Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 30


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


"Hans, sini kamu!" Leka menatap dingin putra sulungnya.


Rasanya ingin sekali Leka memarahi anak sulungnya di depan semua orang yang tinggal di kediaman Kasa. Milda pun sama seperti sang suami, beliau menatap tajam anak sulungnya yang tak lain adalah Hans. Tidak tahu apa yang terjadi sampai kedua grandfa dan grandma Aditya itu terlihat sangat marah pada daddynya.


Kaki Hans melangkah mendekati orang tuanya padahal dia baru saja pulang dari rumah sakit ingin segera istirahat karena merasa sangat lelah.


"Ada-"


"Ikut ke ruang kerja papa!" suruh Leka tak memberi ruang sedikitpun untuk Hans bertayan.


Memang dasarnya Hans juga tidak pernah membantah papanya atau sekedar bersikap tidak baik pada kedua orang tuanya, Hans tidak pernah melakukan hal tersebut. Sebagai contoh yang baik untuk adik-adiknya, Hans selalu menghormati orang tuanya, laki-laki berumur 30 tahuh itu juga tahu jika menghormati kedua orang tua adalah perintah mutlak langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."


(QS. Al-Isra' 17: Ayat 23)


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :


"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 24)


Dan Hans hafal akan kedua ayat itu. Selama ini, dia selalu mengingat dirinya untuk berbakti pada kedua orang tua apapun yang terjadi, karena ada perintah Allah di dalamnya.


Di ruang kerja Leka Kasa.


Baik Milda dan suaminya masih enggan untuk bicara pada anak sulung mereka. Entah kecewa apa ada hal lain yang membuat orang tua itu bersikap dingin pada anak sendiri.


Brak!


"Apa ini, Hans! Jelaskan pada papa."


Bola mata Hans membulat sempurna saat melihat video di dalam laptop papanya. Hans terlihat sedikit kaget.


"Papa dapet dari mana video ini?"

__ADS_1


"Menurut kamu? Papa butuh penjelasan bukan pertanyaan, Hans!"


Sebelum menjawab pertanyaan sang papa, Hans menatap mama dan papanya secara bergantian. Jika pak Leka terlihat dingin tapi masih bersikap tenang berbeda jauh dengan Milda yang terlihat marah pada anaknya, wajah beliau terlihat sudah semakin memerah.


"Maaf!"


"Mama kecewa sama kamu, Hans!"


"Jangan ada yang keluar dari ruangan ini!" cegah pak Leka ketika beliau melihat sang istri akan meninggalkan ruang kerjanya.


Hening.


Tapi bagi Hans suasana di dalam ruang kerja papanya bukan terasa hening, namun sangat mencengkam, mengerikan bahkan Hans berasa seperti sedang uji nyali di tempat yang amat menyeramkan.


"Maaf Ma, Pa. Hans mohon ma dengerin penjelasan Hans dulu."


"Tinggal jelasin Hans! Dari tadi juga papa kamu udah nyuruh kamu jelasin bukan minta maaf!" akhirnya Milda sedari tadi diam bersuara juga, lama-lama beliau gemas sendiri pada anak sulungnya itu.


"Jadi begini ma, pa." Lalu Hans menjelaskan semua tentang video dirinya yang seenaknya saja mengklaim Ulya sebagai calon istri Hans di depan semua SDM Universitas Nasional.


"Sekarang mama tanya, kamu menyukai Ulya?"


"Hans belum tahu ma."


"Astagfirullah hal-adzim! Hans, kamu buat masalah saja tau nggak. Mama tahu niat kamu baik, tapi dengan kamu mengatakan pada semua orang jika Ulya calon istrimu masalah akan semakin rumit Hans. Mama setuju saja jika kamu menikah dengan Ulya, yang jadi masalahnya emang Ulya mau sama kamu? Modelan kayak begini."


Sebenarnya Milda ingin sekali memaki Hans habis-habisan tapi apalah daya beliau tidak bisa melakukan itu pada anak tirinya. Salah, anak sulungnya.


"Gimana kalau kabar ini sudah di dengar lebih dulu oleh orang tua Ulya? Kamu mikir sampai situ nggak sih Hans. Ya Allah, apa salahku." Keluh Milda sambil memijit keningnya yang terasa pusing.


Hans tak mampu berkata-kata ucapan mamanya memang benar, Hans sendiri masih bingung atas apa yang terjadi. Sampai dia dikagetkan oleh keputusan yang dibuat secara sepihak oleh papanya.


"Papa tidak mau tahu Hans, kamu harus tanggung jawab. Kalau bisa lamar Ulya secepatnya!"


"Tapi pa, Hans-"


"Keputusan papa, kamu sudah tepat Hans, lamar Ulya, itu akan lebih baik. Lagipula selama ini mama perhatikan dia gadis yang baik, untuk dijadikan istri dia juga gadis yang memiliki sifat keibuan."

__ADS_1


"Ma, bukan itu masalahnya. Hans siap tanggung jawab atas masalah ini, bahkan jika disuruh menikah dengan Ulya hari ini juga Hans siap ma. Tapi apakah mama dan papa percaya Ulya mau menerima semua ini. Seperti yang mama katakan tadi."


"Itu urusan kamu, Hans! Ayo pa kita pergi."


Milda menarik pelan tangan suaminya, sebelum pergi Leka menepuk pundak Hans sambil memberikan sedikit wewejang pada putra sulungnya.


"Laki-laki sejati berani bertanggungjawab Hans dan menyelesaikan masalah secara gentel. Papa rasa Ulya belum tahu akan masalah ini, sudah dua hari dia sibuk bersama Aditya dan dia juga 2 hari tidak masuk kuliah pun tidak pergi kemana-mana. Papa dan keluarga kita menunggu kabar baik dari kamu, Hans."


Barulah Leka dan Milda benar-benar meninggalakan Hans di ruang kerja Leka seorang diri, pria 30 tahun itu terlihat frustrasi sepertinya.


"Harus berjuang sendiri ya." Gumun Hans, tanpa sadar dia mengingat awal pertemuan dirinya dan Ulya.


Masih di kediam Kasa tepatnya di kamar Ulya, gadi itu baru saja mendapatkan pesan video dari sahabatnya.


📩 "Buka videonya Lia, kamu berutang penjelasan pada sahabat cantikmu ini."


Dahi Ulya mengerut mendapatkan notifikasi pesan dari sahabatnya. Biasanya Cia tidak akan sehebo sekarang ini jika ada sesuatu yang penting.


Dua hari setelah pengakuan Hans di kampus Nasional jika Ulya merupakan calon istrinya. Cia baru ingat akan menanyakan hal itu secara langsung pada Ulya setelah 2 hari berlalu karena dia sibuk dengan kegiatannya sampai melupakan hal penting yang satu ini.


"Mbak Ulya...."


Ulya yang hendak membuka video barusan dikirim oleh Cia terpaksa mengurungkan niatnya itu karena ada suara orang memanggilnya dari pintu kamar.


"Iya, sebentar!"


Ulya meletakkan kembali handponenya setelah itu dia segera membuka pintu kamar, ternyata sosok nyonya besar keluarga Kasa bersama Aditya yang menemui dirinya.


"Grandma, Aditya." Sapa Ulya ramah.


Sementara Milda dan cucunya itu saling menatap sambil tersenyum sedikit aneh saat melihat Ulya berdiri di depan mereka. Senyum manis yang tersimpan banyak makna.


"Wah, bakal seru nih kayaknya." Batin nyonya Milda entah apa yang seru.


'Alhamdullah cebentar lagi bakal punya mommy!' Aditya meras sangat senang dalam benaknya.


"Ulya, Aditya mau ngajak jalan-jalan disekitar kompleks."

__ADS_1


"Baik grandma." Ulya menjawab dengan patuh saja tanpa merasa ada yang aneh, toh itu memang pekerjaannya juga.


__ADS_2