Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 67


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


"Mas, bangun subuh." Ulya mengguncang pelan lengan suaminya.


Ibu hamil itu sudah bangun sejak pukul 4:00 sebelum adzan subuh berkumandang. Hans yang merasa terganggu akhirnya membuka mata, hal pertama yang dia lihat senyum istrinya dan tatapan tajam dari Aditya. Membuat dahi Hans mengerut mendapat tatapan tajam dari putranya.


"Daddy! Ngapain disini? Aditya bisa kok jaga Mommy cama adik Aditya tidak perlu daddy." Ucap Aditya mengebu.


Masih ingat betul Aditya bagaimana wajah pucat mommynya kala pingsan sore kemarin tapi daddynya tidak ada bersama sang mommy membuat ada sedikit kecewa Aditya pada Hans. Hans sendiri mendengar penuturan Aditya mengerutkan dahi bingung.


Adik? adik siapa? siapa yang punya adik, begitu pikir Hans, adik dari mana. Bukankah istrinya belum hamil. Hans mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya.


"Adik? maksud kamu apa son." Heran Hans.


Lalu dia menatap lekat wajah Ulya. "Kamu hamil sayang?"


"Lia..."


"Hans, kamu disini, Nak sudah dari jam berapa." Sapa Ibu Rida, baru saja hendak mengecek keadaan putrinya sekalian mengambil air wudhu begitu juga Cia ternyata sudah ada Hans bersama Ulya dan Aditya. Hans segera beranjak menyalami mertuanya.


"Semalam pukul 22:30 Hans sampai rumah sakit Ma, semua sudah pada tidur. Maaf Hans baru datang malam hari."


"Tak apa Hans, yang sudah lewat biarlah berlalu. Sejarah tidak bisa diulang, tapi dapat kita petik sebagai pelajaran untuk kehidupan dimasa kini." Ibu Rida tersenyum pada menantunya.


"Sekarang shalat dulu Hans sudah subuh, biar mama dan Cia yang jagain Lia. Ada Aditya juga mau salat sama Oma atau mau ikut daddy ke masjid." Kali ini Ibu Rida menatap hangat sang cucu.


"Boleh, Aditya mau ikut daddy." Putus Aditya.


Ayah dan anak itu akhirnya memutuskan pergi ke masjid bersama-sama setelah pamit pada tiga wanita yang berada di dalam kamar rawat Ulya.


Ibu Rida memang tidak menyalahkan Hans atas apa yang menimpa putri bungsunya kemarin. Semua memang sudah kehendak-Nya, memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Hans, kadang orang bersalah itu butuh pencerahan bukan terus dipojoknya hingga membuat orang tersebut menganggap diri sendiri sudah benar-benar tak layak, karena semua orang menyalahkannya tanapa ada memberikan pencerahan pada yang bersangkutan.

__ADS_1


"Lia, mama sebenarnya tidak ingin mencampuri semua ini. Tapi sudah pesan mertuamu untuk memberikan suamimu pelajaran berharga agar kejadian kemarin tidak terulang lagi. Walaupun mama tidak tahu apa yang terjadi." Ibu Rida menjeda ucapan beliau sejenak.


"Nanti jam 8:00 pagi, kamu bersama Aditya akan pergi berlibur selama satu minggu tanpa suamimu, tidak apa Nak? Ada Cia dan abangmu yang menemani kalian."


Ulya menatap sahabatnya. "Cia tidak papa menemani Lia?"


"Tentu tidak bumil, lagipula aku akan menjaga kamu sama Aditya disana nanti, jika butuh sesuatu bilang saja padaku, anggap aku juga liburan." Canda Cia.


"Benar, Lia. Abangmu berada di tempat yang sama tapi tinggal di rumah yang berbeda nanti."


"Bukan Lia masih harus dirawat Ma?"


"Benar memang kamu akan tetap dirawat, kali ini di tempat yang lebih nyaman dan indah agar tidak bosan. Perjalanannya tidak jauh kok dari sini, mungkin hanya satu jam."


"Lia ikut bagaimana baiknya saja Ma. Asal jangan lama-lama pisa sama Mas Hans." Cicit Ulya merasa malu mengatakan hal terakhir.


Ketiga perempuan berbeda usia itu kemudian melaksanakan salat subuh berjamaah setelah ibu Rida mengatakan pesan dari besannya semalam. Hans bersama putranya baru saja selesai shalat di masjid rumah sakit yang memang disiapkan oleh keluarga Kasa sebagai pemilik rumah sakit harapan bangsa.


Aditya menghentikan langkahnya mendapat pertanyaan dari Hans, bocah itu berbalik menatap daddynya jangan lupa kedua tangan yang dilipat di depan dada sambil mengamati wajah Hans dengan tatapan tajam.


"Aditya tentunya yang bakal punya adik, memangnya daddy kemarin kemana sih! Mommy itu pingsan wajahnya pucat cekali."


"Aku akan punya anak." Guman Hans tak percaya mendengar perkataan Aditya. Lagi-lagi Hans merasa bersalah pada Ulya karena istrinya kemarin pingsan saat mengejar dia.


"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Engkau telah memberikan amahan padaku dan istri. Insya Allah, kami akan menjaga amanah yang Engkau titipkan."


Di tempatnya berdiri saat ini Hans langsung sujud syukur mendengar kabar bahagia yang selama ini dia dan istrinya nanti-nantikan.


Baru setelah itu Hans meminta maaf pada putranya atas kesalahan yang telah Hans lakukan pada Ulya.


"Daddy minta maaf son, Insya Allah daddy janji tidak akan ada terjadi hal seperti kemarin lagi. Kita akan sama-sama menjaga mommy dan calon adik kamu."

__ADS_1


Tak bisa dipungkiri kebahagian kali ini benar-benar menyelimuti hati Hans, rasanya dia seperti disiram banyak bunga harum mendengar kabar kehamilan sang istri. Mereka segera kembali ke kamar rawat Ulya.


Sampai di kamar rawat Ulya senyum terus menghiasi wajah Hans tidak pernah luntur sejak keluar dari masjid. "Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ulya hanya sendiri saja di dalam kamar rawat.


Ibu Rida dan Cia sudah pulang. Karena Cia harus bersiap untuk menemani Ulya dan Aditya nanti. Melihat tidak ada siapa-siapa di kamar rawat Ulya, Hans kembali mencium istrinya bertubi-tubi membuat Aditya menggelengkan kepala.


"Terima kasih sayang sudah mau mengandung anakku. Semoga mommy dan adik Aditya sehat-sehat selalu di dalam perut mommy."


"Aamiin." Ucap Ulya dan Aditya bersama.


'Lia minta maaf Mas, bukan Lia ingin berpisah dengan Mas! Semua ini atas permintaan papa. Jadi untuk sementara kita berpisah dulu ya, kebetulan satu minggu ini libur sekolah Aditya juga.' Ulya menatap lekat wajah suaminya tanpa Hans sadari.


Matahari sudah hampir menampakkan sinarnya, walaupun masih malu-malu tak membuat malas sebagian manusia yang sudah melakukan aktif mereka.


Waktu berjalan terasa cepat, setelah pamit pada sang istri Hans kembali bekerja seperti biasa dan disaat itulah Tuan Leka mulai melancarkan rencana beliau untuk memisahkan Hans dan Ulya sejenak, agar Hans benar-benar merenungi kesalahannya.


Tempat mereka liburan tidak terlalu jauh hanya menempuh satu jam perjalan saja. Tuan Leka mengutus dua dokter perempuan untuk merawat mantunya agar bisa terus memantau janin Ulya. Juga Ibu si calon bayi.


"Kita akan pergi berlibur mom?" tanya Aditya dengan wajah yang gembira.


"Betul son, tapi tanpa daddy tidak apa?"


"Tentu saja tidak papa, mom. Ada Om ganteng dan mbak Cia juga yang bakal temenin kita, pasti Aditya tidak akan bosan." Ucapnya senang.


Mereka telah berangkat ke tempat tujuan tanpa sepengetahuan Hans. Sebenarnya Ulya tidak ingin pergi tanpa pamit pada suaminya, tapi Leka dan Milda meyakinkan Ulya jika Hans pasti mengizinkan. Ulya adalah tipikal istri yang harus izin suami dulu kalau mau keluar rumah, tanpa izin dari Hans, Ulya tidak akan keluar rumah kecuali bersama suaminya.


"Anak pintar." Ulya mengelus lembut pucuk kepala Aditya, satu tangannya mengusap perut sendiri yang masih rata.


(Maaf Author pisahkan lagi mereka hehe, ampun semoga tidak pada kecewa🙏)

__ADS_1


(Mau tanya dong yang baca novel Kasih sayang untuk Aditya, dari mana aja? Jawab ya pils)


__ADS_2