahu balas dendam yang papa lakukan tidak ada artinya hanya membuat papa rugi!" teriak Azran semakin menjadi


Duk!


Kakaknya melempar sepidol tepat mengenai jidat Zevran. Keduanya saling menatap tajam satu sama lain, mereka sebagai adik kakak memang dari dulu tidak pernah akur, jika bertemu diluar mereka sepeti orang yang tidak pernah mengenal padahal mereka saudara.


"Apa? Lo gila, udah ngebunuh orang yang lo sayangin cuman buat dendam dan kebencian yang tertanam di hati lo. Ngikutin nafsu lo itu."


"Diam!" Bentaknya.


"Heheh, memang itu kenyataannya bukan, kalian semua bajingan! Kalian berdua sama!"


"Sialan, lo."

__ADS_1


Bugh...Bugh...Bugh...


Di dalam ruangan ikut akhirnya terjadi perkelahian anatar kakak dan adik, Barsa sebagai seorang ayah hanya menonton apa yang anak-anaknya lakukan. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu diam membisu seakan tidak melihat apapun yang terjadi.


"Lo nggak pernah berubah tau nggak! Mana janji lo sama mama! Lo sama kayak tuan Barsa itu." Maki Zevran sabil terus saling menghajar dengan kakaknya.


"Diam bodoh! bilang aja lo sekarang butuh bantuan gue sama papakan. Lo suka sama istri Hans! Jangan bilangan gue kagak tahu soal ini, Zevran!" Teriaknya semakin emosi.


Bruk!


Zevran hampir tak berdaya lagi setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari kakak sendiri. Kesadarannya hampir menghilang tapi dia masih berusaha tetap kuat agar tidak tumbang di hadapan bapak dan kakaknya.


"Gue nggak seburuk otak lo sama papa! Ingat gue bukan kalian berdua. Dan gue nggak akan pernah ngerusak rumah tangga orang. Ingat baik-baik ucapan gue hari ini kalian pasti menyesal, gue harap mama segera tau seperti apa kelakuan dua laki-laki yang sangat beliau cintai!"


"Berani lo bilang semua ini sam mama, gue nggak akan segan lagi sama lo, Zevran."


Zevran tersenyum kecut walaupun wajahnya terasa perih bekas tonjokan dari abangnya berkali-kali.


"Lo tenanga aja bang, mama nggak akan tau semua ini dari gue. Mama akan tahu sendiri kebusukan kalian. Sebelum semuanya terlanjur tolong papa dan abang pikirkan semua ini kedepannya, dendam kalian hanya menghancurkan kalian sendiri. Zevran cuman mau bilang untuk yang terakhir kalinya, Zevran udah capek bilang sama papa dan abang sampai berakhir seperti ini. Tolong buang jauh-jauh dendam kalian. Aku pergi."


Zevran berjalan tertatih menuju keluar ruangan tersebut. Kakaknya mengepalkan kedua tangan kuat mendengar semua perkataan Zevran, baru saja dia ingin kembali menghajar sang adik sudah lebih dulu dicegah oleh papa mereka.


"Biarkan dia pergi! Apapun yang terjadi Zevran maupun kamu tetap darah daging papa!"


"Lalu papa menyetujui semua kata-katanya iya begitu!"


"Tidak juga."


Sementara itu Zevran tidak langsung pergi, dia masih berada di depan pintu masuk ruangan tadi berdiri tidak jauh dari tempat itu. Zevran menatap nanar semuanya.


"Ya Allah, maafkan aku telah berbuat kasar pada papa dan abangku sendiri. Aku berharap mereka segera sadar apa yang mereka lakukan semua ini salah. Insya Allah aku akan terus mendoakan mereka. Maafkan Zevran Ma. Maafkan kak Zevran juga Hani."


Tes!


Setetes air mata keluar membasahi pipi Zevran, dia membiarkan air mata itu mengenai luka lembabnya yang terasa perih ketika air mata mengenai lukanya. Puas menatap tempat tersebut dia segera pergi dari tempat itu, mungkin ini terakhir kalinya dia menginjakkan kaki di ruang rahasia sang papa.


"Ini untuk yang terakhir, gue pegi." Ucapnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2