
Bismillahirrohmanirrohim.
Hampir empat jam berlalu tapi dokter tak kunjung keluar dari ruang operasi, bahkan Azril sudah tiba satu jam yang lalu bersama Arion dan Eris. Tapi belum juga ada tanda-tanda dari ruang operasi tempat Aditya sedang dilakukan transplantasi sumsum tulung.
Mereka bahkan sudah menunaikan shalat secara begatian, sekarang mereka semua sudah berkumpul kembali di depan ruang operasi Aditya.
"Kenapa lama sekali." Ucap Milda mulai khawatir akan kondisi anak dan cucunya.
"Sabar Ma, mungkin sebetar lagi dokter selesai melakukan transplantasi tulang sumsum untuk Aditya. Masih ada waktu satu jam juga bukan." Ujar Azril berusaha menengakan sang Mama.
Azril memegang lembut kedua tangan mamanya seakan sedang memberikan kekuatan pada nyonya Milda agar tetap berfikir positif dan doa tidak pernah terputus dari mereka semua.
Rasa khawatir bukan hanya menghampiri nyonya Milda saja tapi semua orang termasuk kepala keluarga Kasa. Leka memang terlihat santai juga lebih terlihat tenang, tapi semua yang beliau lakukan ini untuk menutupi rasa khawatirnya yang sudah memuncak, beliau harus bisa mengendalikan diri di hadapan anak-anak dan istrinya.
"Ya Allah, lama sekali membuatku khawatir saja." Gumam Arion yang masih bisa di dengar papanya.
"Sabar, Nak. Insya Allah. Sebentar lagi selesai, kita tunggu dokter sepuluh sampai lima belas menitan lagi." Arion mengangguk patuh.
Tak terasa lima belas menit berlalu benar saja dokter Wira keluar dari ruang operasi, semua orang yang melihat kehadiran dokter Wira segera berdiri menghampirinya untuk mengetahui hasil operasi yang dilakukan oleh dokter Wira terhadap Aditya.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Leka mewakili semua orang.
Dokter Wira yang tak langsung menjawab pertanyaan Leka membuat mereka semua penasaran. Dokter Wira menghirup udara segera terlebih dahulu sebelum memberikan kabar pada keluarga Kasa.
'Astagfirullah, ini dokter kenapa kagak ngomong-ngomong sih! bikin orang penasaran aja, udah deg-degan juga ini.' protes Arion, tapi apalah daya dia harus tetap bersabar menunggu dokter Wira memberikan mereka kabar.
Berapa saat kemudian akhirnya dokter Wira mulai membuka mulut beliau untuk berbicara.
"Alhamdulillah, operasi transplantasi tulang sumsum Tuan muda Aditya berjalan lancar."
Semua orang bernafas lega mendengar kabar baik yang diberikan oleh dokter Wira, termasuk Erisa yang tidak mengerti apapun tadi dia dan bundanya masih berada di rumah sakit, karena permintaan Erisa.
"Alhamdulillah." Ucap semua orang serentak mendengar kabar bahagia ini.
"Kami boleh melihat keadaan Aditya, dok?" tanya Azril hati-hati.
"Boleh tapi kalau sudah dipindah ke kamar rawat terlebih dahulu, terus tolong jangan ramai-ramai dulu untuk melihat kondisi Aditya, dia belum siuaman butuh banyak istirahat, saya sarankan satu atau dua orang saja yang masuk secara bergantian." Jelas dokter Wira.
__ADS_1
"Lalu bagaimana keadaan putra sulung saya dok?" Nyonya Milda juga mengkhawatirkan kondisi putra sulungnya itu.
Sejak Hans masuk ke dalam ruang pendonoran tulang sumsum untuk Aditya. Milda sudah tidak melihat keberadan Hans, bukan hanya Milda tapi semua orang.
"Tuan muda Hans sedang dalam kondisi obat tidur, jadi saat ini Tuan muda Hans ada di ruang rawat. Dokter Dika yang sedang mengurus kondisi Tuan muda Hans. Insya Allah, Tuan muda Hans baik-baik saja."
Baru Milda juga semua orang mengangguk pamah. "Saya permisi dulu. Tuan besar boleh ikut saya sebentar." Ucap dokter Dika.
Tanpa banyak tanya Leka segera ikut bersama dokter Dika ke ruang kerja beliau. Memang seperti itu, walaupun Leka adalah pemilik rumah sakit harapan bangsa, tapi mereka harus tetap mengikuti prosedur yang sesuai aturan rumah sakit.
Aditya sudah dipindah ke kamar rawat, mereka mulai berganti menjenguk Aditya. Nyonya Milda dan Azril yang lebih dulu masuk untuk melihat keadaan Aditya.
"Assalamualaikum, ponakan Kak Azril
cepat siuman sayang memang kamu tidak rindu sama kak Azril, nanti kita bareng-bareng lagi. Aditya juga harus bertemu sama calon adik, kamu. Aditya bisa dengan kak Azril, kan." Azril hampir tak kuasa menahan sesak di dadanya.
Sekuat apapun Azril terlihat baik-baik saja di depan semua orang dia tetap seorang perempuan yang memilik hati lembut.
"Jangan menangis Kak, mama tahu kakak kuat. Kalau Kak Azril kuat, Insya Allah cucu Mama juga pasti kuat kayak kak Azril."
Sekitar 25 menit nyonya Milda dan Azril berada di kamar rawat Aditya lalu berganti dengan Erisa dan sang bunda terlebih dahulu memasuki kamar rawat Aditya.
"Aditya bangun ayo kita main lagi." Ujar Erisa menyenggol pelan tangan Aditya.
"Sabar sayang pasti Aditya akan segera sembuh."
"Benar bunda pasti Aditya akan cepat sembuh." Erisa menatap Aditya dengan mata yang berkaca-kaca.
Mereka tidak lama berada di kamar rawat Aditya karena harus berganti dengan yang lain. Kini giliran Arion dan Eris yang menemui Aditya, dua laki-laki ini tidak banyak bicara mereka hanya memandang Aditya dengan harapan dalam doa mereka semoga Aditya segera sadar.
Di kamar rawat Ulya. Mendengar operasi transplantasi tulung sumsum Aditya berjalan lancar Ulya sangat bersyukur sekali.
"Ma, Lia pengen lihat Aditya boleh?" pintanya.
"Boleh tapi kamu harus duduk di kursi roda tidak boleh terlalu lelah. Apalagi kamu sekarang salah satu pasien disini."
"Apapun Ma, asal Ulya bisa segera bertemu Aditya."
__ADS_1
"Tapi habiskan dulu semua makannya Lia. Jangan mubazir."
"Siap Abang aku. Bilang saja sudah capek-capek Abang beliin tapi nggak dimakan. Bang Fahri sebenarnya mau ngomong begitukan."
"Udah sembuh kamu mulai berani ngeledak Abang." Fahri bersungut tak terima walaupun apa yang dikatakan Ulya memang benar adanya.
"Sudah, sudah kalau pada sehat aja jadi kayak tom and jerry. Coba kalau lagi nggak bareng saling nyari kalian berdua, kalau lagi sakit aja baru akur." Ujar Ibu Rida tak habis pikir.
"Maafkan kita berdua Ma." Ucap Ulya dan Fahri bersama sambil memeluk Ibu Rida.
"Sekarang semua makannya sudah habis, ayo ke kamar rawat Aditya. Cucu mama pasti nungguin mommynya dateng."
"Abis itu Lia juga mau ketemu Mas Hans."
"Iya Lia, adikku tersayang apapun untukmu. Sekarang ayo ikut Abang."
Fahri menuntun Ulya agar duduk di kursi roda lalu Ibu dan kedua anak itu segera menuju kamar rawat Aditya. Sampai di depan kamar rawat Aditya kebetulan Arion dan Eris baru saja keluar.
"Subhanallah, Lia. Maaf mama tidak sempat menjenguk kamu, Nak."
"Tidak apa Ma."
"Azril juga mbak."
Sedangkan Arion, bunda Anggi dan Erisa juga Eris memang sempat melihat kondisi Ulya sebentar tadi.
"Tak apa Azril, aku mau ketemu Aditya. Apa sudah boleh masuk?" tanya Ulya memastikan.
"Boleh."
Akhirnya Ulya bersama Ibu Rida masuk ke dalam kamar rawat Aditya, sedangkan Fahri masih tetap menunggu diluar kamar rawat.
Kedua bola mata Ulya mulai terasa panas melihat putranya harus merasakan kembali berbaring di atas brankar rumah sakit untuk yang kesekian kalinya dalam kondisi yang tidak sedang baik-baik saja.
"Assalamualaikum, Anak mommy. Kamu bisa denger suara mommy, kan, son. Mommy sayang kamu, Nak." Ucap Ulya mencium tangan Aditya bertubi-tubi juga kening Aditya dengan sangat tulus.
"Ternyata waktu kamu masih bayi kita sudah pernah bertemu sayang. Cepat bangun son."
__ADS_1