Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 54.


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Setelah 2 jam Ulya menunggu Aditya sekolah, akhirnya satu persatu anak-anak keluar dari kelas Ulya menunggu Aditya bersama bundanya Erisa.


"Ya Allah." Ucap Ulya pelan melihat sang anak masih berjalan seperti tadi saat masuk ditarik oleh Erisa.


"Mommy!" teriak Aditya berlari meninggalkan Erisa sediri. Anak perempuan itu menekuk wajahnya gara-gara ditinggal oleh Aditya.


"Seru tidak belajarnya, sayang."


"Serus mommy! Aditya suka cekolah."


"Masya Allah, sekarang udah mulai bisa ngomong huruf S ya." Ulya mencium gemas pipi Aditya.


"Loh, Erisa kenapa? Ada yang nakal." Heran Ulya melihat anak itu menekuk wajahnya.


"Aditya!"


"Aditya, Erisanya diapain, sayang?" Ulya bertanya dengan nada hati-hati pada Aditya. Bocah laki-laki itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Aditya tinggalin Erisa, Bunda."


"Anak ini, maafkan Erisa. Aditya dia memang seperti ini. Maaf juga mbak." Sesal bundanya Erisa merasa tak enak.


"Tidak papa mbak." Ulya menatap Erisa dan Aditya bergantian. "Aditya temenan sama Eris, kan?"


"Iya mom."


"Jadi kalau teman harus apa?"


"Harus baik, mom."


"Anak pintar, ayo baikan sama Erisa tidak boleh marah." Aditya patuh.


Dia berdiri menghadap Erisa. "Erisa, Aditya minta maaf oke, Aditya ndak bakal tinggalin Erica lagi kok. Janji beneran deh!"


"Janji!" Erisa mengangkat wajahnya menatap Aditya.


"Kamu pintar sekali Aditya, kami pamit duluan mbak, sudah dijemput. Assalamualaikum."


"Wa'alikumsalam." Jawab keduanya, Ulya menggandeng tangan Aditya keluar dari gerbang sekolah.


"Mom, kita pulang sama ciapa?"


"Astagfirullah, mommy juga lupa. Bentar mommy telefon dulu supir ya."


Ulya segera menghubungi orang rumah, baru saja akan menelfon seorang, hp Ulya sudah lebih dulu berbunyi mendapatkan panggilan dari suaminya.


📱"Assalamualaikum, Mas."


📱"Wa'alaikumsalam, dek. Mas di depan gerbang sekolah, Mas yang jemput kalian."


📱"Alhamdulillah, aku sama Aditya bentar lagi sampai gerbang, Mas."

__ADS_1


📱"Sudah Mas tunggu, tutup telefonnya ya. Assalamualaikum."


📱"Wa'alaikumsalam."


Tuttt..


"Siapa mom?" Aditya bertanya ketika sambungan telefon mommnya sudah terputus.


"Daddy, daddy sudah jemput di depan."


"Yes! Boleh jalan-jalan mom?"


"Boleh tapi bilang daddy dulu ya."


"Siap."


Ulya mempercepat langkahnya, Aditya sudah berada di dalam gendongan mommnya. Sampai di depan gerbang sekolah Ulya melihat mobil suaminya, Hans yang juga melihat kehadiran mereka membuka kaca mobil sambil melambaikan tangannya ketiga orang itu sama-sama tersenyum.


"Assalamualaikum, Mas." Ucap Ulya juga Aditya kala sudah masuk ke dalam mobil.


"Wa'alaikumsalam, sekolahnya gimana, son. Apakah menyenangkan."


"Ceru daddy, Aditya ada banyak sekali teman."


"Syukurlah, kamu juga sudah bisa mengatakan huruf S, son."


"Pelan-pelan daddy, mommy yang ajarin Aditya. Kita jalan-jalan boleh daddy."


"Yees! Ketemu om ganteng cama oma."


"Terus memang daddymu ini tidak ganteng atau tampan apa?" Hans penasaran akan jawaban sang anak.


"Tampan, ganteng juga tapi lebih ganteng om Fahri."


Anak kecil tidak pernah berbohong bukan. Mendengar jawaban dari Aditya, Hans segera melajukan mobilnya.


"Daddy marah." Cicit Aditya, dia tak berani menatap Hans, Aditya hanya menatap wajah Ulya. Bisa Ulya lihat jika Aditya sedikit ketakutan.


Bocah itu memeluk erat tubuh mommynya, menenggelamkan kepalanya di dada sang mommy. "Aditya takut mom." Ucapnya Pelan.


"Daddy tidak marah son, apa yang kamu bilang memang benar, oma Fahri lebih ganteng dari pada daddy. Daddy akui itu kamu memang tidak salah." Ucap Hans yang tadi masih dapat mendengar perkataan Aditya bahwa anak itu takut.


"Daddy hanya sedang mengingat-ingat saja wajah om gantengmu itu."


Sampai di kediaman Kasa Ulya segera membereskan barang-barang yang akan mereka bawa tidak banyak karena mungkin mereka tidak akan lama menginap di rumah ibu Rida. Ulya juga hanya membawa pakaian ganti Aditya dan suaminya saja miliknya sudah banyak di rumah.


Setelah semuanya selesai mereka setelah dzuhur baru pergi menuju rumah ibu Rida. Tak lupa untuk berpamitan lebih dulu pada nyonya Milda. Mungkin mereka tidak akan langsung ke rumah ibu Rida, Hans akan mengajak jalan-jalan anak istrinya lebih dulu seperti janjinya pada Aditya.


"Titip salam buat mama Rida, Lia."


"Insya Allah, Ma."


"Kita berangkat Ma, tolong bilang sama papa hari ini Hans tidak balik lagi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Baiklah, nanti mama sampaikan."


"Kita pamit grandma, pasti Aditya bakal kangen sama grandma. Assalamualikum."


"Grandma juga pasti nanti kangen sama cucu grandma, Wa'alaikumsalam."


Coba saja kalau ada Arion disitu pasti Aditya sudah diledek habis-habisan hanya pergi sebentar tidak lama terus tempatnya tidak terlalu jauh pula 40 menit kurang lebih menggunakan mobil sudah sampai bilangnya bakal kangen. Untungnya anak bungsu nyonya Milda itu masih berada di sekolah belum waktunya pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Om ganteng! Aditya mau bobo sama om ganteng boleh." Pintanya pada Fahri.


Malam telah tiba Aditya sedari tadi sibuk bermain dengan Fahri dan Hans, sementara Ulya menemani mamanya walaupun mereka masih berada di ruang yang sama.


"Boleh Aditya, om senang malah kalau ada teman bobo."


"Aditya tidak tidur bersama daddy sama mommy?" Ujar Ulya merasa tidak enak pada abangnya.


Sementara tanpa sepengetahun Ulya, Hans memberikan isyarat pada sang anak untuk menolak tawaran mommy. Tadi Hans juga kaget mendengar keinginan Aditya untuk tidur bersama Fahri, setelah dia berpikir lagi memang lebih baik Aditya tidur bersama omnya jadi dia memilik waktu bersama sang istri untuk malam ini.


"No, mommy! Malam ini Aditya mau bobo bersama om ganteng besok malam Aditya mau bobo sama oma boleh." Aditya menatap ibu Rida berbinar.


"Siapa yang tidak ingin bobo bersama cucu oma satu ini. Sini peluk dulu oma." Pinta Ibu Rida.


Langsung saja Aditya memeluk sayang Aditya. Hans sangat bersyukur keluarga Ulya menerima Aditya tulus, abangnya dan mamanya memang belum tahu siapa Aditya, tapi mereka sekaan memang tidak ingin menyinggung Aditya atau dikira masa lalu Hans yang kurang baik.


"Sudah jam 21:00 ayo kita ke kamar, bukan besok Aditya sekolah."


"Ayo om ganteng, yeee, Aditya bobo sama om ganteng."


"Kita duluan Ma. Hans."


"Daddah cemua." Fahri membawa Aditya berlalu pergi menuju kamarnya yang terletak paling depan.


"Mama juga mau tidur Hans, Lia. Kalian kalau sudah mengantuk tidurlah mama duluan."


"Baik Ma." Jawab Hans, Ulya hanya mengangguk saja. Jam segini biasanya sang mama memang sudah tidur.


"Ayo ke kamar dek." Ajak Hans dengan suara lembut. Ulya merasa ada yang aneh dari suaminya dia jadi takut sendiri.


"Mas duluan saja, Lia mau ke dapur dulu." Ujarnya buru-buru meninggalkan Hans sendiri.


Melihat istrinya pergi Hans menuju ke dalam kamar memutuskan menunggu istrinya di kamr saja. Sudah 10 menit menunggu istrinya, tapi Ulya tak kunjung masuk ke dalam kamar.


"Dia kemana, kenapan lama sekali." Cemas Hans, baru saja Hans akan bangkit dari kasur pintu kamar terbuka.


Ceklek!


"Ya Allah, dek kirain kamu kemana."


"Hehehe maaf mas, Tadi Lia duduk sebentar di dapur." Ucapnya bersikap setenang mungkin.


"Sini duduk." Hans menuntun sang istri agar duduk di sebelahnya.

__ADS_1


__ADS_2