
Bismillahirrohmanirrohim.
Muka Milda terlihat seperti orang yang sedang bingung entah apa yang ada di dalam pikiran beliau saat ini, padahal dirinya masih pergi jalan-jalan bersama Aditya dan Ulya.
"Wah, bu Milda, yang ini bukan calon mantunya? kemarin saya lihat di sosmed katanya Hans udah punya calon istri."
"Insya Allah, bu." Jawab Milda merasa tidak enak pada Ulya.
Ibu-ibu tadi menyapa Ulya dan Aditya juga mereka sempat mengobrol sejenak sebelum akhirnya Ibu Irma memutuskan pamit lebih dulu.
'Siapa yang dimaksud calon mantu?' bingung Ulya, dari tadi dia sedang berusaha mencerna ucapan ibu Irma dalam otaknya.
"Grandma, mbak Lia kita pulang caja cudah mau magrib." Ajak Aditya pada kedua wanita yang sedari tadi menemani dirinya bermain.
"Oke, sayang."
"Aditya mau di gendong mbak Lia boleh, grandma?"
"Lah, kamu ini ya, kan minta gendongnya sama mbak Lia, kok bilangnya sama grnadma, harusnya bilang sama mbak Lia dong." Milda mencubit gemas pipit putih mulus cucunya itu.
"Au...Cakit grandma, Aditya izin cama grnadma karena kalau bilang cama mbak Lia pacti boleh. Iya kan mbak Lia." Ucap Aditya sambil menatap Ulya.
Ulya mengelus lembut pucuk kepala Aditya. "Benar Aditya, apapaun untuk, kamu."
"Tuh dengar grandma, kalau cama grandma belum tentu diizini Aditya minta gendong cama mbak Lia."
"Kamu ini ya! Sudah ayo kita pulang sekarang." Ajak Milda pada Aditya dan Ulya.
Permintaan Aditya dikabulkan oleh Ulya, gadis itu menggendong Aditya. Selama berjalan menuju arah jalan pulang Ulya merasa aneh saat mengetahui Aditya terus saja menatap dirinya, dari tatapan Aditya, Ulya dapat melihat seperti tatapan orang yang akan berpisah lama.
'Apa sih, Lia.' Ucap gadis itu dalam benaknya. 'Tapi nggak biasanya Aditya liatin sampai segininya, sebenarnya ada apa ya? Aku kayak ketinggalan informasi.' Ulya masih bertanya-tanya pada diri sendiri hal apa yang sudah dia lewatkan.
"Mommy!"
Deg!
Bola mata Ulya membulat sempurna mendengar Aditya memanggil dirinya Mommy dengan lantang sementara disebelah mereka masih ada nyonya Milda.
'Ya Allah, celak! Aditya kenapa harus panggil mbak Lia, mommy di depan grandma.' Keluh Ulya yang hanya bisa dia keluhkan di dalam benaknya saja.
Milda menapat Ulya, beliau tahu pasti Ulya kaget Aditya manggilnya mommy, walaupun Milda yakin pasti cucunya yang memiliki seribu rahasia di dalam otaknya itu pernah memanggil Ulya, mommy selain di hadapan dirinya.
__ADS_1
"Maaf grandma, Aku tidak pernah mengajarkan Aditya untuk memanggilku mommy." Sesalnya dengan wajah memelas.
"Jelek cekali muka mbak Lia kalau ceperti itu." Ejak Aditya yang masih berada di dalam gendong Ulya, jadi bocah 4 tahun itu bisa melihat wajah Ulya dengan lebih leluasa.
"Saya pamah Ulya, nanti setelah makan malam datanglah ke ruang kerja suami saya, saya dan suami saya menunggu kamu."
Nyes!
Ulya tidak tau apa yang dia rasakan yang jelas perasaan takut menjadi satu campur bingungan yang melanda dirinya.
"Maaf nyonya apakah saya berbuat salah?"
Bagi Ulya yang sudah telanjur menyayangi Aditya, untuk saat ini dia belum siapa jika harus berpisah dengan anak kecil yang sudah menemani hari-harinya.
Melihat Ulya seperti orang ketakutan Milda hanya tersenyum saja, beliau yakin Ulya belum melihat video putra sulungnya itu.
"Nanti kamu tahu setelah makan malam Ulya, datang saja. Ingat jangan sekali-kali memanggil saya nyonya lagi!"
"Baik grandma."
Waktu bergulir tak terasa waktu makan malam sudah tiba, Ulya semakin deg dengan saja apa yang akan dikatakan oleh nyonya Milda nanti pada dirinya. Membuat Ulya sangat penasaran.
"Ya Allah, Astagfirullah. Ingat nggak boleh soudzon Ulya." Ingatnya pada diri sendiri.
Hmmm.
"Awas jatuhnya zina mata loh, bahaya." Sindir Arion.
"Zina mata, apa kak Arion?" tanya Aditya dengan polosnya.
"Astagfirullah, anak ini ya. Sini kak Arion jelasin. Zina mata itu terlalu lama memandang perempuan yang mukan mahramnya bahaya nanti bisa jadi zina mata. Betul begitukan Mbak Ulya?"
Hah?
Cengo Ulya, dia memang tidak terlalu menyimak percakapan Arion dan Aditya.
"Iya begitu Aditya!" jawab Ulya asal, karena saat ini semua orang menatap dirinya.
'Astagfirullah, lagian ngapain sih Hans pake penasaran sama Ulya.' Hans tahu jika adik bungsunya itu sedang menyindir dirinya. Hans juga penasaran kenapa Ulya tetap bersikap seperti biasanya tidak ada apapun yang terjadi.
'Aish! Entahlah.' Bingung Hans.
__ADS_1
"Makan!" suruh kepala keluarga di rumah itu, mereka semua mulai fokus makan.
20 menit berlalu setelah usai makan malam Milda dan pak Leka menunggun kedatangan Ulya. Dia sedang menemani Aditya tidur tapi anak laki-laki itu seperti belum mengantuk.
"Mbak, biar Arion yang nemenin Aditya, mbak disuruh mama keruang kerja papa."
"Tapi Aditya nggak papa ditinggal?"
"Iya mbak Lia, Aditya mau cama kak Arion."
Barulah Ulya merasa lega, meninggalkan Aditya bersama Arion. Ulya buru-buru menuju ruang kerja tuan Leka, kebetulan Hans tak sengaja melihat Ulya tapi dia tidak menyapa hanya memperhatikan gadis yang secara sepihak dia akui sebagai calon istrinya.
"Ulya terlihat buru-buru sekali, ada apa? Lalu untuk apa dia masuk ruang kerja papa." Hans bertanya pada diri sendiri.
"Hans, buat apa kamu mikirin dia. Tapi emang dia belum lihat video viral itu." Hans terlihat seperti orang aneh yang menegur dirinya sendiri.
Ulya baru saja menemui kedua orang tau Hans sudah mendapatkan tatapan teduh dari dua orang paruh baya itu.
"Lia langsung saja ya." Kalau nyonya Milda sudah memanggil Ulya menggunakan sebutan Lia pasti ada hal penting.
"Grandma juga nggak tahu harus gimana ngomongnya, tapi grandma yakin kamu belum lihat vidoenya. Untuk sementara ini kamu tinggal di rumah kamu dulu ya, anggap aja grandma kasih libur. Grandma cuman nggak mau kalau kamu tetap tinggal di rumah ini nanti takut ada fitnah."
Bingung? Jelas sekali Ulya bingung apa maksud dari ucapan nyonya Milda, tapi Ulya bisa apa dia hanya menuruti perintah majikannya saja.
"Besok siapa-siap ya, nanti grandma dan Arion yang antar kamu pulang."
"Iya grandma, tapi Aditya?" entahlah kenapa ada perasaan ragu dalam diri Ulya untuk meninggalkan Aditya..
"Kamu tenang saja Aditya sudah setuju, mungkin dia akan sering main ke rumah kamu nanti." Sahut Leka.
"Bukan kami ingin memisahkan kamu dan Aditya tapi ada hal yang lebih penting harus diselesaikan daripada nanti jadi fitnah."
"Saya mengerti grandma, grandfa." Jawab Ulya walaupun aslinya dia tidak paham.
Keesokan harinya Hans pagi-pagi sekali sudah tidak ada di rumah padahal hari libur, Aditya mengajak daddnya entah pergi jalan-jalan kemana tanpa Ulya.
Sedangkan Ulya sudah siapa untuk pulang bersama Arion dan nyonya Milda.
"Aditya tidak ada grandma?"
Milda tersenyum melihat Ulya seperti kehilangan. "Dia titip ini buat kamu katanya Insya Allah lusa main."
__ADS_1
Ulya menerima sebuah kota berukuran sedang yang katanya dari Aditya. Tidak tahu apa sini dalam kota tersebut.
"Sudah semua ayo jalan Ma, mbak Ulya." Ajak Arion.