
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Jam masih menunjukkan pukul 10:00 Eris merasa enggan pisah dengan Azril, sekarang bahkan dia tengah memeluk erat istrinya.
Setelah membuat jantung Azril berpacu dengan cepat, sekarang Eris melakukan hal yang lebih eksterim lagi menurut Azri dengan berani kedua tangannya memeluk pinggan Azril dari samping.
Sebenarnya Azril ingin menolak karena malu, tapi dia tidak ingin membuat suaminya kecewa jadi Azril membiarkan saja apa yang Eris lakukan walaupun sekarang jantungnya benar-benar tidak aman.
"Mas, kamu kenapa?"
Ya Allah. Apa Eris tidak salah dengar baru saja Azril memanggilnya Mas? rasanya dia ingin terbang melayang, baru kali ini Azril memanggilnya menggunakan sebutan 'Mas'
Eris semakin memeluk erat tubuh Azril tapi tidak sampai membuat istrinya sesak. Eris mendekatkan mulutnya di telinga sang istri.
"Mas, nggak mau pisah sama kamu, yank," bisik Eris di telinga Azril, membuat Azril langsung merinding walaupun terhalang hijabnya.
Mukanya sudah memerah karena malu. 'Ya Allah, kenapa dia jadi sebernai ini, dimana kak Eris yang dulu,' batin Azril benar-benar ngeri.
"Kan, cuman satu minggu Mas pisahnya kata Mama, nanti juga bakal ketemu lagi." Azril berusaha menetralkan dekat jantungnya.
Jangan sampai ketahuan oleh Eris jika dirinya sedang sangat gugup sekarang.
'Kok lama-lama dekat Mas Eris rasanya bakal nggak aman,' molong Azril.
"Mas, batas yang dikasih udah mau abis, nggak ke apartemen sekarang?"
"Kamu ngusir suamimu, yank." Eris melepaskan pelukannya menatap cemberut pada Azril. Melihatnya Azril jadi gemas sendiri.
"Bukan begitu maksudnya Mas, emang Mas Eris mau hukumnya ditambah terus kita nggak bakal ketemu selama 2 minggu,"
"Nggak dong! baru nikah aja udah dipisah 1 minggu berat banget rasanya apalagi 2 minggu, nggak mau lah pasti, Mas ke apartemen sekarang, Assalamualikum."
Cup!
Azril langsung bungkam kala bibir suaminya menempel sempurna di pipi sebelah kirinya, dia benar-benar tak menyangka sekarang Eris berani menciumnya.
"Yank jawab dong salamnya atau mau cium lagi?" rasanya ingin sekali Eris tertawa melihat muka Azril yang terlihat kaget.
"Tapi disini," tunjuk Eris pada bibir istrinya.
"Wa'alaaikumsalam, Mas hati-hati di jalan," jawab Azril sambil mengambil tangan suaminya lalu menyalami dengan takdzim, setelah itu tanpa mengatakan apapun Azril lagsung pergi dari hadapan Azril.
"Lucuk sekali dia." Eris terkekeh geli melihat tingkah sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di pertengahan malam yang begitu suci Hans tengah asyik tidur bersama sang istri terusik karena tangis seorang bayi.
"Oweek...Oweek....Oweek....Oweek..." tangis bayi itu terdengar semakin kencang di telinga Hans.
Perlahan matanya yang tadi lengket terbuka sempurna, lalu dia menatap pada box bayi yang ada di kamar mereka.
Hans dapat melihat dari sela-sela box bayi Alvan yang telah bangun entah sejak kapan, segera dia bangkit mendekati bayinya.
"Assalamualaikum, Anak Daddy. Jam segini kok udah bangun sayang? apa yang buat kamu bangun," ucap Hans sambil menatap wajah mungil anaknya.
Tangis Alvan seketika terhenti saat melihat wajah Daddynya, Hans memeriksa Alvan siapa tahu bayi itu tidak tenang karena popoknya basah atau malah dia bab.
"Sayang, kamu bab ternyata biar Daddy ganti ya solanya Mommy kamu masih tidur." Hans menatap wajah Alvan lalu beralih menatap istrinya yang masih tidur di kasur.
Benar saja Ulya terlihat begitu lelap dalam tidurnya, wajahnya terlihat capek.
"Sepertinya Mommy kamu kelelahan Al," ujar Hans bergegas mebersikan bekas bab sang anak.
Benar, Hans tidak keberatan untuk melakukan tugas istrinya bahkan sudah 3 malam ini setiap bayi Alvan bangun, Hans lah yang juga terikut bangun bukan Ulya. Dia juga tidak pernah membangunkan istrinya yang terlihat kelelahan saat tidur, walaupun sekalipun Ulya tak pernah mengeluh capek.
8 menit kemudian Hans telah selesai menggantikan popok bayinya.
"Allhamadulilah, selesai juga Al," terlihat Alvan sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Etth, etth, etth, anak Daddy gemes banget sih kamu sayang, kok bisa baru lahir aja udah kelihatan ganteng kamu ini."
Karena gemas Hans jadi mengangkat Alvan dibawa dalam gendongannya sambil mencium bayi itu. Alvan tertawa netarnya menatap lekat sang daddy.
"Ketawanya manis sekali, anak soleh Daddy," setelahnya Hans lanjut membaca shalawat untuk Alvan.
("Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya")
Ya Nabi.... Salam ’Alai...ka ,
Ya Rasul Salam ’Alaika....
Ya Hab...ib Salam ’Alaika, Shola....watullah ’Alaika.
Asyroqol Badru ’Alaina, Fakhtafat Minhul Buduruu
Mitsla Husnik Maa Ro’aina, Qottu Ya Wajha Sur...urii
Ya Nabi....Salam ’Alaika,
Ya Rasul Salam ’AlaikaYa
Habib Salam ’Alaika,
Sholawatullah ’Alaika
Anta Syamsun An...ta Badrun,
Anta Nuurun Fauqo Nuuri
__ADS_1
Anta Iksiru Wagholi,
Anta Misbahus Shuduri
Ya Nabi....Salam ’Alaika,
Ya Rasul... Salam ’AlaikaYa
Habib Salam ’Alaika,
Sholawatullah ’Alaika
Ya Habi...bi Ya....Muhammad,
Ya ’Arusal Khofiqoini
Ya Muayyad Ya Mumajaad,
Ya Imamal Qiblataini
Ya Nabi... Salam ’Alaika,
Ya Rasul.... Salam ’AlaikaYa Habib Salam ’Alaika, Sholawatullah ’Alaika.
Ketika Hans menyudahi shalawatnya ternyata si kecil Alvan telah kembali terlelap dalam tidurnya dengan bibir mungilnya yang terukir senyum kecil membuat Hans teharu sekali.
"Masya Allah, Anak Daddy tidurnya sambil senyum kamu sayang, mirip mommymu," ujar Hans kembali meletakkan Alvan di box bayi dengan sangat hati-hati.
"Bismillah," ucap Hans setelah meletakkan Alvan di box bayi, Hans berjalan kembali menuju ranjangnya.
"Mas, kok nggak bangunin Lia, pasti Alvan bangung lagi," ujar Ulya yang telah membuka matanya dengan wajah masih terlihat ngantuknya.
Hans mendekat pada sang istri lalu mencium kening istrinya sedikit lama baru setelah itu dia menyahut ucapan Ulya. "Tidak apa sayang, lagipula Alvan sudah tidur lagi," kata Hans membuat Ulya merasa tidak enak.
Tapi juga Ulya bahagia, dia tak pernah menyangka Hans akan ikut mengurus Alvan, rela bangun di malam hari jika Alvan menangis atau menemani dirinya menyusui Alvan ketika bangun tengah malam.
Ulya langsung memeluk Hans, "terima kasih untuk semuanya, Mas."
"Harusnya Mas yang bilang terima kasih sama kamu, sayang," imbuh Hans ikut memeluk Ulya.
"Sudah kamu tidur lagi masih jam 3:10," suruh Hans pada sang istri.
"Mas, mau ngapain?" Ulya menatap lekat wajah suaminya membuat Hans terkekeh geli.
"Tahajud kamu, kan, masih nifas jadi kalau masih ngantuk tidur lagi. Besok pasti harus bangun pagi, karena Alvan biasanya bangun sebelum subuh bukan."
"Lia pengen ikut shalat," ucapnya dengan suara manja.
"Iya nanti kalau sudah boleh shalat, kamu pasti masih ngantukkan?" Ulya menganggukkan kepala beberapa kali hal itu terlihat lucu dimata Hans.
"Nanti bangunin Lia pas subuh ya, Mas."
"Siap istriku." Hans merebahkan tubuh istrinya lalu setelahnya dia masuk ke kamar mandi yang ada di kamar mereka untuk mengambil wudhu.
__ADS_1
(Surat undangan pernikahan dari Mas Eris sama Mbak Azril untuk para redes jangan lupa datang 🤗💖)