
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Azril masih berdiri di depan pintu kamar miliknya dan sang suami.
"Mbak!"
"Astagfirullah hal-adzim!" pekik Azril. Dia menatap tajam orang yang baru saja membaut dirinya terlonajak kaget.
Arion, laki-laki SMA itu menatap datar Mbaknya sendiri, perasan dia tadi bicara dengan suara pelan tidak berniat membuat kaget Azril juga.
"Apa sih Mbak, teraik-teriak. Nggak jelas banget ini rumah bukan hutan."
Azril melotot tak percaya mendengar ucapan Arion, apa tadi dia bilang teriak-teriak nggak jelas? yang benar saja justru dia kaget karena suara Arion.
"Api sih Mbik, tiriik-tiriik. Nggik jilis bingit," ketus Azril mengulang perkataan Arion.
"Kamu yang apa! datang-datang buat orang kaget aja."
"Lah! salah Mbak sendiri bengong di depan pintu, baru aja nikah udah sensitif banget jadi orang. Tiati Mbak nanti suami nggak betah sama perempuan cerewat," gumam Arion yang masih dapat di dengar jelas olen Azril.
Bahkan dengan santainya Arion berlalu dari hadapan Azril, "ngomong apa kamu barusan, Ar ngomongin Mbak kan!"
Arion memutar kepalanya melihat Azril dari tempatnya berdiri sekarang. " Ngomong apa? kepedean banget sih Mbak, orang Arion nggak ngomong apa-apa kok. Udah ya Arion mau masuk kamar."
Kembali Arion melanjutkan langkahnya tanpa merasa bersalah telah membuat Azril kesal, melihat kepergian Arion, Azril berdecak sebal.
Cek!
"Gini amat punya adek, jarang-jarang ketemu sekalinya ketemu ngajak gelut emang dasar ada tidak tahu terima kasih," oceh Azril.
Untung saja dia tidak melupakan niatnya untuk apa keluar dari kamar. Dari pada stres mikirin tingkah Arion, Azril memutuskan berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Memang tadi tujuan utamanya keluar kamar ingin ke dapur membuat minum untuk sang suami yang entah sedang apa sekarang di dalam kamar sendiri.
"Mbak Azril mau ngapain?" tanya seorang pekerja pada Azril yang mulai mengambil sendok dan gelas.
"Mau baut minum bi, untuk Mas Eris," sahut Azril tersenyum ramah pada pekerja yang ada di dapur.
"Biar saya buatkan, Mbak," tawa pekerja itu.
Azril menggeleng pelan, "tidak usah bi, Azril tolong siapkan makanan saja mau Azril bawa ke kamar," ujarnya.
Pekerja wanita paruh baya itu melakukan apa yang disuruh oleh Azril. 5 menit berlalu Azril telah selesai membuat minum untuk sang suami, makan yang dia minta juga sudah siapa.
"Terima kasih banyak bi sudah membantu Azril," ucapnya ramah.
Sambil membawa nampan yang berisi makan dan minum juga beberapa jenis buah Azril berlalu dari dapur kembali menuju kamarnya.
"Azril ke atas sudah bi," pamitnya sopan. Wanita paruh baya itu mengangguk tak lupa tersenyum pada Azril.
Memang Azril sejak duduk dipanggil Mbak oleh orang-orang yang kerja atau tinggal di kediaman Kasa.
Sampai di depan pintu kamarnya Azril tak langsung masuk, dia terdiam sejenak. Masih menimbang-nimbang apakah dia harus masuk atau tidak.
"Masuk aja Az, sekarang harus terbiasa dengan keadaan Mas Eris di kamar," ucapnya pada dirinya sendiri.
Ketika Azril hendak memegang knpo pintu, pintu kamar di depanya itu pintu lebih dulu terbuka muncul Eris yang berdiri tepat di hadapannya, dia pelaku yang baru saja membuka pintu tersebut.
"Ya Allah, sayang kamu kemana aja? Mas tungguin dari tadi di kamar gak datang-datang," jelas Azril dapat melihat tatapan khawatir Eris.
Azril tersenyum pada suaminya, "kita masuk dulu Mas, Azril sudah buatkan minum sama bawakan makanan untuk Mas Eris." Azril tak langsung menjawab pertanyaan suaminya tadi.
Jadilah keduanya kembali masuk ke dalam kamar, Eris kembali menutup pintu kamar setelah Azril masuk, dia mendekati Azril yang sedang meletakan nampan di atas nakas.
"Ini Azril udah bawain makanan buat Mas, tadi Azril abis dari dapur, buat minum juga," ucapnya memberi tahu.
'Masya Allah, enaknya punya istri ternyata ada yang perhatiin.' Eris bahagia bicara dalam benak sendiri.
"Kita makan sama-sama," pinta Eris.
"Tapi Mas, dari tadi bukan Mas Eris belum makan," sebenarnya Azril berusaha menolak ajakan Eris untuk makan bersama, dia takut suaminya kurang kalau makanan yang dia bawa harus dibagi dua.
__ADS_1
"Kamu juga belum makan istri aku, ini banyak kok kita makan sama-sama." Eris menarik tangan Azril agar mereka duduk di sopa.
"Biar Mas suapin," ucap Eris setelah mereka sama-sama duduk di sopa.
"Bismillah," ucap keduanya bersama membuat mereka saling menatap satu sama lain lalu tertawa bersama.
"Ayo makan Mas, kok malah bengong," imbuh Azril dengan tatapan matanya yang tak beralih dari menatap wajah tampan sang suami.
"Eh, iya kita makan," sahut Eris sedikit gelagepan.
Kok jadi begini kenapa dirinya yang salah tingkah ketika Azril menatapnya dalam, tidak tahu saja Eris jika seperti itu juga yang Azril rasakan setiap dia menatap dalam manik mata sang istri.
Keduanya sama-sama berusaha mengatur degup jantung mereka. Eris juga sudah mulai menyuapi dirinya dan Azril makan.
Mereka makan dalam keheningan sambil saling menatap satu sama lain, sampai tidak sadar makanan yang mereka makan telah habis tak tersisa.
"Udah abis, kamu masih laper?" tanya Eris pada Azril, membuat istrinya itu menggeleng pelan.
"Kalau Mas Eris gimana? masih laper pasti, orang makannya dimakan berdua sama Azril juga, sini biar Azril ambilin lagi ke dapur," tawar Azril merasa tak enak pada Eris.
Namun, yang Azril dapatkan sebuah gelengan pelan dari Eris. "Mas juga sudah makannya, tidak boleh kenyang-kenyang bukan kalau makan?" Azril mengangguk lagi sebagai jawaban untuk sang suami.
"Alhamdulillah," ucap keduanya bersama.
Setelah jeda limat menit Azril memberikan minum pada suaminya, "Astagfirullah," kata Azril pelan, namun Eris masih bisa mendengarnya.
"Kenapa sayang?" Eris bertanya dengan nada khawatir.
Yang ditanya malah tersenyum menatap manik mata suaminya, "gak apa-apa Mas, tadi lupa makan buah dulu, padahal bi Iran sudah siapkan buah juga."
Tangan Eris terangkat untuk mengelus pucuk kepala istrinya yang masih tertutup hijab, satu tangannya lagi meletakkan bekas makan mereka di atas meja yang ada di sebelah Eris.
"Sudah tidak apa, kita bisa makan buahnya sekarang, Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengajarkan makan buah sebelum makan-makanan pokok. Tapi kalau lupa dimakan sekarang saja dari pada dibuangkan sayang tidak bagus," tutur Eris penuh pengertian pada sang istri.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad, sollualih," jawab Azril kala mendengar suaminya menyebut nama panutan seluruh umat islam di masa jahiliah sampai sekarang.
"Masya Allah, Mas Eris tau banyak hal rupanya," setiap saat Azril selalu dibuat kagum oleh sang suami.
"Alhamdulillah, semua yang Mas tahu atas izin dari Allah."
__ADS_1