
Bismillahirrohmanirrohim
بسم الله الر حمن الر حيم
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.
Tiga bulan telah berlalu sekarang Ulya sudah semakin susah saja untuk bergerak dengan leluasa perutnya sudah bertambah besar lagi, apalagi bulan ini sudah memasuki bulan kelahirannya, sebentar lagi Ulya akan segera melahirkan.
Hanya tinggal menunggu hari sebentar lagi Ulya akan memiliki seorang anak. Ibu Rida juga memutuskan untuk menemani putrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. Fahri sendiri masih berada di kampung.
Dia mengatakan pada ibu Rida akan segera menyusul beliau, jika urusannya sudah selesai, karena Fahri harus menyelesaikan beberapa urusannya dulu di kampung tempat dia dan sang mama tinggal saat ini.
"Hans ingat pulang kerja jangan seperti biasanya, pulang lah lebih awal, untuk menemani istrimu di rumah," ucap Milda pada putra sulungnya.
Sekarang mereka semua sedang berada di ruang makan, Ibu Rida juga tinggal di kediaman Kasa sudah hampir satu minggu ini, Milda lah yang menyuruh besannya tinggal bersama mereka. Agar keduanya bisa melihat proses saat Ulya melahirkan nanti.
Mereka juga bisa menjaga Ulya bersama-sama selama Hans sedang bekerja. Atau mereka bisa bergantian menemani Ulya dan Aditya.
Hans yang tengah fokus pada makannya mengangkat kepala melihat pada sang Mama. "Insya Allah, Ma," jawab Hans.
Hari ini tugas ibu Rida yang menemani Aditya sekolah. Biasanya Milda yang akan menggantikan Ulya.
Semua orang di kediaman Kasa sangat menjaga Ulya, mereka tidak ingin terjadi hal-hal buruk pada ibu hamil itu, nyonya Milda memperlakukan Ulya sama dengan Jeni ketika dulu masih mengandung Aditya. Sangat menjaga sekali menantunya.
"Eris, setelah ini kamu langsung jemput Azril saja biar nanti saat Lia lahiran semua ada disini," sekarang Milda bicara pada Eris.
Uhuk...Uhuk...Uhuk...
Tiba-tiba saja Eris tersedak makanannya mendengar perintah dari Milda. Aditya yang melihat hal itu menggelengkan kepala pelan.
Untung Arion cepat menyodorkan segelas air putih pada Eris. Langsung saja Eris meneguk air dalam gelas sampai tandas tak tersisa.
"Allhamadulilah," ucapnya sambil kembali meletakkan gelas di atas meja.
"Makanya pelan-pelan kalau makan Er," tegur Tuan Leka.
"Iya Pa, maaf semua," sesalnya merasa tidak enak sendiri pada semua orang yang ada di meja makan.
Alhamdulillah, mereka memaklumi Eris yang tiba-tiba tersedak makanan sendiri entah karena apa.
__ADS_1
"Denger gak apa kata Mama?" Hans menatap Eris yang sudah kembali fokus pada makanannya.
"Astagfirullah, tadi Mama nyuruh apa? maaf Eris tidak seberapa memperhatikan."
"Disuruh jemput Mbak Azril, kak Eris," bukun nyonya Milda yang menjawab melainkan Arion yang duduk di sebelahnya.
Eris menoleh pada Arion. "Saya," tunjuknya pada diri sendiri membuat Arion mengangguk yakin, memang tadi sang mama menyuruh Eris untuk menjemput Mbak nya itu.
"Ada apa memangnya, Er?" kali ini Tuan Leka yang kembali membuka suara.
"Eris jemput Azril sendiri, Pa, Ma?" tanyanya untuk memastikan.
"Iya memang kenapa, Er," sahut Milda akhirnya menatap heran Eris.
Padahal dulu saat di rumah sakit Milda sendiri yang mengatakan Azril tidak boleh dijemput dengan Eris seorang diri karena pasti tidak akan diizinkan, mereka bukan mahram. Maka menyuruh Arion ikut. Tapi kenapa sekarang ibu empat anak ini seperti melupakan ucapannya sendiri.
"Kalau Eris sendiri yang pergi pasti Azril nggak bakal dapat izin pulang, Ma," jelasnya.
Takut mereka yang ada di ruang makan salah paham kenapa dirinya tidak ingin menjemput Azril seorang diri. Dulu Eris pernah menjemput Azril pulang dari pesantren, tapi tidak mendapat izin karena dia dan Azril bukan mahram.
"Astagfirullah, Mama lupa. Sudah nanti saja sepulang Arion sekolah, kamu ikut Eris jemput Mbakmu," suruh Milda pada putra bungsunya.
"Maaf sekali Ma, bukan Arion tidak mau tapi Arion tidak bisa. Ada acara yang harus Arion selesaikan di sekolah tidak bisa dibatalkan."
"Hans juga tidak bisa Ma, maaf." Hans merasa tidak enak pada sang Mama.
"Lalu bagaimana, semua sudah ada kerjaan yang tidak bisa dibatalkan begitu saja," bingung Milda.
Suaminya juga sudah ada jadwal sedangkan dirinya ada acara juga lalu beliau harus menemani Ulya di rumah.
"Sudah tak apa Ma, nanti Eris yang jemput Azril. Nanti Eris pikirkan caranya agar Azril dapat izin pulang bersama Eris. Insya Allah ada caranya."
Bagaimana pun Eris memang harus mengalah karena memang dirinya yang hari ini memiliki jadwal longgar. Tidak padat seperti biasanya.
"Allhamadulilah, terima kasih Er."
"Semua memang sudah menjadi tugas Eris Ma, Mama tenang saja."
Sepuluh menit kemudian satu persatu orang-orang itu meninggalkan ruang makan.
"Mom, Aditya bersama Oma berangkat sekolah dulu. Assalamualikum." Aditya mencium punggung tangan Ulya.
__ADS_1
Sekarang di ruang makan hanya tinggal Ulya, Milda, Aditya dan Ibu Rida yang lain sudah berangkat melakukan tugas mereka masing-masing.
"Wa'alaikumsalam, sayang. Ingat belajar yang benar jangan nakal di sekolah," pesan Ulya pada sang anak.
Tak lupa dia mencium kening Aditya dengan sayang. "Yes, Mom. Aditya janji tidak akan nakal, Insya Allah."
Lalu Ulya beralih pada nyonya Milda.
"Grandma, Aditya sama Oma berangkat sekolah dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Milda tak lupa tersenyum pada cucunya yang sudah semakin tumbuh dengan baik
Aditya bersama Omanya berangkat ke sekolah Aditya diantar oleh supir.
Setelah semua orang keluar rumah, sekarang kediaman Kasa terlihat sedikit sepi hanya ada para pekerja yang sibuk membereskan semua pekerjaan yang belum selesai.
"Lia mau kemana biar Mama antar."
"Terima kasih Ma, Lia hanya mau di ruang keluarga saja," jawabnya sungkan.
Walaupun sudah biasa diperlakukan begitu sangat diperhatikan oleh Mama mertuanya tetap saja Ulya merasa sungkan dan tidak enak pada Milda, padahal dirinya masih sanggup untuk melakukan hal-hal kecil sendirian.
"Ya Allah, maaf Ma. Lia nyusahin lagi."
"Kamu ini ngomong apa sih, Lia. Tidak ada yang disusahkan, sudah jangan mikir yang macem-macem!" tegas Milda.
Para pekerja yang melihat kedekatan nyonya besar mereka dan menantu keluarga Kasa merasa senang sendiri. Jadi mengingat dimasa-masa nyonya Milda saat bersama Jeni ketika Ibu kandung Aditya masih hidup.
Milda dan Ulya sudah berada di ruang tamu, keduanya mengobrol bersama mereka bukan seperti mantu dan mertua, tapi sudah seperti ibu dan anak saja.
'Allhamadulilah, Ya Allah. Terima kasih atas segala nikmat yang Engkau berikan pada hambamu ini. Sudah diberi keluarga yang sangat baik dan juga selalu mengingatkan Lia pada jalan kebenaran. Tapi hamba mohon jangan biarkan kasih sayang kami, cinta kami yang besar ini melebih cinta kami semua pada Engkau. Ya Rabb. Karena sesungguhnya Engkau lah Sang Pemilik Cinta yang sesungguhnya bukan manusia.'
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah. Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.)
Mau tanya nih, kalian tim mana :
Azril dan Eris.
Atau
Azril dan Zevran.
__ADS_1
Mungkin berapa bab lagi novel ini akan segera selesai.
Hayo! A D E atau A D Z