Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 52


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Nyonya Milda bersama sang suami beserta anak bungsu beliau menunggu kedatangan Hans, Ulya dan Aditya dengan khawatir. Wanita paruh baya itu takut terjadi apa-apa pada mereka. Setelah mendengar pesan dari Eris tadi.


Beliau dari tadi terus mondar-mandir di depan anak dan suaminya, membuat Leka juga Arion menghela nafas panjang melihat wanita yang sangat mereka sayangi ini tidak bisa diam.


"Ma, tenang lah dulu. Bukan tadi kak Eris sudah mengatakan mereka baik-baik saja. Liat mama mondar-mandir begitu pala Arion jadi pusing." Protes putra bungsu keluarga Kasa pada mamanya.


Tak!


Nyonya Milda menghentikan langkah beliau menatap sang anak dengan raut wajah yang terlihat kesal atas protes yang diberikan oleh Arion.


"Mama ini khawatir sama Aditya, mbak, Masmu. Kamu gimana sih. Memangnya kamu tidak khawatir sama mereka." Decak Milda menatap penuh selidik pada Arion.


Huh!


"Khawatir jelas lah, Ma. Masa tidak, tapi maksud Arion nggak usah pake mondar-mandir segala, mama jugakan bisa duduk cantik. Kak Eris udah bilangkan tadi mereka baik-baik aja."


Memang Arion harus selalu sabar-sabar memberitahu mamanya, ketimbang pada yang lain Arion sering sekali berdebat dengan sang mama. Arion tipikal orang yang selalu menyampaikan sesuatu secara terus terang.


"Sudah, anak sama mama kok ribut aja. Duduk Ma, papa juga capek lihat mama gak bisa diem, sebentar lagi mereka pasti pulang." Lerai pak Leka.


Nyonya Milda menurut apa kata suaminya, dengan wajah yang masih ditekuk beliau duduk tepat di tengah-tengah anak dan suami.


"Assalamualaikum." Salam orang dari luar masuk ke dalam rumah.


Benar apa kata tuan Leka, mereka akhirnya datang juga. Hans menatap heran semua orang yang duduk di ruang tamu tumben-tumbennya sore-sore begini semua orang kumpul di ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka kompak, kedua orang tua Hans bernafas lega begitu juga Arion. Melihat Hans, Aditya, Ulya kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Alhamdulillah, kalian tidak papa? mama, khawatir sekali sama kalian. Kok bisa dihadang sama preman? Gimana ceritanya." Milda melemparkan pertanyaan bertubi-tubi tanpa jeda pada anak mantunya.


"Astagfirullah, Ma. Tarik nafas dulu ya, tanyanya satu-satu. Mas Has, mbak Lia. Baru pulang."


"Maaf, mama khawatir sekali." Milda tersadar akan tingkahnya.


Hans memejamkan kedua bola matanya mendengar pertanyaan mamanya. Dia tahu semua orang pasti sudah mengetahui apa yang terjadi pada mereka tadi.


"Eris bilang sama papa?" tebak Hans.

__ADS_1


Tuan Leka mengangguk membenarkan ucapan yang Hans lontarkan pada beliau.


"Orang itu, bisa tidak sih apa-apa tidak usah langsung diadukan pada orang rumah." Keluh Hans tak habis pikir.


Ini bukan pertama kalinya Eris mengadukan sesuatu pada Tuan Leka setiap hal berbahaya menimpa dirinya, bukan tidak ingin memberitahu orang rumah, hanya saja Hans tidak ingin membuat orang rumah mencemaskan dirinya.


"Sudah ya, Ma. Yang penting sekarang Hans sama mantu juga cucu mama udah di rumah. Kami Alahmdulillah baik-baik saja." Ujar Hans untuk menenangkan mamanya.


"Tapi tetap saja mama khawatir Hans!"


"Iya, Hans tahu, Ma."


Aditya memegang lembut lengan grandma untuk menenangkan wanita paruh baya itu.


"Grandma tentang saja, ada Aditya yang jagain daddy cama mommy." Ucapnya dengan wajah dan suara imut.


"Bisa aja lo cil, tapi ngomong-ngomong ponakan gue emang hebat, yok main sama kak Arion mau?" Aditya mengangguk setuju.


"Tumben sekali mau, tapi kamu mandi dulu ya cil, biar sama kak Arion."


"Oke cetuju. Mommy, Aditya mau mandi cama kak Arion boleh habic itu mau lancung main."


"Mama, biar Lia temani, Lia mau kasih tahu apa yang terjadi. Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami." Ucapnya lembut pada sang mertua.


"Mantu mama, ayo."


Ulya menggandeng tangan nyonya Milda lembut menuju taman belakang, Hans membiarkan istrinya bersama sang Mama.


"Pa, Mas, aku sama mama ke taman belakang dulu." Pamit Ulya dengan sopan.


"Kamu benar Lia, mamamu itu butuh teman ngobrol. Kalian pergilah ke taman, papa juga ada hal penting yang harus dibicarkan bersama suamimu."


Barulah Ulya bersama nyonya Milda menuju taman, sedangkan Aditya sudah pergi menuju lantai dua bersama Arion, paman dan ponakan itu akurnya hanya kadang-kadang saja mereka berdua lebih suka memperdebatkan hal-hal kecil ketimbang harus akur seperti Azril dan Aditya.


Di ruang tamu yang luas hanya ada Tuan Leka sedang berhadapan dengan anak sulungnya, dari raut wajah beliau seperti ada hal penting yang ingin beliau katakan pada sang putra.


"Hans, ikut ke ruang keja, Papa." Pinta pak Leka berjalan lebih dulu meninggalkan Hans yang masih berdiri di ruang tamu.


"Aku rasa bukan hanya masalah ini saja yang ingin papa bahasa bersamaku." Tebak Hans.

__ADS_1


Laki-laki tampan dan berwibawa itu segera menyusul langkah papanya sudah memasuki lift lebih dulu menuju lantai tiga, dimana letak ruang kerja tuan Leka berada.


Sampainya di ruang kerja tuan Leka, Hans dapat melihat perubahan rawat wajah sang papa yang terlihat lebih serius dari sebelumnya.


"Mereka berulah lagi, Hans?"


"Hans rasa begitu, Pa. Lalu langkah apa yang harus kita ambil?"


"Empat tahun lalu papa tidak membuatnya masuk penjaran bukan karena tidak memiliki bukti yang cukup kuat. Papa sudah memaafkan orang itu bermaksud agar dia tidak berbuat seperti dulu lagi. Tapi rupanyaa dia kembali berulah."


"Papa tahu kalau anaknya terlibat atau tidak dalam masalah ini."


"Kamu mengenal mereka?"


"Mereka?"


"Benar, dia memiliki dua orang putra sudah dewasa satu putranya terlibat dalam masalah 4 tahun lalu. Kamu tenang saja papa sudah menyuruh orang untuk menyelidiki semuanya, kamu juga sudah menyuruh Eris bukan." Tuan Leka menjeda perkataan beliau.


"Ada lagi yang ingin papa katakan. Hans sebentar lagi ulang tahun Aditya tiba, resepsi pernikahan kamu juga akan segera digelar. Istrimu sudah mau wisuda, jadi acara mana dulu yang ingin kita rayakan lebih dulu."


"Mungkin ulang tahun Aditya lebih dulu, Pa. Masalah resepsi sama wisuda nanti aku diskusi lagi sama Lia."


"Baiklah, cucu papa memang harus diutamakan. Papa harap kalian juga segera memberikan papa cucu. Pesan papa tetap sayangi Aditya walaupun nanti kamu sudah memilik anak sendiri."


"Insya Allah, Aku dan Lia akan selalu menyayangi Aditya, Pa. Masalah cucu yang papa minta Hans harapa papa bersabar."


Tuan Leka menatap manik putranya. "Jangan katakan kamu belum menyentuh istrimu Hans, hebat sekali padahal sudah hampir satu bulan kalian bersama."


"Hans sudah berjanji tidak akan menganggu Lia selama skripsinya belum usai, Pa."


"Bukankah sekarang sudah selesai?" tuan Leka menatap putranya tersenyum mengejek.


Rupanya Hans baru mengingat hal ini, terlalu sibuk akhir-akhir ini membuat dia melupakan sesuatu yang membuatnya bahagia.


"Aku menyayangimu, Pa. Terima kasih sudah mengingatkanku. Aku pergi dulu." Tanpa menunggu persetujuan dari tuan Leka Hans segera keluar dari ruang kerja papanya.


Senyum manis tersunging di kedua sudut bibir Hans. Sayangnya dia melupakan janjinya pada anak dan istri jika malam ini akan tidur bersama di kamar orang tua Aditya.


'Semoga kau berutung, Hans!' Author.

__ADS_1


__ADS_2