
Bismillahirrohmanirrohim.
"Sebelum itu tolong nama yang saya sebut maju ke depan dan berdiri di sebelah saya!"
Ulya tidak tau kenapa dadanya terasa berdebar tak karuan kala mendengar Hans akan menyebutkan nama entah siapa, Ulya bingung apa yang terjadi pada dirinya entah kenapa ketakutan menghampirinya, dia hanya tak ingin namanya disebut.
"Astagfirullah, aku kenapa sih." Ulya bertanya pada diri sendiri dengan suara pelan, Cia yang berada di samping Ulya pun tidak dapat mendengar perkataan Ulya.
"Eris tolong berdiri di sebelah saya lebih dulu." Ucap Hans saat menemukan keberadaan orang kepercayaan itu.
Semua orang menoleh pada Eris, tentu mereka tidak mengenal siapa Eris. Wajahnya sangat asing mereka semua yakin pasti Eris bukan salah satu mahasiswa dari kampus Nasional.
"Mahasiswi bernama Ria Wati dari fakultas komunikasi tolong maju kedepan." Hans kembali berusara.
'Mampus lo, sebentar lagi permainan akan dimulai.' Batin Eris tidak tahu kenapa dia merasa senang akan melihat Ria tertindas.
Saat Hans menyebutkan nama Ria, para manusia di dalam aula itu mulai berbisik-bisik akan apa hubungan Ria dengan keluarga Kasa. Ria yang mendegar namanya disebut sangat senang sekali.
"Satu orang lagi, mahasiswi atas nama Ulya Hanfia tolong untuk maju kedepan juga."
Deg!
"Astagfirullah." Apa yang Ulya takutkan ternyata terjadi juga.
"Aku yakin sih Lia, tuan Hans bakal klasifikasi soal foto itu, mungkin juga dia sudah tahu siapa pelaku yang telah memfitnah kamu. Pasti Ria orangnya fix udah nggak salah lagi."
"Hus, nggak boleh soudzon Cia." Bisik Ulya pelan.
"Iya, iya. Udah sono maju dulu semoga kabar baik yang didapat ya Lia."
Tiga orang yang baru saja disebut namanya oleh Hans kini sudah berdiri di samping laki-laki itu, Ulya berdiri tepat di sebelah kanan Hans, di sebelah kiri direktur muda itu ada Eris yang di sebelahnya berdiri Ria mantap tak suka pada Ulya.
'Ngapa si Ulya pake dipanggil segala, kan gue nggak jadi perhatian banyak orang lagi.' Ria merasa jengkel dalam benaknya, dia kali ini harus bersikap anggung di depan semua orang apalagi di hadapan Hans.
'Wah, kesempatan emas buat jatuhin Ulya di depan semua orang nilai plusnya ditambah ada donatur terbesar di kampus ini, di lihat-lihat bakal seru juga nih.'
Ria sibuk dengan berbagai macam rencana licik yang kini tengah bersarang di dalam otaknya, hanya karena iri dia rela melakukan segala cara untuk bisa menjatuhkan Ulya yang notabeknya tidak pernah mencari masalah sekalipun pada Ria.
"Oke langsung saja, saya akan mengklarifikasi tentang video dan foto mahasiswi bernama Ulya Hanifa yang tersebar di kampus ini."
__ADS_1
'Ya Allah, pak Hans mau ngapain? Jangan sampai masalahnya tambah runyam.' Kali ini Ulya memberikan diri menatap Hans penuh tanya, berbagai pertanyaan sudah berserang di kepala Ulya saat ini.
Hans mentapa balik Ulya, baru kali ini laki-laki itu dapat melihat jelas wajah Ulya, tanpa Hans sadari dia sudah terpesona akan wajah imut yang Ulya punya.
'Mirip Aditya nggak sih.' Batin Hans tersenyum pada Ulya.
"Pak Hans, mau ngapain?" tanya Ulya sepelan mungkin.
"Kamu tenang saja Ulya, masalah ini akan segera selesai secepatnya saya janji."
Interaksi dari Ulya dan Hans di atas podium tak luput dari penglihatan semua orang di aula itu, kini semua orang jadi penasaran apa hubungan Hans dengan vidoe dan foto-foto Ulya yang tersebar, mereka juga lebih penasaran apa hubungan Ulya dengan Hans.
"Oke jadi di dalam..."
Dreett!
"Maaf." Sesal Ulya karena handponnya terus saja berbunyi sejak dia berdiri di depan.
"Siapa?"
"Grandma."
Sudah mendapat izin dari Hans buru-buru Ulya mengakat telepon dari nyonya Milda.
📱"Assalamualaikum grandma."
📱"Wa'alaikumsalam Ulya, kamu kenapa belum pulang? Katanya tadi sudah mau jalan pulang, Aditya dari tadi nangis terus mau sama kamu."
📱"Ya Allah, maaf grandma ini di kampus ada acara mendadak jadi Ulya belum bisa langsung pulang, maaf sekali grandma."
Hans dapat melihat jelas wajah bersalah dari Ulya. Laki-laki itu juga akhirnya menyalahkan diri sendiri dalam benaknya.
📱"Mbak Lia, Aditya mau cama mbak Lia, mbak Lia kok belum pulang bohong ya, mbak Lia mau tinggalin Aditya kan."
Suara Aditya yang terdengar di handpone Milda benar-benar membuat Ulya merasa sangat bersalah.
📱"Nggak Aditya, mbak Lia minta maaf, mbak Lia pulang sekarang ya."
📱"Jangan bohong lagi mbak Lia."
__ADS_1
Eh!
"Sini handponenya biar saya yang bicara pada Aditya." Hans mengulurkan tanganya pada Ulya meminta handpone gadis itu.
Ulya tidak ada pilihan lain selain memberikan handponenya pada Hans, lagi-lagi kedekatan mereka berdua menjadi tanda tanya besar untuk semua orang di dalam aula tersebut. Wajah Ria sudah telihat semakin kusut melihat kedekatan Ulya dan Hans.
📱 "Aditya, sayang ini daddy, sebentar lagi mbak Lia pulang jangan marah oke. Tadi daddy yang larang mbak Lia pulang, jadi Aditya jangan nangsi lagi mbak Lia pulang sekarang son."
📱"Bener ya daddy."
📱"Iya son, daddy tutup dulu, Assalamualaikum."
📱"Wa'alaikumsalam."
Sambung telepon akhirnya terputus Hans mengembalikan handpone Ulya setelahnya, lalu dia menyuruh Eris untuk mengantar pulang Ulya lebih dulu, karena dia harus menyelesaikan masalah di kampus Ulya hari ini juga.
Dari tempat Zevran duduk, dia sangat tidak suka melihat intraski Ulya dan Hans yang terlihat dekat, padahal Zevran tau sekali selama ini Ulya selalu menjaga jarak dengan yang namanya laki-laki. Memang Ulya dan Hans berdiri di tidak terlalu dekat, mungkin Zevran yang masih menyukai Ulya merasa cemburu melihat kedekatan mereka berdua.
Hmmmm...
"Baik, maaf tadi tertunda sebentar, langsung saja saya akan mengklasifikasi foto dan video Ulyan Hanfia bersama seorang laki-laki dan seorang anak kecil, apa kalian tidak dapat melihat dengan jelas laki-laki di dalam foto itu adalah saya."
Semua orang sungguh kaget akan pengakuan Hans termasuk Ria yang sudah menyebarkan berita hoax itu.
"Jadi anda laki-laki yang sudah membuat Ulya hamil di luar nikah!" tuding Zevran meras sakit hati dan tidak terima.
Sebisa mungkin Hans tetap bersikap tenang walaupun sejujurnya dia tidak terima Ulya direndahkan seperti itu, Hans tidak tahu sejak kapan ada perasaan di dalam dirinya ingin selalu melindungi Ulya.
'Mungkin sekarang waktunya orang tahu siapa Aditya sebenarnya.' Batin Hans.
"Jaga bicara anda Tuan Barsa, perempuan yang anda hina itu adalah gadis baik-baik dan luar bisa dan perempuan yang kalian hian sudah beberapa hari ini, dia calon istri saya!" suara Hans yang tegas dan aura pemimpin yang terpancar dari Hans membuat semua orang bungkam.
Zevran terlihat kaget karena Hans tahu akan keluarganya, semakin tak menyangka Zevran jika Ulya adalah calon istri Hans.
"Lalu, jika benar Ulya calon istri tuan Hans, siapa anak laki-laki itu?" tanya Ria tak bisa menahan rasa perasaannya.
"Saya beritahu anda lebih dulu Ria, jika ingin menjatuhkan lawan anda kenali dulu siapa yang anda hadapi."
"Maksudnya?" Ria pura-pura tidak paham arah pembicara Hans padahal saat ini tubuhnya sudah gemetar hebat.
__ADS_1