Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 105


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


"Dek Mas...," ucap Eris masih benar-benar ragu.


(Astagfirullah hal-adzim, ada yang salah perspektif sama omongan Eris yang diatas, tapi Erisnya juga meresahkan sih, tolong jauhkan pikiran kalian dari hal-hal yang mengarah kepikiran negatif, apalagi yang belum nikah, dosa Astagfirullah, aku yang ngetik merasa bersalah, berdosa sekali aquh 😭😭 🙏🙏. Padahal nggak diketik yang macem-macem loh ya 🤣🤣😭😌🤗. Oke selamat membaca jangan mikir yang aneh-aneh! Wkwkwkwkwk)


Mau lanjut nggak nih? Kalau gak ada yang jawab kita of!


Eris menatap dalam istrinya, dia seperti ingin bicara sesuatu pada sang istri tapi dia terlihat sangat ragu untuk berbicara.


"Dek, Mas...," ucap Eris masih benar-benar ragu untuk mengatakan keinginannya pada Azril.


Azril, gadis itu terlihat lebih santai dari sebelumnya, dia seperti sudah mulai terbiasa akan keberadaan Eris di kamarnya.


"Mas mau ngomong apa? kok kelihatan ragu begitu, ngomong aja nggak papa," ujar Azril mempersilakan.


Tanganya memegang lembut kedua tangan sang suami, Azril tersenyum menatap suaminya itu, apalagi sekarang Eris sedang menatapnya teduh.


"Mas mau ngomong serius tapi kamu jangan marah," pinta Eris penuh harapan.


"Insya Allah, Azril gak marah Mas," jawaban yang Azril berikan membuat Eris jadi berani mengatakan apa yang Eris inginkan.


"Kalau misalnya Mas ajak kamu tinggal di apartemen Mas, kamu mau gak keberatan?" tanya Eris benar-benar ragu, takut Azril tidak mau.


Secara Eris tahu istrinya itu sejak lahir sudah menjadi orang kayak, tapi sepertinya Eris lupa jika Azril pernah tinggal di pesantren dengan tempat yang pasti tidak senyaman rumah sendiri.


Azril malah terkekeh mendegar pertanyaan yang di lontakan Eris, "kenapa nggak mau Mas? kemana pun Mas pergi pasti Azril akan ikut, memangnya ada apa, kalau tinggal di apartemen?" Azril balik bertanya.


Eris mengaruk kupingnya yang tidak gatal, "apartemen tempat mas tinggal tidak besar, hanya ada satu kamar, ruang tamu, dapur dan ruang makan, kamar mandi," jelas Eris memberitahu.

__ADS_1


"Kita, kan, cuman berdua Mas, buat apa juga rumah besar-besar tinggal di apartemen Mas saja tak apa, nanti kita izin sama Mama, Papa dulu," ucap Azril memberi pengertian pada sang suami.


"Tapi apa Mama sama Papa bakal ngizinin kamu tinggal di apartemen Mas?" entahlah kenapa di hati Eris masih ada keraguan.


Dirinya hanya takut tidak bisa memberikan kebahagain untuk Azril, tidak bisa menghidupi Azril, secara istrinya ini tak pernah hidup susah dia anak sultan.


"Mas dengarin Azril, sekarang ini Azril istri Mas, jadi apapun keputusan Mas. Azril pasti akan tetep ikut sama Mas Eris, Mama Papa pasti ngizin kita tinggal di apartemen."


Sebenarnya Leka sudah mempersilakan Eris tinggal saja di mansion, karena mansion keluarga Kasa itu sangat besar, tapi Eris menolak karena dia ingin hidup lebih mandiri lagi, ditambah sekarang dirinya sudah memilik seorang istri.


Amanah dan tanggung jawab yang Eris pikul sekarang lebih berat lagi, dia tak langsung membuat keputusan sendiri untuk membawa Azril tinggal di apartemen miliknya, maka dari itu Eris mendiskusikankan hal ini terlebih dahulu pada istrinya.


"Setelah kita dari tempat Kyai Halim, besoknya langsung pindah ke apartemen tidak apa-apa?" tanya Eris lagi.


"Tidak apa-apa Mas," jawab Azril terkekeh geli.


Selain tak ingin menyusahkan keluarga Kasa lagi, Eris juga masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama istrinya, untuk sekarang mungkin dia akan pacaran halal bersama istrinya terlebih dahulu.


"Ayo tidur sudah malam," ajak Eris membawa sang istri ke dalam dekapannya.


"Mas jantungnya deg-degan ya?" tanya Azril dengan polosnya, Eris tak menjawab tapi dia semakin membawa Azril ke dalam pelukannya.


"Tidur sayang, sudah malam," peringat Eris.


"Jantung Azril juga sama deg-degan kayak punya Mas Eris," ucap Azril lagi tak mempedulikan perintah suaminya.


Ya Allah, Eris baru tahu jika istrinya ini sangat mengemaskan sekali, sebenarnya Eris ingin melihat wajah Azril pasti sangat lucu. Beberapa menit berlalu Eris tidak lagi mendengar suara Azril.


"Sudah tidur rupanya kamu," ucap Eris mencium lembut kening istrinya.


Perlahan Eris membuka hijab Azril, agar istrinya bisa tidur dengan nyaman. Saat hijab Azril sudah terbuka sempurna Eris tak dapat berkata-kata lagi.


"Masya Allah, indah sekali ciptaan Engkau, Ya Rabbi," ucap Eris kala melihat istrinya sangat cantik tak memakai hijab.


"Maaf jika Mas sudah lancang membuka hijabmu, tapi terima kasih sudah menutupi keindahan dirimu Az, sehingga hanya aku suamimu yang dapat menikmatinya," ucap Eris penuh sayang pada istrinya.


Di Kamar sebelah tepatnya kamar Hans dan Ulya. Kedua orang itu yang belum lama mejadi orang tua sesungguhnya tidak bisa tidur, karena sejak tadi bayi Alvan terus saja menangis tanpa henti.

__ADS_1


"Ya Allah, anak daddy kasih demam ya. Sini sama Daddy dulu biar gantian Mommnya yang istirahat." Hans mengambil alih putranya dari gendongan Ulya.


"Aku ambil air hangat dulu Mas, siapa tahu demam Alvan turun kalau di kompres air hangat," pamit Ulya segera keluar dari kamar.


Ulya sangat mengkhawatirkan anaknya, padahal tadi setelah makan malam bayi Alvan sudah tidur nyenak saat Ulya dan Hans bersipa untuk tidur bayi Alvan tiba-tiba bangun dan langsung menangis kencang.


Jam sudah menunjukkan pukul 11: 30 orang-orang di mansion Kasa sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing.


Dari dapur Ulya langsung kembali ke kamar setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan.


"Sini Mas biar Alvan di kompers air hangat dulu," ujar Ulya.


Hans yang masih menggendong bayi Alvan membawanya mendekati Ulya, dengan hati-hati Hans meletakkan sang anak di atas kasur setelah itu Hans mengatur suhu di kamar mereka.


"Bismillah, anak soleh Mommy pasti kuat, Insya Allah, demamnya sebentar lagi turun setelah di kompres," ucap Ulya menatap mata Alvan sambil tersenyum, dia juga mulai mengompres bayi Alvan menggunakan air hangat.


"Aamiin, anak soleh daddy pasti cepet sembuh," sahut Hans kembali mendekati istri dan anaknya.


Alhamdulillah, tangis bayi Alvan reda ketika Ulya mulai mengompresnya.


"Subhanallah, anak seoleh daddy pinter sekali," ujar Hans melihat bayinya tak lagi menangis.


Sekarang bayi itu sudah dapat tertawa lagi, melihat wajah kedua orang tuanya. Begitulah Hans dan Ulya sambil bahu membahu menjaga Alvan, tanpa ada baby sister, karena baik Ulya dan Hans setuju mengurus Alvan mandiri mereka berdua saja.


Tok...Tok...Tok...


"Daddy buka pintunya, Aditya mau lihat Alvan," ucap suara dari luar pintu kamar Ulya dan Hans.


Suami istri itu saling menatap satu sama lain, lalu mereka kembali menatap bayi Alvan, tebakan Ulya dan Hans itu selalu tidak pernah meleset masalah kedua putra mereka.


"Subhanallah sayang, Abang Aditya sepertinya ikut merasa kalau adiknya sedang sakit," imbuh Ulya pada bayinya.


Sedangkan Hans berjalan menuju pintu untuk membiarkan Aditya masuk.


"Alvan oke daddy?" tanya Aditya kala pintu kamar orang tuanya sudah terbuka sempurna, agar dapat melihat wajah Hans, Aditya mendongak kepalanya menatap ke atas.


"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik son. Abang mau masuk?" Aditya mengangguk, mereka berdua sama-sama menghampiri Ulya dan Alvan.

__ADS_1


__ADS_2