Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 42


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Ulya merasa semua ini hanyalah bunga tidur, bagimana bisa dalam hitungan jam saja dia sudah sah menjadi istri dari seorang Hans. Bukankah tadi pagi dia baru saja menyampaikan pada abangnya. Jika dirinya baru menerima lamaran Hans, kejadian satu hari ini benar-benar tidak terduga.


"Silahkan mbak Ulya menyalami suaminya." Instruksi pak penghulu pada Ulya.


Tanpa ragu Hans menyodorkan tangan kanannya pada Ulya. Berbeda dengan Ulya yang kini tengah merasa malu, jadi ragu-ragu dia mencium punggung tangan suaminya begitu takzim.


Bukan sampai disitu saja, Hans ikut memegang ubun-ubun istrinya sambil mengucapkan doa kebaikan untuk mereka berdua.


"Sekarang mas Hans, boleh mencium keningin istrinya." Ujar penghulu beralih pada Hans.


"Bismillah." Guman Hans pelan, Ulya masih bisa mendengar perkataan suaminya yang mengucapkan lafal bismillah.


Ada rasa hangat di hati Ulya kala Hans mencium keninganya mengucap lafal bismillah terlebih dahulu.


'Bismillah, jadikanlah semua ini awal yang baik untuk hamba dan suami hamba juga keluarga kami, Ya Rabb.' Ungkap Ulya dalam benaknya.


"Alhamdulillah, sekarang kalian berdua saudah sah menjadi pasangan halal, bahagia dunia akhirat."


"Aamiin." Semua orang mengaminkan secara bersama doa dari pak penghulu untuk kedua mempelai.


Setelah itu Hans menyalami orang tuanya begitu juga Ulya lalu sebaliknya.


"Lia terima kasih sudah mau menerima anak sulung Mama sebagai pendamping hidup kamu. Mulai sekarang jangan panggil saya grandma lagi, ingat kamu harus memanggil mama." Milda mengusap lembut pucuk kepala Ulya yang tertutup hijab.


Gadis yang masih mengenakan gaun pengantin itu beralih pada tuan Leka. "Ulya, papa juga mengucapkan terima kasih kamu mau menerima Hans dan Aditya."


Mungkin hanya kata-kata itu yang dapat tuan Leka katakan pada Ulya. Melihat putra sulungnya menikah diumur yang sudah memasuki kepala tiga ada kebahagain tersendiri yang beliau rasakan.


Beralih pada Hans yang mendekati ibu Rida. "Hans, sekarang Ulya sudah menjadi tanggungjawabmu. Mama hanya pesan satu hal jagalah dia, karena papa, mama dan abangnya selalu menjaga Ulya."


"Insya Allah, Ma. Hans akan menjaga Ulya semampu Hans."


Fahri menepuk pelan pundak sebelah kanan adik iparnya. "Ingat Hans, sekali saja kamu menyakiti Ulya jangan berharap bisa bertemu kembali dengan adik kesayanganku ini!" tegas Fahri tidak main-main.


Selesai Hans dan Ulya sungkem pada orang tua mereka mendekati Aditya mecium pipi bocah itu bersama, semua Aditya tidak luntur. Lalu satu persatu orang di dalam kamar rawat Aditya mengucapkan selamat untuk pasangan pengantin baru.


"Masya Allah, selamat ya Lia. Aku nggak nyangka kamu udah nikah aja, samawa besty." Keduanya saling berpelukan.


Cia beralih mentapa Aditya setelah pelukannya dengan Ulya terlepas. "Perkataan mbak Cia terwujud Aditya, sekarang mbak Ulya sudah menjadi mommy, kamu!"


Mereka berdua melakukan tos tangan yang dikepalkan. "Benar mbak Cia. Mommy Lia terima kacih. Dan cemoga mbak Cia cepat nyusul mommy."

__ADS_1


"Aamiin." Sahut semua orang membuat Cia salah tingkah.


"Langsung temuin orang tuanya bang, keburu diambil orang." Kode Arion pada Fahri.


Acara terus berlanjut sampai tak terasa sore hari sudah tiba, satu persatu orang-orang mulai meninggalkan Aditya untuk beristirahat terlebih dahulu agar bisa bergantian untuk menjaga bocah itu.


"Hans, kamu pulang dulu sama Ulya. Berish-berih sambil bawa baju ganti nanti kesini, sekarang biar mama sama papa yang jagain Aditya setelah magrib kalian baru kesini lagi." Suruh tuan Leka.


"Baik pa." Hans patuh saja.


Hanya ada tuan Leka, Milda, Hans dan Ulya yang kini menunggu Aditya semua orang sudah pulang sekitar setengah jam yang lalu.


Setelah berpamitan pada Milda dan Leka juga Aditya. Hans bersama istrinya meninggalkan rumah sakit.


"Kita mau pulang kemana?" tanya Hans pada sang istri.


Suasana di dalam mobil mewah tersebut terasa canggung, apalagi di dalam mobil hanya ada Hans dan Ulya saja.


"Ke rumah Lia dulu, Mas. Ambil baju salin buat Lia nanti baru ke rumah, Mas Hans." Usul Ulya tanpa berani mentapa suaminya karena malu.


Hati Hans terasa menghangat mendengar Ulya memanggilnya Mas, senyum di wajah Hans mengembang kala mendengar Ulya tidak lagi memanggilnya dengan embel-embel pak, tapi sekarang Mas. Senyumnya semakin mengembang mengingat di cafe tadi pagi Ulya juga memanggilnya, Mas.


Mobil yang Hans kendarai sudah melaju menuju rumah orang tua Ulya.


Nyes!


Rasanya hati Ulya seperti disiram air hujan yang menyejukkan mendengar suara lembut suaminya.


"Kita juga sudah janji sama Aditya, Mas. Kalau mau menemani dia di rumah sakit bukan."


Kali ini Ulya memberikankan diri untuk mentapa wajah suaminya. Siapa sangka Hans yang sedang fokus mengemudi juga ikut menoleh pada istrinya sejenak.


"Cantik!" ucapnya lalu kembali fokus mengemudi.


Blus!


'Ya Allah, Masya Allah. Kok jadi deg degan begini sih.' Batin Ulya merasa sudah tidak karusan.


Hanya satu pujian dari Hans saja sudah bisa meluluh lantahkan hati Ulya padahal sebelumnya dia belum pernah menyukai seorang laki-laki. Ulya merasa mobil yang dikendarai suaminya terasa begitu lama itu karena dia malu sekarang di dalam mobil berdua saja bersama sang suami.


"Mau makan dulu atau langsung pulang, dek?" perhatian Hans membuta hati Ulya kembali teras berbunga.


"Makannya nanti saja mas di rumah sakit bareng sama Aditya, ya."

__ADS_1


"Baiklah."


Ternyata setelah itu obrolan keduanya berlanjut sampai tak terasa mobil Hans sudah sampai di depan rumah orang tua Ulya.


Mereka segera masuk ke dalam rumah setelah keluar dari mobil dan mengucapkan salam. Ibu Rida menyambut anak juga menantunya dengan senyum.


"Ma, kita cuman sebentar ya, Lia ambil baju dong abis itu ke rumah mas Hans. Langsung ke rumah sakit lagi."


"Iya, dek. Sono bawa suamimu ke kamar." Suruh ibu Rida.


Walaupun ragu Ulya tetap mengajak sang suami masuk kamarnya yang kini sudah menjadi kamar mereka.


Rapi, nyaman. Kata itulah menurut Hans pantas untuk menggambarkan suasana di dalam kamar istrinya.


"Mas mau mandi disini atau di rumah mas nanti? Kalau disini biar Lia pinjamkan baju abang."


"Boleh, jadi kita bisa langsung ke rumah sakit nggak perlu bolak-balik."


"Tapi masa perlu baju ganti juga."


"Itu gampang, dek."


"Ya, sudah Mas mandi dulu, biar Lia pinjam baju bang Fahri, buat Mas Hans." Hans mengangguk patuh.


Sepasang pengantin baru itu melewati pintu berbeda, Hans masuk kamar mandi yang tersedia di kamar Ulya. Sedangkan Ulya sendiri menuju kamar abangnya untuk meminjam baju.


15 menit berlalu Hans sudah menyelesaikan ritual mandinya, dia melihat sudah ada baju yang tersedia untuk dirinya di atas kasur tapi Hans tak mendapati keberadaan sang istri.


"Kemana dia." Bingung Hans mencari kesegala penjuru kamar.


Tak!


Sampai Hans mendengar langkah kaki seorang dari arah balkon kamar.


Ulya sudah tidak mengenakan hijab lagi memang sudah kebiasaannya di dalam kamar. Tapi dia terlihat melupakan sesuatu.


"Arkh! Astagfirullah." Kaget Ulya langsung memalingkan wajahnya. Melihat tubuh Hans tidak mengenakan baju.


"Masya Allah." Ucap Hans bersama dengan Ulya yang mengucap istrighfar. Dia terpesona pada istrinya.


"Pak Hans, ngapain disini!" ucap Ulya masih memunggungi Hans.


Sebuah senyum jahil terbit di sudut bibir Hans, dalam otaknya terbesit untuk mengerjai sang istri. Tanpa memakai bajunya lebih dulu Hans berjalan mendekati Ulya, dia hanya menyengkan handuk sebatas pinggang saja jadi perutnya terpampang sempurna.

__ADS_1


__ADS_2