
Bismillahirrohmanirrohim.
Rasanya Hans baru saja merasakan kebahagiaan ketika disambut hangat saat pulang kerja oleh istri dan anaknya. Semua beban yang dia bawa hilang ketika melihat senyum dua orang paling berharga dalam hidupnya. Rasa bahagia itu hilang ketika netranya melihat sebuah pik KB mungkin bekas dikonsumsi karena sudah berkurang. Terletak di sebelah hp Hans.
Rahang Hans mengeras matanya berubah tajam melihat benda yang ada di kamar mereka. Seketika itu juga amarah memuncak dalam diri Hans, semua masalah kini telah menumpuk menjadi satu. Sampai saat Ulya masuk kamar disitulah amarah Hans benar-benar tumpah.
Kata-kata yang tak pantas dia lontarkan untuk istrinya. Biasanya dalam semua hal, Hans akan selalu bisa mengontrol dirinya. Sore ini tidak tahu kenapa amarah Hans benar-benar memuncak, sampai dia engga mendengarkan penjelasan apapun dari Ulya.
Ketika menuruni anak tanga dengan tegeras-gesa, Hans masih bisa mendengar teriak Ulya yang memanggil dirinya. Tapi hanya dua kali teriak dan Ulya tidak menyusul dirinya membuat Hans nampak kecewa.
Dia melihat sosok Eris berada di meja makan, tapi Hans tidak peduli untuk mengajak Eris keluar. Jadi dia memutuskan menyetir mobil seorang diri dalam keadaan emosi, Hans tidak tahu dirinya akan pergi kemana.
Mobil yang Hans kendarai terus melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Sekali Hans hampir menabrak pejalan kaki untungnya dia dapat menghindari kecelakaan yang hampir terjadi.
"Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah." Ucap Hans sekaan tersadar dari perbuatannya egoisnya.
Hans menghembuskan nafas sejenak, dia teringat akan kejadian barusan. Dimana dirinya telah membentak sang istri, bukan Hans tidak tahu istrinya menangis kala berusah mengejar dirinya.
"Astagfirullah, Ya Allah. Maafkan Mas Hans, Dek." Hans memejamkan kedua bola matanya.
"Seharusnya aku mendengarkan penjelasan Lia lebih dulu. Bukan pergi seperti ini. Aku benar-benar pengecut, Hans istrimu menangis ulahmu, Hans! Lia menangis karenamu Hans!" makinya pada diri sendiri.
"Tapi kenapa Lia melakukan semua ini? Hans lo nggak akan tau jawabannya! kalau nggak dari istri Lo sendiri. Harusnya tadi Lo denger dulu penjelasan Lia." Pusing dengan pikirannya sendiri Hans memutuskan turun dari mobil.
Ternyata saat ini dia berada di depan Masjid agung yang terletak di tengah-tengah kota. Hans melangkahkan kakinya masuk ke dalam masjid tersebut, dia segera mengambil air wudhu untuk mendirikan shalat. Hans menyesal telah membentak istrinya, Hans menyesal telah membuat Ulya menangis.
Selesai shalat Hans tidak langsung beranjak dari tempatnya shalat melainkan mengadu pada Sang Kuasa atas kesalahan dirinya. Tangis Hans akhirnya tumpah.
__ADS_1
"Ya Rabb, aku memang telah bersalah. Aku tidak bisa melawan amarah yang menguasaiku, amarah telah menguasai diriku. Aku kalah dengan nafsuku, aku kalah dengan setan yang telah menggodaku. Astagfrullah..., Astagfirullah..., Astagfrullah... Ampuni aku Ya Rabbi... Sembuhkanlah sakit hati istriku yang telah aku perbuat..." Hans berdoa dengan suara bergetar hebat.
Bahkan bukan hanya suara Hans yang bergetar hebat, seluruh tubuh calon ayah sesungguhnya itu juga ikut bergetar hebat. Sampai membuat seorang laki-laki paruh baya yang duduk tak jauh dari Hans menatap heran.
Tapi beliau tetap diam, karena melihat Hans masih betah bedoa dengan khusyuk sekali. Membuat laki-laki paruh baya itu tidak ingin mengganggu Hans.
Waktu bergulir....
Waktu magrib sampai isya tiba, Hans kembali pada posisi semula setelah melakukan shalat sebagai muslim. Hans tetap duduk dengan tubuh yang masih bergetar.
"Nak." Laki-laki paruh baya itu menepuk pelan pundak Hans.
Membuat Hans menoleh pada seorang yang telah menepuk pundaknya. "Masya Allah, Nak Hans."
"Assalamualaikum, kyai Lukman." Sapa Hans. Mengenal laki-laki paruh baya yang baru saja menyapa dirinya ini. Hans menyalami kyai Lukman takzim.
"Saya telah menyakit istri saya, pak kyai. Saya merasa sangat bersalah, saya merasa berdosa." Air mata Hans menetes tanpa disadari.
"Ceritalah, Nak Hans jika kamu tidak keberatan. Siapa tahu saya bisa memberi masukan atas izin Allah." Ujar pak Lukman.
Beliau sangat mengenal sosok seorang Hans buka karena dia direktur muda atau keturunan keluarga Kasa yang sangat terkenal di kota B. Kyai Lukman mengenal baik Hans, laki-laki 30 tahu Ini merupakan donatur terbesar di pesantren milik beliau, juga panti ausah yang ada di kota B. Tanpa banyak orang yang tahu.
Mendapatkan tawaran dari sosok pemuka agama seperti kyai Lukma, membuat Hans akhirnya menceritakan semua kesalahnya pada sang istri. Tapi Hans tidak cerita jika istrinya mengkonsumsi pik KB.
Setelah mendengar semua cerita Hans, kyai Lukman tersenyum. Beliau tahu ada beberapa hal yang tidak Hans ceritakan, tapi kyai Lukman mengerti mengapa Hans tidak menceritakan semuanya.
"Pulanglah, Nak Hans temui istrimu, minta maaf padanya dengan cara baik-baik. Dengarkan dulu penjelasan istri, Nak Hans. Siapa tahu memang ada kesalahan pahaman diantara, Nak Hans dan istri."
__ADS_1
"Dalam sebuah pernikahan memang ada ujian dan coban yang harus dilewati. Tapi lebih baik suami istri menyelesaikan masalah mereka dengan cara musyawarah berdua, bicarkan baik-baik dimana letak kesalahannya. Agar kesalahan itu nanti dapat diperbaiki bersama. Jangan menyelesaikan dengan amarah. Libatkan lah, Allah dalam setiap kehidupan kita apapun itu." Lanjut pak kyai Lukman.
"Kita manusia memang tidak tahu apa isi di dalam hati manusia lain. Bahkan istri kita sendiri, saling percaya dan saling terbuka dalam sebuah rumah tangga adalah kuci harmonisnya rumah tangga itu sendiri. Menyelesaikan sesuatu dengan amarah itu tidak akan ada artinya. Coba Nak Hans amati selama ini bagaimana istri, Nak Hans menyikapi masalah dalam rumah tangga kalian."
Hans menatap kyai Lukman. "Istri saya Masya Allah, sekali kyai. Dia tidak pernah menyelesaikan masalah dengan amarah, dia selalu sabar dan terbuka dengan saya, jika mengambil satu keputusan dia akan selalu membicarakannya terlebih dahulu pada saya kyai."
"Tapi dia tidak pernah menggurui saya, dalam hal salat saja jika saya mengulur waktu dia tidak memerintah saya melainkan membuat saya sadar sendiri tanpa dia bicara."
Kyai Lukam tersenyum pada Hans. "Seorang istri memang tidak boleh menggurui suaminya, tapi seorang suami bisa mencontoh seorang istri yang baik. Sekarang pulanglah Hans, istrimu pasti menunggu kedatangan suaminya."
"Baik kyai, terima kasih banyak atas pencerahannya. Saya permisi Assalamualikum.
'Bismillah, semoga kamu baik-baik saja dek.' Sebenarnya sejak tadi meninggalkan istrinya Hans sudah ada perasan mengganjal. Mengkhawatirkan sang istri tercinta.
"Wa'alakiumsalam."
Sementara itu di tempat lain, Eris hampir sudah berkeliling seluruh kota B, dia tak kunjung menemukan bosnya, bahkan dia sudah menyuruh tiga anak buahnya juga ikut mencari Hans tapi tidak ketemu.
"Ya Allah, dimana itu orang ngilangnya susah amat dicari. Ini kota hampir gue kelilingin tapi nggak nemu batang hidungnya."
Tanpa Eris sadari tadi saat shalat isya dia berada di dalam satu masjid dengan Hans.
"Itu bos nggak khawatir apa sama istrinya. Jangan-jangan dia ketempat terlarang lagi. Istighfar Eris tidak boleh soudzon. Telepon berpuluh-puluh kali juga tidak aktif." Oceh Eris semakin kesal.
Gubrak!
Maaf baru bisa lanjut malam🙏
__ADS_1