Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 70


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Cup!


"Mas kira cuman suamimu ini aja yang kangen sama kamu, Dek." Ujar Hans.


Saat ini Ulya sudah duduk di pangkuan sang suami sambil menatap setiap inji wajah Hans. Wajah laki-laki yang sanga dia rindukan berapa hari ini.


"Maafin Lia, Mas udah pergi tanpa pamit bawa Aditya juga."


"Tidak masalah asal jangan diulangi lagi, suamimu ini hampir frustrasi cari kalian nggak ketemu-ketemu."


"Maaf." Ulya kembali mencium wajah suaminya.


" Pasti sayang. Terus anak daddy satu ini di dalam perut mommy rindu tidak sama daddy sendiri." Ujar Hans mengelus sayang perut istrinya yang masih terlihat rata.


"Kangen dong daddy maca nda." Sahut Ulya mengikuti gaya bicara anak kecil.


"Tapi selama disini ada dokter yang selalu mantau keadaan bumil sama dedeknya?" tanya Hans lembut.


"Pasti daddy, mereka merawat mommy dengan sangat baik. Bahkan mommy merasa semakin sehat semenjak berada disini, tapi selalu kepikiran sama suami Lia." Cicitnya.


"Kita sama, sayang."


Ulya menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Wangi yang ada di tubuh Hans adalah wangi yang selama ini Ulya rindukan.


"Ngomong-ngomong kamu sendiri dek, yang lain pada kemana?"


"Cia sama bang Fahri nemenin Aditya jalan-jalan Mas, tadi minta Lia tapi belum bisa nemeni Aditya." Jelas Ulya pada sang suami.


"Pulang jam berapa?"


"Mungkin sore baru pulang mereka, Aditya, kan kalau jalan-jalan harus puas dulu baru mau pulang."


"Tapi kamu udah bilang sama bang Fahri juga Cia, kalau Aditya nggak boleh capek-capek."


"Alhmdulillah, udah Mas. Malah Aditya maunya di gendong bang Fahri terus selama jalan-jalan."


Hans tertawa mendengar perkataan istrinya. Dia yakin pasti sepanjang jalan-jalan Fahri akan terus menggendong Aditya. Puas bertukar cerita Hans tanpa aba-aba mengangkat tubuh istrinya.


Kay!

__ADS_1


"Mas mau kemana." Ulya mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Shalat dzhuru dek, abis itu kita di kamar aja. Mas kangen bareng sama kamu. Kita shalat dulu, sekarang mumpung lagi nggak ada siapa-siapa di Villa."


"Emangnya Mas nggak mau ke masjid."


"Kamu tahu disini jauh dari masjid bukan." Ulya mengangguk pasrah.


Hans membawa sang istri ke dalam kamar milik Hans yang di tempati Ulya saat ini. Sampai di dalam kamar Hans menatap sekeliling kamar tersebut.


"Puas pasti Aditya tidur sama mommynya tanpa ada yang ganggu."


"Ye! Sama anak sendiri cemburu, bener kata Aditya maunya Mas kesini telah berapa hari dulu biar dia puas tidur di peluk Lia."


"Loh, kamu emang nggak kangen tidur di peluk suamimu ini." Goda Hans mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.


"Mas, ayo ambil wudhu abis itu shalat." Ajak Lia lembut.


"Baiklah."


Keduanya lalu mengambil air wudhu setelah itu shalat berjamahan, selesai shalat baik Hans maupun Ulya tidak langsung beranjak dari tempat mereka. Keduanya sama-sama membaca ayat-ayat Allah. Suara Hans yang indah selalu membuat Ulya merasa tenang.


'Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah telah memberikan Lia nikmat yang luar biasa. Suami Lia begitu menyayangi Lia. Tapi Lia selalu berdoa semoga cinta kami karena Engkau. Cinta kami karena Allah.'


"Mas, kok dikunci? nanti Aditya nyarin Lia gimana."


"Kan kamu sendiri yang bilang mereka pulang sore, Dek."


Hans membantu membuka pelan muken istrinya membuat Ulya jadi tersipu malu. Lagi-lagi Hans mengangkat tubuh kecil istrinya.


"Mas, bilang dong! Jadinyakan Lia nggak siap." Ucapnya sambil mengerucutkan bibir sebal membuat Hans terkekeh.


Hans yang mengangkat tubuh Ulya membawa tubuh kecil istri ke atas kasur mereka.


Waktu bergulir.


Azan dzuhur sudah berganti dengan azan ashar. Mendengar suara azan berkumandang dari gawainya membuat Ulya membuka kedua bola matanya, hal pertama dia lihat wajah teduh suaminya yang Ulya rindukan selama berapa hari ini. Tangan Hans memeluk perut Ulya, dia tidur dengan sangat nyaman sekali.


Ulya dapat melihat jika suaminya baru tidur nyenyak sepertinya. Mungkin berapa hari ini Hans tidak tidur teratur.


"Mas bangun kita asaran dulu yuk, sebentar lagi Aditya sama yang lain pulang." Bisik Lia di telinga suaminya.

__ADS_1


"Kamu dek, ayo mandi."


Ulya terlihat pasrah saat lagi-lagi sang suami mengangkat tubuhnya mereka masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini Ulya hanya bisa tertawa renyah melihat tingkah sang suami.


"Mata melek dulu Mas." Tawa Ulya.


Tawa yang membuat senyum tersungging di bibir Hans. "Masing ngantuk sebenarnya dek, tapi harus melek."


"Memang Mas tidak kangen sama Aditya."


"Pasti kangen, Mas kangen banget sama kalian bertiga."


Siapa saja memang ingin memilik rumah tangga yang hamoris, selalu terlihat damai tidak pernah membesar-besarkan masalah. Baik suami maupun istri tidak membawa masalah mereka pada orang lain. Lagi-lagi kunci rumah tangga itu ada pada dua orang di dalamnya. Bukan jika sudah memutuskan untuk berumah tangga harus siapa dengan segala konsekuensi apa yang ada di dalam rumah tangga mereka nanti.


Bukan hanya siapa punya anak, siap mengurus anak. Tapi harus siapa dalam segala hal, siap menerima kekurangan pasangan kita. Siapa menghadapi masalah kedepannya intinya siapa dalam semua hal dalam rumah tangga. Karena jika seorang telah memutuskan untuk menikah, berarti dia tidak lagi hidup untuk memikirkan diri sendiri, dia juga memikirkan kehidupan pasangannya.


Dalam sebuah rumah tangga bukan membutuhkan pasangan yang sempurna, kita membutuhkan pasangan yang memiliki ke kekurangan agar bisa saling melengkapi satu sama lain. Rumah tangga dikatakan sempurna karena butuh dua orang di dalamnya yang saling melengkapi satu sama lainnya, bukan hanya satu yang sempurna tapi keduanya.


Rumah tangga itu indah jika orang di dalamnya bisa paham akan konsep rumah tangga yang seutuhnya. Rumah tangga itu salah satu perjalanan menuju Lillah, menuju akhirat tempat sesungguhnya.


Selesai salat ashar Ulya dan Hans keluar dari kamar bertepatan dengan Fahri, Cia dan Aditya pulang dari jalan-jalan.


"Daddy!" Aditya segera menghampiri Hans.


"Hati-hati sayang." Hans merentangkan kedua tangannya agar sang putra masuk ke dalam pelukanya.


"Aditya kangen daddy!"


"Bener kangen, kok pergi bawa mommy nggak bilang-bilang daddy."


"Kan, yang nyuruh Aditya nggak bilang sama daddy. Grandma dan grandfa, Aditya patuh saja." Belanya tidak mau dijadikan yang bersalah.


Lalu Hans menyapa Cia dan Abang iparnya. "Makasih bang, Cia udah jangain Lia."


"Bener Hans, lo emang harus berterima kasih sama gue. Untung lo cepet dateng bosen gue jadi babysiter istri Lo. Tiap hari masa gue disuruh nyupain dia makan, disuruh baca dongeng buat Lia sama Aditya." Ujar Fahri tak habis pikir dengan permintaan adiknya.


"Sama adek sendiri juga bang, kagak ikhlas bener. Ini adikmu loh." Protes Ulya tidak terima.


"Memang muka gue selalu kagak ikhlas bukan, bener begitukan Cia, Aditya."


Aditya dan Cia mengangguk kompak.

__ADS_1


"Sekarang mending kita makan mumpung udah pada kumpul semua." Lerai Hans.


__ADS_2