Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 39


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Ibu Rida menatap satu persatu semua orang yang berada di ruang tamu. Sampai netra beliau berhenti tepat pada putrinya yang sedari tadi terus saja menundukkan kepala. Ibu Rida menatap Fahri dan Ulya secara bergantian dengan senyum yang menghias wajah beliau.


"Sekarang saya yang menjadi orang tua tunggal dari Lia setelah kepergian suami. Saya yakin suami saja juga bahagia di alam sana melihat putrinya bahagia nantinya begitu pula sebaliknya jika Ulya sedih mungkin suami saya akan ikut bersedih juga. Saya setuju akan apa yang abangnya katakan. Saya ibu dari Ulya sangat menerima niat baik, Nak Hans, tapi ya itu tadi kembali lagi semua keputusan ada pada Ulya."


"Apapun keputusan yang diberikan oleh Ulya nanti, Insya Allah saya akan menerima dengan lapang dada tante." Ucap Hans mantap.


"Jadi bagaimana Lia, apa kamu mau menerima lamaran dari, Nak Hans?" tanya ibu Rida pada putrinya.


"Grandma harap kamu memikirkan keputusanya secara sungguh-sungguh." Bukan hanya Hans saja yang merasa was-was, Milda juga sama.


Ulya mengangkat kepalanya menatap abang dan mamanya secara bergantian. Kedua orang yang paling berharga itu menatap penuh kasih pada Ulya.


"Dek, semua keputusan ada pada kamu, apapun keputusannya abang akan mendukung." Ucap Fahri pada adiknya.


Ibu Rida memegang lembut tangan putrinya kini terasa dingin. "Apapun Lia, jadi ayo beri jawaban pada, Nak Hans."


Mendapatkan dukungan yang besar dari kedua orang yang paling dia sayang membuat Ulya jadi memiliki keberanian untuk bersuara.


"Tapi Lia masih kuliah, baru mau mulai nyusun skripsi." Dari tadi di kepala Ulya hal itu lah yang paling dia pikirkan.


"Tidak masalah, saya tidak akan menganggu skripsi kamu, Lia. Kita bisa menikah setelah kamu selesai skripsi. Jika kita menikah kamu masih dalam tahap skripsi saya akan menjadi support untuk kamu." Jawab Hans mantap.


"Boleh beri waktu Lia 3 hari untuk salat istikharah terlebih dahulu, setelah 3 hari Lia janji akan memberikan jawabannya."


Sepertinya Hans sedikit keberatan tapi apalah daya, dia hanya bisa mengiakan permintaan Ulya. Mungkin dia juga harus melakukan salat


istikharah sama seperti Ulya.


Hela nafas panjang Hans dapat di dengar oleh adik perempuannya sebelum laki-laki 30 tahun itu memberikan waktu untuk Ulya.


"Baiklah saya setuju, setelah 3 hari kita bertemu lagi saya akan mendapatkan jawaban di hari itu."


"Tidak! Eh maaf, maksud saya bang Fahri nanti yang akan menyampaikan jawaban saya pada pak Hans." Ujar Ulya gugup.


"Mbak Lia! Cuda Aditya bilang berapa kali, jangan panggil daddy dengan cebutan pak Hanc. Teruc kan mbak Lia juga cebentar lagi jadi mommy Aditya."


"Bisa aja lo cil, cil." Sahut Arion yang suka membuat kesal keponakannya.

__ADS_1


Dua pihak keluarga akhirnya setuju akan keputusan yang Ulya buat. Mereka tidak dapat memaksa kehendak, semua orang yakin baik dari keluarga Hans maupun keluarga Ulya. Allah punya skenario yang baik untuk jalan cerita keduanya.


Acara lamaranpun telah selesai walaupun Hans belum mendapat jawaban dari Ulya. Mereka semua mendoakan yang terbaik untuk Ulya dan Hans.


"Sekalian makan malam disini ya ibu Milda, saya sudah masak banyak untuk kalian semua."


"Baik saya setuju ibu Rida, sekalian cici masakan calon besan."


"Mbak kayak sefrekuensi deh, bakal seruni kalau beneran jadi besar." Ucap Nani pada Milda dan Ibu Rida.


"Kamu bisa aja Ni, tapi doa yang terbaik buat ponakan kamu satu itu."


"Insya Allah, sudah pasti mbak."


Ibu Rida juga tak menyangka akan mengenal keluarga Kasa sejauh ini, keluagra yang notabeknya disengai banyak orang di kota mereka.


Berbeda dengan para perempuan, laki-laki duduk di tempat berbeda setelah acara barusan sambil menunggu magrib tiba.


"Gila, nggak nyangka kamu bakal sekeren ini Hans."


"Udah berubah bahasanya pama Dika? nggak pake lo, gue lagi." Ujar Hans tidak menyahuti perkataan pamanya sebelum tadi.


Sementara pak Leka bicara dengan Fahri.


"Fahri, saya ingin mengobrol empat mata sama kamu bisa?"


"Bisa tuan Leka." Sahut Fahri menyanggupi permintaan Leka dengan sopan.


"Papa main rahasia-rahasian, ajak kita dong, Pa. Masa bang Fahri dong."


"Hus! Udah diem disini Arion, itu urusan papa sama bang Fahri jangan kepo."


"Iya dah, mas Hans sama bang Fahri umurnya sama kenapa harus pake panggil abang segala?" tanya Arion setelah Leka dan Fahri meninggalkan mereka bertempat.


"Namanya juga calon abang ipar, lo gimana sih Arion." Bukan Hans yang menjawab tapi Eris.


Untuk Ulya dan Azril sedang menemani Aditya bermain.


"Azril umurnya berapa sih?" tanya Ulya penasaran.

__ADS_1


"Sekarang sih 22, mbak."


"Kok panggil mbak sih Azril, biasanya juga panggil Lia."


"Kan, mau jadi mbak ipar aku. Jadi sekarang harus panggil, mbak!"


Blus!


Sekarang Ulya merasa mukanya berbuah merah mendengar ucapan Azril barusan, Ulya juga merasa mukanya memanas.


"Mbak Lia mukanya kenapa? Kok merah begitu." tanya Aditya polos.


'Ya Allah, Aditya kenapa pula harus lihat.' Ulya semakin merasa malu pada Azril.


"Tidak papa Aditya, ayo lanjut main lagi." Azril yang paham tidak lagi menggoda calon mbak iparnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah hotel bintang lima yang masih berada di wilayah kota B. Seorang perempuan tengah menjalankan misinya untuk membuat malu Ulya.


"Akhirnya sebentar lagi aku akan berhasil menyingkir gadis itu, Hans akan menjadi milikku, sungguh aku tidak sabar menunggu moment itu." Siapa lagi perempuan ini kalau bukan Yulia.


Menggunakan trik liciknya Yulia berhasil membujuk Raka agar mau membantu dirinya membuat malu Ulya atau sekalian membuat gadis itu celaka.


"Tiga hari lagi kamu harus segera melakukan rencana ini Yulia, rencana yang sudah kamu susun dengan matang jangan sampai gagal sia-sia." Ucapnya pada diri sendiri.


Untungnya Yulia tidak tahu jika hari ini Hans sedang melamar Ulya secara resmi untuk menjadi istrinya, pendamping hidup Hans.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Arkh! Bodoh, lo emang bodoh percaya sama berita itu. Sekarang lo udah nggak punya kesempatan lagi Zevran buat dapetin Ulya."


Semakin hari penyesalan semakin menghantui Zevran, rasa bersalah pada Ulya juga Cia terus saja membuat dia tidak tahu harus bagaimana. Tapi semua itu didominasi dengan Zevran yang merasa cintanya pada Ulya bertepuk sebelah tangan.


"Nyeselkan kamu? Kadang yang kita lihat itu belum tentu suatu kebenaran. Ingat kak, kita hidup diakhir zaman, dimana fitnah itu tersebar dimana-mana. Akhir zaman ini hanya berbekal teknologi bisa memfitnah orang dengan bermacam-macam cara. Kita seharusnya bisa menjadi orang yang bijak menyikapi sesuatu. Apalagi kita mengenal orang itu."


"Coba aku tanya, kalau guru kita difitnah yang tidak-tidak oleh orang lain dengan bukti yang terlihat nyata. Sedangkan kita melihat keseharian beliau, kita tahu sikap beliau seperti apa. Apa kakak percaya akan fitnah itu? Yang jelas tidak bersalah."


"Gue tahu, gue emang bodoh dan gue salah." Zevran tak berani menatap Cia. Bagimanapun juga Zevran pernah menghina Cia.

__ADS_1


Gadis itu baru saja keluarga dari sebuah grandmedia lalu menuju taman tidak tahunya bertemu dengan Zevran yang terlihat frustrasi. Memang penyesalan akan selalu datang diakhir, jika penyesalan datangan lebih dulu itu namanya pengawalan bukan penyesalan.


__ADS_2