
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Hari-hari berlalu setelah resepsi pernikahan Eris dan Azril, semua orang telah kembali sibuk mengurus kepentingan mereka masing-masing.
Ibu Rida dan Fahri juga telah kembali ke kampung seperti yang dikatakan ibu Rida sebelumnya jika mereka akan kembali menetap di kampung terlebih dahulu.
Eris juga sudah menemui Kyai Halim untuk memboyong Azril pulang ke rumah. Hari ini Eris berniat meminta izin pada mertuanya untuk membawa Azril tiggal di apartemen, tapi dia sedang bekerja jadi Eris berniat meminta izin nanti setelah pulang kerja.
Dua minggu telah berlalu setelah resepsi pernikahan Eris dan Azril. Eris masih tetap bertahan tinggal di kediaman Kasa. Ada beberapa alasan kenapa Eris belum juga membawa istrinya tinggal di apartemennya.
Sedangkan Hans hari ini menemani putranya sekolah bersama sang istri dan bayi Alvan ikut serta. Mereka menghadiri acara perpisahan sekolah Aditya.
Bocah laki-laki itu terlihat sedikit murung setelah bertegur sama dengan teman sebangkunya. Beserta teman-temannya yang lain.
Aditya berjalan mendekati Mommy dan Daddynya duduk di tempat yang sudah disedikan oleh pihak sekolah.
"Ada apa, boy? tanya Hans memastikan kala melihat wajah Aditya yang sedikit ditekuk, menghampiri dirinya dan sang istri.
Aditya. Anak laki-laki itu menggeleng lemah, sedang enggan menjawab pertanyaan sang Daddy. "Katakan saja sayang agar Mommy dan Daddy tahu apa yang membuatmu sedih." Ulya ikut menimpali obrolan suami dan putra sulungnya.
Sambil menggendong bayi Alvan, yang terlihat tidak ingin jauh dari Mommynya, bayi itu begitu nyaman berada dalam gendongan Ulya.
"Daddy dan Mommy tidak akan marah padamu, boy janji," ucap Hans lagi ketika melihat Aditya masih diam.
__ADS_1
Tidak biasanya Aditya bertingkah seperti ini, dia selalu terlihat ceria setiap saat, bahkan ketika sedang menahan sakit di hadapan semua orang dia selalu ingin tersenyum. Agar orang lain tidak mengkhwatrikan dirinya.
"Hei sayang, coba sini lihat wajah adikmu, Alvan," suruh Cia pada Aditya, sambil Ulya mendekatkan Alvan pada Aditya
Melihat adiknya yang ada di gendongan sang Mommy tersenyum pada dirinya, Aditya juga ikut tersenyum. Hans dan Ulya pun ikut tersenyum melihat anak-anak mereka tertawa bersama seperti sekarang ini.
"Sekarang bilang sama Mommy, apa yang buat anak ganteng Mommy sedih, heemmm?" tanya Ulya kembali menastikan.
"Aditya sedih Mom, mau pisah dengan teman-teman sekolah, terus Erisa juga katanya bakal pindah dari kota ini, mau pindah ke tempat yang jauh," adu Aditya pada mommynya.
Hans bersama Ulya menyimak cerita Aditya, anak laki-laki itu berdiri di hadapan kedua orang tuanya sambil sesekali menatap kerah temannya yang sedang berkumpul di atas panggung, sebentar lagi mereka akan melakukan pertunjukan bersama untuk perpisahan sekolah.
"Anak daddy tidak ingin pisah dengan teman-temannya benar begitu," ujar Hans mengelus sayang pucuk kepala Aditya.
"Benar Daddy!"
"Nak, sekarang kamu dan teman-teman kamu sudah selesai menimba ilmu di sekolah ini. Jadi kalian setelah ini harus meneruskan mencari ilmu di tempat yang kalian dipilih atau orang tua masing-masing yang memilihnya. Untuk Erisa, jadi tidak lagi tinggal di kota ini mungkin harus ikut bersama kedua orang tuanya. Begitu juga Aditya, Aditya kalau masih kecil harus bersama Daddy dan Mommy," terang Hans pada sang anak.
Berharap Aditya mengerti apa yang Hans katakan, dia sudah bicara dengan sangat hati-hati pada sang putra.
"Karena hari ini, hari terakhir bersama teman-teman di sekolah Aditya. Ayo jadikan hari yang indah dan menyenangkan. Aditya tidak boleh sedih, lihat teman-teman Aditya sedang tertwa bersama, jadi Aditya juga harus ikut tertawa dengan mereka," tunjuk Ulya pada segerombolan anak-anak yang berkumpul tak jauh dari tempat mereka sedang tertawa bersama.
"Mereka tahu hari ini adalah, hari terakhir bersama teman-teman di sekolah. Jadi mereka ingin membuat kenangan indah, memang Aditya tidak mau membuat kenangan indah bersama teman-teman yang lain, hemmm?"
Netra Aditya menatap tempat anak-anak yang Ulya tujuk tadi, memang benar teman-temannya itu sedang tertawa bersama juga bermain bersama dengan wajah ceria.
"Aditya mau Mom!"
"Anak pintar, sekarang main bersama teman-teman oke, tapi ingat Aditya tidak boleh terlalu leleh," pesan Hans pada putranya.
"Siap Daddy!"
__ADS_1
Ketiak Aditya hendak menghampiri teman-temannya yang sedang asyik bermain, Erisa datang mendekati Aditya mengajak anak laki-laki itu bermain.
"Aditya ayo main dengan yang lain!" ajak Erisa pada Aditya.
Tanganya terulur agar Aditya mau ikut bersamanya menemui teman-teman yang lain. Dengan senagan hati Aditya menerima uluran tangan Erisa.
"Ayo Erisa," jawab Aditya antusias.
Sebelum pergi dia menoleh pada kedua orang tuanya terlebih dahulu. "Daddy, Mommy Aditya main bersama teman-teman dulu. Adik Alvan cepat besar biar kita bisa main sama-sama."
"Oke sayang," jawab Hans dan Ulya bersama.
"Siap kakak Aditya," ucap Ulya kemudian membuat suara anak kecil.
Apa yang dilakukan Ulya ternyata mampu membuat Erisa dan Aditya tertawa bersama, setelahnya mereka berdua berjalan bersama menuju teman-teman yang lain untuk berkumpul bersama anak-anak yang lain.
"Yank, kalau capek gendongan Alvan biar gantain sama Mas," ucap Hans menatap teduh wajah istrinya.
Hans bicara pada istrinya ketika Aditya dan Erisa sudah pergi menjauh. Dari mereka, tapi Hans tak lepas pengawasan pada Aditya begitu saja sama halnya dengan Ulya yang ikut tetap mengawasi Aditya.
"Iya Mas, ini Alvan baru saja tidur," sahut Ulya masih sibuk menatap anaknya.
Tidak sadar Ulya jika sang suami sedang menatap lekat dirinya.
'Masya Allah, terima kasih Ya Rabb telah memberiku seorang istri yang luar biasa sekali,' batin Hans, setiap hari dia sangat bersyukur dipertemukan dengan Ulya dulu.
Kepala Ulya terangkat untuk melihat kerah suaminya kala dia sudah puas menatap sang putra, Ulya seperti ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya malah menempel pada pipi sang suami saat menoleh membuat Hans dan Ulya sama-sama membolakan kedua bola mata mereka sempurna.
Benar-benar tak sadar Ulya jika sang suami sedang memperhatikan dirinya. Sudut bibir Hans terangkat menyadari satu hal.
"Akhirnya bisa kamu c*um pipi aku di tempat umum yank, satu lagi nih naggung kalau yang sebelah dong kasihan nanti satunya cermburu kagak dianggep."
__ADS_1
"Apa sih Mas! malu tahu disini banyak orang," ujar Ulya tak berani menatap wajah suaminya, Ulya sudah terlajur dibuat malu oleh sang suami.
"Padahal udah punya anak loh yank kok masih tetap malu," celetuk Hans.