
Bismillahirrohmanirrohim.
"Mas, Mas, Mas!" panggil seorang dari belakang Zevran, tapi laki-laki itu masih tak mendengar ada orang yang memanggilnya.
"Mas!" panggil orang tersebut lebih kencang lagi membuat Zevran terlonjak kaget.
"Astagfirullah." Buru-buru dia menghapus air matanya sebelum ada yang melihat saat ini dirinya sedang menangis. Baru Zevran menoleh pada sumber suara.
"Ada apa, Mbak?" tanya Zevran kala ada seorang perempuan cantik berhijab syar'i berdiri tidak terlalu jauh di belakangnya.
"Masnya yang ada apa? Kok ngelamun disini. Mau keluar atau tidak, jangan berdiri di jalan." Tegur Azril.
Azril ingin keluar dari pintu samping karena di depan kekacauan masih terjadi. Dia ingin menghampiri papanya mau lewat malah ada orang berdiri di tengah-tengah jalan sambil menatap kekacauan di depan sana.
"Maafkan saya Mbak, Mbak mau lewat." Ucap Zevran sopan.
"Iya saya mau lewat. Jangan berdiri di pintu lagi Mas, menghalangi jalan orang." Azril melewati Zevran setelah diberi ruang untuk lewat oleh Zevran.
"Iya mbak, sekali lagi saya minta maaf." Kali ini Azril mengangguk, baru keluar dia langsung melihat sosok papanya.
"Papa!" panggil Azril buru-buru menghampiri Tuan Leka yang sedang bersama Eris.
'Putri keluarga Kasa rupanya.' Batin Zevran menatap kepergian Azril, dia tak menyangka gadis yang baru saja menegur dirinya ternyata putri dari keluarga Kasa.
Eris menatap heran Azril bisa bersama Zevran, tapi laki-laki itu tidak banyak bertanya. Dia diam saja, lalu Tuan Leka menyuruhnya untuk mengajak Zevran masuk ke dalam kediaman Kasa. Di dalam mansion Kasa sudah ada para polisi yang akan membawa Raka dan tuan Barsa.
"Anda benar Zevran?" Eris tidak ada basa-basi pada Zevran kala sudah berdiri di depan laki-laki itu. Zevran tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Tolong ikut saya, Ibu anda ingin bertemu." Baru sadar Zevran jika mama dan adiknya sudah tidak ada di tempat acara.
Acara resepsi pernikahan Hans bahkan sudah kembali lancar lancar, seperti tidak ada sedikitpun kekacauan yang sudah terjadi.
__ADS_1
"Keluarga ini memang hebat." Ucap Zevran pelan tanpa di dengar oleh Eris.
Zevran akhirnya mengikuti Eris yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam kediaman Kasa. Di ruang tengah rumah itu sudah banyak orang yang berkumpul, melihat polisi menangkap kakak dan papanya dada Zevran terasa sesak. Dua orang itu menunduk malu apa yang mereka lakukan terungkap juga.
"Kakak." Ucap Hani berlari memeluk kakak keduanya saat melihat kehadiran Zevran.
Zevran balik memeluk adiknya, semua keluarga Barsa memang sangat menyayangi Hani, karena dia anak perempuan satu-satunya dan paling kecil. "Kak, papa sama kak Rara." Adunya pada Zevran.
Untuk saat ini Zevran diam tak bergeming, dia sangat malu, malu sekali atas apa yang dilakukan oleh papa dan kakaknya.
Hmmm.....
"Maaf semua boleh saya bicara." Ucap Zevran memberikan diri, dia menatap sendu sang mama, Hani masih berada di dalam pelukan Zevran tak ingin lepas.
"Silahkan, Nak Zevran." Ujar Leka.
"Saya sebagai salah satu keluarga Barsa mewakili semua keluarga untuk meminta maaf sedalam-dalamnya atas kekacauan yang terjadi diacara keluarga Kasa. Sekarang keputusan ada di tangan keluarga ini, kami menyerahkan keputusan apapun pada keluarga Kasa untuk menghukum yang bersalah." Ucap Zevran tegas, sedikitpun dia tak melihat kearah papa dan kakaknya.
Bruk!
Ibu Dita jatuh ambruk mendengar kata perkata yang keluar dari mulut Tuan Leka. Beliau tidak menyangka suaminya lebih keji dari yang beliau kira, bahkan sudah pernah menghilangkan nyawa orang walaupun tidak secara langsung.
"Mama!" teriak Zevran dan Hani bersama.
Baik Barsa dan Raka tidak dapat berbuat apa-apa, sekarang mereka hanya bisa mengandalkan Zevran untuk menjaga Ibu Dita dan Hani.
"Bawa ke kamar, Eris segera hubungi dokter." Titah Milda, Tanpa banyak kata Eris segera membopong tubuh Ibu Dita.
"Bawa mereka, Pak! Berikan hukuman sesuai tindakan kejahatan yang telah mereka lakukan. Saya percayakan semua pada polisi."
"Ikut kami!"
__ADS_1
Para polisi menarik paksa tuan Barsa dan Raka yang tidak ada kebenarian lagi untuk menatap semua orang, sampai Raka berpapasan dengan Zevran, tidak ada yang keluar dari mulut adik kakak itu keduanya sama-sama menatap tajam.
'Aku harapa kalian kali ini benar-benar sadar apa yang kalian lakukan salah!' batin Zevran.
Tuan Barsa menatap putra keduanya setelah Raka di bawa keluar orang polisi lewat jalan belakang agar tidak ada satu pun tamu yang melihat mereka.
"Maafkan papa Zevran, papa bersalah. Papa memang bodoh tidak mendengarkan perkataanmu hari itu. Papa cuman mau bilang titip mama dan adikmu. Tolong jaga mereka jangan buat mereka kecewa seperti sekarang papa dan kakakmu telah membuat perempuan kesayangan kita kecewa paling dalam." Barsa menatap sendu putranya.
"Insya Allah, Zevran akan selalu mengaja mereka. Insya Allah, juga Zevran tidak akan membuat mereka kecewa. Cukup hari ini saja mereka kecewa pada orang-orang yang sangat mereka sayangi."
Zevran berlalu pergi lebih dulu meninggalkan tuan Barsa, dia segera menyusul mamanya yang tadi dibawa ke kamar tamu untuk diobati. Zevran juga pasti kecewa. Polisi segera membawa tuan Barsa menyusul Raka.
"Dia anak baik, Pa." Ucap Milda memperhatikan bagaimana Zevran menyikapi semua ini.
"Mama benar dia memang anak yang baik. Papa harap setela semua yang terjadi. Semua berjalan lebih baik lagi. Mereka yang bersalah menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan."
"Aamiin. Mama mau lihat keadaan Ibu Dita dulu, Pa." Pamit Milda menuju kamar tamu.
"Ayo keluar, Pa. Kasihan mama Rida sendirian di luar. Masa cuman mama Rida yang nemenin Mas Hans sama mbak Lia." Ajak Azril pada papanya.
"Baik putri cantik Papa." Leka mengusap lembut pucuk kepala putrinya yang tertutup hijab.
"Pa, kadang semua yang terjadi dimuka bumi ini bukan hanya sekadar ujian dan cobaan untuk kita, tapi sebagai pelajaran untuk kita ke depannya. Azril harap apa yang dilakukan mereka tidak membuat dendam di hati kita semua. Tidak membuat kita juga merasa paling benar dari pada mereka. Tidak ada rasa becin yang tertanam di dalam hati."
Azran terpaku di tempatnya, dia hendak mengambilkan air hangat untuk sang mama malah tak sengaja mendengarkan percakapan Tuan Leka bersama putrinya.
Laki-laki itu tak menyangka kata-kata barusan yang akan keluar dari mulut perempuan cantik keturunan Kasa.
"Putri kecil papa memang pintar."
"Sembarangan Azril sudah besar Pa. Sekarang saja sudah 22 tahun. Tapi kalau Papa bilang pinta, Azril jawab Amiin." Keduanya terkekeh bersama. Mereka tidak sadar jika ada dua laki-laki yang sedang memperhatikan interaksi ayah dan anak itu.
__ADS_1
"Saya numpang lewat." Ucap Eris membuat Zevran tersadar, dia segera memberikan ruang untuk Eris. Orang kepercayaan Hans itu harus pergi ke kantor polisi untuk mengurus masalah Tuan Barsa dan Raka.