
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Acara resepsi Eris dan Azril berjalan lancar tanpa ada kendala yang menghambat, satu persatu tamu undangan sudah mulai berpulangan karena acara hanya digelar sampai seore hari.
Mempelainya sedang beristirahat, Azril hari ini merasa sangat lelah, entah bagimana dengan Eris, apakah dia lelah atau tidak. Tamu undangan yang datang lumayan banyak juga.
Eris sedang menemui keluarga dari pesantren AN-Nur yang hendak pulang, hanya Kyai Halim dan Ibu Nyai Aliza yang datang karena di kediaman Kyai Halim harus ada orang tidak boleh kosong.
Sebelumnya Azril sudah lebih dulu menemui sang guru, lalu Milda menyuruh putrinya untuk beristirahat terlebih dahulu, tahu kalau putrinya merasa lelah.
"Kyai Halim, Umi Aliza kami semua mengucapkan terima kasih kalian sudah mau repot-repot datang kesini," ucap Leka merasa tidak enak. Leka jelas tahu guru putrinya adalah orang yang sibuk.
"Allhamadulilah, tidak usah sungkan Pak Leka. Saya bersama istri senang bisa datang keacara resepsi Eris dan Azril," ujar Kyai Halim tersenyum.
"Saya juga sekali lagi mengucapkan terima kasih banyak Kyai, Umi," sambung Eris juga.
Leka, Milda bersama mantu mereka Eris sedang mengantar Kyai Halim dan Umi Aliza yang hendak pulang.
"Sama-sama Nak Eris," jawab Kyai Halim dan Umi Aliza bersama membuat mereka terkekeh.
"Kalau begitu kami permisi Pak Leka, Ibu Milda, Assalamualikum. Mari Nak Eris," ucap salam Kyai Halim juga Umi Aliza.
"Wa'alaikumsalam," jawab ketiganya kompak.
Mereka tak langsung masuk ke dalam rumah, mengiringi kepergian keluarga dari pesantren AN-Nur terlebih dahulu, setelah mobil milik Kyai Halim sudah tidak terlihat lagi barulah mereka masuk.
"Kyai Halim sudah pulang, Pa?" tanya Hans yang sedang menggendong putranya.
"Sudah, cucu grandfa sini-sini, grandfa gendongan." Leka mengambil alih bayi Alvan dari gendongan Hans.
"Lo ngapain masih disini Er?" bingung Hans kalau melihat iparnya belum masuk kamar, apa Eris tidak lelah, pikir Hans.
__ADS_1
Dulu waktu acara resepsi pernikahannya saja baru memasuki waktu dzuhur Hans sudah sangat lelah ditambah ada kekacauan yang terjadi, lah sekarang Eris malah tetap terlihat segar, tak ada gurat capek sedikitpun.
"Terus gue harus kemana?" bingung Eris, sepertinya sekarang dia sedang loding.
Mungkin Eris lupa kalau dirinya sudah menjadi suami orang, sekarang dia sudah sah betul-betul menjadi bagian dari keluar Kasa.
"Susul istri kamu di kamar, Er!" ucap Milda.
"Ah, iya juga Mama bener," sahut Eris sedikit kikuk.
Masa iya dia harus masuk ke dalam kamar Azril yang sekalipun tidak pernah Eris masuki, menatap kamar Azril saja dia sudah tidak punya keberanian.
Di mansion Kasa Eris juga memilik kamarnya sendiri.
"Ayo Ma kita ajak baby Alvan main di taman belakang," ajak Leka pada istrinya.
Nenek dan Kakek, Aditya itu pergi ke taman belakang yang ada di mansion Kasa, sambil Leka menggendong cucunya yang terlihat senang, bayi kecil itu tersenyum manis.
"Hans, gue mau ngomong sebentar sama lo boleh?" kata Eris sebelum Hans berlalu dari hadapannya.
Hans menaikkan sebelah alisnya menatap curiga pada sang ipar, tak biasanya Eris serius seperti ini. Hidup Eris memang banyak humornya Hans tahu betul hal itu, preman saja bisa dia ajak bercanda.
"Apa?"
Sedangkan Hans tak menjawab, dia menunggu Eris kembali melanjutkan perkataannya. Eris menghirup udara dalam-dalam sambil menatap lekat kedua bola mata Hans, membuat ayah dua anak itu merasa bingung sendiri.
"Lo nggak marah gue nikahin Azril?" Eris berkata dengan satu kali tarikan napas.
Bola mata Hans beralih menatap tajam Eris, setelahnya dia juga sedikit tersenyum membuat Eris bingung akan ekspresi Hans, satu tangan Hans terangkat untuk menepuk pelan pundak Eris.
"Sejujurnya gue marah pas pertama kali dapat kabar dari Papa kalau lo sama Eris bakal menikah, di pesantren AN-Nur karena insiden waktu itu, terus kita yang di rumah nggak bisa datang pula. Setelah gue sama Azril nikah mendadak jangan sampai Arion juga nantinya ikutan."
Hampir Eris tak bisa bernapas mendegar ucapan Hans untungnya masih ada lanjutan dari kata-kata yang Hans ucapkan.
"Tapi dibandingkan adik gue nikah sama cowok lain, gue lebih setuju dia nikah sama Lo, karena gue tahu seperti apa lo, Er."
"Walaupun gue yatim piatu udah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini?" Eris kembali melontarkan pertanyaan pada Hans.
Mendengar pertanyaan Eris yang sedikit sensitif itu membuat Hans menggeleng, "siapa bilang lo udah nggak punya siapa-siapa di dunia ini, sejak hari itu. Hari dimana pertama kalinya kita bertemu, lo udah jadi bagian dari keluar ini!" tegas Hans.
__ADS_1
"Gue cuman mau minta maaf Hans, gue serakah ya, udah ambil semua milik kalian. Setelah semua yang ada, sekarang gue malah ambil kesayangan kalian," ujar Eris ada sesak di hatinya.
"Ngomong apa sih! gue malah sekarang rela ngelepas adik cewek satu-satunya karena gue tahu sekarang dia berada ditangan yang tepat."
Hans dan Eris saling berpelukan, keduanya tidak sadar istri mereka mendengar semua percakapan mereka. Ulya dan Azril jadi ikut berpelukan juga, mereka berdua terharu mendengar perkataan Hans dan Eris.
"Cie... Peluk-pelukan, ada apa nih," celetuk Arion yang baru saja ikut bergabung.
Dia menatap aneh pada kedua Masnya, sedangkan Ulya dan Azril sudah lebih dulu melepas pelukan mereka.
"Mas Hans sama Kak Eris aneh, orang disini ada istrinya malah kalian berdua pelukan, selingkuh ya kalian di depan Mbak Lia sama Mbak Azril," lagi-lagi Arion mengeluarkan suaranya membuat Ulya ingin tertawa.
Ketika melihat Eris dan Hans sontak melepas pelukan mereka kala mendengar nama istri masing-masing disebut, benar saja Azril berdiri di sebelah Arion begitu juga Ulya.
"Sudah Kak Arion jangan suka menggoda orang lain, ayo kita main tadi bilang mau ajak Aditya keliling." Aditya menarik tangan Arion agar ikut dengannya.
"Mau kemana sayang?"
"Aditya izin main di depan sama Kak Arion, Mom disekitar perumahan ini aja boleh?"
"Boleh asal sebelum magrib sudah pulang," pesan Ulya.
"Siap Mom, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka semua.
Setelah kepergian Arion dan Aditya, Hans menghampiri istrinya sedangkan Azril dan Eris masih sedikit canggung sekarang.
"Al mana Mas?"
"Sama Mama, Papa. Udah yuk kita ke kamar yank jangan disini ganggu pengantin baru."
Tahu sekali Eris jika Hans sedang meledek dirinya, Ulyan hanya mengangguk pelan.
"Kita ke kamar duluan Az, Er," pamit Ulya yang diangguki keduanya.
"Mas bersih-bersih dulu sana, Azril sudah siapkan air buat mandinya sama baju ganti juga." Azril mendekati Eris yang sedang menatap dirinya. Setelah kepergian Ulya dan Hans tentunya.
Sebenarnya Azril malu terus ditatap oleh Eris, tapi mau bagimana lagi sekarang Eris suaminya jadi terserah Eris mau berbuat apa saja.
__ADS_1
"Ayo, di kamar Mas kan?"
"Bukan di kamar Azril, Mas. Eh, maksudnya kamar kita," ralat Azril menunduk malu sedangkan Eris tersenyum simpul.