
Bismillahirrohmanirrohim.
Undangan untuk acara resepsi pernikahan Hans dan Ulya sudah disebar jauh-jauh hari, banyak orang yang tak menyangka bahwa seorang direktur muda dari keluarga Kasa itu sudah menikah.
Apalagi para perempuan yang menyukai Hans, merasa seakan tidak terima seorang laki-laki yang terkenal sulit didekati oleh kaum perempuan telah melangsungkan pernikahan. Sekarang acara yang digelar tinggal resepsinya, semua orang antara percaya dan tidak percaya.
"Perempuan mana yang sudah beruntung mendapatkan Hans Kasa."
"Perempuan mana yang bisa meluluhkan hati es batu itu, laki-laki yang sangat dingin pada perempuan."
"Laki-laki yang sekaan tidak pernah melirik perempuan manapun, sudah menikah."
Masih banyak kata-kata yang terlontar dari banyak orang untuk Hans juga istrinya membuat semua orang yang belum tahu Ulya menjadi penasaran orang seperti apa yang Hans pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.
Bagi Hans, dirinya yang beruntung bisa memiliki Ulya. Bukan Ulya yang beruntung memiliki dirinya, tapi untuk saat ini bukan hal itu saja yang Hans tunggu-tunggu, dia penasaran kekacauan apa yang akan dibuat Raka dan papanya diacara resepsi Hans.
"Apa semua sudah kamu siapkan, Eris?" tanya Hans, dia tidak mau rencananya gagal.
"Semua beres tuan muda, kekacauan nanti tidak akan membuat acara ini gaduh."
"Baik, saya serahkan sisinya kamu yang urus."
"Mas Hans sama kak Eris lagi ngomongin apa?" tanya Azril yang tiba-tiba datang menghampiri dua laki-laki tersebut.
"Tidak ada ini masalah cowok." Ujar Hans santai.
"Azril tidak akan bertanya lagi. Ayo ikut Mas, Mbak Lia udah nungguin, Mas Hans. Kalian harus menyambut tamu."
"Astagfirullah, kamu bener Dek. Ayo." Ajak Hans sebelum pergi, Hans memberi kode pada Eris agar menyelesaikan semuanya.
Para tamu undangan juga satu persatu sudah datang untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Hans. Raka dan tuan Barsa memang diundang secara terpisah, tanpa sepengatuh kedua laki-laki itu, Hans juga ikut mengundang istri tuan Barsa bersama anak keduanya Zevran.
"Sebentar lagi aku akan melihat kehancuranmu, Hans. Akhirnya setelah 4 tahun bukan hanya Rama yang bisa aku singkirkan, rupanya hari ini giliranmu." Ucap Raka percaya diri sekali.
Dari tempatnya duduk Hans dapat melihat kehadiran Raka secara terpisah bersama papanya. Hans tau semua ini adalah salah satu rencana mereka.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar melihat kalian menjebak diri sendiri diacara ini." Gumun Hans tersenyum penuh arti menatap Raka dari kejauhan. "Harusnya kamu tahu Rara, tidak semua orang itu akan selalu baik, aku dan papa telah memberikan keringanan 4 tahun lalu, tidak lagi untuk sekarang."
'Huh! Seharusnya dia memang sudah mendekam lama di dalam penjara.' Batin Hans menghela nafas kasar membuat Ulya menoleh pada suaminya.
"Ada apa, Mas?" tanya Ulya heran.
Mendapatkan perhatian kecil dari istrinya Hans tersenyum menatap dalam manik mata sang istri. "Tidak apa-apa, Dik. Mas harap nanti kalau ada sedikit kekacauan diacara kita kamu tidak merasa keberatan."
"Bisa begitu, Mas?"
"Polisi akan datang menangkap penjahat." Bisik Hans pada Ulya. Bola mata Ulya membolak sempurna mendengar perkataan suaminya.
"Penjahat? Bisa ada penjahat dateng keacara ini, Mas. Memang penjahat diundang."
"Memang diundang Dik, agar polisi bisa menangkap mereka dengan mudah. Penjahatnya, kan, berdasi biasa bisnis." Jelas Hans santai.
Sepuluh menit berlalu satu persatu tamu undangan mengucapkan selamat untuk kedua mempelai. Aditya sudah berdiri di tengah-tengah daddy, mommnya. Hari ini menurut Hans istrinya tampil sangat cantik, walaupun make up yang Ulya kenakan sangat natural, Sama sekali Hans tidak bosan memandang Ulya.
Jika saja hari ini tidak akan ada kekacauan yang akan terjadi mungkin saja Hans, ingin puas-puas menikmati wajah cantik istrinya. Tapi karena sudah tahu niat jahat seorang jadi sekarang Hans harus terus waspada tidak boleh lengah.
"Ini, Aditya." Ucapnya lagi kala menatap Aditya yang berdiri diantara kedua mempelai. Raka hendak menyentuh Aditya, anak itu cepat menghindar.
'Kamu mirip sekali dengan perempuan itu, Aditya.' Batin Rara.
"Jangan sentuh Aditya!" Ucap anak itu penuh penekanan, Aditya mentapa tajam Raka membuat heran Ulya.
"Bukan kalian belum lama menikah Hans? Kenapa sudah memilik anak umur 5 tahun, bukankan kabar yang tersebar lo tidak pernah dekat dengan perempuan, ini anak istri lo atau anak lo sama perempuan lain Hans." Raka sudah mulai melancarkan aksinya.
'Akhirnya kau tunjukkan juga sifat aslimu, Raka. Mungkin hari ini aku akan membuat seorang ibu menangis, maafkan saya ibu Dita. Karena yang bersalah memang harus dihukum.' Hans tersenyum licik begitu juga Raka.
"Om jahat siapa! Aditya anak bunda dan ayah, juga anak mommy, daddy! Jadi kalau Om mau buat masalah dicini jangan harap bisa lepas."
"Jangan marah adik kecil, bukankah yang Om katakan benar."
Raka tidak tahu siapa Aditya sebenarnya, bocah 5 tahun itu bahkan memiliki bukti kejahatan Raka yang tidak dimilik oleh daddnya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Rara bisik-bisik tentang Hans dan Ulya mulai terdengar di telinga kedua mempelai, baik Hans maupun Ulya tidak mendengarkan orang-orang yang membicarakan mereka. Melihat suasana acara sedang gaduh Barsa memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk ke dalam ke diaman Kasa memasukan racun di dalam makanan yang tersaji.
"Kesempatan emas memang selalu ada." Ucap Barsa mulai melancarkan aksinya.
Tanpa Barsa sadar apa yang dia lakukan disaksikan langsung oleh istrinya yang berada di dalam rungan itu bersama Eris juga putri bungsunya.
"Papa!" teriak Hani tak percaya melihat apa yang telah papanya lakukan.
Deg!
Barsa diam mematung mendengar suara seorang yang sangat beliau sayangi. Benar, itu suara putri kesayangan tuan Barsa yang selalu dibangga bangga kan. Perlahan Barsa memutar tubuhnya menghadap putrinya, dia belum tahu jika sang putri bersama istri tercinta. Air mata kedua perempuan tersayang Barsa itu sudah membasahi pipi mereka.
"Papa." Ucap Hani lagi menggelengkan kepalanya tak percaya, tatapan kecewa jelas tersirat disana begitu juga dengan ibu Dita.
"Papa jahat! Mama....." Beliau sudah tak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata.
Diluar kekacauan yang terjadi sudah sedikit mereda setelah semua orang tahu siapa Aditya sebenar, walaupun tidak diungkapkan secara jelas oleh Hans, mereka bisa mencerna kata-kata anak kecil itu.
"Bukankah anak laki-laki itu satu-satunya cucu keluarga Kasa. Apa kalian mengingatnya."
"Jadi Aditya adalah cucu yang dirahasiakan keluarga Kasa selama 5 tahun ini."
"Ternyata tuan muda Kasa merawat anak itu dengan baik."
Kini berbagai pujian dilontarkan para tamu undangan untuk Hans, karena telah menganggap Aditya seperti anak sendiri.
"Raka Barsa, ceorang manajer dicalah catu perusahaan besar yang telah menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja hampir mencapai 5 Milyar Rupiah."
"Apa!" kaget semua orang termasuk Raka mendengar perkataan Aditya.
"Mohon maaf Om, Aditya tidak mengada-ngada buktinya cudah ada, jika Om jahat tidak percaya bos Om hadir diacara ini membawa semua buktinya, orangnya ada disini."
Dafri ayah dari Erisa mendekati Raka yang masih berdiri mematung, dia sekarang tidak bisa berbuat apapun lagi. Melihat semua itu Ibu Dita dan Hani kembali menelan pil kecewa terhadap dua orang laki-laki kebanggaan mereka.
Zevran hanya bisa memandang dari kejuhan semua yang terjadi. "Gue tau hari ini pasti terjadi. Gue udah berusaha mengingatkan papa dan bang Raka." Zevran berucap pelan, hatinya sakit melihat ibu dan adiknya menangis, oleh kedua laki-laki yang selalu mereka bangga-banggakan.
__ADS_1