
Bismillahirrohmanirrohim
بسم الله الر حمن الر حيم
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.
"Jadi begini Pak Leka," ucap Kyai Halim.
Suasana di ruang tamu tampak hening kala Kyai Halim mulai bicara pada arah yang serius. Eris merasa dirinya sampai tidak bernapas menunggu perkataan apa selanjutnya yang akan keluar dari mulut Kyai Halim, jantungnya terasa ingin meledak.
Durr... (Canda-canda🤣, anggep aja jantung Eris, ya nggak😌)
"Betul Pak Leka menyuruh Eris menjemput Azril seorang diri tanpa ada mahram yang mendampinginya?"
Gleg...!
Sekarang Eris kembali tersedak ludahnya sendiri, tapi sebisa mungkin dia menahan mulutnya agar tidak terbatuk yang ada nanti dia akan menjadi pusat perhatian semua orang.
'Sabar Er, sabar, nggak papa tenggorokan Lo gatel asal sekarang tidak jadi pusat perhatian semua orang disini,' ucapnya dalam benak.
"Betul Pak Kyai, tadi pagi kami sudah berdiskusi di rumah. Saya kira Azril dan Eris sudah sampai rupanya mereka masih disini, sebenarnya apa yang telah terjadi? apakah Azril membuat kesalahan."
Tuan Leka menatap lekat putrinya lalu beralih menatap Eris seakan meminta penjelasan kenapa mereka masih berada di pesanteran AN-Nur belum pulang.
"Nak Eris apakah ingin menjelaskan semuanya?"
Dengan ragu Eris mengangguk setuju. "Saya akan menjelaskan sendiri Kyai." Kyai Halim mengangguk setuju.
"Jadi begini Pa, tadi Eris memang sudah mau pulang bersama Azril, diantar Gus Zidan dan Ning Mei. Tapi ketika belum sampai gerbang Gus Zidan menyuruh kami menuju mobil lebih dulu, karena Gus Zidan masih ada urusan." Eris menghembuskan napas pelan.
Anehnya tidak ada satu pun orang yang memotong cerita Eris mereka masih ingin mendengarkan kelanjutan ceritanya.
Sejenak Eris menatap Tuan Leka dan Kyai Halim secara bergantian kedua laki-laki paruh baya itu mengangguk pada Eris tanda menyuruh dia melanjutkan ceritanya.
"Terus pas sudah sampai didekat mobil ada santri yang memanggil Ning Mei, jadi Ning Mei juga ikut meninggalkan saya dan Azril. Azril masih berdiri di belakang mobil sedangkan saya baru selesai memasukan barang ke dalam mobil, saat menyuruh Azril masuk ke dalam mobil tiba-tiba ada seorang yang mendorong saya keras."
"Saya tidak tahu siapa orangnya, karena tidak ada siapa-siapa disana, tapi saya yakin ada yang mendorong saya karena bisa merasakan ada sesuatu menyentuh punggung saya."
"Sampai tak sengaja memeluk Azril! maafkan Eris, Pa. Eris sungguh-sungguh tidak sengaja melakukan hal tersebut," ucapnya menyudahi cerita kejadian tadi.
__ADS_1
Siapa sangka air mata telah membasahi pipi Eris, dia sungguh-sungguh sangat menyesal telah menyentuh Azril, selama ini Eris selalu berusaha menahan diri agar tidak menyentuh Azril sebelum gadis itu halal untuknya, dia tidak tahu mereka akan berjadoh atau tidak.
Eris sangat paham sekali jika Azril selalu menjaga diri dari yang bukan mahramnya. Walaupun Eris termasuk seorang laki-laki yang dekat dengan keluarga Kasa.
Orang-orang di ruang tamu itu tertegun sejenak melihat Eris mengakhiri ceritanya dengan air mata yang mengalir.
"Jadi keputusan apa yang akan diambil Pak Kyai? Insya Allah, akan saya pertimbangkan."
"Sebelum itu saya minta maaf Pak Leka, saya harus menikahkan mereka sesuai peraturan pesantren karena ada warga yang juga menyaksikan perbuatan mereka. Juga Azril masih bagian dari pesantren ini."
Kepala Eris terangkat menatap tak percaya pada Kyai Halim, bukan dia sudah menjelaskan semuanya pada mereka jika apa yang terjadi pada dirinya dan Azril hanya sebuah kesalah pahaman.
Memang Eris mencintai Azril, dia juga sudah ada niatan untuk melamar Azril. Tapi jika menikahi Azril dengan cara seperti ini. Apakah semua itu baik untuk mereka?
"Maaf saya menyela Kyai, bukan saya sudah menjelaskan kejadian yang sebenarnya," ucap Eris memberanikan diri untuk membuka suara.
Namun yang ada dia malah mendapatkan tatapan tajam dari Leka dan Dika secara bersamaan dengan itu Eris kembali menunduk sambil menguyur rambutnya ke belakang, dia merasa frustrasi sekarang.
'Apa kak Eris sudah memiliki calon istri atau pacar, maka dari itu dia tidak ingin menikah denganku,' gadis itu bertanya-tanya dalam benaknya sendiri mendengar Eris protes.
"Jadi apakah Pak Leka setuju untuk menikahkan mereka? jika setuju pernikahannya akan dilaksanakan secara langsung disini, sah secara agama dulu tidak apa, saya yang bertanggung jawab untuk semuanya."
Sama halnya dengan Eris, jantung Azril juga sudah berdetak tidak karuan lagi mendengar ucapan Kyai Halim, dia penasaran keputusan apa yang akan diambil oleh sang Ayah untuk putri satu-satunya ini.
"Saya setuju nikahkan lah mereka sekarang!" tegas Leka tanpa pikir panjang.
Daur!
Apa ini? benarkan Tuan Leka akan menyerahkan putrinya pada seorang yang hanya hidup sebatang kara, mereka sudah banyak membantu dirinya, sungguh benarkah Tuan Leka menyerahkan Azril pada dirinya.
"Alhamdulillah." Kyai Halim kembali tersenyum saat menatap Azril dan Eris secara bergantian.
"Jadi Nak Eris, Mbak Azril apa kalian berdua setuju untuk menikah sekarang."
Azril diam saja tak menjawab sedangkan Eris menatap dalam Tuan Leka meminta jawaban, sampai dia melihat Leka mengangguk samar.
"Bismillah, Insya Allah, saya siapa Kyai!" jawabnya tegas sekali.
"Bagaimana dengan Mbak Azril?"
Bukannya menjawab Azril semakin menunduk dalam membuat Eris takut jika gadis itu akan menolak dirinya. Mei dan Umi Aliza tersenyum samar melihat tingkah Azril.
__ADS_1
"Jika perempuan diam tandanya apa Yayi?" tanya Umi Aliza membuka suara.
"Tandanya dia setuju Umi," jawab Gus Zidan spontan. "Hehehe, maaf keceplosan," cengirnya.
"Mei kamu temani Mbak Azril bersiap-siap, lalu Zidan suruh para santri untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan, akadnya akan dilaksankan setelah magrib," suruh Kyai Halim pada anak-anak beliau.
"Baik Abi," keduanya menjawab kompak.
"Ayo Mbak ikut Mei." Azril mengangguk samar.
Sementara Zidan bersama Paman Dika segera menuju masjid untuk menyiapkan semuanya dibantu para santri, Umi Aliza juga ikut membantu.
Di ruang tamu kini hanya ada Kyai Halim, Leka dan Eris.
Bingung sendiri Eris harus melakukan apa, rasanya ingin bertanya pada Leka dan Kyai Halim pun dia sudah tidak memiliki keberanian.
"Sudah ada maharnya Er?" tanya Tuan Leka.
"Eris mengangkat kepalanya, Insya Allah sudah ada Pa, tapi kalau boleh Azril ingin maharnya apa, Insya Allah, Eris siapkan."
"Kamu yakin bisa? akadnya saja sehabis magrib akan dimulai."
"Insya Allah, Eris sanggup Pa."
"Umi, tolong tanyakan Nak Azril ingin mahar apa calon suaminya bertanya," ucap Kyai Halim pada Sang istri kebetulan umi Aliza lewat didekat Kyai Halim.
"Baik Abah."
Rasanya diperut Eris ada beribu kupu-kupu yang terbang disana mendengar perkataan Kyai Halim, calon suami Azril? menurut Eris itu sangatlah aneh sekali.
'Calon suami Azril ya? benarkah begitu rasanya gue cuman mimpi, kalau ada Aditya disini kata apa yang bakal dikasih itu bocah sama gue, terus nanti kalau pulang dari sini gimana tanggapan orang-orang di mansion kalau gue sama Azril sudah menikah, mikirinnya aja kepala gue udah mau pecah,' keluh Eris.
Antar senang dan merasa tidak menentu Eris akan menikah dengan Azril, tolong apakah dia saat ini sedang bermimpi akan menikahi Azril?
"Jangan mencemaskan hal yang belum terjadi Er."
"Baik Pa, terima kasih atas semuanya. Tapi bagaimana dengan Mama, Hans, Arion, Aditya Mbak Lia dan Mama Rida, apa tanggapan mereka nanti pada Eris, Pa."
Leka menepuk pelan pundak Eris. Tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah. Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.)
__ADS_1