Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 58


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Dari kejauhan Fahri melihat Aditya sedang tertawa bersama seorang laki-laki yang mencurigakan. Melihat hal itu Fahri menambah kecepatan laju mobilnya.


"Dek, kamu kenal orang yang sedang bersama, Aditya itu?" Fahri bertanya tapi masih tetap fokus mengemudi.


"Nggak Bang, ayo cepat Bang kita harus samperin Aditya, aku ngerasa dia orang jahat."


Fahri merasakan perasaan yang sama dengan Adiknya. Sudah akan sampai didekat Aditya Fahri dan Ulya melihat satu orang laki-laki mencurigakan lainnya, membuat Ulya dan Fahri buru-buru turun dari mobil, setelah mobil Fahri berhenti tidak jauh dari tempat Aditya berada.


"Itu temannya kayaknya Bang." Fahri mengangguk setuju.


Sampai mereka berdu mendengar teriakan dari orang kedua yang mereka lihat.


"Bodoh! Bawa anak itu kabur cepat!" teriak laki-laki lainnya bersaman dengan Ulya memanggil nama sang anak.


"Aditya!" teriak Ulya.


"Mommy." Adity senang melihat kedatangan mommynya. "Akhirnya mommy datang juga."


Fahri bersama Ulya segera menghampiri Aditya, Edo yang hendak menarik tangan anak kecil itu, kalah cepat dengan Fahri yang berhasil dicegahnya.


"Ets, mau ngapain Bang?" tanya Fahri semakin mendekat pada dua laki-laki yang ingin menculik Aditya.


Aditya sendiri sudah berada di dalam gendongan Ulya. "Kamu buat mommy takut son." Ujar Ulya khawatir.


"Sorry mom, Aditya hanya bermain cebentar kok." Aditya tertawa menatap Ulya. Lalu mereka beralih menatap Fahri.


Dua penculik itu menatap nyalang Fahri karena ingin mengacaukan rencana mereka untuk menculik Aditya.


"Lo siapa? Gak usah sok akrab, kita kesini mau jemput Aditya, daddnya yang nyuruh."


"Huft...hahahah...Dipikir gue bocah kali." Fahri tertawa keras mendengar perkataan penculik yang bernama Edo itu. Mana mungkin Fahri percaya pada mereka.


"Sorry ya Bang, tapi gue emang harus pemanasan udah lama kagak ngehajar orang."


Bugh!

__ADS_1


Tanpa aba-aba Fahri sudah menyerang kedua penculik tadi, terjadilah pertarungan sengit anatar Fahri dan dua orang penculik. Sebenarnya penculik ini merupakan orang yang sama waktu menyerang Hans bersama keluarga kecilnya saat pulang dari makam waktu itu. Akhirnya Fahri bisa membuat dua penculik berlari kabur apalagi mereka sudah babak belur oleh Fahri.


"Alhamdulillah." Ucap Ulya juga Aditya merasa lega untung tidak terjadi apa-apa pada Fahri.


"Om ganteng hebat." Aditya memberi tepuk tangan senang pada Fahri.


"Terima kasih atas pujiannya." Sahut Fahri sedikit narsis rupanya.


Mereka segera meninggalkan sekolah Aditya, Ulya yang sudah memiliki janji dengan sahabatnya itu meminta sang abang untuk mengantarnya menemui Cia terlebih dahulu, untuk hari ini Fahri akan menurut apapun permintaan Adiknya.


Ketika di dalam mobil Ulya menyampaikan salam suaminya pada sang anak meminta maaf karena hari ini tidak bisa menjemput Aditya ada masalah yang terjadi di rumah sakit. Allhamadulilah nya, Aditya begitu pengertian, dia tidak marah pada daddy.


Sampai disebuah cafe tempat Cia dan Ulya bertemu, Ulya langsung menangkap sosok Cia.


"Assalamualaikum, Cia." Sapa Ulya, Fahri dan Aditya ikut mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam, ayo duduk." Ujar Cia pada mereka bertiga.


Cia dan Ulya mengobrol membahas hal penting tentang kuliah mereka yang sebentar lagi akan wisuda. Selama Ulya dan Cia mengobrol Fahri sibuk bermain dengan Aditya, paman dan ponakan itu sudah sangat dekat, Fahri membayangkan jika adiknya punya anak pasti dia akan kembali memiliki ponakan pasti seru pikir Fahri.


"Kamu mau punya adik tidak, Aditya?" tanya Fahri berbisik pelan.


"Baik Om doakan semoga kamu cepat punya adik."


"Aaminn." Ucap Aditya membuat Ulya mengerutkan dahi heran mendengar Aditya mengucap Aamiin.


"Apanya yang Aamin?"


"Tidak ada mom, Om ganteng bilang mau mbak Cia, bukan. Maksudnya mau makan yang sama seperti milik mbak Cia." Ralat Aditya.


'Anak ini, kagak pamanya, kagak ponakannya senang banget jodoh-jodohin gue sama si sahabat Lia ini.' Fahri menggelengkan kepala pelan.


"Bohong dosa loh, cil." Ucap Fahri akhirnya.


"Aditya mau adik mom." Kali ini barulah Aditya berkata jujur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hari-hari terus berlalu tak terasa acara ulang tahan Aditya akhirnya tiba, keluarga Kasa tidak mengelar pesat untuk acara ulang tahun Aditya melainkan, Hans mengundang para anak yatim untuk makan-makan bersama, merayakan acara ulang tahun Aditya, walaupun begitu teman satu kelas Aditya ikut menghadiri acara ulang tahun bocah laki-laki yang kini sudah genap berusia 5 tahun.


"Aditya, kenapa tidak ada kue ulang tahun." Protes Erisa, dari tadi akan perempuan itu mencari kue ulang tahun milik Aditya tapi dia tidak menemukannya.


"Tidak ada kue ulang tahun, adanya banyak makanan untuk semua orang." Jawab Aditya.


"Ayo kita main bersama anak-anak itu, mereka orang yang ceru."


Aditya mengajak Erisa bermain bersama para anak-anak panti yang terlihat sangat senang sekali berada diacara ulang tahun Aditya.


Keluarga Kasa memang tidak pernah membeli kue ulang tahun untuk Aditya. Memang Aditya tidak pernah mau, sudah banyak kue dan makanan yang lainnya cukup menurut Aditya.


Semua orang menikmati acara ulang tahun Aditya yang terasa sangat bersahabat pada semua orang. Aditya tak sungkan untuk bermain bersama anak-anak dari panti.


"Masya Allah, sekali keluarga suamimu ini, Lia. Mama tak pernah menyangka keluarga Kasa yang sangat terkenal di kota ini sangat sederhana ternyata, tidak merasa ilfil bergabung bersama orang-orang dibawah kalangan mereka."


"Fahri setuju Ma, memang tak semua orang memandang harta itu berada di atas segala-galanya."


"Lah, kok Abang jadi bahasnya harta sih." Bingung Ulya. "Mama, kan, lagi bahas kelugara, Mas Hans."


"Mungkin maksud Bang Fahri, keluarga suami kamu, kan, orang berada Lia. Tapi mereka tidak sombong walaupun harta menumpuk mungkin ada segunung lebih. Keluarga Kasa tetap sederhana tidak berlebihan." Jelas Cia yang berada disebelah Ulya.


"Benar juga."


Bukan hanya Mama Rida yang sangat kagum pada keluarga Kasa, Fahri pun kagum. Dia kira dulu sebelum mengenal adik iparnya itu, Hans adalah orang yang sombong dilihat dari caranya, ternyata semua itu tidak benar. Hans adalah orang yang ramah dan santun.


Acara terus berlanjut semua keluarga Kasa berkumpul menikmati keramaian yang ada.


"Coba saja ada kak Azril pasti ceru." Celetuk Aditya.


Adik perempuan Hans satu-satunya itu memang tidak bisa ikut menghadiri acara ulang tahun Aditya, karena masih di pesantren.


"Tidak apa, kalau Aditya merindukan kak Azril nanti kita bermain kesana bagaimana." Tawar Hans.


"Boleh daddy, tapi janji tidak bohong."


"Insya Allah, son."

__ADS_1


"Yee! Aditya mau main cama temen-temen dulu cemua." Pamitnya pada para orang dewasa, kala Aditya melihat kehadiran Erisa.


'Sebentar lagi acara resepsiku dan Lia tiba, baik kita akan lihat apa yang akan terjadi diacara resepsi pernikahanku nanti. Kita lihat rencana siapa yang akan berhasil, Raka. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengacau diacaraku nanti.' Hans tersenyum penuh arti tanpa ada yang menyadarinya.


__ADS_2