Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 91


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


Sudah berkali-kali Eris menghubungi nomor Tuan Leka tapi tak kunjung ada satu pun jawaban dari Tuan Leka, karena ponsen beliau tidak kunjung aktif.


Tapi Eris tak menyerah begitu saja, dia juga ikut menghubungi nomor Hans, hasilnya tetap nihnil, sama saja nomor Hans juga rupanya tak aktif hal ini membuat Eris sedikit bingung, biasanya Tuan Leka maupun Hans selalu membawa gawai mereka.


Karena sudah melakukan panggilan berkali-kali namun tidak ada satu pun yang terjawab Eris menatap Kyai Halim sambil menggeleng pelan.


"Maaf Kyai nomornya tidak ada yang aktif." Eris menunduk lemah.


Sekarang dia pasrah nasibnya akan dibawa kemana, mendapat hukuman dari pesantren pun Eris akan menerimanya.


"Tidak ada saudara yang lain bisa kamu hubungi?" tanya Kyai Halim ramah. Eris kembali menggeleng pelan.


Mendengar perkataan Kyai Halim, Azril yang terus menunduk mengangkat kepalanya ternyata gadis itu dapat melihat wajah pasrah Eris sejenak.


"Maaf menyela Abah," ucap Azril memberanikan diri untuk berbicara.


"Boleh Mbak Azril, apakah ada usul?" Azril mengangguk sebagai sebuah jawaban.


"Coba Paman Dika saja yang dihubungi Kak, Insya Allah. Kalau Paman Dika pasti aktif, bilang Paman sama Papa suruh datang ke pesantren."


Yang tadinya Eris terlihat putus asa setelah mendengar perkataan Azril, dia merasa seperti ada harapan untuk dirinya. Di dalam benaknya Eris masih menebak-nebak sangsi apa yang akan diberikan Kyai Halim pada dirinya dan Azril.


"Saya coba lagi Kyai," ucap Eris, sekarang tujuannya berganti menghubungi dokter Dika seperti usulan Azril.


Kyai Halim bersama keluarga mengangguk untuk memberi waktu Eris menghubungi keluarga Azril.


Tanpa menunggu lama Eris yang baru melakukan satu kali panggilan pada dokter Dika langsung tersambung.


"Alhamdulillah," ucap Eris pelan, namun masih bisa didengar oleh Kyai Halim. Diam-diam beliau tersenyum mendengar Eris mengucap kalimat hamdalah.


Yang membuat Kyai Halim salut pada Eris, dari tadi laki-laki 29 tahun ini tidak mengeluarkan emosi sedikitpun, walau dia sedang dilanda rasa cemas.


📱"Assalamualaikum, dokter Dika." Eris segera mengucap salam ketika sambungan telefon sudah terhubung.


📱"Wa'alaikumsalam, Eris. Tumben kamu nelpon saya tidak biasanya."

__ADS_1


Eris mengaruk hidungnya yang tidak gatal mendengar perkataan dokter Dika dari telefon, dia merasa canggung pada semua orang di ruangan itu, karena Eris menyalakan pengeras suara agar mereka semua bisa mendengar jelas apa yang dia katakan pada dokter Dika.


📱"Iya dok, maaf apa saya mengganggu?"


📱"Tidak kebetulan jadwal saya baru saja selesai."


📱"Allhamadulilah, boleh saya minta tolong dokter Dika."


📱"Ngomong aja Er, kayak sama siapa pula kamu ini."


Sekarang Eris jadi bimbang bagaimana caranya dia minta tolong pada dokter Dika, Eris terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. Dari seberang telfon dokter Dika dapat mendengar napas Eris yang terdengar berat, membuat dokter Dika mengerutkan dahi bingung.


📱"Apa kamu baik-baik saja Er?" Dika bertanya karena Eris tak kunjung bersuara.


📱"Allhamadulilah, saya baik-baik saja dokter Dika. Jadi begini boleh saya minta tolong dokter datang ke pesantren AN-Nur, jika bisa tolong sekalian ajak Papa atau Hans, saya dari tadi sudah menghubungi mereka tapi nomornya tidak ada yang aktif," jelas Eris.


📱"Ada masalah dengan Azril, Er?"


📱" Ada masalah dengan saya juga dok, jadi tolong sekali dokter Dika datang bersama Papa kalau bisa."


📱"Saya akan segera kesana, Insya Allah. kalian tunggu lah." Eris mengangguk dari seberang telepon, walaupun dokter Dika tidak akan melihat anggukan kepalanya.


📱"Biaklah, biara saya tutup dulu sambungan teleponnya langsung otw nih. Assalamualikum."


Sambungan telefon pun terputus, Eris baru bisa bernapas lega rasanya setelah dia kepergok tak sengaja memeluk Azril.


Sambil menunggu kedatangan dokter Dika dan Tuan Leka. Kyai Halim memberi beberapa nasihat pada Eris dan Azril, nasihat yang membuat Eris bingung karena mengarah pada rumah tangga. Azril sendiri hanya mendengarkan dengan saksama, dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini, karena sudah menjadi peraturan dari pesantren.


Waktu bergulir.


Mobil dokter Dika telah sampai di depan pesantren AN-Nur setelah 2 jam mengendarai mobil sendirian.


"Assalamualaikum," bahkan dokter Dika masih mengenakan baju kerja.


"Wa'alaikumsalam."


Kebingungan melanda Eris kala melihat dokter Dika datang seorang diri tanpa Tuan Leka maupun Hans.


"Dimana Papa, Paman Dika?" tanya Eris.


"Mas Leka nanti nyusul, dia sama Hans baru selesai rapat penting dengan beberapa petinggi rumah sakit membahas pembangunan rumah sakit di daerah selatan."


Setelah itu suasana hening.

__ADS_1


"Bismillah, maafkan saya dokter Dika telah meminta dokter jauh-jauh datang kesini." Kyai Halim membuka pembicaraan.


"Saya malah sangat senang bisa bersihlaturahmi kesini Kyai."


"Alhamdulillah, jika begitu. Untuk masalah ini saya katakan sekarang atau menunggu kedatangan Tuan Leka?"


"Saran saya kita tunggu Mas Leka dulu Kyai mungkin setelah asar dia akan segera tiba." Kyai Halim mengangguk setuju.


Allhamadulilah, bersamaan dengan itu adzan asar berkumandang. Kyai Halim memutuskan agar mereka semua melaksanakan shalat asar berjamah terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Tuan Leka.


Beberapa santri yang lalu lalang terlihat bingung kala mendapati Azril masih di pesantren ikut shalat berjamaah di masjid, bukan sudah izin pulang dari beberapa jam yang lalu.


"Loh, Mbak Azril belum pulang," sapa salah satu santri putri yang duduk berjamaah di sebelah Azril.


"Belum Mbak."


40 menit berlalu mereka semua telah kembali kediaman Kyai Halim sedangkan para santri sudah kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing.


Sekitar 10 menit berlalu setelah semua orang satu persatu keluar dari masjid Tuan Leka sampai bersama supirnya. Tempat rapat mereka ternyata berada tidak jauh dari pesantren AN-Nur, hanya memakan waktu kurang lebih 50 menit.


"Assalamualaikum," semua orang menoleh pada sumber suara.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang.


Sedangkan Eris menjawab salam pelan sekali, jantungnya berdekat sangat kencang melihat kedatangan Tuan Leka, keringat mulai membasahi dirinya, padahal cuaca tidak terlalu panas, tapi saat melihat kedatangan Tuan Leka, Eris jadi berkeringat dingin dan merasakan gemetar di tubuhnya.


'Astagfirullah, jangan pikirkan hal buruk Eris, jangan soudzon pada siapapun. Kamu belum tahu apa yang akan dikatakan Kyai Halim pada Papa, kamu juga belum tahu tindakan apa yang akan diberikan pada dirimu yang telah lancang memeluk Azril.'


Rasa penyesalan itu kembali masuk ke dalam hati Eris, dia terus beristighfar dalam benaknya.


"Apa saya telah mengganggu waktu Tuan Leka? Anda terlihat lelah, saya minta maaf jika sudah mengganggu, menyuruh Tuan Leka datang kesini."


Tuan Leka mengangkat satu tangan beliau untuk memberi isyarat pada Kyai Halim, jika beliau tidak mengganggu waktunya.


"Insya Allah, tidak Kyai. Tolong panggil saya Pak saja Kyai atau Leka"


Kyai Halim tersenyum seraya membuka suara setelah kembali terdiam sejenak tadi.


"Jadi begini Tuan Leka."


Eris menahan napasnya kala Kyai Halim mulai bicara, dia tidak tahu haru berekspresi seperti apa sekarang, rasanya Eris sangat deg..deg...degan sekali.


(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah. Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.)

__ADS_1


__ADS_2