
Bismillahirrohmanirrohim.
Hai semua apa kabar? Maaf kemarin nggak up, lagi menenangkan diri karena retasi tidak mencukupi hehehe, mohon bantuan semua biar novel ini retasinya mencukupi🤗
Tak...
Tak...
Tak...
Derup langkah suara sepatu seorang terdengar sangat tergesa-gesa di lorong rumah sakit, dia bukan ingin menemui keluarganya yang sakit melainkan ada hal penting yang harus diurus di rumah sakit tersebut.
"Hahaha!"
Orang itu terlihat menghela nafas berat untuk beberapa kali, sekarang dia sedang berdiri di depan pintu yang terdapat tulisan 'Ruang direktur' Entah apa ada dipikirkan laki-laki dengan stelan rapi itu sampai membuatnya seperti sedang dikejar-kejar anjing gila.
"Capek juga ternyata." Ucapnya setelah merasa lebih tenang.
Satu tanganya terangkat untuk mengetuk pintu ruang direktur.
Tok...
Tok...
Tok...
"Permisi tuan Hans, ini saya Eris." Laki-laki bernama Eris itu berbicara sedikit keras.
"Masuk."
Mendapat izin dari sang pemilik ruangan segera Eris masuk ke dalam ruangan Hans. Dia ada berita penting yang harus disampaikan pada bosnya itu.
"Ada apa?"
Hans bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer yang ada di depannya itu.
"Saya mendapat kiriman video dari orang yang mengawasi Aditya."
Deg!
'Astagfirullah.' Kaget Hans dalam benaknya. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada den Aditya.
"Apa yang terjadi pada putraku!" suara Hans tidak lagi setenang tadi. Suara tenang itu sudah berbuah menjadi dingin.
Nyes!
__ADS_1
'Ya Allah, kayak gini nih gue takut kalau pak Hans udah mode dingin.' Ungkap Eris dalam benak sendiri.
"Kata kan Eris! Jangan diam saja bak patung."
"Eh, iya tuan!" Eris tersentak kaget.
Eris menyodorkan hpnya di depan Hans, melihat hal itu Hans hanya mengangkat satu alisnya tak paham akan apa yang dilakukan oleh orang kepercayaannya itu.
"Tuan bisa lihat apa yang terjadi di dalam video ini."
Tanpa banyak tanya Hans langsung mengambil hp Eris lalu memutar video itu. Hans menonton video tersebut dengan saksama dimana Ulya menjadi bahan bullyan satu kampus atas foto yang tersebar tentang mereka. Parahnya lagi saat melihat video perdebatan Cia, Zevran dan Ulya. Tapi gadis itu tetap menjaga Aditya.
"Eris!"
Deg!
Tubuh Eris tiba-tiba sedikit gemetar, suara Hans bahkan lebih dingin dari sebelumnya rasanya Eris tak dapat bernafas di ruang kerja bosnya yang berwarna abu-abu cukup lebar dan terkesan santai itu.
"Selidik siapa orang yang telah menyebarkan foto-foto dan video ini Eris! Satu lagi pantau terus perkembangan yang terjadi di kampus Nasional, jika semakin memanas aku sendiri yang akan turun tangan mengurus masalah ini agar cepat selesai."
Sorot mata Hans sudah tidak setenang tadi, bahkan terlihat menakutkan bagi Eris yang sudah lama bekerja pada Hans. Entah bagaimana jika orang lain yang melihatnya mungkin akan lebih parah lagi.
"Baik tuan, saya permisi dulu."
"Astagfirullah, siapa juga yang menyebarkan hoax. Untuk apa memfitnah Ulya! Aditya juga semakin membuat keruh karena memanggil Ulya menggunakan sebutan mommy!" keluh Hans setelah kepergian Eris.
Laki-laki bertubuh atlet itu sudah tidak lagi nafsu untuk mengerjakan tugasnya di rumah sakit sebagai direktur. Walaupun aslinya pekerjaan Hans sudah beres.
"Begitu ingikah Aditya memilik seorang mommy, maaf Aditya, daddy belum bisa mengwujudkan keinginan kamu yang satu ini." Hans menghela nafas pelan. Ada rasa bersalah dalam benaknya.
Pikiran Hans saat ini masih berkecamuk, dia bergegas meninggalkan ruang kerjanya menuju parkir mobil entah mau pergi kemana direktur muda nan tampan itu. Tanpa menunggu lama setelah sampai di parkiran Hans segera masuk ke dalam mobil lalu segera melajukan mobilnya entah kemana.
Sampai 20 menit berlalu Hans menghentikan mobilnya di sebuah toko kue besar yang lumayan ramai. Dia berjalan kearah toko tersebut.
"Wih, lo Radity bukan sih?" tanya seorang laki-laki yang kebetulan baru keluar dari toko roti Cahya bersama seorang perempuan.
Ada yang menyapanya Hans menatap wajah laki-laki itu sejenak setelah itu dia tak berniat membalas sapan laki-laki yang memang dia kenal.
"Lo tetap aja sombong ya Radity, padahal udah lama kita nggak ketemu."
'Huh, harus banget ketemu Hans disini waktu aku lagi sama Raka.' Yulia sangat kesal sekali, apalagi melihat tatapan Hans yang sangat dingin pada dirinya dan Raka.
"Terus gue peduli? Minggir gue mau lewat." Ketus Hans.
"Hans jangan gitu dong, aku tahu kamu cemburukan karena aku pacaran sama Raka."
__ADS_1
"Lo mau pacaran sama siapa aja gue kagak peduli! Toh buat apa juga gue suka sama cewek modelan lo."
"Jangan mulut lo ya Radity!"
"Lah gue peduli gitu?" Malas meladeni Raka dan Yulia, Hans buru-buru masuk ke dalam toko roti.
"Sombong banget lo jadi orang Radity, gue nggak akan kalah lagi dari lo setelah lulus kuliah, cukup saat kuliah saja." Geram Raka.
Berbeda dengan Raka yang kesal karena memang sudah lama dia membenci Hans, Hans pasti selalu unggul dari dirinya ketika di kampus dulu. Sedangkan Yulia merasa sangat kesal Hans tetap cuek pada dirinya.
'Awas aja lo Hans, gue pastiin lo bener-benar akan jadi milik gue apapun caranya. Asal Raka juga tetap ada diposisi gue.' Tekat Yulia yang sangat aneh itu.
Di sebuah cafe sedikit jauh dari kampus Nasional.
"Lia, mau pulang sekarang atau nanti?"
"Bentar lagi Cia, kamu kalau mau duluan, duluan aja nggak papa kok." Sahut Ulya masih dalam posisi tenang.
"Nggak Lia, masa aku ninggali kamu dalam situasi kayak gini. Terus mau pulang pake apa nanti kalian?"
"Minta jemput abang paling." Sahut Ulya yang masih fokos menyuapi Aditya.
"Udah lama tau kamu punya abang, tapi aku nggak pernah lihat wajah sama nggak tau namanya sih Lia?"
"Cie...Yang nanyain abang aku."
"Apan sih Lia, penasaran aja orang nggak pernah lihat orangnya tapi sering lo sebut abang, abang, abang."
"Maklum abang gue sibuk kerja, buat gue sama mama walaupun mama juga punya usaha butik sih."
"Mbak Lia, Aditya cudah kenyang." Anak itu bahkan sudah menghabiskan satu piring makan yang di pesan Ulya tadi.
Dia makan dengan sangat lahap apalagi disuap oleh Ulya.
"Alhamdulillah, mau pulang sekarang Aditya?"
"Tunggu daddy jemput cajam mbak, tadi nenek pecen cama Aditya kalau daddy yang bakal jemput."
Sontak Ulya dan Cia saling tatapan, bisa gawat kalau Hans yang menjemput Ulya yakin masalahnya akan semakin rumit.
"Kita pulang saja ya Aditya, tidak usah menunggu daddy. Kita bisa naik grab atau taksi."
"Telat mbak Lia, itu daddy mau jalan kecini." Tunjuk Aditya pada Hans yang baru saja masuk ke dalam cafe.
Ulya dan Cia sama-sama mengikuti arah telunjuk Aditya, benar saja Hans sedang berjalan dengan gagah menuju kearah mereka untung saja cafe itu sedikit jauh dari kampus kalau tidak Ulya tak tahu harus bagaimana masalah baru saja menimpa dirinya tentang kabar miring yang tersebar di kampus Nasional.
__ADS_1