Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 38


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


"Bergerak cepat juga rupanya kamu, Hans."


"Wajar dong Pa, kan, baru pertama kali ngerasain gimana rasanya jatuh cinta. Lebih baik bertindak sat set daripada keduluan orang."


"Apa yang mbak Azril bilang bener sih, tapi nggak nyusahi semua orang di rumah ini juga kali. Baru mau lamaran ini loh, aku sudah seperti seterikan mondar-mandir sana-sini, gimana kalau pas udah mau nikah nanti." Dengus Arion.


Bagimana tidak kesal coba kalau dirinya yang selalu mengantar masnya dan sang mama membeli keperluan untuk acara lamaran, mau tidurpun Arion tidak merasa nyenyak oleh masnya itu. Dia selalu dipanggil pada waktu yang tidak tepat oleh Hans.


"Jangan kamu, Arion. Saya juga ikut kena cipratan capeknya." Eris ikut menyambung obrolan keluarga Kasa.


Laki-laki yang bertugas sebagai orang kepercayaan Hans itu memang sudah dekat dengan keluarga Kasa. Eris merasa keluagra Kasa sudah seperti keluarganya sendiri.


Semua orang penting di kediaman Kasa kini sedang berkumpul di ruang keluarga untuk melepas lelah termasuk Aditya, Milda dan Hans ada di ruang tersebut.


"Situ mah enak digaji, kak Eris!" ujar Azril.


"Nah, bener apa yang dibilang mbak Azril, kak Eris dapat gaji. Lah kita dapat capeknya dong, iya kan, mbak." Arion menatap pada mbak Azril yang duduk tepat di sampingnya.


Hans memperhatikan satu persatu orang yang kini sedang membicarakan dirinya di depan dia langsung. Bagaimana coba perasaan Hans, bolak-balik dia menatap tajam kedua adiknya begitu juga pada Eris. Sayangnya, kali ini mereka tidak takut karena ada tuan Leka.


"Aish! Sudah lah tidak usah diperhitungkan. Ingat Azril, Arion baru kali ini mas kalin menyusahkan kita. Kamu juga Eris sekalian ikut diacara lamaran nanti sore." Ucap nyonya Milda menghentikan perdebatan mereka.


Kali ini Hans tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia merasa gugup acara sore nanti, dalam lubuk hatinya Hans tidak ingin Ulya menolak lamarannya.


"Daddy, tumben diem aja? Biacanya juga langsung marah kalau ada yang ngatain daddy?" ocehan Aditya membuat mereka hampir tertawa.


Tadi hanya menyimak obrolan orang-orang dewasa di ruangan itu. Aditya akhirnya ikut angkat bicara juga.


"Aditya sini, jangan buat daddymu marah nanti kamu diterkam. Lagi gugup itu mau ketemu calon istri nanti sore." Celetuk Azril tau akan apa yang dirasakan oleh kakaknya.


Aditya mendekati Azril duduk dipangkuan gadis itu. Tidak ada yang tahu jika saat ini Aditya sangat merindukan Ulya mereka tidak pernah bertemu lagi setelah terakhir kali Hans menjemput Aditya di rumah Ulya.


Tak lupa, Hans sudah menyampaikan pada ibu Rida akan rencana keluarganya hari ini akan datang bersilaturahim di rumah mereka. Hans tidak mengatakan jika akan melakukan lamaran, hanya bilang semua keluarganya akan berkunjung.


Waktu bergulir, bagi Hans yang masih merasa gugup sore hari sangat cepat sekali.


Semua orang sudah rapi dengan pakian mereka masing-masing. Dari wajah keluarga Kasa kelihatan semua orang tampak bahagia.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang." Ajak tuan Leka pada mereka semua.


Dua mobil mereka gunakan untuk pergi ke rumah Ulya. Memang tuan Leka tidak mengundang siapapun untuk lamaran Hans hanya orang rumah saja. Semua ini memang permintaan dari Hans sendiri.


"Ets! Tunggu Mas, aku ikut." Leka menatap tak percaya pada adiknya itu.


"Ya Allah, Dika. Ngapain coba?"


"Mau lihat ponakan lamaran mas, moment langka loh ini." Dika menjawab dengan santainya.


"Bawa mobil sendiri?"


"Bawa kok mbak, sama Nani juga." Cengir Dika.


"Sudah ayo berangkat sekarang." Ajak Milda pada mereka semua.


40 menit berlalu tiga mobil mewah sudah terparik di depan rumah Ulya. Fahri yang melihat kedatangan Hans bersama keluarganya terlihat kaget.


"Celaka! Tamu sebanyak itu mau ngapain." Buru-buru Fahri masuk ke dalam rumah mencari mamanya.


"Mama, tamu di depan banyak bangat mau ngapain?"


Fahri tidak banyak bertanya lagi, dia melakukan apa yang mamanya suruh. Walaupun sekarang di dalam kepalanya penuh akan berbagai pertanyaan.


"Assalamualaikum." Ucap salam semua orang.


"Wa'alaikumsalam, Masya Allah ramai sekali, ayo masuk semua." Ibu Rida menyambut ramah para tamunya.


Beliau memang sudah menyiapkan untuk menyambut tamunya dengan cara terbaik dibantu oleh Ulya.


'Kok kayak orang mau lamaran aja.' Batin ibu Rida merasa bingung.


"Diminum dulu semua." Ujar ibu Rida sopan.


Mereka sudah mulai mengobrol-ngobrol. Obrol yang terasa menyenakan bagi semua orang. Di tengah obrolan mereka munculah Ulya dan Fahri bersama.


"Mbak Lia!" bahkan bocah itu langsung berlari mendekati Ulya.


"Assalamualaikum, Aditya. Apa kabar?" tanya Ulya yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Aditya yang masih pendek.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam mbak Lia, Aditya kangen banget cama mbak Lia."


"Kalau begitu sama dong, ayo kita kesana." Ajak Ulya.


Fahri dan Ulya menyapa semua orang dengan ramah, apalagi keduanya sudah mengenal nyonya Milda.


Mengingat dulu saat pertama kali Ulya datang di kediaman Kasa nyonya Milda merasa sudah menelan ludahnya sendiri. Waktu itu dia mengatakan kalau Ulya yang mengincar putranya. Nyatanya sekarang jelas putra sulungnya lah yang mengincar gadis itu.


Obrolan mereka semakin berlanjut sampai pak Leka merasa sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan yang sejujunya apa tujuan mereka.


Hmmmm.


Hening sejenak.


"Ibu Rida, Nak Fahri. Kedatangan kami kesini bukan hanya ingin bersihlaturahmi saja, tapi ada tujuan utama maksud kami datang ke rumah ini." Ucap pak Leka.


Fahri dan mamanya mulai merasa apa yang sedari tadi ada di dalam pikiran keduanya seperti benar. Apalagi melihat barang yang dibawa keluarga Hans. Untuk Ulya sepertinya tidak terpikir apa-apa karena sibuk menemani Aditya bersama Azril dari tadi.


Fahri mengode mamanya agar membiarkan dirinya yang berbicara.


"Tuan Leka, saya sebagai satu-satunya laki-laki di rumah ini menyambut niat baik kalian, katakan apa niat baik keluarga Kasa sampai relan datang ke rumah kecil kami ini." Ujar Fahri sopan.


"Tidak perlu sungkan, Nak Fahri. Sebelum kami menyampaikan niat baik ini boleh, Ulya juga ikut bergabung."


Tanpa menunggu lama Fahri mengajak adiknya kembali ke ruang tamu diikuti Azril dan Aditya. Semua orang sudah berkumpul kembali di ruang tamu, Hans meminta papanya agar dia saja yang bicara.


'Bismillah.' Guman Hans pelan. "Jadi begini tante, bang Fahri. Saya sebenar mengajak keluarga saya bertemu kalian, saya Raditya Kasa Hans berniat melamar Ulya untuk menjadi pendamping hidup saya!"


Dar!


Ulya adalah orang yang paling kaget mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Hans. Sedangkan Fahri dan ibu Rida memang sudah menebak sedari tadi moment ini pasti akan terjadi.


"Saya sebagai laki-laki yang bertanggungjawab di rumah ini. Dan mewakil papa untuk adiknya, karena papa sudah tidak bersama kami lagi. Sangat menghargai niat baik tuan muda dari keluarga Kasa, setuju tidak setujunya saya dan mama saya akan lamaran ini bagaimanapun adik saya lah, yang akan menjalani semuanya nanti." Fahri menjeda perkataannya.


Dia sebagai kakak laki-laki yang memikil seorang adik tahu betul jika moment seperti ini pasti akan terjadi.


Deg, deg.


Ingin rasanya Hans langsung mendapatkan jawaban sekarang juga.

__ADS_1


"Mama, anak gadis mama sudah besar." Ujar Fahri pada ibu Rida. Sebuah senyum tulus terbit disudut bibir beliau.


__ADS_2