
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Pagi-pagi sekali Tuan Leka bersama istrinya dan Aditya sudah berada di rumah sakit untuk melihat cucu mereka, setelah kemarin Ulya melahirkan dia tidak diperbolehkan langsung pulang harus di rawat 3 hari lebih dulu di rumah sakit atas saran dokter.
Tentu saja demi anak dan istrinya Hans menuruti apa saran dari dokter.
Sekarang disini mereka berada di kamar rawat Ulya sejak 30 menit yang lalu.
"Kamu sudah menyiapkan nama untuk anakmu, Hans?"
Hans yang fokus menggendong anaknya menoleh pada Tuan Leka. "Allhamadulilah, sudah Pa," sahutnya.
"Kapan akan kamu berinama si kecil?" tanya Milda ikut menimpali
"Sekarang saja tak apa Ma," sahut Hans dianggunki oleh nyonya Milda.
"Lalu siapa nama adik, Aditya. Daddy?" tak ketinggalan Aditya juga ikut menyahut, dia sedang duduk didekat mommynya yang terus mengelus pucuk kepala Aditya.
Bocah 5 tahun itu menatap adiknya yang berada di dalam gendongan Daddy mereka tanpa berkedip.
"Alvan Ratara Kasa," ucap Hans mantap.
"Masya Allah, bagus sekali nama anak Mommy. Jadi Aditya dan Alvan," seru Ulya terlihat menyukai nama yang diberikan Hans untuk anak mereka.
"Assalamualaikum, adik Alvan." Aditya bangkit mendekati sang Daddy lalu mencium pelan kening adik kecilnya.
"Wa'alaikumsalam Abang Aditya," sahut Hans mengikuti gaya anak kecil.
"Alvan, kamu harus cepat besar biar nanti Abang ada temennya kalau main di rumah, sekarang Kak Arion sudah tinggal diasrama sekolahnya jadi Abang tidak punya teman main lagi," dia malah curhat pada adiknya yang baru berumur 1 hari itu.
"Insya Allah, Abang Aditya. Alvan akan cepat besar kan banyak yang rawat Alvan," sahut Hans lagi.
Aditya dan Hans tertawa bersama saat melihat Alvan tertawa kala diajak ngobrol bersama Daddy dan Abangnya.
Nyonya Milda dan Tuan Leka sedang duduk di sopa tersenyum bahagia melihat Hans begitu menyayangi anak-anaknya, Ulya juga ikut tersenyum bahagia melihat keluarga kecilnya.
__ADS_1
Dulu sebelum Hans bertemu dengan Ulya, nyonya Milda takut putra sulungnya itu akan menjadi bujang tua beranak satu, karena Hans tidak ingin dekat dengan perempuana mana pun, beliau sangat bersyukur ketika Aditya dipertemukan dengan Ulya, sampai akhirnya hati Hans berlabuh pada gadis yang memiliki sifat keibuan itu.
Tok...Tok...Tok...
"Assalamualaikum," salam orang yang mengetuk pintu kamar rawat Ulya sambil membukanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka semua kompak.
"Aditya!"
"Erisa!" ucap kedua bocah itu bersama.
Yang datang ternyata Anggi bersama putrinya Erisa dan adik Erisa. Juga ada Cia yang datang bersama bunda Anggi, mungkin mereka bertemu dijalan.
"Masya Allah, udah jadi seorang ibu yang sesungguhnya ya sekarang. Selamat buat sahabat tercinta," ujar Cia, sambil meletakkan buah tangan yang dia bawa diikuti Anggi juga. Lalu Cia melekuk sahabatnya.
"Mbak Anggi, Cia kalian repot-repot sekali." Ulya merasa tidak enak.
"Tidak ada yang direpotkan Ulya," kata Anggi yang disetujui Cia.
Cia sudah lebih dulu menyapa kedua mertua Ulya dan Hans juga bersama Anggi tadi, sementar Aditya, Erisa sudah sibuk bermain dengan adik mereka.
Adik Erisa sudah beralih dalam gendongan Milda dan Alvan ada di gendongan Tuan Leka. Hans berada di tengah-tengah Erisa dan Aditya.
Di brankar Ulya, tiga perempuan itu masih bercengkeram bersama saling bertegur sapa satu sama lain.
"Selamat untuk kamu, Ulya," ujar Anggi juga setelah kedua sahabat itu melepaskan pelukan mereka.
"Terima kasih banyak Mbak Anggi," imbuh Ulya ramah.
"Oh, iya kalian bareng kesini atau ketemu di rumah sakit?"
"Ketemu di rumah sakit pas mau ke kamar kamu, Ulya. Saya kesini diantar Ayah Erisa, eh nggak sengaja ketemu Cia yang tadi jalan sendirian," papar Anggi pada Ulya.
"Terus kamu kesini diantar siapa Cia?" tanya Ulya pada sahabatnya, entahlah tidak tahu kenapa Ulya merasa Cia tidak sedang baik-baik saja, walaupun dia berusaha untuk terlihat bahagia.
Ulya yakin senyum yang Cia tunjukkan sekarang untuk menutup sesuatu yang Cia rahasikan.
"Sendiri bawa mobil, tadi udah izin sama suami mau jenguk kamu." Ulya mengangguk walaupun tidak sepenuhnya dia percaya.
"Oh iya, siapa nama adik bayinya?" Cia berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Alvan Ratara Kasa, namanya Cia," sahut Nyonya Milda.
__ADS_1
Sudah pindah dalam gendongan neneknya saja si Alvan.
"Masya Allah, bagus sekali namanya."
"Kamu benar Cia." Anggi ikut menimpali.
Milda menyerahkan cucunya pada Ulya, karena Alvan harus diberi susu lebih dulu. Hans dan Tuan Leka mengajak Aditya juga Erisa keluar sambil membawa Mahen-nama adik Erisa.
"Eris masih di rumah Pa?" tanya Hans kala mereka sudah berada di luar kamar rawat Ulya.
"Kerja dia."
"Terus Azril?"
"Di rumah, memangnya kenapa?" bingung Tuan Leka.
"Kita kan belum membahas tentang pernikahan Eris sama Azril, nanti setelah Lia pulang dari rumah sakit kita bahas, lagipula Azril masih terikat dengan pesantren An-Nur, dia sudah bersuami masa mau tetap tinggal di pesantren, sedangkan suaminya punya pekerjaan disini." Hans menjelaskan pada papanya ini.
Leka menepuk pundak Hans pela yang sedang menggendong Mahen. "Papa kira kamu tidak setuju Azril menikah dengan Eris."
Hans berdecak pelan. "Nggak setuju juga mereka udah nikah Pa, Hans lihat juga Azril seperti menyukai Eris."
"Memang," spontan Tuan Leka dan Hans menatap Aditya yang menyambung obrolan mereka.
"Maksud kamu apa boy?" tanya Hans pada Aditya yang fokus bermain dengan Erisa.
"Daddy sama Grandfa tidak tahu ya, sebenarnya Kak Azril sudah lama menyukai Om Eris begitu juga sebaliknya tapi mereka berdua tidak pernah mengungkap perasaan masing-masing, sampai Allah menyatukan mereka dengan cara yang tak terduga."
Hampir Hans tersedak ludahnya, Leka tersenyum mendengar penjelasan cucunya.
"Kamu tahu dari mana Aditya, jika mereka saling menyukai."
"Grandfa, Aditya tahu dari kak Azril sendiri kalau kak Azril menyukai Om Eris, setiap pulang dari pesantren kak Azril curhat sama Aditya. Kalau Om Eris, Aditya tahu sendiri."
Sungguh enteng sekali Aditya menjawab pertanyaan kakeknya.
Di dalam kamar rawat.
Alvan sudah tidur setelah selesai menyusui, dia sudah terlelap dalam gendongan Mommynya.
"Si Alvan mirip suamimu waktu masih bayi Lia, jarang nangis abis nyusu langsung tidur anteng banget anaknya, tapi pas sudah bisa jalan nggak bisa diem bikin ulah terus kerajaannya," curhat Milda kala melihat cucunya sama seperti anak sang anak sulung ketika masih kecil dulu.
"Asal nanti pas udah bisa jalan jangan kayak Daddynya Ma, suka buat rusuh pas udah bisa kemana-mana," canda Ulya membuat ketiga wanita yang bersamanya tertawa pelan agar tidak mengusik ketenangan Alvan yang sedang tidur.
__ADS_1
"Masya Allah, antengnya anak Mommy. Nyenyak sekali bobok mu, sayang." Ulya menatap lekat wajah putranya.
(Hai semua ada yang mau baca kisah Cia dan Fahri sudah dimulai ya, Klik aja novel yang ada dibawah👇 semoga kalian suka🤗)