
Bismillahirrohmanirrohim.
Di dalam sebuah mobil hanya bersama Azril saja jadi Eris merasa canggung, tapi hal tersebut tidak berlaku untuk gadis yang memakai gamis syar'i berwarna army senada dengan hijabnya. Azril terlihat duduk santai di sebelah Eris, suasana di dalam mobil memang terasa hening hal itu sama sekali tidak menganggu bagi Azril sendiri.
Suasana hening di dalam mobil akhirnya pecah juga karena suara Azril.
"Kak Eris mau langsung pulang ke apartemen, atau kakak mau minep di mansion?" tanya Azirl tiba-tiba.
Pertanyaan yang membuat Eris tersentak kaget, untung saja dia bisa menguasai dirinya sebelum hal buruk menimpa dia dan Azril yang masih berada di dalam mobil. Malam semakin larut tidak membuat jalan raya di kota B sepi, jalan terlihat tetap rami lancar.
"Kurang tahu, mungkin akan tidur di apartemen." Jawab Eris sebentar menoleh pada Azril, setelahnya dia kembali fokus mengemudi.
"Enak nggak sih kak tinggal sendirian?" Azril yang kembali bertanya membuat Eris terlihat sedikit gugup, Azril tidak menyadari hal itu.
Sejujurnya malam ini untuk pertama kalinya Eris berada satu mobil bersama Azril tanpa orang lain, seperti Arion misalnya atau Hans bosnya sendiri bersama mereka.
"Orang sudah terbiasa mau bagaimana lagi, Az. Enak nggak enak tetap enak. Apalagi untuk aku yang lebih suka suasana sepi."
Akhirnya Eris bisa menjawab lancar pertanyaan Azril tanpa dilanda rasa gugup yang sejujurnya terus menyerang diri Eris.
"Kakak sudah punya pacar atau calon istri?"
Cit....!
Pertanyaan Azril kali ini membuat Eris terkejut, dia sampai mengeram mendadak, hampir saja kepala Azril terbentur di depannya. Syukur Eris cepat menghalang kening Azril menggunakan satu tanganya.
"Astagfirullah," ucap keduanya bersama.
"Kamu nggak papa, Az? Maaf kakak tidak sengaja barusan ada kucing lewat tiba-tiba." Eris memang tidak berbohong benar memang ada kucing lewat sembarang, Azril juga melihat kucing yang melintas di depan mobil.
"Alhamdulillah, Azril tidak apa-apa kak. Kak Eris sendiri bagaimana?" Azril memastikan keadaan Eris.
__ADS_1
"Allhamadulilah, kakak juga baik-baik saja." Ujar Eris.
Keduanya menghela nafas lega mereka baik-baik saja. Eris berharap Azril sudah melupakan pertanyaannya tadi, tentang pacar atau calon istri. Sayangnya harapan Eris tidak sesuai yang dia ingikan, ketika mobil kembali melaju Azril menuntut jawaban atas pertanyaan tadi pada Eris.
"Jadi apakah kak Eris sudah punya pacar atau selain itu."
"Bukan dalam agama kita dilarang pacaran, bahkan ikhtilath pun dilarang. Harus Gadhul Bashar bukan." Jawab Eris tanpa melihat Azril.
Begitu juga sebaliknya, Azril mendengarkan jawaban dari Eris tanpa menatap orangnya, dia tetap menatap lurus ke depan. Azril sama sekali tidak menyangka jika jawaban yang akan diberikan Eris membuat Azril kagum.
"Masya Allah, kok kak Eris tahu semua kata-kata itu sih. Kakak tahu dari mana?"
"Dari buku yang kakak baca." Jawab Eris jujur.
Azril tidak tahu jika saat ini jantung Eris terus berpacu dengan cepat karena berada didekat dirinya, ditambah hanya mereka berdua lagi. Entah kenapa sampai sekarang Azril tetap bersikap santai pada dirinya. Padahal Eris sudah tidak baik-baik saja.
'Astagfirullah! Apa cuman gue yang selama ini menaruh hati padanya? gue mungkin terlalu berlebihan dan percaya diri menyukai Azril yang mungkin hanya menganggap gue sebagai kakak sama seperti Hans.'
Ada kecewa tentunya di hati Eris, tapi dia bisa apa? hati manusia tidak dapat dipaksakan, lagipula apa yang ada dibenak Eris hanya asumsinya sendiri, dia bukankah tidak tahu apa isi hati Azirl yang sebenarnya.
"Kak coba lihat di depan ada yang butuh pertolongan sepertinya. Ayo kita tolong kak." Eris tak langsung menjawab, dia sedang mengamati dari dalam mobil siapa yang sebenarnya terancam.
Sampai mobil yang dikemudikan Eris mendekat pada tiga orang yang mereka lihat tadi, satu orang sudah terlihat sedikit terluka.
"Kamu tunggu disini Az, ingat jika terjadi sesuatu jangan keluar, kamu pahamkan maksud kakak." Azril mengangguk saja.
Eris segera turun dari mobil menghampiri ketiga orang itu. "Woi!" teriak Eris membuat ketiganya menoleh.
"Ngapain lo pada?" Eris berusara sangar.
Sepertinya Eris mengenal satu laki-laki di depannya ini yang sedang jadi mangsa penjahat, dia, Zevran orang yang pernah berada di kediaman Kasa.
__ADS_1
"Jangan ikut campur lah bang." Ucap salah satu penjahat.
Eris menatap tajam mereka membuat Azril yang berada di dalam mobil merasa heran kenapa Eris tak segera menolong orang tadi, tapi dia tetap diam di dalam mobil sesuai pesan yang dikatakan Eris tadi.
"Kalian pergi atau gue telefon polisi! ingat sekali lagi kalian ketahuan buat jahat kayak begini, gue akan langsung lapor polisi! jadi pilih pergi sekarang atau ribut sama gue abis itu berakhir di penjara." Ancam Eris.
"Kita pergi bang! jangan lapok kami ke polisi."
"Itu tergantung kalau kalian ketahuan jegat orang di jalan lagi. Gue benar-benar akan melapor kalian ke polisi, jadi pikirkan baik-baik apa yang gue bilang dan pergi sekarang!" usir Eris.
Membuat kedua penjahat itu pergi, Zevran hanya menatap heran dua penjahat yang mencegahnya barusan, mereka bahkan sampai berkelahi lebih dulu, sedangkan oleh laki-laki di depanyaa ini hanya digertak saja mereka sudah kabur.
Memang Eris sering menangani hal-hal semacam itu, dia kenal banyak anak jalan atau gangster. Mereka segan pada Eris, tapi jika ada yang berbuat jahat Eris tak segan untuk melapor polisi, ditambah lagi mereka sekarang berada didekat kediaman Kasa sudah dipastikan polisi akan menangkap kedua orang tadi jika Eris benar-benar melaporkan mereka.
"Lo nggak papa?" Eris memastikan keadaan Zevran.
"Nggak papa bang, terima kasih banyak udah nolong gue." Eris mengangguk.
"Sama-sama! bisa nyetir sendiri, atau mau diantar ke klink terdekat dulu." Tawar Eris benar-benar tidak sedang bercanda.
"Sekali lagi makasih banyak bang, gue masih bisa nyetir sendiri. Sekali lagi terima kasih pokoknya bang." Ujar Zevran benar-benar tulus.
"Lain kali hati-hati, gue duluan. Assalamualaikum." Ucap Eris membuat Zevran tercengang.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Zevran pelan masih menatap kepergian Eris, entah apa yang Zevran pikiran di kepalanya saat ini.
Di dalam mobil Azril menatap heran Eris yang bisa menguris dua orang tadi tanpa harus adu kekuatan terlebih dahulu, dia merasa sangat heran melihat apa yang baru saja terjadi.
"Kok bisa kak? Mereka pergi gitu aja, kak Eris kenal mereka? Masya Allah, kak Eris hebat bisa ngusir mereka tanpa harus berkelahi." Ucap Azril bertubi-tubi saat Eris sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Tidak semua hal harus diselesaikan dengan kekerasan bukan." Jawab Eris membuat Azril mengangguk setuju.
__ADS_1
"Kakak cuman ancem mereka lapor polisi terus mereka kabur."
Eris kembali mejaukan mobilnya mereka sebentar lagi tiba di kediaman Kasa. Eris tak sadar jika Azril sedang takjub padanya, walaupun Azril tidak menatap Eris. Zevran juga telah pergi meninggalkan tempat kejadian barusan dia hampir dihajar habis-habisan oleh dua orang.