Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 43


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Nuansa kamar rawat Aditya terasa seperti tempat bermain untuk anak-anak. Tembok kamar penuh dengan gambar kartun anak-anak. Mulai dari kartun Dora, Upin-Ipin, Capser, masih banyak juga gambar lainnnya.


Di dalam kamar itu hanya ada 3 orang saja. Ibu, ayah dan anak. Ulya bersama Hans setengah jam yang lalu telah kembali ke rumah sakit. Bergantian dengan Milda dan Leka untuk menemani Aditya.


"Mommy, dari tadi diem aja kenapa?" heran Aditya.


"Tidak papa, Aditya." Sejujurnya Ulya masih canggung di panggil mommy oleh Aditya, tapi bagaimanapun juga dia sekarang adalah istri dari seorang Hans.


Kenyataan itu tidak dapat dielak lagi. Ulya jadi teringat kejadian di kamarnya sore tadi sebelum kembali ke rumah sakit. Bisa-bisanya dia lupa jika sudah memiliki seorang suami. Mengingat kejadian sore di kamarnya bersama sang suami Ulya menjadi malu sendiri dibuatnya. Itu sebabnya kenapa dari tadi diam saja, dia masih malu.


"Mommy benar tidak papa?" tanya Aditya sekali lagi.


"Benar Aditya, mommy fine." Ulya meyakinkan Aditya.


Hans hanya memperhatikan interaksi Aditya dan Ulya. Dia baru saja mengurus kejadian di cafe tadi pagi untungnya pihak cafe juga ikut membantu untuk mencari pelaku siapa yang sudah meracuni Aditya.


Kaki Hans melangkah mendekati istri dan anaknya. "Belum tidur sudah malam." Ujar Hans.


"Daddy cini." Aditya menepuk ranjang kosong di sebelah kirinya.


Tanpa banyak tanya Hans menuruti keinginan Aditya. Dia ikut duduk bersama istri dan anaknya. Sebenarnya Hans juga tidak menyangka dia sudah memiliki seorang istri. Setiap kali melihat wajah Ulya hati laki-laki itu terasa berbunga dan menghangat.


"Daddy cekarang Aditya ceneng bangat cudah bica tidur bareng teruc cams mommy cama daddy juga. Aditya mau cetiap hari tidur cama kalian boleh."


Bola mata Hans membelak mendengar keinginan sang anak. Jika setiap hari mereka tidur bertiga lalu Hans tidak bisa menikmati waktu berdua dengan istrinya. Dia juga ingin bermanja dengan sang istri.


"Boleh tidur sama mommy sama daddy juga asal tidak setiap hari son. Seminggu hanya boleh 2-3 hari saja tidak boleh lebih." Atur Hans agar Aditya tidak selalu tidur bersama mereka.


"Kok gitu daddy? Maca Aditya cuman dua hari tidur cama mommy!" bantahnya tidak terima.


"Kamu haruc belajar tidur sendiri boy, bukannya kamu memang sering tidur sendiri. Anak laki-laki harus berani." Kilah Hans.


"Nda mau, kalau daddy tidak mau tidur cetiap hari cama Aditya. Biar mommy caja! Mommy mau kan." Aditya menatap Ulya penuh harapan.


Satu tangan Ulya terangkat untuk mengelus pucuk kepala Aditya. "Tentu Aditya." Jawab Ulya yakin.


"Nggak enak aja, nggak bisa gitu dong mom. Mommy, kan, punya daddy bukan punya Aditya!" tentunya Hans tidak terima.

__ADS_1


Ah, sekarang Hans jadi berpikir apakah dirinya akan berebut istri dengan anak sendiri. Kalau Ulya bersama Aditya terus lalu dirinya dikemanakan.


Blus!


Muka Ulya terasa panas mendegar perkataan Hans, hatinya terasa menghangat mendengar perkataan yang keluar dari mulut sang suami.


"Mommy, daddy jahat! Ambil mommy dari Aditya."


Hans menghela nafas panjang baik dirinya maupun sang anak tidak ada yang mau mengalah. Ulya melihat tingkah bapak, anak itu tersenyum pada keduanya.


"Sudah tidak usah ribut lagi, sekarang ayo tidur sudah malam." Ulya menatap Hans dan Aditya bergantian.


Untung saja kasur milik Aditya lebar karena sudah diganti oleh pihak rumah sakit. Jadi muat untuk menampung 3 orang dewasa sekaligus.


"Aditya bobok ya, kamu harus banyak istirahat. Biar cepat sembuh nanti kalau Aditya sudah sembuh kita jalan-jalan lagi."


"Janji mommy!" bola mata Aditya berbinar.


"Insya Allah sayang, tidur dulu ya."


"Cebelum tidur Aditya mau dicium mommy cama daddy."


Kedua orang dewasa itu langsung melakukan apa yang Aditya minta. Sudah berapa kali Ulya mencium pipi Aditya bersama Hans tapi rasanya masih canggung sekali, walaupun sekarang Hans adalah suaminya.


"I love you too son." Jawab Hans juga Ulya bersama.


Hans mencubit gemas hidung mancung Aditya, lalu dia menutup mata anaknya. Tanpa membuang sia-sia kesempatan itu Hans mencium Ulya.


Cup!


Nyes!


'Ya Allah, apa ini.' Rasanya Ulya malu sekali tiba-tiba suaminya mencium pipinya.


Blus!


Muka Ulya sudah berubah jadi semerah tomat matang, ditambah lagi Hans terus menatap wajahnya dengan tatapan yang berbeda menurut Ulya, hal ini membuat Ulya tidak berani mengkata kepalanya yang terduduk karena malu.


"Daddy lepac!" Aditya berusaha memberontak.

__ADS_1


Eh, kaget Hans langsung tersadar jika Aditya masih berada diantara mereka. Ulya sendiri menghela nafas lega.


"Daddy! kenapa mata Aditya ditutup?"


"Tidak papa son. Sudah sekarang ayo kita tidur." Ajak Hans tersenyum cerah.


"Tapi mommy cama daddya haruc peluk Aditya."


"Baiklah."


Entah sejak kapan ketiga orang itu sudah mulai berbaring di ranjang yang sama padahal barusan mereka masih berbincang-bincang sambil duduk.


Hans memeluk Aditya menggunakan satu tangannya, berbeda dengan Ulya yang masih merasa malu.


"Mommy peluk Aditya!" pintanya saat tidak merasakan keberadaan tangan Ulya.


Ragu-ragu Ulya mengangkat tangannya untuk memeluk Aditya. Tangan Ulya harus bertumpuk dengan tangan Hans. Saat tangan gadis itu terangkat, tangan Hans ikut terjulur menarik lembut tangan mungil istrinya.


"Astagfirullah." Kaget Ulya sekaligus merasa malu.


"Tidur mom, sudah malam bukan mommy yang tadi nyuruh kita tidur." Ucap Hans tanpa membuka matanya yang sudah terpejam.


Tangan Ulya yang berada di bawah tangan Hans terasa hangat apalagi suaminya itu memegang dengan sangat lembut.


Ulya yang malu pun pura-pura sudah tidur saja. Sedangkan Aditya sudah terlelap 5 menit yang lalu. Bocah laki-laki itu malam ini merasakan sebuah kebahagain yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


'Bismillah, Ya Allah kok jadi deg, degan begini sih. Ayo Lia kamu harus bisa tidur. Kalau setiap hari begini terus bisa senam jantung yang ada aku.' Molong Ulya pada diri sendiri.


"Tidur sayang, jangan berbicara pada diri sendiri ini sudah malam." Ucap Hans membuat Ulya kaget untung dirinya tidak membuka mata.


Tiba-tiba Ulya merasakan tangannya ditarik lembut oleh sang suami.


Cup!


Jelas Ulya sangat tau saat tanganya dicium lembut oleh Hans. Walaupun matanya sudah tertutup rapat tapi Ulya belum tidur, dia malah tidak bisa tidur jika seperti ini terus.


'Ya Allah, malunya aku. Mas Hans lagian kok nggak tidur-tidur sih.'


"Tenang sayang, aku sebentar lagi tidur. Terima kasih sudah mau menjadi pendamping hidupku. Insya Allah, kita akan bahagias selalu." Hans sekaan bisa membaca pikiran istrinya.

__ADS_1


'Aamiin.' Jawab Ulya dalam hati. 'Tunggu tadi mas Hans panggil aku apa? Astagfirullah, sayang.' Buru-buru Ulya berusaha agar cepat tidur dan tidak mendengar perkataan sang suami yang membuat dia malu sendiri.


'Bismillahirrohmanirrohim, cepet tidur.' Suruh Ulya pada diri sendiri.


__ADS_2