Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 53


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Terkadang ada orang yang sudah merencanakan masa depan dengan sangat baik, seakan-akan apa yang direncanakan itu akan terjadi di masa depan nanti. Tapi banyak orang yang harus rela melepaskan kehidupan yang telah direncanakan untuk memilih jalan kehidupan yang sudah menunggu di depan sana. Masa depan siapa yang tahu akan seperti apa, semua hanya lah rahasia, kita akan tahu saat waktunya telah tiba.


Kehidupan berputar seperti roda sepeda yang berjalan, yang dibawa tidak akan selamanya dibawa begitu juga sebaliknya, hidup ini ada masanya masing-masing untuk setiap manusia.


Malam hari yang cerah Hans bersama anak dan istrinya malam ini menempati kamar orang tua Aditya. Sesuai janji yang Hans ucapkan dia tidak mengingkari janjinya, seperti kata papa Leka, cucunya harus diutamakan lebih dulu.


"Daddy, Aditya mau daddy yang bacain cerita boleh." Pintanya.


"Baiklah, apapun untuk jagoan daddy." Satu tangan Hans merai buku cerita milik Aditya yang terletak di atas nakas.


"Mommy, Aditya mau di peluk." Lanjutnya lagi beralih bicara pada Aditya.


"Sini, mommy peluk. Kita dengerin daddy bacar cerita sama-sama."


Ulya memeluk Aditya dari sampaing, dia juga ikut mendengarkan sang suami yang membacakan cerita untuk Aditya. Sampai tak terasa Aditya sudah terlelap, Ulya juga ikut terlelap bersama anaknya. Tidak mendengar suara lagi Hans menghentikan kegiatan membacakan cerita.


"Sudah tidur rupanya." Ucap Hans menatap lekat wajah anak, istrinya.


"Mommnya juga ikut tertidur." Sebuah senyum terbit di bibir Hans, dia membenarkan selimut anak dan istrinya.


Cup!


Hans mencium kening Ulya dan Aditya secara bergantian. Lagi-lagi dia kembali tersenyum. "Mimpi indah untuk kesayangan, daddy. Semoga rumah tangga kita selalu rukun, dek. Walaupun aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kehidupan kita sampai seterusnya. Yang pasti Insya Allah, aku akan terus menjaga kalian."


Jam masih menujukan pukul 21:30 WIB Hans belum bisa tidur, dia masih menikmati wajah tenang istrinya juga anaknya.


Drett....Drett.


"Ganggu aja itu orang! Seperti tidak ada waktu besok pagi saja." Protes Hans tapi tetap mengangkat panggil masuk.


Handpone Hans yang terletak di atas nakas berbunyi laki-laki itu segera mengangkat panggilan yang masuk, dia tahu siapa orang meneleponnya malam-malam begini.


"Bagaimana kamu sudah mendapatkan apa yang saya minta Eris?"


"Sudah bos, benar dia pelakunya."


"Semua bukti-bukti itu jangan dikirim lewat gmail saya. Kamu datang besok ke rumah."


"Baik bos!"


Tuutt!


Lagi-lagi Hans mematikan sambung telepon mereka sepihak. Di tempat Eris berada laki-laki itu menatap layar hpnya tak percaya.


"Gila, kebiasaan banget ini orang. Awas aja lo Hans." Maki Eris tidak ada takut-takutnya, toh, bosnya itu tidak berada di sebelahnya.


"Harus sabar-sabar Eris punya bos kayak Hans! Untung temen kalau bukan udah gue dorong kedasar jurang." Maki Eris lagi. Mungkin dia masih ingin terus memaki bosnya.


"Astagfirullah, sabar Eris tidak boleh emosi. Orang sabar bakal cepet ketemu jodohnya."

__ADS_1


Orang yang dimaki-maki masih asyik menikmati pemandangan di sebelahnya. Tangan Hans dari tadi tidak bisa diam menyentuh wajah Ulya dan Aditya secara bergantian.


"Tidurlah daddy atau Aditya bangun terus nangis-nangis biar daddy dimarah cama mommy." Ucap Aditya tanpa membuka matanya.


"Kamu bangun, son?" heran Hans.


"Hemm, cudah dari tadi, daddy tidak bisa diam!" berapa saat lalu Aditya memang merasa terusik oleh tingkah daddynya.


"Daddy tidur. good night!"


"Night too daddy." Jawab Aditya masih memejamkan matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari yang cerah telah menyapa sedari subuh orang-orang di kediaman Kasa sibuk masing-masing sampai matahari telah terbit aktivitas di dalam manison masih terus berlanjut semua terlihat sibuk.


Pagi-pagi sekali Eris sudah datang di kediaman Kasa. "Astagfirullah, gila pagi-pagi udah muncul aja disini lo, kak."


"Ada urusan sama, Hans."


"Alah, bilang aja lo mau numpang makan disini." Sindir Hans sudah paham kebiasan Eris.


"Tau aja lo." Sahutnya ikut sarapan bersama keluarga Kasa.


Mereka sudah berkumpul di ruang makan 5 menit yang lalu.


"Kamu belum mau menikah, Er?" tanya Milda secara tiba-tiba.


"Minum Kak," Arion memberikan air putih pada Eris yang tersedak ulah pertanyaan mamanya.


"Pertanyaan mama buat Eris keseleg tuh." Ujar tuan Leka.


"Ya Allah, maafkan mama Er."


"Tidak apa Ma, nanti Eris pasti menikah kalau sudah waktunya."


"Udah ada jodoh, kak?" tanya Arion penasaran.


"Ya belum, sibuk terus begini gimana mau cari calon istri." Sanggah Eris sambil melirik kearah Hans tapi yang dilirik tidak peduli.


Selesai sarapan satu persatu mereka semua mulai melanjutkan kegiatan masing-masing. Tak lupa Eris memberikan berkas-berkas juga bukti penyelidikan yang diminta oleh Hans.


"Eris cari tahu siapa anak orang ini. Dia memiliki dua putra yang sudah dewasa. Salah satu dari mereka mendukung papanya."


"Siap, asal jangan lupa gaji naik."


"Bisa lo nawar, masalah gaji nanti saya pikirkan lagi, udah sono." Usir Hans.


Mereka berdua sama-sama turun menuju lantai satu. Ulya sekarang sudah menemani Aditya sekolah.


Hari ini hari pertama Aditya sudah mulai sekolah, tadinya Ulya mau menunggu Hans untuk mengantar sekolah Aditya, tapi takut telat jadi dia memutuskan untuk diantar supir saja. Toh, dia sudah berpamitan pada suaminya tadi.

__ADS_1


"Ma, sore aku, Lia sama Aditya ke rumah mama Rida. Mau menginap disana."


"Iya juga kalian belum menginap disana, pegilah pasti mertuamu merindukan anaknya."


"Terima kasih, Ma."


Setelah itu Hans pamit pada mamanya berangkat kerja. Anak, istrinya juga sudah tidak ada di rumah.


Di sekolah Aditya.


"Acik hari ini Aditya cudah mulai cekolah."


"Belajar yang rajin ya, sayang. Sekarang sudah sekolah Aditya juga harus belajar bilang huruf S bagaimana, setuju tidak?"


"Setuju mom."


"Kita mulai dari sekarang, coba bilang S."


"Sct C S."


"Lagi-lagi hampir bisa." Ulya kembali mengajari Aditya huruf S.


"C S Sct." Ucapnya lagi.


"Coba bilang begini. Aditya sudah masuk sekolah mau jadi seorang anak yang pintar, sopan bisa banyak teman." Ucap Ulya. "Coba ikutin apa yang mommy bilang barusan." Aditya mengangguk patuh mulutnya terbuka untuk belajar mengatakan huruf S.


"Aditya studah macuk sekolah mau jadi seorang anak yang pintar copan bisa banyak teman." Aditya masih sedikit kesulitan.


"Sudah hampir bisa sayang, nanti belajar lagi sama mommy oke."


"Ciap mom!"


Ulya masih sibuk mengajari Aditya menyebut huruf S dengan benar. Tapi tiba-tiba ada orang yang menarik tangan Aditya.


"Hai. Nama kamu siapa? Aku Bintang Rrasika ERrisa." Sapa anak perempuan yang telah menarik tangan Aditya.


"Aku, Aditya." Jawabnya mantap. Lalu Aditya menatap Ulya. "Mom, dia tidak bisa huruf R, Aditya tidak bisa huruf S." Adunya.


"Tidak papa nanti bejalar sama-sama."


"Mbak cantik mamanya, Aditya?"


"Benar sayang, kamu juga cantik." Ulya tersenyum ramah pada orang tua Erisa. Aditya juga tersenyum pada mamanya Erisa.


"Sekarang Erisa sama Aditya masuk dulu. Kita tunggu disini."


"Siap Bunda." Jawab Erisa kembali menarik tangan Aditya.


"Mom, Aditya belajar dulu." Teriaknya karena sudah diseret Erisa. Ulya mengacungkan kedua jempolnya pada Aditya.


"Maafkan anak saya ya, Mbak."

__ADS_1


"Tidak papa mbak namanya juga anak-anak."


__ADS_2