Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 46


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Bruk!


Seorang laki-laki berpakaian kantor mengeberak meja dengan sangat keras, dia menatap tajam perempuan berbaju coklat, rambut lumayan panjang, mata sedikit sembab. Gadis itu berdiri tempat di hadapan sang laki-laki yang tengah menahan amarahnya sudah memuncak sampai ubun-ubun.


"Apa-apaan ini Yulia! Perbuatan apa yang sudah kamu lakukan sampai aku terus dicari oleh para polisi, hah!" marah Raka.


"Sayang, tolong dengar dulu penjelasan, aku. Pilss semua ini salah paham." Pinta Yulia memohon. "Aku juga dikejar-kejar polisi, bukan cuman kamu. Jadi tolong dengerin penjelasan aku, ya."


"Semua ini memang salah kamu, Yulia! Lalu apa yang mau kamu jelaskan lagi! Sudah 3 hari aku seperti buronan tanpa tahu perbuatan apa yang sudah aku lakukan!"


Rasanya ingin sekali Raka menamapr wajah sang pacar, untungnya dia masih bisa menguasai dirinya. Walaupun Raka sering iri pada Hans, dia tetap menjunjung tinggi seorang perempuan. Sudah 3 hari ini Raka tidak tahu apa yang telah terjadi, kenapa polisi selalu mencari dirinya. Sedangkan Yulia sendiri terus mencari cara agar tidak tertangkap oleh polisi. Dia tahu mudah bagi keluarga Kasa mencari pelaku yang telah mencelakai Aditya.


"Katakan, bocah laki-laki yang ingin kamu celakai itu anak siapa?" tanya Raka sedikit mulai melembut.


Yulia tak langsung menjawab pertanyaan Raka tentang Aditya, dia lebih dulu meraih tangan sang kekasih. Yulia mengusap lembut tangan Raka dengan kedua tangannya.


"Tapi janji jangan marah lagi." Yulia memberikan tatapan yang selalu membuat Raka luluh agar tidak jadi marah pada gadis itu.


"Iya!" Jawab singkat Raka, sudah menjalani hubungan 3 tahun lebih, Raka tahu betul seperti apa sikap Yulia.


"Dia, anak dari kembaran Hans. Anak Rama sama Jeni. Aku tidak tahu sekarang Jeni dan Rama ada dimana, yang pasti anak laki-laki itu sekarang Hans mengurusnya."


"Terus, apa motif kamu meracunin anak kecil itu?"


"Aku hanya ingin membalas rasa sakitku, dulu Hans pernah menyakitku!" bohong Yulia, tidak mungkin dia mengatakan sejujurnya, yang ada Raka akan semakin marah nanti.


Tanpa kedua orang itu sadari, diluar apartemen Raka sudah ada berapa polisi yang mulai mengambil ancang-ancang untuk menangkap keduanya. Hans bersama Ulya terlihat dalam kelompok polisi.


Suara dari dalam apartemen terdengar jelas dari luar, mereka semua dapat mendegar apa yang dikatakan Yulia dan Raka.


"Kamu tidak tahu, jika Rama juga istrinya sudah tiada 4 tahun lalu. Sekarang harus bagaimana nasi sudah menjadi bubur, sejauh mana kita berlari pasti polisi akan menemukan kita, Yulia. Kalau manti kita tertangkap aku tidak bisa menolongmu, coba saja saat melakukan aksi itu beritahu aku dulu semua tidak akan menjadi seperti ini." Raka berbicara sedikit mengebu-ngebu.


"Maaf." Sesalnya, entah dia benar-benar menyesal atau tidak.

__ADS_1


"Maaf yang kamu ucapkan itu sudah tidak berguna lagi. Tak mungkin kita terus bersembunyi di dalam apartemen ini! Polisi tetap akan menemukan keberadaan kita."


Tiba-tiba Raka jadi pusing sendiri, dia memikirkan nasibnya kedepan bagaimana jika dirinya benar-benar harus mendekap dalam penjara. Karerinya baru saja melambung tinggi akan jatuh karena masalah ini, Raka tak habis pikir kenapa Yulia tidak memikirkan apa konsekuensinya setelah dia melakukan keburukan terhadap orang lain.


"Lalu kita harus bagaimana, Raka?"


Raka terkekeh sinis mendengar pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut sang kekasih. Entah apa yang ada di dalam otak Yulia.


"Kamu tolol atau bagaimana, Hah! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu telah menyeretku dalam masalah besar!" maki Raka suaranya kembali meninggi.


"Kok, kamu marah sama aku. Kamu, kan, juga setuju waktu itu mau bantu aku, Raka."


"Iya! Tapi nggak dengan cara bodoh, yang lo lakuin. Bisa mikir nggak sih, Yul."


Brak!


Ketika kedua orang itu sedang berdebat seorang polisi mendorong kuat pintu apartemen Raka hingga terbuka sempurna.


Prok...prok...prok...


"Disini rupanya kalian berdua bersembunyi!" Hans tersenyum sinis pada kedua orang itu, mereka sudah ditahan oleh para polisi.


"Apa perlu saya putar ulang rekaman yang baru saja kalian bicarakan, Raka?" Hans tersenyum mengejek.


Sejujurnya Hans hanya ingin polisi menangkap Yulia saja, tapi ada bukti yang menujukan bahawa Raka adalah kelompok Yulia yang mencelakai Aditya. Walaupun laki-laki itu tidak tahu aksi Yulia kala itu.


"Hans, kalau lo udah denger semua tadi. Lo tahu gue nggak salah, semua ini salah Yulia bukan gue!" bantah Raka.


"Sayang, kamu apa-apaan sih! Kamu jugakan salah. Lagipula semua yang aku lakukan atas perintah dari perempuan yang berdiri di sebelah kamu, Hans. Dia dalang utamanya." Yulia malah menjadikan Ulya sebagai kambing hitam.


'Perempuan itu kenapa dia bisa bersama dengan Hans!' marah Yulia dalam benaknya.


Apa tadi, semua yang dilakukan Yulia atas permintaan istrinya? Apakah Hans tidak salah dengar? Perempuan seperti Yulia ingin menjadikan istrinya sebagai tersangka utama, tidak mungkin Hans biarkan semua ini terjadi.


Hahaha! Baik Yulia maupun Raka menatap heren Hans yang tiba-tiba saja tertawa bak iblis ingin membunuh semua musuhnya.

__ADS_1


"Mas!" tegur Ulya dengan suara lembutnya, Hans langsung tersadar apa yang dia lakukan.


"Maaf, sayang." Sesal Hans menatap dalam manik mata Ulya, gadis itu hanya bisa mengangguk.


'What, apa tadi, Hans manggil cewek aneh itu, sayang! Apa hubungan mereka.' Yulia semakin marah dalam benaknya.


"Asal kamu tahu Yulia, apapun kejahatan yang kamu lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kalian berdua sering mendengar peribahasa, air susu dibalas air tubua, bukan. Bahkan jika sekarang saya tidak melaporkan kalian terutama kamu, Yulia. Pada pihak berwajib kalian tetap akan mendapatkan balasanya!"


Hmmm.


Lalu Hans memegang lembut tangan istrinya seperti tidak ingin dilepas kala dia merasa Ulya ingin menenangkan ia yang sedang emosi. "Bawa mereka, pak!" pinta Hans pada para polisi.


"Nggak! Aku nggak salah apa-apa, jangan bawa saya kekantor polisi." Berontak Yulia, dia berusaha melepaskan diri dari tahanan dua polisi.


"Diam! Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi nanti! Jika anda tidak bisa diam saya tak segan menembak anda, nona!" Bentak seorang polisi yang terlihat tak bisa menahan sabarnya melihat tingkah Yulia.


Seorang polisi juga menarik Raka agar ikut dengannya, saat dirinya berpapasan dengan Hans, laki-laki itu menatap tajam alumninya.


"Lo tahu gue nggak sepenuhnya bersalah, Radity!"


Hans tersenyum sambil menepuk pelan pundak Raka. "Lo bisa membuktikan semua di kantor polisi, Raka. Buktikan kalau lo memang tidak bersalah!"


Setelah semua orang keluar dari apartemen Raka. Ulya yang tahu suaminya sedang emosi langsung memeluk Hans. Tentu saja Hans merasa senang.


"Mas, jangan emosi." Ujar Ulya kala berada di dalam pelukan sang suami.


Benar emosi Hans reda kala mendapatkan pelukan hangat dari sang istri. Dia mencium pucuk kepala Ulya yang tertutup sempurna oleh hijab.


"Terima kasih, sudah mau menemaniku. Aku mohon sayang tetap disisiku apapun yang terjadi." Bisik Hans pada Ulya.


"Insya Allah, Mas. Sekuat apapun badai menerpa rumah tangga kita, kita akan menghadapinya sama-sama." Ujar Ulya.


Cup!


__ADS_1


Mampir karya di atas ya kak cari aja Judulnya : Ikhlasku, Madu.


Author. :Mentarikelabu


__ADS_2