Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 44


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Pagi hari yang cerah seorang gadis berbalut baju syar'i keluar dari mobilnya, berjalan sedikit tergesa-gesa menuju sebuah cafe. Jam sudah menunjukan pukul 9:30 WIB, penduduk bumi yang tinggal di kota sudah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Sampai di cafe gadis tadi mencari seorang lalu, dia masuk ke dalam ruangan miliknya.


"Fiah, tolong ke ruangan, Saya." Ucapnya pada manajer cafe.


"Baik, bu." Jawab sang manajer.


Cafe itu baru saja buka, para karyawan sedang bersiap-siap untuk melayani pembeli yang datang berkunjung. Setiap hari banyak sekali pengunjung yang datang di cafe Xx.


Ada beberapa cabang yang dimiliki oleh cafe Xx termasuk di tempat paling strategis untuk cafe Xx yang satu ini. Lokasi cafe tepat berada diantara rumah sakit, kampus. Dekat jalan untuk tempat orang-orang mampir sejenak menghilangkan penat.


Di ruang pemilik cafe.


"Bagaimana Fiah, apa yang saya minta sudah kamu lakukan."


"Sudah bu, dari hasil cctv yang saya periksa. Seorang karyawan kita memberi tuan muda keluarga Kasa kue yang terbuat dari daging sapi dan daging kambing."


"Selian itu ada lagi? Apa motifnya memberi makanan itu untuk pelanggan yang tidak memesan makanan tersebut."


"Saya kurang tau bu, mungkin kita bisa tanyakan langsung pada orangnya." Usul Fiah manajer cafe.


"Baik, tolong panggilkan orangnya ke ruangan saya." Suruh Cia.


Setelah Fiah keluar dari ruang kerja Cia, gadis berbalut hijab syar'i itu mengehela nafas panjang. Baru dua bulan dia memegang amanah yang diberikan oleh ayahnya tapi sudah ada kejadian yang tidak diinginkan.


Sejujunya Cia tidak ingin mengurus cafe keluarganya, tapi jika bukan dia siapa lagi. Kedua adiknya masih duduk dibangku sekolah. Adik laki-lakinya masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Sementara adik perempuannya masih duduk dibangku sekolah menegah pertama. Jadi mau tidak mau dialah yang mengelola cafe keluarga mereka. Keluarga Cia memiliki 4 cabang cafe di kota B, di tempat yang berbeda-beda.


Lima menit berlalu Fia sudah kembali ke ruang kerja Cia bersama seorang karyawan yang terlihat seperti orang ketakutan. Karyawan perempuan itu tidak berani menatap Cia, kepalanya terus mendudukkan menatap lantai.


"Ini Biah bu, dia yang ibu Cia cari." Ujar Fiah memberitahu.


"Tolong tinggalkan saya dan Biah sebentar Fiah."


"Baik, bu." Tanpa banyak protes Fiah segera pergi dari ruang kerja Cia.


"Bismillah, tolong jawab jujur Biah apa yang saya tanyakan nanti. Saya hanya butuh kejujuran dari kamu." Cia berkata dengan suara tegasnya.


"Saya akan menjawab dengan jujur, Bu." Biah terlihat sedikit gemetar.

__ADS_1


"Tidak usah takut Biah, saya tidak akan menerkammu. Saya hanya ingin bertanya benar kamu yang memberi kue itu pada tuan muda keluarga Kasa?" Suara Cia berbuah lembut kali ini saat bertanya pada Biah, tidak seperti tadi.


"Benar bu, saya yang memberi kue itu pada anak kecil yang ternyata tuan muda keluarga Kasa. Tapi saya disuruh seorang perempuan yang mengaku ibunya. Maka dari itu saya berani memberikan kue karena saya kira dia memang ibu dari anak kecil itu." Jelas Biah ditelnya.


Cia menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Biah. "Kamu boleh kembali bekerja, ingat agar lebih berhati-hati lagi ke depannya." Pesan Cia.


"Insya Allah, bu."


"Tolong panggilkan Fiah ke ruangan saya kembali." Pinta Cia pada Biah.


Bukan tanpa alasan kenapa Cia, tidak membiarkan Fiah tinggal saat dirinya tengah meminta penjelasan dari Biah, Cia hanya ingin menjaga aib karyawannya saja.


"Ibu Cia memanggil saya?"


Huh! Cia menghembuskan nafas kasar semua karyawan ayahnya memanggil dia Ibu termasuk manajer juga begitu.


"Panggil saya, mbak saja apa begitu sulit Fiah? Setua itukah aku sehingga kalian semua memanggilku ibu."


"Tapi, bu."


"Sudah terserah, saya ingin rekaman cctv kejadian kemarin dari sebelum saya datang hingga semua orang meninggalkan cafe."


Satu hal ini lah yang dilupakan oleh Yulia saat melakukan kejahatan, dia lupa jika di cafe Xx cctv terpampang dimana-mana.


"Rekaman cctv yang ibu minta filenya sudah ada di dalam flashdisk" Ujar Fiah memberikan flashdisknya pada Cia.


"Terima kasih banyak Fiah, kamu melakukan tugasmu dengan baik. Saya harus pergi sekarang, Assalamualaikum." Pamit Cia pada manajer cafenya.


"Wa'alaikumsalam."


Cia segera menuju mobil, sebelum dia pergi ketempat yang ingin dituju selajutnya, Cia menonton rekaman cctv lebih dulu di dalam mobilnya.


"Siapa perempuan ini? Mungkin Ulya atau keluarga Kasa mengenalnya." Ucap Cia pada diri sendiri.


Selesai menonton Cia melajukan mobilnya menuju rumah sakit Harapan Bangsa, dimana Aditya dirawat.


15 menit berlalu mobil Cia telah terparkir di parkiran rumah sakit. Tadi dia juga sempat mampir di supermarket membeli buah tangan untuk Aditya yang sedang sakit.


Cia berjalan menuju ruang rawat Aditya, tapi baru saja langkahkan kaki selangkah hampir saja dia menabrak orang yang juga lewat di sebelahnya.

__ADS_1


"Inalilahiwainalilahirojiu'n, Ya Allah." Kaget Cia.


"Astagfirullah, maaf mbak saya tidak sengaja." Ucap orang itu yang ternyata abangnya Ulya.


"Mas, abangnya Lia akan?"


"Kamu temen Lia, ya?" Fahri balik bertanya kedua orang itu mengangguk serentak.


"Mua ke kamar rawat Aditya, ya?" tanya Cia lagi.


"Iya, kamu juga?" Cia mengangguk membenarkan perkataan Fahri, memang tujuannya ingin menjenguk Aditya sekaligus bertemu Ulya dan memberikan rekaman cctv pada sahabatnya itu.


"Sudah ayo bareng saja." Ajak Fahri, Cia akhirnya setuju toh tujuan mereka sama.


Keduanya berjalan seiringan menuju ruang yang sama, jarka mereka berdua tidak terlalu dekat. Sepanjang jalan menuju kamar rawat Aditya. Fahri dan Cia banyak mengobrol tapi mereka lebih banyak membahasa tentang Ulya. Sampai tak sadar keduanya sudah berada di depan pintu kamar rawat Aditya.


"Assalamualaikum." Ucap salam Fahri dan Cia bersama.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ulya juga Aditya, Ulya sedang bermain bersama sang anak sedangkan Hans sudah pergi ke ruang kerjanya setelah berpamit pada pada istri dan anaknya.


"Kok bisa bareng?" Ulya menatap curiga abang dan sahabatnya itu.


"Apa? Wajar dong orang ketemu di depan tadi." Sahut Fahri sensi pada adiknya padahal masih pagi.


"Om ganteng, jangan marahi mommy, Aditya!"


"Eh, iya om minta maaf deh." Fahri pura-pura menyesal.


"Tidak dimaafkan om!" Ujar Aditya yang hampir membuat Ulya maupun Cia tertawa.


"Kamu, ya." Fahri mendekati Aditya yang duduk di atas brankar rumah sakit.


"Cia, ngapain bengong disitu, sini." Walaupun begitu Ulya tetap menghampiri sahabatnya itu.


Cia tidak sadar jika dia memperhatikan perdebatan kecil antara Ulya dan abangnya. Dia jadi teringat jika bersama adik laki-lakinya, mereka juga sering sekali bertengkar mempermasalahkan hal sepela. Cia kira hanya dia dan adiknya yang begitu Ulya dan kakaknya juga sama.


'Aku kira cuman aku doang yang sering berantem ala kakak dan adik sama sih Vino. Ulya juga sama toh.' Batin Cia jadi tertawan sendiri.


"Cia." Panggil Ulya membuat Cia tersadar dari tingkah konyolnya.

__ADS_1


"Iya Lia, hehehe. Aku ngelamuan pasti." Dan Ulya mengangguk.


__ADS_2