
Bismillahirrohmanirrohim.
Eris yang masih asyik mengumpat bosnya di dalam mobil tiba-tiba terlonjak kaget mendengar suara petasan.
Gubrak!
"Astagfirullah, Au...Aduh...Sakit sekali kepala gue." Keluh Eris sambil mengelus kepalanya.
"Lagian udah malam begini siapa yang menyalakan petasan." Eris menatap tempat sekitar dari dalam mobil.
Netranya menyusuri tempat istirahatnya saat ini, ternyata dia berada di jalan yang sepi. Kedua bola mata Eris membolak sempurna saat melihat ada yang sedang balap liar di tempat tak jauh darinya.
"Orang-orang ini, balap liar masih dibawah jam 21:00. Benar-benar meresahkan lihat saja, sebentar lagi pasti polisi datang."
Lalu Eris memutuskan segera meninggalkan tempat tersebut, tak lupa dia menelepon polisi untuk mengadukan para pembalap liar yang sudah mengganggu jalan. Setelah itu baru Eris kembali mencari keberadaan bosnya.
"Mungkin saja tuan muda sudah pulang, lebih baik sekarang gue ke mansion saja. Siapa tahu orangnya ada disana." Putus Eris.
...****************...
Mobil Hans baru saja memasuki pekarangan mansion keluarga Kasa. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang istri dan meminta maaf atas kesalahannya pada Ulya.
"Semoga kamu belum tidur, Dek." Ujar Hans.
Buru-buru dia turun dari mobil, saat mobil yang Hans gunakan tadi sudah masuk ke dalam garasi.
"Bismillah, Assalamualaikum." Ucap Hans sambil membuka pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Milda ketus, kebetulan beliau sudah pulang setengah jam yang lalu bersama suami dan anak bungsunya.
Ketika melihat putra sulungnya baru pulang dari tadi sore, Milda memberikan tatapan tajam pada Hans, Leka yang berada di ruang tamu bersama istrinya menatap kecewa pada Hans, membuta Hans jadi merasa bersalah.
Kebetulan malam ini yang menjaga Ulya di rumah sakit, Aditya, Ibu Rida dan Cia. Tadinya Fahri yang akan menemani Ibu Rida bersama Aditya untuk menjaga Ulya. Tapi abang Ulya itu masih ada keperluan yang harus segera diselesaikan. Akhirnya Cia yang menemani Ibu Rida dan Aditya, menjaga Ulya. Cia juga besok tidak ada kegiatan mendesak.
"Pa, Ma. Kalian kenapa belum masuk kamar? Tumben masih berada di ruang tamu."
"Hasurnya Papa yang bertanya pada kamu, Hans! Dari mana saja kamu jam segini baru pulang! Tidak kah kamu ingat sudah punya istri dan anak." Sentak Leka, membuat Hans maupun nyonya Milda kaget.
"Hans tidak kemana-mana Pa, Hans mau..."
"Assalamualaikum." Salam seorang membuat Hans tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka semua.
"Disini rupanya Hans, gue udah muter-muter ini kota orangnya malah ada di rumah!" protes Eris sekarang seluruh badannya sudah pegal semua.
"Pulanglah Er, maafkan mama telah menyusahkanmu. Atau mau tidur disini." Tawar Milda.
Eris yang merasa situasi sekarang kurang enak membuat dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya saja.
"Eris tidur di apartemen saja, Ma. Hans juga sudah disini. Eris pulang dulu Ma, Pa. Assalamualikum."
"Wa'alaikumsalam."
Baru datang sudah pergi lagi Eris. Hans hanya heran saja kenapa Eris mencarinya hampir keseluruhan penjuru kota ini. Sayangnya untuk sekarang Hans tidak bisa bertanya.
"Ayo kita ke kamar Ma, Papa sudah mengantuk." Ajak Leka pada istrinya.
Untuk saat ini Leka sedang engga bicara pada putra sulungnya. Beliau benar-benar kecewa, biarlah semua kejadian hari ini menjadi pelajaran untuk Hans. Kedua orang tuanya sudah masuk kamar buru-buru Hans menujur kamar mereka.
Ceklek
Sampai di lantai dua depan kamarnya Hans langsung membuka pintu kamar mereka. "Assalamaulikum."
Tidak ada jawaban dari salam Hans, dia menatap sekeliling kamarnya tapi tidak ada siapapun di dalam kamar.
Sekarang tidak tahu kenapa rasa kehilangan menyusuk ke dalam diri Hans. Dia takut terjadi apa-apa pada Ulya, dia takut istrinya meninggalkan dirinya.
"Maafkan Mas, sayang kalau sudah membuatmu kecewa. Tapi mas mohon jangan pergi tinggalkan Mas. Mas sayang sama kamu, kamu hidup Mas."
Lagi-lagi air mata Hans menetas, dadanya terasa sesak tidak melihat keberadaan sang istri di dalam kamar mereka. Netranya melihat handpone miliknya yang tergeletak di atas nakas, Hans segera meriahnya. Lalu dia membunga pil KB yang membuat masalah dalam rumah tangganya.
"Gara-gara pil ini! Aku jadi marah besar sama Lia! Seharusnya semua ini tidak terjadi. Astagfirullah."
Hans membunga kasar pil KB itu ke dalam tong sampah. Dia segera membuka gawainya, bola mata Hans membolak melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Eris, ada 5 panggilan tak terjawab dari Arion dan abang iparnya.
"Ya Allah, ada apa sebenarnya. Semoga kamu baik-baik saja dek."
Hans segera menghubungi kontak Eris, Hans yakin pasti sekarang Eris tahu dimana istrinya.
📱"Eris katakan dimana istriku berada!" ucap Hans tanpa basa basi kala sambungan telefon mereka tersambung.
📱"Tidak tahu bos!"
__ADS_1
📱"Katakan sejujurnya Eris! Kalau tidak gajimu satu tahun kedepan akan saya potong!"
📱"Terus kalau saya bilang gaji saya bakal nambah nggak bos, jangan main ngancem gaji dong, kagak asyik bener."
Diseberang telefon Eris tertawa senang bisa tawa menawar dengan bosnya. Siapa tahu gajian benar-benar naik.
📱"Baiklah, kalau bos tidak mau menaikkan gaji saya. Saya tidak akan mengatakan dimana istri anda."
📱 "His! Baiklah katakan dimana Lia!
📱" Di rumah sakit bos"
Deg....
Mendengar istrinya berada di rumah sakit Hans langsung memutuskan sambungan telepon mereka. Buru-buru Hans mengambil kuci mobil untuk ke rumah sakit, jelas Hans tahu istrinya berada di rumah sakit mana sekarang.
"Mama sama papa tadi kenapa nggak bilang kalau Lia ada di rumah sakit."
......................
Di rumah sakit lebih tepatnya ruang rawat Ulya. Ibu hamil itu tidak bisa tidur dia merindukan seorang. Sedangkan Ibu Rida dan Cia sudah tidur di kamar tunggu bersama, mereka mengira Ulya sudah tidur padahal ibu hamil itu hanya pura-pura tidur.
"Aditya mommy kangen sama daddy kamu, mommy mau dipeluk sama daddy." Ucap Ulya mengelus lembut pucuk kepala putranya.
Aditya tidur dalam keadaan tenang, dia sangat nyaman tidur bersama dengan mommy. Sejujurnya Ulya terus berusaha memejamkan matanya tapi dia tidak bisa tidur sama sekali karena merindukan sang suami. Ulya tidak tahu ada apa dengan dirinya saat ini yang dia ingin suaminya datang dan memeluknya mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
"Apa Mas Hans masih marah sama Lia, sampai sekarang belum mau ketemu Lia." Ulya kembali menangis lagi sampai tidak sadar sudah terlelap tidur.
Dua puluh lima menit berlalu Ulya tidur Hans sampai di kamar rawat sang istri, buru-buru dia menghampiri tempat tidur Ulya, rasa bersalah semakin menguasai diri Hans.
"Maafkan Mas, Dek. Semua ini memang salah suamimu ini yang tidak mau mendengarkan penjelasan istrinya dulu."
Hans mencium wajah istri bertubi-tubi membuta Ulya merasa terganggu membuka kedua matanya.
"Mas." Ucap Ulya langsung memeluk suaminya.
"Mas, Lia minta maaf jangan marah lagi. Tolong dengerin penjelasan Lia."
"Mas yang harusnya minta maaf, sayang sekarang tidurlah sudah malam. Kamu tidak perlu menjelaskan sekarang."
"Tapi janji jangan pergi lagi!" Hans mengangguk dan kembali mencium wajah istrinya.
__ADS_1
"Tidur sayang kamu harus banyak istirahat."