
Bismillahirrohmanirrohim.
Kalau ada yang typo tolong tandai ya, semua. Biar bisa langsung aku revisi.
Di dalam mansion keluarga Kasa ada sebuah kamar yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, hanya inti keluarga saja yang boleh masuk ke dalam kamar itu. Milda sendiri bahkan yang selalu membersihkan satu kamar rahasia tersebut.
Sebenarnya bukan kamar rahasia untuk menyimpan barang-barang antik atau berharga. Kamar bernuansa putih abu-abu yang terletak di lantai dua itu, merupakan bekas kamar Rama dan Jeni. Setelah kepergian keduanya semua kenangan indah tersusun rapi di dalam kamar, banyak foto Rama maupun Jeni terpajang disana, foto Aditya pun ada. Terkadang jika salah satu dari keluarga Kasa merindukan Rama dan Jeni mereka akan tidur di kamar tersebut. Hans orang yang paling sering tidur di kamar Rama, jika dia merindukan kembarannya.
Ceklek!
Pintu kamar terbuak sempurna Hans mengajak masuk Ulya dan Aditya masuk ke dalam kamar orang tua Aditya. Sudah 2 hari lalu Aditya pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama dua minggu.
"Ini kamar siapa, Mas?" tanya Ulya memastikan. Kamarnya terlihat rapi, harum semua barang juga tertata rapi.
Aditya yang juga ikut masuk netranya langsung menangkap sebuah foto, di dalam foto terdapat tiga orang. Tangan Aditya meraih foto tersebut.
'Bunda, Ayah. Cekarang Aditya sudah ada mommy dan daddy yang celalu cayang cama Aditya. Aditya akan celalu mendoakan bunda dan ayah, apa kalian cekarang berada di curga?' Umur yang hampir memasuki 5 tahun bukan penghalang untuk Aditya mengetahui fakta menyakitkan ini.
'Aditya bahagia kok disini. Bunda cama ayah tenang aja. Ada mommy, daddy, grandma, grandfa, kak Azril, kak Arion, oma dan om ganteng yang cayang cama Aditya. Mereka cemua cayang Aditya.' Ungkapnya lagi sambil mengelus foto mereka.
Ulya tak memperhatikan apa yang Aditya lakukan, dia sibuk menatap semua foto-foto yang terpajang. Ulya merasa tidak asing dengan perempuan berwajah manis di dalam foto, dia merasa pernah bertemu. Tapi dimana? Itulah yang menjadi pertanyaan.
'Astagfirullah, aku merasa pernah bertemu dengannya. Lalu anak laki-laki itu. Apakah dia, Aditya.' Ulya dan Aditya hanya sama-sama bisa mengungkapkan sesuatu di dalam hati mereka.
Hans yang telah kembali mendekati keduanya, tadi dia meninggalkan Ulya dan Aditya di kamar tersebut sebentar. Tak sengaja Hans melihat anak dan istrinya terbengong, saat Hans hendak menghampiri mereka dia melihat Aditya menatap lekat foto yang di pegangnya sangat erat.
'Mungkin kamu merindukan mereka sayang.' Ucap isi hati Hans.
"Aditya." Panggil Hans lembut, Ulya akhirnya tersadar ikut menatap kearah Aditya.
__ADS_1
"Daddy, Aditya mau ketemu ayah cama bunda boleh? Daddy cama mommy mau nemenin Aditya."
'Dia tahu, Astagfirullah! Selama ini kemana saja aku. Harusnya aku lebih peka kalau Aditya tau tenang kedua orang tuanya.' Hans merasa bersalah.
Aditya menatap Hans juga Ulya secara bergantian berharap dua orang dewasa ini mau memenuhi permintaan dirinya. Dia masih menunggu jawaban dari kedua orang tua sambungnya yang sudah seperti orang tua kandung untuk Aditya.
"Daddy, Aditya tidak minta apa-apa kok. Aditya cuman mau ketemu ayah cama bunda, walaupun hanya bica lihat tempat ictirahat terakhir mereka." Ucapnya lagi karena belum mendapatkan jawaban dari daddy dan mommynya.
Kaki Ulya melangkah lebih mendekat pada Aditya begitu juga dengan Hans. Keduanya sama-sama mensejajarkan tubuh mereka dengan tubuh Aditya.
"Kita akan kesana sayang. Daddy cama mommy bakal nemeni Aditya." Ucap Hans memeluk keluarga kecilnya.
"Mommy juga ingin bertemu dengan ayah dan bunda."
"Alhamdulillah, terima kacih daddy, mommy. Aditya cayang kalian."
"Kita juga sayang, Aditya!"
Sontak Ulya bersama Aditya menatap manik mata laki-laki yang sangat mereka sayangi itu. "Setuju!" jawab Ulya dan Aditya antusias.
Jika seperti sekarang ini Hans terlihat sedang mengurus dua anak. Padahal Ulya istrinya.
"Sekarang kita siap-siap dulu, abis dzuruh langsung ziarah." Ulya mengangguk setuju akan usulan Hans.
Puas melihat isi di dalam kamar rahasia, mereka segera bersiap adzan dzuhur juga sudah berkumandang. Ulya senang tinggal di rumah suaminya maupun di rumah mamanya karena setiap hari bisa mendengarkan adzan untuk shalat 5 waktu. Selama di rumah sakit kemarin dia jarang sekali mendengar adzan.
"Mas, luas kita minep tempat mama boleh?"
"Boleh dek, lagipula Aditya sudah janji sama omanya bakal nginep disanakan."
__ADS_1
"Iya."
Waktu bergulir setelah selesai menunaikan kewajiban mereka sebagai muslim. Ulya membatu anak juga suaminya bersiap-siap untuk berangkat ziarah, semuanya sudah beres mereka segera berangkat.
"Mau pada kemana?" tanya Milda melihat anak, mantu dan cucunya seperti orang yang mau ziarah saja.
"Mau ziarah Ma, mama mau ikut kita?"
"Masya Allah, mama sudah tadi pagi berangkat sama adik juga papa kamu. Eris ikut juga. Jadi Lia sudah tahu Hans? Lalu cucu grandma bagaimana."
Milda merasa bersalah pada Ulya maupun Aditya. Beliau tidak berniat menyimpan semua ini, seperti kata Hans mereka tidak ingin menyakit Aditya apalagi membuka luka lama yang telah berlalu.
"Lia sudah tau Ma, semua ini memang tidak harus diberitahu secarang langsung. Lia lihat cucu mama sangat hebat."
Nyonya Milda tersenyum lega mendengar jawaban yang keluar dari mulut mantunya. "Syukur, Alhamdulillah."
"Kita pamit ya, Ma. Assalamualikum."
"Wa'alaikumsalam, kalian hati-hati."
"Insya Allah, Ma." Sudah berpamitan dengan nyonya Milda ketiganya segera pergi menuju makam. Hans mengendarai mobil sendiri tanpa Eris.
Sampainya mereka di makam Hans sudah pamah letak kuburan sang adik bersama iparnya tak lupa mengucapkan salam, anak istrinya mengikuti apa yang Hans lakukan setelah mengucapkan salam mereka juga mengirim doa untuk yang sudah tiada mendahului mereka.
Aditya terlihat menatap makam ayah, bundanya. "Accalamualikum, ayah, bunda. Aditya dateng mau ketemu kalian. Maaf ya, Aditya baru bica jenguk ayah cama bunda. Cemoga Ayah, bunda celalu bahagia dicana. Allah pacti cayang cama kalian. Cekarang dicini Aditya juga bahagia walaupun tidak ada ayah, bunda. Aditya tahu pacti ayah cama bunda celalu nemeni Aditya di atas cana. Aditya datang cama daddy Hanc dan mommy Lia. Mereka cekarang yang gantin ayah, bunda buat jagain Aditya. Mereka cayang bangat cama Aditya ceperti ayah cama bunda cayang Aditya."
Ulya tak dapat berkata-kata, dia heran sediri dari mana Aditya merangkai kata-kata barusan, bocah itu bahkan mengatakan semuanya dengan sangat jelas. Benar-benar Ulya selalu dibuat kagum oleh Aditya. Kata-kata Aditya ucapkan juga penuh makna.
"Assalamualaikum, mbak jeni, Mas Rama. Aku Lia kalian juga pasti belum kenal sama aku. Tapi aku bahagia bisa kenal kalian, walaupun kita tidak sempat ketemu disini, semoga kelak kita dipertemukan di tempat yang terbaik. Aditya anak kecil yang sangat hebat mbak, Mas. Aku merasa beruntung mengenal Aditya, Allah mempertemukan aku dengan Aditya. Aku tahu semua ini tidak ada yang kebetulan. Doa terbaik untuk kalian beruda."
__ADS_1
'Karena sesungguhnya tiap-tiap yang bernyawa akan mati. Tiap-tiap yang bernyawa akan menemui ajal mereka. Allah sendiri yang menyerukan ini pada umat manusia pada makhluk seluruh alam.' Ulya sadar semua yang ada dimuka bumi ini milik Allah termasuk nyawanya sendiri.
"Assalamualaikum Rama, Jen. Kami semua akan selalu mengirim doa untuk kalian." Ucap Hans setelahnya.