
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebuah mobil toyota berwarna hitam tengah melaju di jalan raya yang tidak terlalu ramai kendaran lain berlalu lalang. Pengemudi mobil melajukan mobil berwarna hitam menggunakan kecepatan sedang.
"Bang, bang berhenti dulu. Itu kayak teman Lia bukan sih, bang." Ucap ibu Rida.
Netra wanita paruh baya yang berada di dalam mobil hitam tadi, tidak sengaja menangkap sosok Cia yang terlihat seperti orang sedang kebingungan. Cia bersama seorang anak perempuan mengenakan seragam SMP. Atas permintaan sang mama Fahri menghentikan mobilnya di jalan raya lumayan sepi ini.
Fahri baru menangkap sosok Cia bersama seorang anak perempuan berseragam sekolah kala mobilnya sudah lebih dekat dengan keberadaan Cia. Setelah mobil berhenti ibu Rida dan Fahri sama-sama turun dari mobil.
"Assalamualaikum, Nak Cia." Sapa ibu Rida menghampiri mereka berdua.
"Wa'alaikumsalam, Masya Allah. Mama." Sapa Cia sedikit terkejut bisa bertemu dengan ibu sahabatnya di tempat ini.
"Kalian ngapain disini?" tanya ibu Rida merasa heran.
"Itu Ma, lagi nunggu si Vino. Katanya mau jemput disini taunya mobil dia pecah ban. Mau pesen grabcar juga kok kebetulan hp aku sama Dira mati semua. Jadi nunggu angkot disini siapa tahu ada yang lewat." Jelas Cia.
"Daerah sini mana ada angkot lewat. Disini jarang kendaraan umum lewat." Ujar Fahri yang memang paham akan tempat-tempat di kota mereka, walaupun tidak semua.
"Sudah ayo bareng saja sekalian kita antar pulang ke rumah. Sudah hampir sore juga." Ajak ibu Rida akhirnya.
Cia memang sudah terbiasa memanggil orang tua Ulya mama. Begitu juga sebaliknya, ibu Rida sendiri yang menyuruh Cia memanggil beliau dengan sebutan mama.
"Masya Allah, memang tidak papa, Ma? Saya takut merepotkan. Oh iya, Dira ini mama Rida, dek, ibunya mbak Lia. Waktu itu kamu bilang pengeng banget ketemu mama Rida."
Sebuah senyum tersinggung di bibir ibu Rida. Beliau menatap ramah pada Dira, begitu juga sebaliknya.
"Wah, nggak nyangka Dira bisa ketemu mamanya mbak Lia." Gadis berseragam SMP itu terlihat senang sekali.
"Sudah ayo ngobrolnya di mobil saja ya, Ma. Nanti takutnya keburu hujan sudah mulai mendung juga ini cuacanya." Ucap Fahri memperingatkan.
Ibu Rida setuju saja. Cia sangat bersyukur bertemu dengan ibu dan abang sahabatnya itu, kalau tidak mungkin sampai sekarang dirinya dan sang adik masih terjebak di jalan sepi tadi.
__ADS_1
'Allah memang Maha Baik.' Batin Cia terus mengucap syukur dalam benaknya.
"Rumahnya arah mana?" tanya Farhi, mobil sudah melaju keluar dari jalan sepi tadi.
"Perumahan claster satu bang." Sahut Cia, Fahri mengangguk, dia tau tempat yang Cia sebutkan barusan.
Di dalam mobil ibu Rida banyak mengobrol bersama Cia dan adiknya ketiga perempuan itu asyik dalam dunia mereka. Fahri hanya menjadi pendengar setia saja.
Sampai 25 menit mengemudi mobil Fahri sudah memasuki kawasan perumahan claster satu.
"Rumahnya sebelah mana?"
"Yang depan rumah biru bang." Melihat ada rumah biru di depan, Fahri melajukan mobilnya ke depan rumah tersebut.
"Ma, bang Fahri makasih banyak udah nganterin aku sama Dira." Ucap Cia merasa tidak enak hati. "Mampir dulu ke rumah Ma, bang Fahri" Tawar Cia lagi setelahnya
"Sama-sama Cia, hari ini sepertinya mama belum bisa mampir. Lain kalin saja, kan sekarang sudah tau rumah kamu."
"Baik ma, Assalamualaikum." Salam Cia dan Dira lalu keduanya turun dari mobil.
Cia memang tidak canggung sama sekali memanggil Fahri menggunakan sebutan abang. Dirinya merasa dia seperti Ulya di mata Fahri.
...----------------...
Lagit malam terlihat bersahabat, angin malam berembus dengan tenang. Angin yang berhebus di malam hari terasa lebih dingin dari siang hari hingga membuat sabagain umat manusia menarik selimat untuk menutupi tubuh mereka dari dinginnya cuaca di malah hari, ditambah hembusan angin. Angin bisa secara gampangnya masuk ke dalam celah-celah rumah.
Malam ini Ulya dan Hans kembali bermalam di rumah sakit menemani Aditya. Bocah itu sudah terlelap dalam tidurnya 30 menit yang lalu setelah ikut shalat isya berjamaah bersama kedua orang tuanya yang telah lengkap setelah 3 tahun penantian.
Malam ini sudah hampir satu minggu lebih Aditya tidur di rumah sakit, dia merindukan kamarnya. Sejujurnya Ulya ingin segera bertanya pada sang suami tentang Aditya tapi dia tidak memiliki keberanian.
"Mas, sudah mau tidur?" tanya Ulya memastikan melihat sang suami sudah menutup laptopnya.
Berapa malam ini Hans selalu menyelesaikan pekerjaannya di malam hari, di kamar rawat sang anak. Hans tak menjawab pertanyaan sang istri, dia meletakkan laptop miliknya di atas nakas tepat di sampi lapto Ulya. Laki-laki itu berjalan mendekati sang istri yang tengah duduk di sopa.
__ADS_1
Hans mendaratkan bokongnya di sebelah Ulya. "Belum dek, kamu pasti mau tanya yang tadikan?" Ujar Hans, membuat Ulya mengangguk ragu.
"Tapi sebelum cerita, Mas mau tanya apa pendapat kamu tentang suamimu ini?" Hans mulai memainkan rambut istrinya yang tidak terlalu panjang juga tidak terlalu pendek.
Sekarang Ulya sudah terbiasa tidak menggunakan hijab di depan Hans, dia juga sudah biasa membiarkan suaminya itu selalu mengelus rambutnya.
Ulya memang belum memiliki rasa pada sang suami, tapi dia akan mencoba untuk membuka hatinya, sekarang sudah pasti Hans sebagai suami pemilik hatinya.
"Maksudnya gimana, Mas?"
"Maskud Mas apa pendapat kamu tentang mas sebelum kamu tahu kalau Aditya sebenarnya bukan anak, Mas."
"Tidak ada! Dulu Lia hanya penasaran dimana ibu dari anak kecil seperti Aditya." Ulya menatap sendu Aditya yang terbaring di atas brankar. "Tapi sekarang Lia lebih penasaran dimana kedua orang tua, Aditya. Dia anak yang sangat pintar, Mas." Kedua bola mata Ulya sudah mulai berkaca-kaca.
Lagipula Ulya dulu tidak pernah terbesit sedikitpun di dalam hatinya ingin menjadi istri seorang Hans. Ulya menyayangi Aditya setulus hatinya bukan menginginkan imbalan, bisa mendapatkan hati Hans, pikiran seperti itu tidak sedikitpun terbesit dalam hati Ulya.
Hans menghirup nafas panjang mendengar perkataan jujur dari istrinya. "Kamu tahu kecelakaan 4 tahun lalu yang menimpa salah satu anak keluarga Kasa?" sang suami sudah mulai bercerita.
"Lia tahu beritanya, Mas."
"Mereka ayah dan bunda, Aditya. Dia Rama kembaran Mas, dia adik kembar. Suami kamu ini, bersama istrinya Rama mengalami hal tragis."
Tadi kedua bola mata Ulya yang berkaca-kaca sekarang kedua bola mata Hans juga ikut berkaca-kaca.
"Maafkan Lia, Mas. Telah membuka luka lama." Sesalnya, Hans menggelengkan kepala pelan.
"Tidak dek, sebenarnya kecelakaan yang dialami Rama dan Jeni bukan murin kecelakan pada umumnya. Namun ada yang sudah merencanakan."
"Inalilahiwainalilahirojiu'n. Ya Allah, lalu pelakunnya sudah ditemukan, Mas?"
'Jeni, aku merasa tidak asing dengan nama tersebut, dimana aku pernah mendengarnya aku merasa familiar.' Ujar Ulya hanya pada diri sendiri.
"Sudah, tapi ada beberapa yang belum. Mungkin mas akan mencari mereka kembali, apa kamu setuju, dek?"
__ADS_1
"Jika semua ini demi kebaikan mereka Lia setuju Mas. Semoga saja mereka yang berbuat tidak baik sudah bertaubat dan menyesali perbutan yang telah mereka lakukan. Semoga Allah menempatkan Rama dan Jeni di tempat terbaik-Nya."
"Aamiin." Ada perasan lega yang dirasakan oleh Hans setelah bercerita pada sang istri.