
Bismillahirrohmanirrohim.
Ulya telah bersiap berangkat ke kampus tempatnya menimba ilmu berapa bulan lalu untuk menghadiri acara wisudanya.
Sang suami juga telah siap berada disisi Ulya. Perut Ulya yang semakin membesar bukan halangan untuk dirinya menghadiri acara wisudanya sendiri. Allhamadulilah, hari ini suaminya itu sudah tidak muntah-muntah lagi seperti dua hari kemarin.
"Kita berangkat sekarang?" ujar Hans pada semua orang.
"Sudah ayo!" putus Leka yang juga ikut menghadiri acara wisuda Ulya.
Mereka membawa dua mobil, satu mobil dikemudi Eris yang satu lagi Hans sendiri.
Tak ketinggalan Aditya yang sudah siap untuk menemani mommynya wisuda, dari semalam Aditya paling antusias sekali menghadiri acara wisuda Ulya, subuh tadi dia bangun lebih pagi dari semua orang.
"Mommy, Aditya di kampus nanti bisa ketemu Mbak Cia tidak?"
Sudah lama sekali Aditya tidak bertemu Cia, terakhir kali mereka bertemu waktu liburan kala itu, disaat Hans dan Ulya sedang ada kesalah pahaman diantara mereka.
"Insya Allah, Aditya." Jawab Ulya sambil tanganya mengelus perut sendiri.
Mobil yang dikendarai Hans dan Eris telah melaju menuju kampus Ulya. Untuk Ibu Rida dan Fahri sendiri mereka akan menyusul dari rumah langsung menuju kampus Ulya.
Tak pernah Ulya bayangkan ketika dia wisuda sudah menikah, bahkan telah hamil tinggal menunggu kelahiran anaknya.
"Mommy sekarang sudah jarang bertemu dengan Mbak Cia, ya."
Ulya menoleh ke kursi belakang, disana Aditya duduk bersama Arion.
"Memang ada apa, boy?" Ulya malah balik bertanya.
"Iya Mbak, sekarang Arion jarang lihat Mbak Lia sama Mbak Cia ketemu." Sambung Arion.
Ulya menghembuskan napas pelan. "Kita nggak akan bisa selalu bareng sama sahabat kita Ar, sedekat apapun itu. Pasti ada waktunya kita berpisah, walaupun Allhamadulilah, komunikasi kita tetap lancara." Ulya kembali menghela napas.
"Sekarang ini kita sudah punya kehidupan masing-masing, Mbak sudah sama keluarga. Mungkin Mbak Cia juga sibuk dengan urusannya."
Hans yang fokus mengemudikan mobil menoleh sejenak pada Ulya, lalu kembali fokus pada jalan.
"Kenapa harus ada perpisahan." Celetuk Hans.
Sontak Aditya dan Arion ikut mengangguk penasaran.
"Karena pada dasarnya begitulah kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Ada waktunya kita semua akan berpisah."
"Entah itu perpisahan terakhir kita bertemu di dunia ini atau berpisah karena waktu kita bersama-sama telah habis masanya. Seperti teman sekolah misalnya, kita bertemu dari kelas 1-6 SD lalu berpisah setelah lulus sekolah, melanjutkan sekolah ke tempat pilihan masing-masing."
__ADS_1
"Lalu kita akan bertemu orang baru lagi, begitu seterusnya hidup ini. Pertemuan dan perpisahan itu pasti akan selalu terjadi." Jelas Ulya mengakhiri perkataannya.
Aditya yang masih kecil termenung mencerna kalimat perkalimat yang dijelaskan oleh Ulya. Kelihatannya otak Aditya sedang berpikir keras.
"Seperti ini bukan Mom, kita datang ke dunia ini lalu pasti akan kembali pada Sang pemilik Semesta. Kita semua berharap akan kembali dipertemukan di akhirat kelak. Dikumpulkan bersama-sama di surga-Nya nanti." Imbuh Aditya.
Terkejut! itulah yang terjadi pada tiga orang di dalam mobil bersama Aditya ini. Anak umur 5 tahun sudah bisa mengatakan hal semacam ini, Hans bahkan yakin adik bungsunya belum tentu terpikir apa yang Aditya ucapkan.
"Masya Allah, Lo emang ponakan gue cil, pinternya kagak ketulungan." Ucap Arion memecah keheningan di dalam mobil.
Sontak Hans dan Ulya mengangguk membenarkan ucapan Arion.
"Kak Arion! jangan panggil Aditya, cil...cil... Apa itu!" tegasnya.
"Memang Aditya, kancil apa? dipanggil cil...cil...Panggil nama Aditya!"
"Astagfirullah, cil itu artinya anak kecil. Lah, letak salahnya dimana coba." Arion mengacak rambut Aditya karena gemes.
"Ya salah! pokoknya Aditya tidak mau dipanggil cil lagi, titik! nggak pake koma segala, ngertikan Kak Arion! ngertilah masa nggak kak Arion, kan, sudah besar."
Asik mengobrol di dalam mobil sampai tak terasa ternyata mereka sudah sampai di tempat tujuan, mobil Hans sudah masuk di parkir kampus bahkan.
"Ayo turun, diskusinya dilanjut nanti lagi." Ucap Hans.
Empat orang itu melangkah mencari tempat duduk, Ulya segera mencari sahabatnya itu sampai suara Cia terdengar di telinganya.
"Lia." Panggil Cia menghampiri sang sahabat yang datang bersama keluarga besar.
"Assalamualaikum semua." Ucap Cia.
"Wa'alaikumsalam, Cia." Jawab mereka.
Tak lupa Cia menyapa mereka satu persatu.
"Saya ajak Lia untuk duduk di tempat para wisuda pak Hans." Izin Cia.
"Aditya ikut boleh, daddy." Hans mengangguk.
10 menit kemudian acara wisuda tahun angkatan Ulya dan Cia resmi dimulai.
Satu persatu nama mahasiswa-mahasiswi dipanggil, sampai akhirnya nama Ulya dan Cia pun ikut dipanggil. Mereka berdua mendapat nilai terbiak dari fakultas mereka.
Acara pagi itu berlangsung berjam-jam sampai siang hari tiba acara baru selesai, setelah melaksanakan shalat dzuhur mereka para wisudawan-wisudawati lanjut melakukan sesi foto bersama keluarga. Ulya bisa bertemu dengan keluarga sahabatnya.
"Masya Allah, Lia sudah berapa bulan sekarang."
__ADS_1
"Lima bulan jalan 6 bulan bun." Jawab Ulya pada bundanya Cia.
Sampai netra Ulya menangkap sosok laki-laki asing dikeluarga Ulya.
"Cia sini." Ujar Ulya hanya ada mereka berdua.
"Ada apa, Lia?" heran Cia karena sang sahabat tidak seperti tadi.
Ada yang aneh pada Ulya begitu fikir Cia. "Bilang sama aku siapa laki-laki itu." Tunjuk Ulya pada seorang laki-laki yang sedang bersama ayah Cia.
Deg!
Cia diam mematung mengikuti arah tujuk Ulya, mulutnya tertutup rapat entah apa sebabnya. Rasanya ada sesak sendiri di dada Cia atas pertanyaan Ulya. Cia pun tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
"Hei, Cia jawab dong kok bengong." Ucap Ulya lembut.
Mata Cia kini telah berkaca-kaca. "Kok malah mau nangis." Kan, sekarang bumil satu ini bingung ada apa dengan sang sahabat.
"Astagfirullah, maafin Lia, Cia. Lia sudah buat Cia nangis." Sesalnya, namun Cia menggeleng.
"Kamu...Nggak...Salah...Lia...." Ucapnya terbata.
Langsung saja Cia memeluk tubuh Ulya, dia menangis dalam pelukan sang sahabat. Hal tersebut semakin membuat Ulya heran.
Untung semua orang sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tapi Ulya tidak sadar jika Fahri dan Arion sedang memperhatikan mereka berdua.
"Maafin Cia, Lia... Selama ini Cia nggak bilang apa-apa sama kamu, Cia....memang bukan sahabat yang baik. Dia....Dia...Dia...suami Cia."
Deg...
Entah apa sebabnya Fahri yang masih bisa mendengar oborlan adik dan sahabat adiknya itu, merasa dadanya sesak sendiri mendengar ucapan Cia sudah memiliki suami, bukan selama ini dia menganggap Cia sebagai adiknya? sekarang, why! kenapa dirinya sendiri. Merasa sesak mendengar Cia telah menikah.
Untuk menangkan diri Fahri memutuskan pergi dari sana. "Bang Fahri, mau kemana!" panggil Arion.
Cia yang mendengar ucapan Arion melihat kepergian Arion dan Fahri, karena mereka berdiri tepat di belakang Ulya.
"Kamu berutang penjelasan padaku, Cia." Ucap Ulya akhirnya.
"Insya Allah, Cia akan menjelaskan semuanya, maaf sekali lagi Lia."
"Nanti saja kalau sudah dijelaskan boleh."
"Boleh."
(Subhanallah, Allhamadulilah, Allahhu Akbar)
__ADS_1