
Bismillahirrohmanirrohim.
Bola mata Aditya menatap langit-langit kamar, sambil dia mendengarkan Ulya yang sedang membaca buku, sesekali Aditya menatap Ulya tetap fokus membaca buku.
"Becok mbak Lia ke kampuc lagi?" Dia bertanya tanpa menoleh pada Ulya, Aditya tetap menatap langit-langit kamarnya.
Tangan Ulya memindahkan buku yang dia pegang ke samping kiri lalu Ulya menatap Aditya yang tidak ada niatan untuk memejamkan matanya. Tangan Ulya terangkat untuk mengelus pucuk kepala Aditya.
"Betul, besok mbak Lia harus ke kampus lagi."
"Boleh Aditya ikut mbak? Aditya macih ingin main di kampuc mbak Lia, teruc mau cama-cama mbak Lia."
"Boleh Aditya, asal dapat izin dari grandma juga daddy. Sekarang Aditya tidur ya, katanya besok mau ikut mbak Lia, biar nanti nggak kesiangan."
Tubuh Aditya yang tadinya terbaring kini sudah duduk di atas kasur sambil menatap Ulya dengan tatapan yang Ulya sendiri sulit mengartikan tatapan Aditya itu.
"Mbak Lia tidur dicini ya, temani Aditya plicc. Aditya pengen bangat ngeracain tidur cama ceorang mommy, mau ya mbak Lia."
Tidak seperti biasanya kali ini Aditya berbicara dengan wajah yang tertunduk, dia memaikan kedua jarinya masih menunggu jawaban dari Ulya, Aditya berharap Ulya akan mengabulkan keinginannya. Sudah lama sekali Aditya menantikan moment tidur sambil di peluk mama dan mengelus-elus pucuk kepalanya sayang.
Setiap melihat Aditya rasanya Ulya tidak tega sendiri, entah kenapa dia tidak pernah bisa menolak keinginan Aditya, kepala gadis itu akhirnya mengangguk.
"Ayo tidur sekarang, mbak Lia temani."
Sontak Aditya langsung mengangkat kepalanya menatap Ulya dengan kedua bola mata yang berbinar.
"Benar mbak?"
"Iya sayang, ayo tidur." Aditya merasa sangat senang sekali, cepat dia menggeser tubuhnya agar mbak Lia mendapatkan tempat di sebelahnya.
'Bismillah, semoga nggak dimarah sama pak Hans.' Ulya berkata dalam benaknya, hanya itulah hal yang dia takuti.
"Sekarang tidur ya." Aditya mengangguk sambil tersenyum bahagia, kedua bola matanya mulai dia pejamkan.
Dengan posisi memeluk tubuh Aditya dari samping sambil mengelus pelan pucuk kepala Aditya, Ulya mulai bershalawat untuk mengiring tidur mereka.
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah 'Alaika.
Asyroqol Badru 'Alaina
Fakhtafat Minhul Buduruu
Mitsla Husnik Maa Ro'aina
Khottu Ya Wajha Sururii
Ya Nabi Salam 'Alaika
Ya Rasul Salam 'Alaika
Ya Habib Salam 'Alaika
Sholawatullah 'Alaika
Anta Syamsun Anta Badrun
__ADS_1
Anta Nuurun Fauqo Nuuri
Anta Iksiru Wagholi…
Anta Misbahus Shuduri
Ya Nabi Salam 'Alaika
Ya Rasul Salam 'Alaika
Ya Habib Salam 'Alaika
Sholawatullah 'Alaika.
Ya Habibi Ya Muhammad
Ya 'Arusal Khofiqoini
Ya Muayyad Ya Mumajaad
Ya Imamal Qiblataini.
Ya Nabi Salam 'Alaika
Ya Rasul Salam 'Alaika
Ya Habib Salam 'Alaika
Sholawatullah 'Alaika.
Ceklek!
Pintu kamar Aditya dibuka oleh seorang, seperti biasa Hans memang akan melihat putranya sebelum tidur. Bola mata Hans membulat sempurna melihat Aditya dan Ulya tidur berpelukan, perlahan kaki Hans mulai semakin masuk ke dalam kamar putranya. Tadinya Hans berniat membangunkan Ulya. Melihat wajah teduh kedua orang yang sedang tidur saling berpelukan ini membuat Hans mengurukan niatnya, dia mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Ulya dan Aditya.
"Kamu mungkin butuh sosok seorang mommy sayang, daddy minta maaf belum bisa memberimu seorang mommy. Tapi daddy janji Insya Allah tidak akan lama lagi, walaupun daddy tidak tahu siapa. Belum ada perempuan yang cocok jadi mommymu."
'Tapi bukankah gadis ini cocok Hans, kamu hanya perlu membuka hati.' Bisik hati Hans.
"Astagfirullah." Cepat Hans mengucap istighafar.
Puas menatap wajah lucu putranya saat tidur tanpa Hans sadari kini bola matanya beralih menatap wajah gadis yang terlihat begitu teduh saat sedang tidur.
"Cantik, aku baru bisa melihat jelas seperti apa wajahnya." Tangan Hans mulai terangkat hendak menyentuh pipi Ulya.
"Astagfirullah, apa yang kamu lakukan Hans!" tak ingin sesuatu yang tidak ingin terjadi dilakukan buru-buru Hans pergi dari kamar Aditya untung dirinya cepat tersadar.
"Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah. Ampuni hamba, Ya Rabb. Hampir saja aku menyentuhnya." Hans menyesali perbuatannya sendiri.
Dar!
"Inalilahiwainalilahirojiu'n, Astagfirullah! Arion ngagetin aja." Kesal Hans.
"Abisnya Mas ngelamaun, ada apa, Mas? Kayak orang abis maling aja." Celetuk Arion santai.
Otak Hans langsung berputar diwaktu saat dia hendak memegang wajah Ulya. 'Astagfrullah.' Hans menggelengkan kepala pelan.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa."
Brak!
Hans menutup pintu kamarnya sedikit keras membuat Arion yang masih di depan kamar kakaknya bersungut.
"Dasar aneh!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kampus Nasional tempat Ulya menimba ilmu digemparkan oleh foto Ulya bersama Hans dan Aditya yang terlihat bersama-sama dengan wajah bahagia, setelah melihat foto itu kini tuding-tudingan tak baik mulai dilontarkan untuk Ulya.
Disamping itu juga tersebar kabar miring tentang Ulya sedang dekat dengan kating yang sebentar lagi akan wisuda.
"Gila Ulya berarti bener kata Ria waktu itu dia udah punya anak dengan seorang laki-laki tak dikenal."
"Gue dengar-denger juga Ulya dekat sama kak Zevran."
"Gatel amat jadi cewek semua orang diembat, ternyata akhlak sama pakaian buat nutupin aibnya aja."
Deg!
Sakit sekali hati Cia mendengar semua tuduhan yang dilayangkan untuk sahabatnya itu, entah apa yang akan terjadi kalau Ulya sudah di kampus sekarang.
"Kalian jangan sembarangan kalau ngomong, saya kenal seperti apa Ulya, dia nggak mungkin kayak gitu. Saya yakin ada orang yang mau fitnah Ulya!" tegas Cia.
"Alah, udah sih Cia jangan terus belain orang munafik bukti udah ada, apalagi coba yang kurang?" sambung Ria yang entah datang dari mana.
Cia menelisik Ria, satu kesimpulan yang dia dapat saat melihat kedatangan Ria. 'Ya Allah, bukannya Cia mau soudzon sama orang lain, tapi udah jelas Ria pelakunya, sayang Cia belum punya bukti.' Batin Cia, sedetik kemudian dia segera beristighfar karena merasa dirinya salah. 'Astagfirullah.'
"Kita lihat saja Ria semua akan terbukti jika Ulya tidak salah. Ingat apa kata pepatah, sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti baunya akan tercium juga."
Merasa sudah sangat kesal Cia segera meninggalkan semua orang dia harus menemui Ulya, gadis itu mungkin sudah berada di kampus. Melihat kepergian Cia, Ria tersenyum penuh kemenangan tanpa ada yang melihatnya.
'Selangkah lagi nama lo akan jatuh sejatuh-jatuhnya Ulya, hahaha, kita lihat saja ini baru awal mula.' Ria tersenyum jahat dalam benaknya meras sudah menang.
Gadis itu tidak jera selalu saja ingin menjatuhkan Ulya. Kemarin waktu dia jalan-jalan ke mall tidak sengaja melihat Ulya sedang bersama Aditya dan Hans. Ada peluang untuk menjatuhkan Ulya tentu saja Ria tidak menyia-nyiakan hal itu. Dia mengambil beberapa gambar mereka.
"Lia udah denger berita yang tersebar di kampus?"
"Assalamualikum, Cia. Belum memang berita apa?"
"Wa'alaikumsalam, lebih baik kamu jangan tahu Lia. Sekarang kamu sama Aditya pulang ya."
"Loh, ada apa memangnya Ci?"
"Itu auh, ah, pilss pulang aja ya Lia a-"
"Ulya." Perkataan Cia terpaksa terpotong karena ada seorang yang memanggil nama Ulya.
"Iya, ada apa, kak Zevran?" tanya Ulya saat orang yang memanggilnya barusan sudah ada di hadapan mereka.
"Ulya-"
"Mbak Lia, momy-" Sengaja Aditya memotong perkataan Zevran.
'Pasti cudah ada yang tidak berec di kampuc mbak Lia.' Batin Aditya yang peka akan keadaan di kampus Ulya saat ini, dia juga menatap Cia untuk memastikan.
'Aditya harus bantu mbak Lia.' Tekadnya benar-benar sudah bulat.
__ADS_1