Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 18


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


"Au....Bang pelan-pelan lah sakit tau."


"Astagfirullah, boca gue udah pelan banget ya ngobatin luka lu. Sama mbak lu aja dah minta obatin."


Rasanya Fahri semakin gondok karena Arion sudah ditolong terus saja nyerocos Fahri pikir bahkan Arion lebih cerewet dari pada adiknya.


"Bukan mbak saya, bang. Tadi saya ketemu di jalan, mbak saya mah ada di pesantren."


"Terus dia?"


"Saya tadi yang ditolong sama adik ini bang, waktu mau dicopet sama premen." Cepat Cia menjelaskan pada Fahri siapa dia dan Arion sebenarnya.


Mereka hanyar orang tidak kenal tapi membantu sesama. Bagaimana pun mereka tetap saudara seiman.


"Alhamdulillah, lo baik juga. Terharu gue dengar masih ada anak SMA kayak lo peduli sama orang lain."


"Jangan salah ya bang, masih banyak kok anak-anak SMA yang nggak bergajul, ketutup aja baiknya sama orang-orang yang sok keren padahal mah meresahkan masyarakat. Makasih ya bang udah mau ngobatin memar gue." Ucap Arion setelah Fahri selesai mengobati memar di wajahnya.


"Sama-sama. Lain kali kalau mau bantu orang hati-hati juga lu."


"Siap bang."


Fahri berlalu meninggalkan Arion dan Cia di tempat tunggu, dia harus mengembalikan kota P3K lebih dulu agar nanti kalau ada apa-apa tidak kelabakan.


"Kamu kenal sama orang barusan, dek?" tanya Cia penasaran.


Pasalnya Arion dan Fahri terlihat akrab sekali seperti orang yang sudah kenal dekat, keduanya tidak ada canggung sedikitpun.


"Nggak mbak, baru pertama saya kesini. Jangan-jangan Mbaknya suka ya sama abang-abang tadi. Kok tanya-tanya."


Blus!


Pipi Cia tiba-tiba saja langsung memerah digoda oleh Arion, padahal belum tentu dia suka dengan Fahri. Bingung saja Cia kenapa mukanya jadi merah saat digoda Arion. Cepat Cia menormalkan kembali ekspresinya sebelum Arion kembali menggoda dirinya.


"Bukan gitu, tadi kalian kelihatan akrab bangat kayak udah kenal dekat."


"Saya juga nggak tahu mbak, tapi abangnya baik banget beruntung sih kalau punya abang kayak dia. Orangnya kelihatan asyik sih walaupun sedikit nyebelin." Cia mengangguk membenarkan perkataan Arion.


Jarang sekali ada orang yang tiba-tiba mau mengobati luka orang yang tidak dikenal tanpa alasan apapun.


"Sudah jadi Di mobilnya?" tanya Fahri saat Dio pekerja di tempatnya sudah kembali.


"Udah bang tinggal dicek gimana hasilnya bagus atau nggak."

__ADS_1


Farhi tidak bertanya lagi dia langsung kembali menemui Arion dan Cia yang masih mengobrol santai.


"Kunci mobilnya pinjem dulu mbak biar saya cek dulu mobil mbaknya." Fahri memberitahu Cia, tanpa banyak tanya Cia langsung memberikan kunci mobilnya pada Fahri.


"Nanti tunggu disini dulu ya."


"Jangan dibawa kabur bang mobilnya."


"Hus! sembarangan kalau ngomong."


"Up." Cia segera menutup mulutnya saat dia dan Fahri mengingatkan Arion secara bersama. Fahri hanya melirik Cia sebentar.


"Cie...kompak bener...embat bang siapa tahu jodoh." Sayangnya Fahri tak menggubris perkataan Arion, dia sudah berlalu menuju mobil Cia.


"Kalau ngomong jangan sembarangan." Tegur Cia merasa tidak enak pada Fahri.


"Canda dong mbak, siapa tahu kalian bener jodoh." Cia memutar bola matanya malas mendengarkan perkataan Arion.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi menjelang siang hari di kediaman Kasa.


"Daddy ayo jalan-jalan, Aditya mau jalan-jalan cama daddy cama mbak Lia juga."


"Ayolah daddy cebentar lagi kata grandma umur Aditya mau 5 tahun, teruc abic itu Aditya mau dimacukan cekolah nanti Aditya cucah bica jalan-jalan cama dady." Jelas bocah itu berharap bapaknya akan mengabulkan permintaan dirinya.


Hans merasa tidak tega untuk tak menurut keinginan Aditya, apalagi bocah itu terus merengek pada dirinya agar hari ini mereka jalan-jalan. Hans menyetujui keinginan Aditya.


"Mbak Lia dimana?" Aditya menggeleng tanda tidak tahu, dari tadi dia memang hanya ingin main bersama daddnya.


Kebetulan karena weekand Hans tidak bekerja di rumah sakit, dia bekerja dari rumah. "Ayo daddy jalan-jalan, pilccc Aditya mohon mau ya."


Tidak tega melihat wajah Aditya yang sudah mulai memerah Hans mengangkat tubuh mungil anaknya masuk ke dalam gendongan.


"Kita jalan-jalan, sekarang siap-siap dulu oke." Hans membawa Aditya keluar dari ruang kerjanya.


"Cama mbak Lia juga tapikan?"


"Iya sama mbak Lia, gimana Aditya senang?"


"Cenang cekali daddy." Melihat Aditya tersenyum senang Hans mencium gemas pipi anak itu sesekali keduanya tertawa bersama.


Orang-orang di kediaman Kasa senang melihat kedekatan Aditya dan Hans, pasalnya Hans jarang punya waktu untuk Aditya walaupun seminggu sekali dia akan meluangkan waktunya untuk Aditya, tapi tak jarang juga keduanya bersikap sama-sama dingin.


"Lia siap-siap ikut sama dan Aditya." Kebetulan Hans berpapasan dengan Ulya yang sepertinya akan ke kamar Aditya.

__ADS_1


"Saya pak?"


"Iya mbak Lia, terus mbak Lia nggak boleh panggil daddy, pak!"


"Eh, terus harus panggil apa?" bingung Ulya merasa heran atas permintaan Aditya.


Bocah itu tak langsung menjawab di gendongan daddynya dia terlihat sedang berpikir. Namun dia terlihat tidak mendapatkan jawaban yang pas, karena ucapan Aditya diluar dungan Hans.


"Apa saja asal jangan panggil daddy dengan sebutan pak!"


"Baiklah, mbak Lia permisi dulu." Setelah kepergian Ulya, Hans dan Aditya juga segara bersiap-siapa hari ini Hans anak menguru anaknya sendiri.


Dua puluh menit berlalu mereka bertiga sudah siapa dengan pakian pilihan mereka masing-masing. Ulya menatap penampilan Hans dan Aditya tak percaya.


'Astagfirullah, ngapa pula warna baju aku bisa sama kayak pak Hans juga Aditya.' Keluh Ulya dalam benaknya.


Untunglah Hans tidak membahas baju yang mereka tanpa janji tapi bisa sama.


"Ma, Pa, Hans mau bawa Aditya jalan-jalan ya, sekalian Ulya ikut buat jagain Aditya." Milda dan Leka menatap penampilan ketiganya.


Lalu nenek, kakek Aditya itu saling menatap satu sama lain sepertinya mereka punya pemikiran yang sama. "Iya hati-hati."


"Baik Ma, Assalamualaikum." Ucap salam Hans yang dikuti Aditya juga Ulya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab suami istri itu.


Setelah pamit mereka segera menuju mobil, mungkin hari ini Hans hanya akan membawa Aditya dan Ulya bersamanya.


"Mereka kelihatan seperti keluarga kecil yang bahagia ya pa." Celetuk Milda saat ketiga orang tadi sudah keluar rumah.


"Papa setuju Ma, papa juga heran Hans udah hampir 30 tahun tadi dia kayak belum ada niatan mau nikah apa."


"Mama juga kurang tahu pa, tapi lihat Hans cuman fokus sama Aditya dan pekerjaannya." Kedua orang tua itu menghela nafas panjang bersama, seperti ada yang berat yang mereka pikirkan.


Beralih pada Hans, Aditya dan Ulya.


"Kita mau jalan-jalan kemana sayang?"


"Mall, taman bermain, zoo dan pasar malam." Jawab Aditya antusias tapi Hans malah melotot tajam.


"Aditya ingat kata dokter Wira, kalau Aditya nggak boleh kecapean."


"Aditya tau daddy, tapikan ada daddy sama mbak Lia nggak mungkin tega ngeliat Aditya kecapean."


Melihat Aditya hari ini sangat antusias sekali membuat Hans tidak ingin menghancurkan senyum indah Aditya hanya karena dia tidak menyetujui keingian bocah itu. Tanpa terasa mereka sudah sampai di mall, tidak perlu berlama-lama Hans langsung mengajak kedua orang itu masuk.

__ADS_1


__ADS_2