
Bismillahirrohmanirrohim.
Ulya dan Aditya, akhirnya pulang juga bersama Hans tidak ada pilihan lain bagi Ulya selain mengikuti Hans, sudah 2 jam lalu mereka berada di rumah. Cia juga sudah pergi ke tempat kajiannya sebenarnya dia mau saja mengantar Ulya pulang tapi sahabatnya itu menolak karena tahu dirinya juga kepepet waktu kalau harus mengantar mereka dulu.
Hans sudah tau masalah yang menimpa Ulya hanya bisa diam saja walaupun masalah itu juga menyangkut dirinya, tapi Hans sudah bertindak agar masalahnya cepat beres. Sekarang ini Ulya berada di dalam kamarnya sendiri, karena Aditya sedang bersama Hans.
"Ya Allah, Ulya kangen sama papa." Ucapnya sambil menatap foto bapaknya yang berada di handpone milik Ulya sendiri.
Dulu sewaktu papa Ulya masih ada jika gadis itu memiliki masalah dia akan selalu bermanja pada papanya. Ulya memang lebih dekat dengan papa dari pada mama walaupun begitu tetap saja dia sering juga bersama mamanya. Ulya adalah gadis manja jika sudah bersama keluarganya berbeda saat dia berada di luar rumah.
Tanpa terasa air mata Ulya membasahi pipinya. "Mama, mau di peluk sama mama." Suara Ulya sudah mulai serak dia menangis cukup lama.
Tadi setelah pulang dari kampus dia diperbolehkan Hans untuk istirahat lebih dulu. Padahal hari ini Ulya sudah berjanji akan bertemu dosennya tapi urung karena masalah di kampus. Untung dia cepat konfirmasi pada sang dosen Allhamadulilah dosen memakluminya.
"Lia kangen kita sama-sama kayak dulu lagi papa. Lia harap papa di tempatkan disisi terbaik Allah."
Sadar tidak boleh sedih berlarut-larut Ulya beranjak dari kasur segera menuju kamar mandi untuk mengmbail air wudhu, kamar mandinya ada di luar kamar jadi Ulya harus melewati dapur terlebih dahulu.
"Ulya kamu kenapa?"
"Eh, tidak apa-apa grandma, Ulya baik-baik saja." Ulya kira sudah tidak ada orang di dapur.
"Tapi muka kamu sembab, habis nangis?" Ulya menggeleng pelan.
"Kamu mau shalat ya?"
"Iya grandma."
"Nanti setelah shalat ke taman belakang temani Aditya main disana."
"Baik grandma." Ulya patuh saja setelah itu Milda berlalu pergi menuju lantai atas.
Ulya juga segera mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat ashar, karena Ulya kelamaan menangis sampai sudah lewat 1 jam dari adzan berkumandang dia baru sadar. kebetulan dia memang sudah mandi lebih dulu tadi.
Di taman belakang.
Hans dan Aditya sedang bermain bersama, lebih tepatnya Hans sedang menemani putranya bermain.
"Daddy."
"Iya ada apa, Aditya?" Hans mengelap lembut wajah putranya yang sedikit berkeringat.
"Tadik mbak Lia di kampucnya di teriak-teriakin cama orang-orang, kacian mbak Lia daddy. Aditya lihat mata mbak Lia cudah berkaca-kaca ceperti orang mau menangic, Aditya ndak mau lihat mbak Lia nangic daddy, Aditya ndak mau lihat mbak Lia cedih, nanti Aditya juga ikut cedih."
Nyes!
'Ya Allah, Aditya sebegitu sayang kamu sama gadis bernama Ulya itu.' Hans tidak tahu apa yang dirasakan di dalam hatinya saat ini.
"Aditya tidak boleh sedih oke, daddy janji akan bantu mbak Lia."
__ADS_1
"Bener daddy? Daddy janji." Kedua bola mata Aditya yang tadi sudah mulai ikut berkaca-kaca saat membahas Ulya kini menjadi sangat cerah.
"Insya Allah, daddy janji."
"Yes! Thank you daddy, Aditya cayang daddy Hanc."
Mereka berdua langsung berpelukan layaknya anak dan bapak. "Daddy Hans juga sayang Aditya."
Saat bapak dan anak itu sedang asyik mengobrol tiba-tiba hp Hans berdiring bersamaan dengan Ulya yang muncul di taman mendekati Aditya dan Hans.
"Daddy angkat telepon dulu, mbak Lia sudah disini, Aditya sama mbak Lia ya."
"Ciap daddy!" jawab Aditya patuh sekali.
Hans tidak banyak bicara pada Ulya, dia hanya mengeluarkan beberapa patah kata saja pada Ulya.
"Saya tinggal dulu!"
"Baik."
Mendengar Ulya menjawab pendek saja Hans hanya melirik sekilas gadis yang tetap menuduk saat bicara pada dirinya. Hans yakin sekali pasti Ulya masih bingung mau memanggilnya dengan sebutan apa. Tadinya Hans mau protes tapi dia urungkan karena telepon di handponenya terus saja berbunyi. Hans langsung pergi saja.
Cek!
Hans berdecak kesal. "Mengganggu saja kau Eris! Awas kalau bukan hal penting." Geram Hans.
📱"Ada apa? Apakah sudah dapat yang saya suruh Eris?"
📱"Masuk saja ke ruang kerjaku kalau sudah sampai Eris!"
📱"Baik tuan!"
Akhirnya sambung telepon terputus Hans mematikan secara sepihak.
Waktu bergulir 10 berlalu menit Eris sudah sampai di kediaman Kasa. Karena tadi dia memang sudah di jalan dekat manasion keluarga Kasa.
"Eris mau ke temu Hans pasti."
"Benar nyonya, tuan Hansnya ada."
"Langsung saja ke ruangan kerjanya."
"Baik terima kasih nya." Milda mengangguk lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Sampai di ruang kerja Hans, Eris langsung masuk setelah dipersilakan oleh Hans.
"Langsung saja informasi apa yang kamu dapat Eris?"
"Gadis bernama Ria yang menyebarkan foto itu tuan, dari informasi yang saya dapat Ria sudah lama sekali membenci Ulya."
__ADS_1
Hmmm...
Dehem Hans membuat Eris mengerutkan dahinya tak berselang lama dia langsung paham.
"Maksud saya nona Ulya tuan."
"Apa motifnya?"
"Kurang jelas tuan tapi dari infromsi yang saya dengar dari beberapa teman nona Ulya kalau gadis bernama Ria itu iri pada nona Ulya."
"Kita tunggu besok luas Eris, lihat sampai sejauh mana gadis itu membuat masalah."
"Baik tuan."
Selesai obrolan keduanya Hans dan Eris sama-sama keluar dari ruang kerja Hans bertepatan saat Ulya dan Aditya sedang bercanda dan tertawa bersama.
"Hiii, mbak Lia gelih ih janji nggak nakal lagi."
"Janji."
"Janji, janji, janji." Keduanya tertawa bersama.
"Masya Allah." Spontan Eris langsung menyebut kalimat Allah saat baru pertama kali melihat jelas wajah Ulya.
Wajah Ulya memang tidak terlalu cantik tapi gadis itu memiliki wajah yang sedikit imut, jika dilihat-lihat wajah Ulya dan Aditya hampir sama-sama tembeb tapi lebih tembeb pipi Aditya.
Hmmm...
"Janga mata, jangan asal menatap perempuan seperti itu."
Gleg!
Eris menelan ludahnya kasar mendapat tatapan tajam dari bosnya, Bulu kuduk Eris juga terasa merinding saat melihat sekilas pada Hans, dia tak berani menatap sang bos lagi setelah mendapat teguran.
"Baik tuan." Sahut Eris takut-takut.
"Daddy!"
Eris baru dapat bernafas lega saat melihat Aditya menghampiri mereka bersama Ulya juga. Eris tak berani lagi sedikitpun melirik Ulya karena sudah mendapat teguran dari bosnya sendiri.
"Sini sayang!"
"Eris pulang lah atau temui papa, saya akan menemai Aditya dulu. Kamu ikut saya Ulya."
Baik Ulya maupun Eris hanya patuh saja tanpa bernai membantah sedikitpun, dua orang itu sama-sama merasa tidak enak pada bos mereka, jika Eris merasa takut pada Hans berbeda dengan Ulya gadis itu merasa segan pada papa dari anak asuhnya itu.
"Saya akan menemui tuan Leka terlebih dahulu."
"Pergi lah Eris!"
__ADS_1
Aditya menatap polos daddynya dan paman Eris yang Aditya kenal. Ulya tetap menunduk.